Puisi-puisi Nizar Maghriza

PELANGI

Hadir setelah hujan
Hadir beri kehangatan
Tatkala dingin menusuk relung
Menerangi bumi setelah mendung

Adalah pelangi
Sebentar indah
Sebentar pergi

Banjarnegara, 22 Nopember 2016

SENJA

Munculmu tanda pergantian
Merahmu tanda kepastian
Mataharipun berpulang
Tanda beralihnya siang
Perlahan pasti

Datangmu penuh arti
Menuju senja
Rembulan menjadi raja

Banjarnegara, 24 Nopember Β 2016

AKU KHAWATIR

Aku khawatir, aku tak sama dengan inginmu
Aku khawatir, aku sekadar pelampiasan kesepianmu
Singgah, sebagai alasan senggang waktumu
Angin lalu, kau alamatkan kepadaku
Berharap kepastian hampa

Yang hasilnya luka
Aku khawatir, kita tak bisa bersatu
Karena kau berkepala batu

Banjarnegara, 11 Desember 2016

nizar-maghrizaNizar Maghriza lahir di Brebes, 12 Oktober 1999. Ia tinggal di Desa Mantrianom RT 01 RW 04 Kecamatan Bawang, Banjarnegara bersama orang tuanya. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPS-5 MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417. Prinsip dalam hidupnya adalah β€œBerusaha sebaik-semaksimal mungkin karena selalu ada bahagia sesudah tangis.”

Energi Negatif, Energi Pembangkit

Resensi yang bagus atas buku yang bermanfaat. πŸ™‚

Perpustakaan Mandua

Resensi Buku Fresti Arbangiati
(Pemenang Harapan 2 Lomba Membuat Resensi di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Banjarnegara, 2016)

the-power-of-frustrationJudul Buku: The Power of Frustration
Pengarang: Zishak K. Naen
Editor: Nur Kholis
Penerbit: Araska Publisher
Kota, Tahun Terbit: Yogyakarta, Maret 2015
Tebal Buku: 208 Halaman

Zishak K. Naen merupakan penulis kelahiran Gorontalo. Namun, ia menghabiskan masa remaja di Manado dan Makassar. Kemudian ia melanjutkan studinya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia pernah bekerja sebagai editor di sejumlah penerbitan dan kini ia bekerja sepenuhnya sebagai editor lepas. Sesekali ia meneliti, menerjemah dan menulis, sekaligus mengelola Sangunglo Scripts Center (SSC) Yogyakarta.

Melalui buku ini, Zishak K. Naen ingin menyampaikan sebuah kekuatan dari frustrasi, Β yang menurut kebanyakan orang mempunyai konotasi negatif. Di dalam buku ini dikuak secara lengkap berbagai manfaat dari rasa frustrasi. Di samping itu, disajikan pula berbagai kiat menghadapi dan mengolah frustasi menjadi sebuahΒ  kekuatan untuk meraih kesuksesan.

Lihat pos aslinya 399 kata lagi

Puisi-puisi Asih Maesaroh

Puisi-puisi Asih Maesaroh

Hadirmu

Kupandangi matahari
Kemilau
sang surya bersinar kembali
Bersama
redupnya mata hati

Ternyata kaulah sosok pertama
Yang
mengisi kekosongan jiwa
Memberi
segenggam ketulusan yang berarti
Membawa
harapan dengan sejuta janji

Ketulusan yang kau beri
Tak
pernah mengharap balas budi
Bukan
karena keadaan hati
namun
lembut nuranimu laksana sang peri

Haru dalam Kalbu

Suara isak tangis sanak keluarga
Menyertai
lafal-lafal Allah yang bergema
Air
mata mengalir bak sungai musi
Melukiskan
kesedihan dan kehilangan
Kehilangan
yang tiada kembali lagi

Mungkin saja bisa kembali
kembali
menyapa hari-hari
Meski
hanya dalam mimpi

Sosok itu telah pergi
Ke
manakah kan kucari lagi
Di
sini tak akan ada
Di
sanapun hanya angan semata

Ku terdiam dan termenung
Menyatukan
haru biru dalam kalbu
Hanya
tangis hati yang setia
Menemani
dan menunggu dalam duka

Bimbang…
Kebimbangan
mematahkan semua harapan
Mengubah
agenda hidup yang kan dijalani

Dirimu…
Sosok
yang tak kan bisa terganti

Banjarnegara, Januari. 2016

Asih MaesarohAsih Maesaroh lahir di Banjarnegara, 11 Februari 1998. Ia tinggal di Desa Gentansari Rt 03 Rw 04 Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara bersama Ibu dan Adiknya. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

KK Paijo

Cerpen Lisa Aryati

Kartu KeluargaPai, itu adalah nama panggilanku. Ya namaku memang gaul seperti nama orang Korea kan. Tapi aku bukan berasal dari Korea, aku asli Jawa. Pernah suatu ketika temanku bertanya.

β€œEh Pai, namamu gaul banget nemu dari mana itu nama?” ujar Jono teman sebangkuku.

β€œHahaha… pertanyaanmu itu aneh banget, namaku ya dari orang tua.”

β€œWaaah pasti nama orang tuamu juga gaul seperti namamu ya?”

β€œPastilah, nama ayahku Shae dan nama ibuku Shai.”

β€œKok hampir sama? Pasti asli Cina ya?”

β€œBukan, asli Jawa Jon…!”

β€œKok bisa begitu ya….” Jono penasaran.

β€œBisa lah, nama ayahku Shae alias Shaepul dan nama ibuku Shai alias Shainem,” jawabku penuh gaya.

β€œTerus nama aliasmu siapa?”

β€œNah, namaku Pai alias Paijo.”

β€œYah, kalau begitu bagusan namaku Jons.”

β€œKalau Jones aku tahu pasti jomblo ngenes…” ujarkuΒ sok tahu.

β€œBukan, namaku Jons alias Jono Syu’aib, keren kan?”

Karena percakapan itu teman-temanku jadi tahu nama asliku. Tapi tidak apa-apa lah yang penting tetap ganteng, hehehe….

Saat ini aku kelas XII SMA jurusan IPA. Tinggal beberapa bulan lagi akan Ujian Nasional. Jadi setiap Senin sampai dengan Kamis diadakan pengayaan. Tapi entah mengapa aku sulit sekali menerima pelajaran, mungkin karena aku kurang konsentrasi. Pernah aku curhat tentang kesulitanku itu pada Jono, tapi kata Jono bukan karena aku kurang konsentrasi, namun karena pendengaranku agak kurang. Padahal aku tidak punya penyakit telinga. Ya mungkin ada benarnya juga, aku pernah bermasalah karena salah dengar. Baca lebih lanjut

2015 in Review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 36.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 13 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Syair Pecandu Cinta

Resensi Novel oleh Kodriyah

Camera 360Judul : Relief
 Pengarang : Intan Puspita dan Aditya Dion M
 Penerbit : Caesar
 Kota Terbit : Klaten Jawa Tengah
 Tahun Terbit : April 2003
 Jumlah Halaman : xi – 160 halaman 

Intan Puspita lahir di Malang 11 Oktober, Ia merupakan sarjana ekonomi lulusan FISIP Brawijaya Malangyang saat ini bekerja di salah satu bank pemerintah Indonesia. Tulisan pertamanya bertajuk drama Ballant en Lescenari De La Meva Vida. Di buku keduanya Relief yang ia garap bersama Dion, Intan berusaha menggali lebih dalam tentang bakatnya di dunia sastra. Dion dengan nama lengkap Adittya Dion M adalah pria kelahiran Jakarta 29 September yang sedang menekuni karir di bidang property di Pulau Bali.

β€œCinta itu pahatan di hati kita mungkin akan abadi layaknya pahatan dalam dinding candi.” Merupakan petikan sajak yang dipilih Intan dan Dion sebagai pembuka novel mereka yang menceritakan cinta terlarang dua insan muda. Mereka adalah Ida Ayu Mahadewi dan Iqbal Khairani, dua pribadi yang dilahirkan dari tokoh agama tersohor yang sama-sama memiliki jiwa seni yang mendalam. Keduanya merupakan pemula cinta yang baru saja merasakan indahnya secawan cinta. Ditulis dengan dua tokoh tersebut sebagai pelaku utama dan penyajian peristiwa yang runtut dengan alur maju yang membuat karya sastra ini menarik. Namun penggambaran karakter dan lingkungan kedua tokoh yang nyaris sempurna memperjelas cerita dalam novel ini tidaklah nyata. Selain itu, kedua tokoh aku yang menceritakan masing-masing sebagai inti ceria membuat pembaca berpikir sejenak untuk emnemukan salah satu tokoh yang sedang bercerita. Tidak hanya itu pembuka novel yang menceritakan awal kelahiran mereka membuat novel ini seperti cerita anak-anak, akan tetapi rasa penasaran tidak dapat dipungkiri ketika tiba di bagian tengah cerita.

Iqbal Khairani, sastrawan muslim yang jatuh cinta dengan Ida Ayu Mahadewi, seorang penari hindu berdarah Bali yang mirip dengan Mahadewi kekasih khayalan Iqbal. Mengetahui kekasih pujaannya juga memiliki rasa yang sama membuat dua insan itu sepakat menjalin rasa, namun cintanya kelabu ketika dua keluarga mengetahui hubungan lintas agama tersebut. Keduanya bimbang memilih antara keluarga, agama, atau cinta. Di atas kebimbangan itu keyakinan datang pada Iqbal, ia nekat menemui Mahadewi di kediaman agungnya. Namun hancur hatinya ketika kedatangannya disambut oleh pria yang mengaku sebagai tunangan pujaannya tersebut. Ia pulang membawa nestapa, tapi pada akhirnya tak mampu menahan luapan cintanya kepada Mahadewi. Ia putuskan pergi menjauh dari dunia menuju Borobudur. Lalu ia meninggalkan dunia ini setelah menulis sebuah sajak yang menyatakan cintanya yang seperti pahatan relief candi. Abadi walau ia telah tiada.

Kisahnya sangat menggetarkan hati. Namun satu yang disayangkan, nilai-nilai ketuhanan yang dikesampingkan, bahkan nyaris dilanggar adalah contoh yang tidak patut, tetapi seolah dibenarkan dalam novel ini. Termasuk juga di dalamnya sikap penentangan terhadap keluarga dan luapan emosi yang merujuk kepada penyalahan takdir Tuhan. Di balik semua itu rangkaian kalimat yang disusun dalam bentuk sajak menjadi daya tarik tersendiri pada novel ini. Apalagi bahasanya mudah dipahami. Walaupun dibumbui dengan bahasa Bali, namun tetap menyelipkan artinya.

Rangkaian puisi pada bagian awal semakin membuat novel ini menarik dibaca sebagai novel sastra. Setelah membaca buku ini pembaca akan terbawa pada suasana puitis, bahkan akan mampu mengungkapkan perasaan dalam bentuk kalimat-kalimat yang indah. Hal itulah yang menjadikan karya ini patut dibaca sebagai referensi sekaligus menambah wawasan sastra.*)

kodriyahKodriyah lahir Banjarnegara 05 Oktober 1997. Pemilik kesukaan membaca ini tinggal di Desa Sipedang Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara bersama orang tuanya, Bapak Nurudin dan Ibu Sartini. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.