Karma itu Masih Ada

Pelangi Berkerudung AwanResensi Novi Setyowati

Judul Buku : Pelangi Berkerudungkan Awan
Pengarang : Feby Bona Parte
Penerbit : Penerbit Pyramedia Yogyakarta
Kota Terbit : Yogyakarta
Cetakan : I, April 2010
Tebal Buku : x + 404 halaman

Pelangi Berkerudungkan Awan adalah novel yang disajikan dengan menggabungkan gaya bahasa karya Kahlil Gibran dengan gaya penulisan novel pada umumnya. Novel ini diselesaikan Feby Bona Parte pada tahun 2004 bersama dengan dua novel lainnya, sementara proses revisinya baru dimulai sekitar tahun 2009. Selain proses revisi yang banyak menyita energi dan penghayatan, ia juga mengatakan jika dalam proses revisinya, Feby berpindah pindah tempat untuk mendapatkan energi baru, inspirasi, dan menghilangkan kejenuhan.

Cerita dalam novel ini menggambarkan lika-liku dalam sebuah hubungan percintaan dan, menunjukkan karma bagi Kalam yang sangat lihai bersilat lidah, mudah berdusta, dan pandai bermain kata-kata untuk memikat hati wanita meski ia telah berpacaran dengan Aurora, hingga akhirnya karma itu datang, Kalam diselingkuhi oleh Aurora. Mereka berpisah untuk waktu yang lama. Cinta mereka yang tertunda itu ternyata terulang dan terwujud lewat cinta antara Mario yang sebagai anak Aurora dan Sastra yang sebagai anak Kalam.

Selain menyajikan cerita indah dengan gaya bahasa puitis dan elegan, Pelangi Berkerudungkan Awan juga menyelipkan puisi-puisi romantis yang penuh makna. Dialog dalam cerita itu pun menggunakan bahasa sastra yang sangat puitis dan sering kali tidak lazim ditemukan dalam kehidupan nyata. Warna tersendiri dalam novel ini terletak pada cerita yang menggambarkan realitas sosial secara detail, seperti karma, dilema, kasih sayang, kerinduan, kecemburuan, perselingkuhan, pelarian cinta, kesabaran, suka duka dalam mencari, mendapat, dan memiliki cinta itu sendiri. Semua itu dibungkus dan dipadukan dalam kisah mengagumkan penuh kejutan.

Novel ini terlalu gamblang dalam mengungkapkan perselingkuhan, penghianatan, kebohongan, dan cara mempermainkan serta menyakiti hati orang lain dengan kata-kata manis penuh bualan, sehingga ada kemungkinan membuat pembaca dapat terpengaruh untuk meniru tidak hanya kata-katanya, namun juga perilaku negatifnya. Ada beberapa kata dan kata serapan dalam novel ini yang tidak sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD). Selain itu, gaya bahasa puitis dan kalimat yang sedikit rumit untuk dipahami maknanya akan menyulitkan penikmat karya sastra pemula dalam menghayati jalan ceritanya.

Terlepas dari hal-hal di atas, novel ini telah memberi manfaat berupa pelajaran tentang sebuah karma. Apa pun yang kita lakukan dalam hidup pasti akan ada balasannya, yang baik akan berdampak pada kebaikan, dan keburukan akan berdampak pada keburukan pula, sehingga kita dapat mengambil hikmahnya agar dapat mempertimbangkan antara manfaat, kerugian, dan resikonya sebelum melakukan sesuatu. Selain itu, novel ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk menambah pengetahuan tentang berbagai hubungan sebab akibat antara satu realitas sosial dengan realitas sosial yang lain dalam kehidupan. Dengan begitu sangat penting bila novel ini dibaca atau bahkan dimiliki.

Novi SetyowatiNovi Setyowati lahir di Wonosobo, 11 November 1996. Alumni MAN 2 Banjarnegara ini tinggal di Plodongan RT 05 RW 02, Sukoharjo, Wonosobo dan sekarang sedang mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta. Karya-karyanya tergabung dalam antologi Puisi Menolak Korupsi 3 (Forum Sastra Surakarta, 2014) dan Kenangan Dibuang Sayang (Forum Sastra Surakarta, 2014).

Puisi-puisi Lisa Aryati

Puisi DOA RAKYAT” berikut termuat dalam “Pelajar Indonesia Menggugat! – Antologi Puisi Menolak Korupsi 3”

DOA RAKYAT

Ya Allah,
Jadikan
para koruptor itu rakyat jelata
Makan
apa adanya dan hidup serba biasa

Ya Allah,
Semoga
para koruptor nggak punya harta benda
Semoga
para koruptor nggak bebas ke mana-mana
Nggak
bisa seenaknya keliling dunia
Semoga
koruptor seumur hidup di penjara

Ya Allah,
Ambilah
semua kekayaannya
Ambilah
semua kemewahannya
Agar
dia sadar dan merasa
Bagaimana
menjadi orang biasa
Dan
merasakan hidup sengsara
Selalu
meneteskan air mata

Amiin.. Amiin.. Amiin…

Banjarnegara, Januari 2014

NYANYIAN KORUPSI

Kata Rhoma Irama,
Begadang jangan begadang
Kalau
tiada artinya
Begadang
boleh saja
Kalau
ada perlunya

Kata rakyat jelata,
Koruptor jangan korupsi
Kalau
kau menyengsarakan
Koruptor
jahat sekali
Duit
rakyat kau makan

Banjarnegara, Januari 2014

Lisa Aryati - MAN 2 BanjarnegaraLisa Aryati lahir di Banjarnegara 7 Mei 1998 dan beralamat di Masaran RT 01 RW 04 Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Saat ini ia menempuh studi di MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417. Alamat E-mail aryatilisa@ymail.com

Puisi-puisi Livia Arizka

Puisi-puisi Livia Arizka berikut termuat dalam “Pelajar Indonesia Menggugat! – Antologi Puisi Menolak Korupsi 3”

ANDAI SAJA

Andai saja rakyat mampu melawan
Korupsi
akan terhentikan
Tapi
itu hanya mimpi yang terpendam
Karena
mulut mereka serasa terbungkam
Dengan
semua keadaan yang mencengkam

Walau penderitaan di mana-mana
Kemiskinan
merajalela
Pemerintah
tak menghiraukannya
Mereka
asyik menikmati uang rakyat
Tanpa
mempedulikan nasib rakyat

Mereka tak punya hati
Hanya
mementingkan diri sendiri
Mengambil
hak orang lain
Yang
tak pantas untuk mereka gunakan

Banjarnegara, 25 Januari 2014

RAKYAT MISKIN DAN KORUPTOR

Rakyat miskin menangis dengan kemiskinan
Koruptor
bersenang-senang dengan kemewahan
Rakyat
miskin pergi dengan jalan kaki
Koruptor
pergi dengan mobil pribadi
Rakyat
miskin tinggal di kolong jembatan
Koruptor
tinggal di istana kebanggaan
Rakyat
miskin serba kekurangan
Koruptor
terlalu berlebihan
Rakyat
miskin ingin bantuan pemerintah
Koruptor
ingin menghancurkan pemerintah
Rakyat
miskin mencari sesuap nasi
Koruptor
mencari segudang korupsi

Banjarnegara, 25 Januari 2014

BETAPA SENANGNYA

Betapa senangnya menjadi kupu-kupu
Terbang
ke langit biru
Melihat
indah nya dunia
Hinggap
di bunga-bunga

Betapa senangnya jadi semut
Hidup
rukun setiap saat
Gotong
royong dalam bekerja
Saling
berbagi dalam mencari makanan

Betapa senangnya menjadi lebah
Menghasilkan
madu yang sehat
Menghisap
nectar bunga tanpa merusaknya
Menyengat
siapa saja yang mengganggu

Betapa senangnya jadi koruptor
Makan
uang rakyat
Bisa
bersenang-senang walau sesaat
Dan
akhirnya ketahuan korupsi oleh aparat

Banjarnegara, 28 Januari 2014

Livia Arizka - MAN 2 BanjarnegaraLivia Arizka lahir di Banjarnegara, 23 Oktober 1998 dan beralamat di Merden RT 01 RW 03 Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara. Saat ini ia menempuh studi di MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417. Alamat E-mail livia.arizka@yahoo.co.id

Puisi-Puisi Nara Latif

Puisi-puisi karya Nara Latif berikut termuat dalam “Pelajar Indonesia Menggugat! – Antologi Puisi Menolak Korupsi 3”

SYUKUR DI BALIK DERITA

Walau hidup di gubug reot, aku bersyukur
Daripada
di gedung megah, tapi hidupku serakah
Walau
tidur beralas tikar, aku bersyukur
Daripada
di kasur empuk, tapi kurenggut hak mereka
yang
tak bersalah

Mulutku masih mengenali kejujuran
Pikiranku
masih paham akan kebenaran
Hatiku
masih bisa merasakan kesusahan
Walau
aku sendiri masih sering kebingungan

Sadarkah mereka yang berjas rapi dan berdasi
Berdiri
tegak bermuka tak tahu diri
Merenggut
harta negeri ini
Tak
pikir salah, dosapun tak
peduli

JERITAN RAKYAT JELATA

Terasa lemah tubuh ini
Bagai
ikan tak berduri
Bagai
kijang tak berkaki

Entah berapa banyak yang mereka lebur
Yang
aku tahu negeri ini tlah hancur
Bagi
kapal tanpa nahkoda
Kejayaan
ini tlah tertelan Segitiga Bermuda

Bila terus begini, ku tak tahu nasib negeri ini
Apakah
tetap berdiri, ataukah mati tertelan bumi

Bukankah kau telah berjanji atas nama Tuhanmu
Kan
jaga negeri sekuat tenagamu
Mengapa
kau biarkan nafsu kuasaimu
Hingga
kau lupakan janji manismu
dulu

FABEL KORUPSI

Tikus berkata,
Bila
aku koruptor
Kan
kugerogoti harta rakyat

Kucing berkata,
Bila
aku koruptor
Kan
kucuri hak mereka
Agar
mereka menderita

Anjing berkata,
Bila
aku koruptor
Kan
kugonggongkan fitnah kejam
Agar
mereka tak menerkam

Saat KPK berkata,
kan
kutangkap mereka
Mereka
berkata kan kusogok KPK-nya

Saat polisi berkata,
kan
kukurung mereka
Mereka
berkata kan kubayar polisinya

Saat penyair berkata,
Kan
kutulis menjadi puisi
Mereka
terdiam
karena
tak mungkin menyuap
penyair

Banjarnegara, Januari 2014


Nara Latif lahir Banjarnegara 19 Juli 1998 suka mendengarkan musik sambil belajar menulis karya sastra. Ia tinggal di Desa Masaran Kecamatan Bawang, Banjarnegara bersama orang tuanya. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XI IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 32.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 12 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Masa Depan yang Penuh Kesempatan dalam Burlian

Burlian - Tere LiyeResensi Novel
Oleh Titik Dwi Kurniatun Hasanah

Judul Buku : Burlian, Serial Anak-anak Mamak
Penulis : Tere Liye
Kota dan Tahun Terbit : Jakarta, 2009
Penerbit : Penerbit Republika
Tebal Buku : vi + 341 halaman, 20,5 x 13,5 cm
Cetakan : IV, Oktober 2011

Novel ini menceritakan kisah menarik Burlian, seorang anak yang spesial dengan cita-citanya melihat dunia luas. Melalui pendidikan dari seorang Emak yang tegas dan disiplin, namun tetap memberikan kasih sayangnya dan Bapak, yang selalu bijak dalam memberi nasihat. Pak Bin, seorang guru yang selalu bersemangat dalam mengajar. Bakwo Dar, yang mengajarkan bagaimana hidup di alam bebas. Nek Kiba, guru ngaji yang bijaksana. Nakamura-san, seorang insinyur dari Jepang yang membantu menyekolahkan Burlian. Wak Yati, yang selalu memberi nasihat dengan selipan bahasa Belandanya. Ayuk Eli, Kak Pukat, dan Amelia, kakak dan adik Burlian yang selalu membuatnya bersemangat. Serta Munjib, Can, dan teman-temannya yang ikut mewarnai hari-harinya.

Burlian dibesarkan dalam kesederhanaan, keterbatasan, dan kenakalan. Ia tumbuh menjadi anak yang spesial, dengan cita-citanya naik kapal besar dan mengelilingi dunia. Maka dimulailah petualangan masa kanak-kanaknya, di kampung kecil dengan sabuk sungai yang dikelilingi hutan dan dibentengi bukit-bukit hijau.

Tere Liye, seorang yang sangat piawai dalam menulis dengan hati dan berkisah dengan kebaikan tanpa perlu menggurui. Pembaca akan disuguhi cerita-cerita tak terduga. Penggambaran yang detail dari penulis mampu membuat pembaca seolah-olah mengalaminya sendiri. Hanya saja pembaca sedikit disulitkan dengan dialog yang disampaikan Nakamura-san dan Wak Yati, yang menyelipkan bahasa Jepang dan Belanda. Di sini pembaca dituntut untuk lebih jeli dalam memahami kalimat demi kalimat.

Novel ini sangat menarik, enak dibaca, dan perlu menjadi bahan renungan untuk orang tua masa kini. Novel ini juga dapat memotivasi pembaca untuk terus bermimpi karena, Masa depan kau yang penuh kesempatan.

Titik Dwi Kurniatun HasanahTitik Dwi Kurniatun Hasanah lahir di Batanghari, 6 Februari 1996 merupakan alumni kelas XII IPA-Keterampilan Tahun 2013/2014. Putri pasangan Bapak Supardi Ach. Nurudin dan Ibu Maryanah ini sekarang tinggal di Desa Mantrianom RT 01 RW 08 Banjarnegara. Prinsip hidupnyaSesuatu yang mudah jangan disulitkan dan sesuatu yang sulit akan menjadi mudah karena terbiasa.

Kenangan Dibuang Sayang

Segera Terbit…!

Kover-Kenangan Dibuang SayangBuku ini merangkum coretan para siswa Kelas XII IPA MAN 2 Banjarnegara Tahun Pelajaran 2013/2014 yang kreatif dalam mengolah kenangan. Para siswa ini secara langsung telah mengalami bagaimana mengasyikkannya kegiatan menulis. Meski yang mereka tulis barulah kisah-kisah kenangan yang sederhana dengan gaya yang sederhana, namun semangat mereka untuk mencoba rasanya sungguh luar biasa! Meski awalnya tulisan-tulisan tersebut diciptakan untuk memenuhi tugas psikomotor mata pelajaran Bahasa Indonesia, setidaknya terlihat upaya yang gigih dan kreatif dalam proses penyajiannya. Terbukti sebelum menyerahkan naskah tulisan, mereka antusias untuk melakukan beberapa kali proses konsultasi dengan pembimbing demi kesempurnaan karya mereka.

Terlepas dari segi kualitas yang mereka sajikan, sajian 184 kisah remaja penuh makna dalam buku ini dapat pula dijadikan sebagai kenangan bahwa mereka pernah menciptakan suatu karya. Dengan begitu, kenangan manis tak kan habis, kenangan sayang tak kan hilang, kenangan romantis tak kan terkikis, dan kenangan sedih tak kan menyisih. Kenangan mesra? Tentunya semakin terasa…*)