The Reason In The Past

Cerpen Fresti Arbangiati

Gadis Cantik BerhijabSenyum di wajah cantik gadis berusia 19 tahun itu perlahan memudar saat hamparan dandelion yang tadi berterbangan kini tidak tampak lagi karena terguyur derasnya air hujan. Ia mendesah kecewa dan sedetik kemudian, ia telah berlari kencang menuju halte bus terdekat.

Kenapa tidak ada bus yang lewat?” gerutunya sembari menekan beberapa digit nomor yang telah ia hafal di layar ponselnya. “Halo, Kazuto-san? Apa kau sudah di kampus?”

Iya… Kau di mana Keiko-chan?” terdengar suara Kazuto di ponsel Keiko.

Aku ada di taman kota Hofu, kau tahu kan tempat favoritku di sana? Sedari tadi tidak ada satupun bus yang melintas. Tolong jemput aku ya… Sebentar lagi ada tes piano dan aku tidak ingin terlambat.” Belum sempat Kazuto menjawab dengan kesal Keiko menutup teleponnya.

Selang dua puluh menit, akhirnya sebuah Ford Fiesta berwarna biru metalik berhenti di depan halte. Keiko langsung berjalan menuju mobil tersebut dan duduk di samping kursi kemudi.

Antar aku ke rumah,” perintah Keiko pada lelaki yang duduk di sampingnya tanpa memperdulikan ekspresi kebingungan lelaki itu.

Seketika saja lelaki itu memandangnya dengan rasa kesal “Apa yang baru saja kau katakan? Yang benar saja. Kau tahu Keiko-chan, aku sengaja meninggalkan kelas Nona Park hanya demi kau. Tadi kau bilang ada tes piano. Tapi, kenapa sekarang malah memintaku untuk mengantarmu ke rumah?”

Ini sudah lewat dua puluh menit,” jawab Keiko singkat tanpa memedulikan lelaki itu lagi.

Kazuto pun hanya bisa menghela napas panjang seraya berkata, “Tidak ada salahnya kau datang kesana. Apa gunanya kau belajar di universitas bergengsi. Jika masih saja terus membolos.”

Keiko hanya berdehem dengan tampang yang menunjukan ketidakpeduliannya pada kata-kata Kazuto.

***

Suasana ruangan bergaya minimalis di gedung Tokyo University ini seketika berubah menjadi menegangkan. Keiko berdiri dengan kaku saat Nona Jung menatapnya penuh selidik dan sejurus kemudian mengusirnya dari dalam kelas. Keiko terus saja mengumpat di dalam hatinya dan kini ia harus rela terdampar di ruangan koushi-nya itu.

Aku peringatkan padamu untuk tidak mengulangi hal ini. Aku tahu ini hanyalah tes biasa. Tapi, kau jangan seenaknya untuk tidak mengikuti kelas. Bukankah kau dikirim jauh-jauh dari China untuk menuntut ilmu.” Selalu saja kata-kata itu yang keluar dari mulut koushi-nya, apakah hanya kata-kata itu yang ada di pikirannya? Keiko menggerutu di dalam hati.

Keluar dari ruanganku, Nona Keiko.” Itulah kata terakhir yang di ucapkan Nona Jung yang membuat semua syaraf-syaraf Keiko menjadi tidak tegang lagi.

Keiko segera berdiri dan membungkuk memberi hormat pada koushi-nya. Setelah menutup pintu ruangan koushi-nya, ia menggerutu kesal dan tidak sengaja menabrak seseorang di depannya. Orang tersebut ternsenyum padanya seraya berkata “Bagaimana?” Pertanyaan itu semakin membuat Keiko kesal dan segera saja ia berlari meninggalkan orang itu yang tidak lain adalah Kazuto. Kazuto pun mengejar Keiko yang terus saja menghindar darinya. Padahal sedari tadi ia berdiri di depan ruangan Nona Jung hanya untuk menunggu gadis itu. Namun sekarang gadis itu malah berbalik meninggalkannya.

Keiko, kenapa kau berlari? Aku di sini menunggumu sedari tadi hanya untuk menyemangatimu…!” teriak Kazuto. Keiko pun berhenti dan berbalik memandang Kazuto, belum sempat ia berkata apa-apa. Tiba-tiba saja ada seorang lelaki di hadapan Kazuto yang membuat pandangan gadis itu terfokus padanya.

Kazuto Jun!” sapa lelaki itu pada Kazuto sembari merangkulnya.

Aku? Tentu saja aku sangat baik. Bagaimana denganmu, kawan?” ucap Kazuto dengan semangatnya.

Mereka terus saja mengobrol dengan asyiknya dan Keiko? Tentu saja ia terus memandangi lelaki itu dengan tatapan penuh arti.

Hei Keiko! Kemarilah..!” seru Kazuto membuyarkan lamunannya, segera saja Keiko berlalui meninggalkan kedua lelaki tersebut tanpa memedulikan teriakan Kazuto dan tatapan heran dari lelaki itu.

Keiko? Mungkinkah dia adikku. Nishimura mulai bermain dengan memori kenangannya pada 10 tahun yang lalu. Ketika ia mengusir Keiko dari rumah pada saat kedua orang tua mereka meninggal karena kecelakaan. Semula Kazuto yang baru saja tiba dari Seoul, mengira bahwa Keikolah penyebab kedua orang tuanya meninggal. Namun, pada suatu hari sang paman memberitahu kazuto bahwa sebenarnya adiknyalah yang telah berjasa menyelamatkan seluruh aset keluarga mereka dan ia sama sekali tidak terlibat atas kecelakaan yang telah merenggut nyawa kedua orang tua mereka.

Kazuto Jun, siapa Keiko?” pertanyaan itu tiba-tiba saja terucap dari mulut Nishimura.

Dia gadis manis yang sangat kusayangi, ia sudah seperti adikku sendiri. Dia sahabatku, keluargaku. Ia adalah gadis malang yang 10 tahun lalu kutemukan tengah menangis di taman. Ketika itu aku baru saja pulang dari rumah teman, lalu aku melihatnya duduk kedinginan dengan memeluk sebuah boneka beruang coklat…” Kata-kata Kazuto terus saja terngiang di telinga Nishimura. Ia tak menyangka bahwa gadis itu, gadis manis itu adalah adiknya. Adik yang selama ini ia cari.

Keesokan harinya, ia sengaja datang lebih cepat ke Restoran Sushi Apgeojong. Ya, hari ini dan di tempat itu juga ia akan menemui gadis itu. Gadis yang selama ini ia cari, gadis yang tidak lain adalah adiknya. Adik yang telah menanggung semua penderitaan tanpa tau sebab ia menanggungnya. Ia duduk menunggu kedatangan gadis itu sembari sesekali melongok ke jendela untuk melihat hamparan salju yang mulai mencair dan sekaligus untuk mengusir rasa gelisahnya.

Kazuto Jun!” teriaknya pada lelaki yang baru saja memasuki restoran bersama seorang wanita sembari melambaikan tangan. Lelaki itu pun langsung berjalan menuju mejanya bersama wanita itu. Setibanya di meja Nishimura, Keiko terdiam dan tak percaya akan peristiwa yang sedang terjadi. Di hadapannya, kini berdiri seorang lelaki yang sepuluh tahun lalu telah mengusirnya dan membuatnya merasakan segala penderitaan dalam hidupnya. Tanpa berpikir panjang, Nishimura langsung memeluk Keiko yang terus saja terdiam dan mengucapkan kata maaf. Keiko pun meronta berusaha melepaskan pelukan Nishimura dan kemudian berlari keluar restoran sembari menangis.

Nishimura dan Kazuto pun mengejarnya. Ketika Keiko akan menyeberang jalan, tiba-tiba saja dari arah berlawanan sebuah kontainer melintas. Seketika saja Nishimura berlari berusaha menyelamatkan Keiko dengan mendorongnya dan akhirnya ia yang tertabrak kontainer tersebut, hingga terlempar beberapa meter.

Oniisan…! teriak Keiko sambil berusaha bangkit dan menghampiri tubuh Nishimura yang telah tergeletak dengan berlumuran darah.

Oniisan, bangunlah! Aku menyayangimu, aku memaafkanmu…” tangis Keikopun pecah sembarii mengguncang-guncang tubuh Nishimura.

“Uhuk… Keiko terima kasih telah memaafkan Oniisan. Sekarang kau sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Kembalilah ke China, paman telah menunggu kedatanganmu. Maafkan Oniisan yang tidak dapat menemanimu kembali ke China.” Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Nishimura, sebelum akhirnya ia benar-benar menutup matanya untuk selama-lamanya. Keiko menggeleng keras dan berteriak histeris sembari terus berusaha menyadarkan Nishimura.

Kazuto pun memeluk gadis itu, berusaha untuk menenangkannya dan menyalurkan sedikit kesedihannya. Agar beban kepedihan yang dirasakan gadis itu dapat sedikit berkurang. Walaupun ia tahu bahwa kepedihan yang dirasakan gadis itu sangatlah besar. Bagaimana tidak? Pertemuan dengan Oniisan-nya setelah 10 tahun harus berakhir dengan tragis.*)

Keterangan:
Chan : sapaan untuk wanita Jepang
San : sapaan untuk pria Jepang
Koushi : Dosen
Oniisan : Kakak laki-laki

Fresti Arba.Fresti Arbangiati lahir pada tanggal 19 Agustus 1999 di Banjarnegara. Siswa kelas XII Keagamaan MAN 2 Banjarnegara ini merupakan anak ke-1 dari 2 bersaudara dari pasangan Bapak Sumarno dan Ibu Yatimah. Sekarang masih tinggal bersama orang tua di Kutawuluh RT 02 RW 02, Purwonegoro Banjarnegara.

Puisi-puisi Asih Maesaroh

Puisi-puisi Asih Maesaroh

Hadirmu

Kupandangi matahari
Kemilau
sang surya bersinar kembali
Bersama
redupnya mata hati

Ternyata kaulah sosok pertama
Yang
mengisi kekosongan jiwa
Memberi
segenggam ketulusan yang berarti
Membawa
harapan dengan sejuta janji

Ketulusan yang kau beri
Tak
pernah mengharap balas budi
Bukan
karena keadaan hati
namun
lembut nuranimu laksana sang peri

Haru dalam Kalbu

Suara isak tangis sanak keluarga
Menyertai
lafal-lafal Allah yang bergema
Air
mata mengalir bak sungai musi
Melukiskan
kesedihan dan kehilangan
Kehilangan
yang tiada kembali lagi

Mungkin saja bisa kembali
kembali
menyapa hari-hari
Meski
hanya dalam mimpi

Sosok itu telah pergi
Ke
manakah kan kucari lagi
Di
sini tak akan ada
Di
sanapun hanya angan semata

Ku terdiam dan termenung
Menyatukan
haru biru dalam kalbu
Hanya
tangis hati yang setia
Menemani
dan menunggu dalam duka

Bimbang
Kebimbangan
mematahkan semua harapan
Mengubah
agenda hidup yang kan dijalani

Dirimu
Sosok
yang tak kan bisa terganti

Banjarnegara, Januari. 2016

Asih MaesarohAsih Maesaroh lahir di Banjarnegara, 11 Februari 1998. Ia tinggal di Desa Gentansari Rt 03 Rw 04 Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara bersama Ibu dan Adiknya. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

KK Paijo

Cerpen Lisa Aryati

Kartu KeluargaPai, itu adalah nama panggilanku. Ya namaku memang gaul seperti nama orang Korea kan. Tapi aku bukan berasal dari Korea, aku asli Jawa. Pernah suatu ketika temanku bertanya.

Eh Pai, namamu gaul banget nemu dari mana itu nama?” ujar Jono teman sebangkuku.

Hahahapertanyaanmu itu aneh banget, namaku ya dari orang tua.

Waaah pasti nama orang tuamu juga gaul seperti namamu ya?

Pastilah, nama ayahku Shae dan nama ibuku Shai.

Kok hampir sama? Pasti asli Cina ya?

Bukan, asli Jawa Jon!

Kok bisa begitu ya.Jono penasaran.

Bisa lah, nama ayahku Shae alias Shaepul dan nama ibuku Shai alias Shainem,” jawabku penuh gaya.

Terus nama aliasmu siapa?

Nah, namaku Pai alias Paijo.

Yah, kalau begitu bagusan namaku Jons.

Kalau Jones aku tahu pasti jomblo ngenes…ujarku sok tahu.

Bukan, namaku Jons alias Jono Syuaib, keren kan?

Karena percakapan itu teman-temanku jadi tahu nama asliku. Tapi tidak apa-apa lah yang penting tetap ganteng, hehehe….

Saat ini aku kelas XII SMA jurusan IPA. Tinggal beberapa bulan lagi akan Ujian Nasional. Jadi setiap Senin sampai dengan Kamis diadakan pengayaan. Tapi entah mengapa aku sulit sekali menerima pelajaran, mungkin karena aku kurang konsentrasi. Pernah aku curhat tentang kesulitanku itu pada Jono, tapi kata Jono bukan karena aku kurang konsentrasi, namun karena pendengaranku agak kurang. Padahal aku tidak punya penyakit telinga. Ya mungkin ada benarnya juga, aku pernah bermasalah karena salah dengar.

Pada suatu hari saat pelajaran akan dimulai, seorang guru Fisika bernama Bu Les alias Bu Lesmara masuk. Padahal ini bukan saatnya pelajaran Fisika harusnya Bahasa Indonesia.

Assalamualaikum…Bu Lesmara menyapa.

Waalaikumsalam…kami sekelas menjawab bersama.

Saat itu aku sedang asyik menulis jadi tidak tahu siapa yang datang. Lalu Jono teman sebangkuku mengagetkanku.

Pai Pai Pai! Nulisnya sudahi dulu ada Bu Les!

Apa! Siapa? Kamu mules?

Aduh bukan mules tapi Bu Les Pai, Bu Les!sentak Jono padaku.

Oh Bu Les, ada apa ke sini ya?tanyaku bingung sambil melongo.

Mau memberi informasi,Jono meyakinkan.

Anak-anak ada beberapa informasi dari sekolah yang akan saya sampaikan. Pertama, pelaksanaan UAS mulai tanggal 30 November 2015, jadi sebelum UAS dimohon untuk melunasi SPP,kata Bu Lesmara.

Apa Bu?! Mencari luas SMP?spontan aku bertanya dengan nada mengagetkan.

Me-lu-na-si S-P-P, Paijooo…!jawab Bu Les sambil menatapku agak geram.

Oooohihihi….” jawabku sambil tertawa malu.

Informasi kedua, hari Sabtu akan dibagikan kartu UAS oleh wali kelas dan pengumuman terakhir, yaitu soal UAS tahun ini semuanya pilihan ganda.

Yang benar Bu! Masa pilihan janda?

Pilihan ganda Paijoooo…!semua anak di kelas berseru.

Sabar, sabar Ya Tuhan…kata Jono sambil mengelus dada.

Pembelajaran di hari itu selesai. Aku langsung bergegas keluar kelas untuk pulang. Tiba-tiba Jono berteriak-teriak memanggilku, aku berhenti.

Hhh.Jono terengah-engah.

Ada apa Jon?

Ada info penting, tadi waktu kita di kantin Bu Les datang lagi menambah pengumuman. Katanya besok harus membawa KK untuk melengkapi data diri. Sudah dulu ya, aku buru-buru,” kata Jono sambil lari pergi meninggalkanku.

Sesampainya di rumah aku langsung memberi tahu ibu tentang infomasi di sekolah tadi.

Bu tadi ada pengumuman di sekolah, Senin depan mulai UAS jadi harus melunasi SPP.

Sudah itu saja?” tanya ibu.

O ya besok suruh bawa kakak buat data diri.”

Kakak? Kenapa harus kakak kenapa tidak orang tuanya saja?

Aku tidak tahu itu kata Jono.

Terus kalau yang tidak punya kakak gimana?tanya ibu heran.

Hmmm iya ya gimana, kenapa begitu,kataku juga keheranan.Ya sudah tidak usah dipikir Bu yang penting besok Kak Son alias Kak Sondik berangkat ke sekolahku.

Ya.jawab ibuku singkat.

Pagi harinya aku berangkat bersama Kak Son. Sesampainya di sekolah aku dan kakakku langsung menghadap Bu Dharmi wali kelasku.

Asalamualaikum, pagi Bu…aku menyapa dengan tersenyum.

Waalaikumsalam….jawab Bu Dharmi.

Bu ini kakakku namanya Kak Sondik…aku memperkenalkan kakakku dan ia berjabat tagan memperkenalkan diri pada Bu Dharmi.

Pagi Bu, saya Sondik kakaknya Paijo,kata Kak Son.

Pagi. Lha ini ada apa Pai kenapa kamu bawa kakakmu? Apa ada masalah penting? Apa kamu mau pindahan?tanya Bu Dharmi lembut dengan ekspresi wajah agak khawatir. Sontak aku kaget dan bingung dengan pertanyaan Bu Dharmi. Aku sungguh bingung mau bilang apa dan menjawab bagaimana. Lalu dengan ragu-ragu aku bertanya.

Lho katanya suruh bawa kakak buat data diri?tanyaku.

Kakak?tanya Bu Dharmi heran.

Iya kakak kan Bu?

Aduh Paijo.. Paijo…Bu Dharmi menepuk jidatnya.Owalaaahbukan bawa kakak, tapi bawa KK, Kartu Keluarga… Paijoooo!kata Bu Dharmi sambil tertawa terbahak-bahak, dan tentu saja spontan guru-guru di kantor itu juga ikut tertawa. Sejak saat itu dan selama berhari-hari tingkahku itu menjadi trending topic satu sekolah.*)

Lisa AryatiLisa Aryati lahir di Banjarnegara 7 Mei 1998 dan beralamat di Masaran RT 01 RW 04 Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Saat ini ia masih menempuh studi di Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

2015 in Review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 36.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 13 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Syair Pecandu Cinta

Resensi Novel oleh Kodriyah

Camera 360Judul : Relief
 Pengarang : Intan Puspita dan Aditya Dion M
 Penerbit : Caesar
 Kota Terbit : Klaten Jawa Tengah
 Tahun Terbit : April 2003
 Jumlah Halaman : xi – 160 halaman 

Intan Puspita lahir di Malang 11 Oktober, Ia merupakan sarjana ekonomi lulusan FISIP Brawijaya Malangyang saat ini bekerja di salah satu bank pemerintah Indonesia. Tulisan pertamanya bertajuk drama Ballant en Lescenari De La Meva Vida. Di buku keduanya Relief yang ia garap bersama Dion, Intan berusaha menggali lebih dalam tentang bakatnya di dunia sastra. Dion dengan nama lengkap Adittya Dion M adalah pria kelahiran Jakarta 29 September yang sedang menekuni karir di bidang property di Pulau Bali.

Cinta itu pahatan di hati kita mungkin akan abadi layaknya pahatan dalam dinding candi. Merupakan petikan sajak yang dipilih Intan dan Dion sebagai pembuka novel mereka yang menceritakan cinta terlarang dua insan muda. Mereka adalah Ida Ayu Mahadewi dan Iqbal Khairani, dua pribadi yang dilahirkan dari tokoh agama tersohor yang sama-sama memiliki jiwa seni yang mendalam. Keduanya merupakan pemula cinta yang baru saja merasakan indahnya secawan cinta. Ditulis dengan dua tokoh tersebut sebagai pelaku utama dan penyajian peristiwa yang runtut dengan alur maju yang membuat karya sastra ini menarik. Namun penggambaran karakter dan lingkungan kedua tokoh yang nyaris sempurna memperjelas cerita dalam novel ini tidaklah nyata. Selain itu, kedua tokoh aku yang menceritakan masing-masing sebagai inti ceria membuat pembaca berpikir sejenak untuk emnemukan salah satu tokoh yang sedang bercerita. Tidak hanya itu pembuka novel yang menceritakan awal kelahiran mereka membuat novel ini seperti cerita anak-anak, akan tetapi rasa penasaran tidak dapat dipungkiri ketika tiba di bagian tengah cerita.

Iqbal Khairani, sastrawan muslim yang jatuh cinta dengan Ida Ayu Mahadewi, seorang penari hindu berdarah Bali yang mirip dengan Mahadewi kekasih khayalan Iqbal. Mengetahui kekasih pujaannya juga memiliki rasa yang sama membuat dua insan itu sepakat menjalin rasa, namun cintanya kelabu ketika dua keluarga mengetahui hubungan lintas agama tersebut. Keduanya bimbang memilih antara keluarga, agama, atau cinta. Di atas kebimbangan itu keyakinan datang pada Iqbal, ia nekat menemui Mahadewi di kediaman agungnya. Namun hancur hatinya ketika kedatangannya disambut oleh pria yang mengaku sebagai tunangan pujaannya tersebut. Ia pulang membawa nestapa, tapi pada akhirnya tak mampu menahan luapan cintanya kepada Mahadewi. Ia putuskan pergi menjauh dari dunia menuju Borobudur. Lalu ia meninggalkan dunia ini setelah menulis sebuah sajak yang menyatakan cintanya yang seperti pahatan relief candi. Abadi walau ia telah tiada.

Kisahnya sangat menggetarkan hati. Namun satu yang disayangkan, nilai-nilai ketuhanan yang dikesampingkan, bahkan nyaris dilanggar adalah contoh yang tidak patut, tetapi seolah dibenarkan dalam novel ini. Termasuk juga di dalamnya sikap penentangan terhadap keluarga dan luapan emosi yang merujuk kepada penyalahan takdir Tuhan. Di balik semua itu rangkaian kalimat yang disusun dalam bentuk sajak menjadi daya tarik tersendiri pada novel ini. Apalagi bahasanya mudah dipahami. Walaupun dibumbui dengan bahasa Bali, namun tetap menyelipkan artinya.

Rangkaian puisi pada bagian awal semakin membuat novel ini menarik dibaca sebagai novel sastra. Setelah membaca buku ini pembaca akan terbawa pada suasana puitis, bahkan akan mampu mengungkapkan perasaan dalam bentuk kalimat-kalimat yang indah. Hal itulah yang menjadikan karya ini patut dibaca sebagai referensi sekaligus menambah wawasan sastra.*)

kodriyahKodriyah lahir Banjarnegara 05 Oktober 1997. Pemilik kesukaan membaca ini tinggal di Desa Sipedang Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara bersama orang tuanya, Bapak Nurudin dan Ibu Sartini. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

Puisi-puisi Wijuli Muhasanah

Puisi-puisi Wijuli Muhasanah

Dikau

lentera kecil beribu cinta
di sini ada karena ia
bukan waktuku hanya bercanda
karena ada demi cinta

ialah cinta beribu bintang
menyinari kegelapan malam
memberi sejuta impian
dalam merajut indahnya khayalan

ialah cinta beribu bunga
menghadirkan berbagai aroma
merangkai berjuta warna
membawaku dalam buai asmara

Banjarnegara, 25 Juni 2014

Patung Tak Berteman

Berselimutkan sedih sore ini
Hadirku yang telah lama hilang
Mengubah sepercik cinta menjadi duka

Aku bercerita tak terdengar
Aku bertanya tak terjawab
Aku bergurau tiada yang senang

Hidup kini seperti patung tak berteman
Aku ingin segera terbang
Mencari keadilan dan kasih sayang

Namun…
Sayapku masihlah tersangkut pada bebatuan
Tak jarang duri tajam tusukkan raga
Sakit segala sakit kurasakan
Karena angan terhalang segala rintang

Banjarnegara, 4 Agustus 2015

Awan

Andai aku adalah bulan
Kusinari kegelapan malam
Andai aku adalah bintang
Kuhiasi kelamnya malam

Andai aku?

Aku hanyalah awan
Yang tak tahu arah akan datang
Aku hanyalah awan
Yang tak tahu akan turunkan hujan
Aku yang sendiri tak tahu tersebar
Takkan kembali dalam keadaan tenang

Banjarnegara, 7 November 2015
...

LiWijuli Muhasanah lahir pada tanggal 30 Juli 1998 di Banjarnegara. Siswa kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara ini merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara dari pasangan Bapak Achmad Sodikin dan Ibu Khaminah. Sekarang masih tinggal bersama orang tua di Desa Somawangi RT 05 RW 04, Mandiraja, Banjarnegara

Puisi-puisi Mohamad Rifki Isnawan

Kenangan Abadi

Hari demi hari terus berlalu
Menyisakan kisah tiada pilu
Teringat ketika kita pertama kali bertemu
Kau nampak begitu malu-malu

Oh sahabat…
Kini engkau entah pergi ke mana
Entah untuk alasan apa
Bayang-bayangmu tak pernah pudar
Meski tak mungkin bisa kukejar

Kini, aku hanya bisa mengingatmu
Mendoakanmu setiap waktu
Untuk sebuah kenangan di masa lalu
Kenangan yang terukir jelas, indah, dan abadi
(Mohamad
Rifki Isnawan)

Anak Desa

Ketika cahaya merah mulai memecah kegelapan
Saat
ayam-ayam kampung saling bercengkerama
Terlihat
seorang anak lucu nan lugu
Melepas
tawa tiada ragu

Berlari….
Bernyanyi….
Itulah
yang dilakukan anak desa
Sebelum
waktu bekerja tiba

Bekerja membantu mamak tanpa keluh
Dengan
gembira ia lakukan, dengan ceria ia jalankan
Ia
masih tak mengenal lelah
Hingga
waktu petang mulai membentang
(Mohamad
Rifki Isnawan)

Negeriku Surgaku

Indahnya negeriku…
Pesonamu
tak lekang ditelan zaman
Bagai
pelita yang menerangi hidupku
Hidup
yang damba akan kemakmuran

Daratan hingga lautan
Semua
menyimpan kekayaanmu yang tiada batas
Baik
kekayaan bahari, tambang, sampai kebudayaan
Tetap
kau jaga kearifannya, walau sekadar di atas kertas

Kau masih merahasiakan kekayaanmu
Masih
merahasiakan sejuta keindahanmu
Dan
akan selalu menjadi rahasia bagi seluruh umat
Sebuah
rahasia surga di tanah adat
(Mohamad
Rifki Isnawan)

M. Rifki IsnawanMohamad Rifki Isnawan lahir di Banjarnegara, 2 Oktober 1997. Siswa Kelas XII IPA4 MAN 2 Banjarnegara ini, sekarang masih tinggal bersama orang tuanya di Blambangan RT 05 RW 05 Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Ia berprinsip bahwa hidup untuk hari ini, belajar dari sekarang, dan berharap untuk esok hari.