Puisi-puisi Asih Maesaroh

Puisi-puisi Asih Maesaroh

Hadirmu

Kupandangi matahari
Kemilau
sang surya bersinar kembali
Bersama
redupnya mata hati

Ternyata kaulah sosok pertama
Yang
mengisi kekosongan jiwa
Memberi
segenggam ketulusan yang berarti
Membawa
harapan dengan sejuta janji

Ketulusan yang kau beri
Tak
pernah mengharap balas budi
Bukan
karena keadaan hati
namun
lembut nuranimu laksana sang peri

Haru dalam Kalbu

Suara isak tangis sanak keluarga
Menyertai
lafal-lafal Allah yang bergema
Air
mata mengalir bak sungai musi
Melukiskan
kesedihan dan kehilangan
Kehilangan
yang tiada kembali lagi

Mungkin saja bisa kembali
kembali
menyapa hari-hari
Meski
hanya dalam mimpi

Sosok itu telah pergi
Ke
manakah kan kucari lagi
Di
sini tak akan ada
Di
sanapun hanya angan semata

Ku terdiam dan termenung
Menyatukan
haru biru dalam kalbu
Hanya
tangis hati yang setia
Menemani
dan menunggu dalam duka

Bimbang
Kebimbangan
mematahkan semua harapan
Mengubah
agenda hidup yang kan dijalani

Dirimu
Sosok
yang tak kan bisa terganti

Banjarnegara, Januari. 2016

Asih MaesarohAsih Maesaroh lahir di Banjarnegara, 11 Februari 1998. Ia tinggal di Desa Gentansari Rt 03 Rw 04 Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara bersama Ibu dan Adiknya. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

KK Paijo

Cerpen Lisa Aryati

Kartu KeluargaPai, itu adalah nama panggilanku. Ya namaku memang gaul seperti nama orang Korea kan. Tapi aku bukan berasal dari Korea, aku asli Jawa. Pernah suatu ketika temanku bertanya.

Eh Pai, namamu gaul banget nemu dari mana itu nama?” ujar Jono teman sebangkuku.

Hahahapertanyaanmu itu aneh banget, namaku ya dari orang tua.

Waaah pasti nama orang tuamu juga gaul seperti namamu ya?

Pastilah, nama ayahku Shae dan nama ibuku Shai.

Kok hampir sama? Pasti asli Cina ya?

Bukan, asli Jawa Jon!

Kok bisa begitu ya.Jono penasaran.

Bisa lah, nama ayahku Shae alias Shaepul dan nama ibuku Shai alias Shainem,” jawabku penuh gaya.

Terus nama aliasmu siapa?

Nah, namaku Pai alias Paijo.

Yah, kalau begitu bagusan namaku Jons.

Kalau Jones aku tahu pasti jomblo ngenes…ujarku sok tahu.

Bukan, namaku Jons alias Jono Syuaib, keren kan?

Karena percakapan itu teman-temanku jadi tahu nama asliku. Tapi tidak apa-apa lah yang penting tetap ganteng, hehehe….

Saat ini aku kelas XII SMA jurusan IPA. Tinggal beberapa bulan lagi akan Ujian Nasional. Jadi setiap Senin sampai dengan Kamis diadakan pengayaan. Tapi entah mengapa aku sulit sekali menerima pelajaran, mungkin karena aku kurang konsentrasi. Pernah aku curhat tentang kesulitanku itu pada Jono, tapi kata Jono bukan karena aku kurang konsentrasi, namun karena pendengaranku agak kurang. Padahal aku tidak punya penyakit telinga. Ya mungkin ada benarnya juga, aku pernah bermasalah karena salah dengar.

Pada suatu hari saat pelajaran akan dimulai, seorang guru Fisika bernama Bu Les alias Bu Lesmara masuk. Padahal ini bukan saatnya pelajaran Fisika harusnya Bahasa Indonesia.

Assalamualaikum…Bu Lesmara menyapa.

Waalaikumsalam…kami sekelas menjawab bersama.

Saat itu aku sedang asyik menulis jadi tidak tahu siapa yang datang. Lalu Jono teman sebangkuku mengagetkanku.

Pai Pai Pai! Nulisnya sudahi dulu ada Bu Les!

Apa! Siapa? Kamu mules?

Aduh bukan mules tapi Bu Les Pai, Bu Les!sentak Jono padaku.

Oh Bu Les, ada apa ke sini ya?tanyaku bingung sambil melongo.

Mau memberi informasi,Jono meyakinkan.

Anak-anak ada beberapa informasi dari sekolah yang akan saya sampaikan. Pertama, pelaksanaan UAS mulai tanggal 30 November 2015, jadi sebelum UAS dimohon untuk melunasi SPP,kata Bu Lesmara.

Apa Bu?! Mencari luas SMP?spontan aku bertanya dengan nada mengagetkan.

Me-lu-na-si S-P-P, Paijooo…!jawab Bu Les sambil menatapku agak geram.

Oooohihihi….” jawabku sambil tertawa malu.

Informasi kedua, hari Sabtu akan dibagikan kartu UAS oleh wali kelas dan pengumuman terakhir, yaitu soal UAS tahun ini semuanya pilihan ganda.

Yang benar Bu! Masa pilihan janda?

Pilihan ganda Paijoooo…!semua anak di kelas berseru.

Sabar, sabar Ya Tuhan…kata Jono sambil mengelus dada.

Pembelajaran di hari itu selesai. Aku langsung bergegas keluar kelas untuk pulang. Tiba-tiba Jono berteriak-teriak memanggilku, aku berhenti.

Hhh.Jono terengah-engah.

Ada apa Jon?

Ada info penting, tadi waktu kita di kantin Bu Les datang lagi menambah pengumuman. Katanya besok harus membawa KK untuk melengkapi data diri. Sudah dulu ya, aku buru-buru,” kata Jono sambil lari pergi meninggalkanku.

Sesampainya di rumah aku langsung memberi tahu ibu tentang infomasi di sekolah tadi.

Bu tadi ada pengumuman di sekolah, Senin depan mulai UAS jadi harus melunasi SPP.

Sudah itu saja?” tanya ibu.

O ya besok suruh bawa kakak buat data diri.”

Kakak? Kenapa harus kakak kenapa tidak orang tuanya saja?

Aku tidak tahu itu kata Jono.

Terus kalau yang tidak punya kakak gimana?tanya ibu heran.

Hmmm iya ya gimana, kenapa begitu,kataku juga keheranan.Ya sudah tidak usah dipikir Bu yang penting besok Kak Son alias Kak Sondik berangkat ke sekolahku.

Ya.jawab ibuku singkat.

Pagi harinya aku berangkat bersama Kak Son. Sesampainya di sekolah aku dan kakakku langsung menghadap Bu Dharmi wali kelasku.

Asalamualaikum, pagi Bu…aku menyapa dengan tersenyum.

Waalaikumsalam….jawab Bu Dharmi.

Bu ini kakakku namanya Kak Sondik…aku memperkenalkan kakakku dan ia berjabat tagan memperkenalkan diri pada Bu Dharmi.

Pagi Bu, saya Sondik kakaknya Paijo,kata Kak Son.

Pagi. Lha ini ada apa Pai kenapa kamu bawa kakakmu? Apa ada masalah penting? Apa kamu mau pindahan?tanya Bu Dharmi lembut dengan ekspresi wajah agak khawatir. Sontak aku kaget dan bingung dengan pertanyaan Bu Dharmi. Aku sungguh bingung mau bilang apa dan menjawab bagaimana. Lalu dengan ragu-ragu aku bertanya.

Lho katanya suruh bawa kakak buat data diri?tanyaku.

Kakak?tanya Bu Dharmi heran.

Iya kakak kan Bu?

Aduh Paijo.. Paijo…Bu Dharmi menepuk jidatnya.Owalaaahbukan bawa kakak, tapi bawa KK, Kartu Keluarga… Paijoooo!kata Bu Dharmi sambil tertawa terbahak-bahak, dan tentu saja spontan guru-guru di kantor itu juga ikut tertawa. Sejak saat itu dan selama berhari-hari tingkahku itu menjadi trending topic satu sekolah.*)

Lisa AryatiLisa Aryati lahir di Banjarnegara 7 Mei 1998 dan beralamat di Masaran RT 01 RW 04 Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Saat ini ia masih menempuh studi di Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

2015 in Review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 36.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 13 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Syair Pecandu Cinta

Resensi Novel oleh Kodriyah

Camera 360Judul : Relief
 Pengarang : Intan Puspita dan Aditya Dion M
 Penerbit : Caesar
 Kota Terbit : Klaten Jawa Tengah
 Tahun Terbit : April 2003
 Jumlah Halaman : xi – 160 halaman 

Intan Puspita lahir di Malang 11 Oktober, Ia merupakan sarjana ekonomi lulusan FISIP Brawijaya Malangyang saat ini bekerja di salah satu bank pemerintah Indonesia. Tulisan pertamanya bertajuk drama Ballant en Lescenari De La Meva Vida. Di buku keduanya Relief yang ia garap bersama Dion, Intan berusaha menggali lebih dalam tentang bakatnya di dunia sastra. Dion dengan nama lengkap Adittya Dion M adalah pria kelahiran Jakarta 29 September yang sedang menekuni karir di bidang property di Pulau Bali.

Cinta itu pahatan di hati kita mungkin akan abadi layaknya pahatan dalam dinding candi. Merupakan petikan sajak yang dipilih Intan dan Dion sebagai pembuka novel mereka yang menceritakan cinta terlarang dua insan muda. Mereka adalah Ida Ayu Mahadewi dan Iqbal Khairani, dua pribadi yang dilahirkan dari tokoh agama tersohor yang sama-sama memiliki jiwa seni yang mendalam. Keduanya merupakan pemula cinta yang baru saja merasakan indahnya secawan cinta. Ditulis dengan dua tokoh tersebut sebagai pelaku utama dan penyajian peristiwa yang runtut dengan alur maju yang membuat karya sastra ini menarik. Namun penggambaran karakter dan lingkungan kedua tokoh yang nyaris sempurna memperjelas cerita dalam novel ini tidaklah nyata. Selain itu, kedua tokoh aku yang menceritakan masing-masing sebagai inti ceria membuat pembaca berpikir sejenak untuk emnemukan salah satu tokoh yang sedang bercerita. Tidak hanya itu pembuka novel yang menceritakan awal kelahiran mereka membuat novel ini seperti cerita anak-anak, akan tetapi rasa penasaran tidak dapat dipungkiri ketika tiba di bagian tengah cerita.

Iqbal Khairani, sastrawan muslim yang jatuh cinta dengan Ida Ayu Mahadewi, seorang penari hindu berdarah Bali yang mirip dengan Mahadewi kekasih khayalan Iqbal. Mengetahui kekasih pujaannya juga memiliki rasa yang sama membuat dua insan itu sepakat menjalin rasa, namun cintanya kelabu ketika dua keluarga mengetahui hubungan lintas agama tersebut. Keduanya bimbang memilih antara keluarga, agama, atau cinta. Di atas kebimbangan itu keyakinan datang pada Iqbal, ia nekat menemui Mahadewi di kediaman agungnya. Namun hancur hatinya ketika kedatangannya disambut oleh pria yang mengaku sebagai tunangan pujaannya tersebut. Ia pulang membawa nestapa, tapi pada akhirnya tak mampu menahan luapan cintanya kepada Mahadewi. Ia putuskan pergi menjauh dari dunia menuju Borobudur. Lalu ia meninggalkan dunia ini setelah menulis sebuah sajak yang menyatakan cintanya yang seperti pahatan relief candi. Abadi walau ia telah tiada.

Kisahnya sangat menggetarkan hati. Namun satu yang disayangkan, nilai-nilai ketuhanan yang dikesampingkan, bahkan nyaris dilanggar adalah contoh yang tidak patut, tetapi seolah dibenarkan dalam novel ini. Termasuk juga di dalamnya sikap penentangan terhadap keluarga dan luapan emosi yang merujuk kepada penyalahan takdir Tuhan. Di balik semua itu rangkaian kalimat yang disusun dalam bentuk sajak menjadi daya tarik tersendiri pada novel ini. Apalagi bahasanya mudah dipahami. Walaupun dibumbui dengan bahasa Bali, namun tetap menyelipkan artinya.

Rangkaian puisi pada bagian awal semakin membuat novel ini menarik dibaca sebagai novel sastra. Setelah membaca buku ini pembaca akan terbawa pada suasana puitis, bahkan akan mampu mengungkapkan perasaan dalam bentuk kalimat-kalimat yang indah. Hal itulah yang menjadikan karya ini patut dibaca sebagai referensi sekaligus menambah wawasan sastra.*)

kodriyahKodriyah lahir Banjarnegara 05 Oktober 1997. Pemilik kesukaan membaca ini tinggal di Desa Sipedang Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara bersama orang tuanya, Bapak Nurudin dan Ibu Sartini. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

Puisi-puisi Wijuli Muhasanah

Puisi-puisi Wijuli Muhasanah

Dikau

lentera kecil beribu cinta
di sini ada karena ia
bukan waktuku hanya bercanda
karena ada demi cinta

ialah cinta beribu bintang
menyinari kegelapan malam
memberi sejuta impian
dalam merajut indahnya khayalan

ialah cinta beribu bunga
menghadirkan berbagai aroma
merangkai berjuta warna
membawaku dalam buai asmara

Banjarnegara, 25 Juni 2014

Patung Tak Berteman

Berselimutkan sedih sore ini
Hadirku yang telah lama hilang
Mengubah sepercik cinta menjadi duka

Aku bercerita tak terdengar
Aku bertanya tak terjawab
Aku bergurau tiada yang senang

Hidup kini seperti patung tak berteman
Aku ingin segera terbang
Mencari keadilan dan kasih sayang

Namun…
Sayapku masihlah tersangkut pada bebatuan
Tak jarang duri tajam tusukkan raga
Sakit segala sakit kurasakan
Karena angan terhalang segala rintang

Banjarnegara, 4 Agustus 2015

Awan

Andai aku adalah bulan
Kusinari kegelapan malam
Andai aku adalah bintang
Kuhiasi kelamnya malam

Andai aku?

Aku hanyalah awan
Yang tak tahu arah akan datang
Aku hanyalah awan
Yang tak tahu akan turunkan hujan
Aku yang sendiri tak tahu tersebar
Takkan kembali dalam keadaan tenang

Banjarnegara, 7 November 2015
...

LiWijuli Muhasanah lahir pada tanggal 30 Juli 1998 di Banjarnegara. Siswa kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara ini merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara dari pasangan Bapak Achmad Sodikin dan Ibu Khaminah. Sekarang masih tinggal bersama orang tua di Desa Somawangi RT 05 RW 04, Mandiraja, Banjarnegara

Puisi-puisi Mohamad Rifki Isnawan

Kenangan Abadi

Hari demi hari terus berlalu
Menyisakan kisah tiada pilu
Teringat ketika kita pertama kali bertemu
Kau nampak begitu malu-malu

Oh sahabat…
Kini engkau entah pergi ke mana
Entah untuk alasan apa
Bayang-bayangmu tak pernah pudar
Meski tak mungkin bisa kukejar

Kini, aku hanya bisa mengingatmu
Mendoakanmu setiap waktu
Untuk sebuah kenangan di masa lalu
Kenangan yang terukir jelas, indah, dan abadi
(Mohamad
Rifki Isnawan)

Anak Desa

Ketika cahaya merah mulai memecah kegelapan
Saat
ayam-ayam kampung saling bercengkerama
Terlihat
seorang anak lucu nan lugu
Melepas
tawa tiada ragu

Berlari….
Bernyanyi….
Itulah
yang dilakukan anak desa
Sebelum
waktu bekerja tiba

Bekerja membantu mamak tanpa keluh
Dengan
gembira ia lakukan, dengan ceria ia jalankan
Ia
masih tak mengenal lelah
Hingga
waktu petang mulai membentang
(Mohamad
Rifki Isnawan)

Negeriku Surgaku

Indahnya negeriku…
Pesonamu
tak lekang ditelan zaman
Bagai
pelita yang menerangi hidupku
Hidup
yang damba akan kemakmuran

Daratan hingga lautan
Semua
menyimpan kekayaanmu yang tiada batas
Baik
kekayaan bahari, tambang, sampai kebudayaan
Tetap
kau jaga kearifannya, walau sekadar di atas kertas

Kau masih merahasiakan kekayaanmu
Masih
merahasiakan sejuta keindahanmu
Dan
akan selalu menjadi rahasia bagi seluruh umat
Sebuah
rahasia surga di tanah adat
(Mohamad
Rifki Isnawan)

M. Rifki IsnawanMohamad Rifki Isnawan lahir di Banjarnegara, 2 Oktober 1997. Siswa Kelas XII IPA4 MAN 2 Banjarnegara ini, sekarang masih tinggal bersama orang tuanya di Blambangan RT 05 RW 05 Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Ia berprinsip bahwa hidup untuk hari ini, belajar dari sekarang, dan berharap untuk esok hari.

Tentang Waktu

Oleh Ika Fitriani

Tentang WaktuWaktu adalah sesuatu yang abstrak, tak terlihat, namun kita tahu. Waktu menunjukkan “kapan.” Namun, kita tidak tahu kapan waktu dimulai dan diakhiri. Kapan dihitungnya waktu hari pertama, bahkan bagaimana cara menghitung detik pertama serta siapa yang melakukannya. Tetapi, kita tak perlu tahu jawaban itu, yang terpenting adalah bijak terhadap waktu.

Waktu adalah saksi kehidupan. Waktulah yang merekam metamorfosa kehidupan. Ia merekam berjuta kenangan dan mozaik perjalanan hidup hingga sampai langkah kaki kita yang terakhir menapak.

Lama dan sebentar hanya intensitas waktu. Antar individu yang bersama memiliki intensitas waktu yang tidak sama. Waktu yang lama merekam kisah yang lebih beragam. Diibaratkan rujak yang asam, asin, manis, pahit, pedas semua dirasakan dalam waktu yang tidak singkat. Semakin lama, semakin paham tentang rasa hidup bersama. Sayangnya karena bersama dalam kurun waktu yang lama, sebagian besar individu lebih tajam merasa asam dan pedasnya, walau mozaik manis telah banyak dirasakan. Namun saat bersama individu yang kurun waktu bersama belum lama, dia terngiang rasa manis yang mungkin baru setetes.

Pada saat ada masalah dengan orang tua misalnya, akan betul tertusuk hati individu. Namun bila sahabat yang baru mengukir senyum, individu begitu terpesona. Hingga karena waktu, individu menyadari bahwa dia betul-betul paham karakter tiap individu serta paham betapa pentingnya individu yang bersama dalam kurun waktu yang lama, terutama orang tua.

Maka berbijaklah dengan waktu dan mengertilah. Bila individu telah memahami karakter karena waktu, maka cobalah mengerti dia. Jangan sampai menyesali waktu, karena anda telah mengukir kemasaman dalam hidup mereka. Berbuat baiklah, karena kita tak tahu kapan waktu menghentikan kita bersama orang terpenting dan terbaik bagi kita dan bila kau menunggu mereka menganggap kau yang terbaik dan terpenting, kau telah tertipu oleh waktu.*)

….

ika fitrianiIka Fitriani lahir Banjarnegara, 27 Januari 1998. Ia tinggal di Desa Pagedongan Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara bersama orang tuanya. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417. Prinsip hidupnya bahwa kunci kesuksesan tergantung pada saat memulai dan mengakhiri serta proses yang istiqomah.