Energi Negatif, Energi Pembangkit

Resensi yang bagus atas buku yang bermanfaat.πŸ™‚

Perpustakaan Mandua

Resensi Buku Fresti Arbangiati
(Pemenang Harapan 2 Lomba Membuat Resensi di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Banjarnegara, 2016)

the-power-of-frustrationJudul Buku: The Power of Frustration
Pengarang: Zishak K. Naen
Editor: Nur Kholis
Penerbit: Araska Publisher
Kota, Tahun Terbit: Yogyakarta, Maret 2015
Tebal Buku: 208 Halaman

Zishak K. Naen merupakan penulis kelahiran Gorontalo. Namun, ia menghabiskan masa remaja di Manado dan Makassar. Kemudian ia melanjutkan studinya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia pernah bekerja sebagai editor di sejumlah penerbitan dan kini ia bekerja sepenuhnya sebagai editor lepas. Sesekali ia meneliti, menerjemah dan menulis, sekaligus mengelola Sangunglo Scripts Center (SSC) Yogyakarta.

Melalui buku ini, Zishak K. Naen ingin menyampaikan sebuah kekuatan dari frustrasi, Β yang menurut kebanyakan orang mempunyai konotasi negatif. Di dalam buku ini dikuak secara lengkap berbagai manfaat dari rasa frustrasi. Di samping itu, disajikan pula berbagai kiat menghadapi dan mengolah frustasi menjadi sebuahΒ  kekuatan untuk meraih kesuksesan.

Lihat pos aslinya 399 kata lagi

Puisi-puisi Asih Maesaroh

Puisi-puisi Asih Maesaroh

Hadirmu

Kupandangi matahari
Kemilau
sang surya bersinar kembali
Bersama
redupnya mata hati

Ternyata kaulah sosok pertama
Yang
mengisi kekosongan jiwa
Memberi
segenggam ketulusan yang berarti
Membawa
harapan dengan sejuta janji

Ketulusan yang kau beri
Tak
pernah mengharap balas budi
Bukan
karena keadaan hati
namun
lembut nuranimu laksana sang peri

Haru dalam Kalbu

Suara isak tangis sanak keluarga
Menyertai
lafal-lafal Allah yang bergema
Air
mata mengalir bak sungai musi
Melukiskan
kesedihan dan kehilangan
Kehilangan
yang tiada kembali lagi

Mungkin saja bisa kembali
kembali
menyapa hari-hari
Meski
hanya dalam mimpi

Sosok itu telah pergi
Ke
manakah kan kucari lagi
Di
sini tak akan ada
Di
sanapun hanya angan semata

Ku terdiam dan termenung
Menyatukan
haru biru dalam kalbu
Hanya
tangis hati yang setia
Menemani
dan menunggu dalam duka

Bimbang…
Kebimbangan
mematahkan semua harapan
Mengubah
agenda hidup yang kan dijalani

Dirimu…
Sosok
yang tak kan bisa terganti

Banjarnegara, Januari. 2016

Asih MaesarohAsih Maesaroh lahir di Banjarnegara, 11 Februari 1998. Ia tinggal di Desa Gentansari Rt 03 Rw 04 Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara bersama Ibu dan Adiknya. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

KK Paijo

Cerpen Lisa Aryati

Kartu KeluargaPai, itu adalah nama panggilanku. Ya namaku memang gaul seperti nama orang Korea kan. Tapi aku bukan berasal dari Korea, aku asli Jawa. Pernah suatu ketika temanku bertanya.

β€œEh Pai, namamu gaul banget nemu dari mana itu nama?” ujar Jono teman sebangkuku.

β€œHahaha… pertanyaanmu itu aneh banget, namaku ya dari orang tua.”

β€œWaaah pasti nama orang tuamu juga gaul seperti namamu ya?”

β€œPastilah, nama ayahku Shae dan nama ibuku Shai.”

β€œKok hampir sama? Pasti asli Cina ya?”

β€œBukan, asli Jawa Jon…!”

β€œKok bisa begitu ya….” Jono penasaran.

β€œBisa lah, nama ayahku Shae alias Shaepul dan nama ibuku Shai alias Shainem,” jawabku penuh gaya.

β€œTerus nama aliasmu siapa?”

β€œNah, namaku Pai alias Paijo.”

β€œYah, kalau begitu bagusan namaku Jons.”

β€œKalau Jones aku tahu pasti jomblo ngenes…” ujarkuΒ sok tahu.

β€œBukan, namaku Jons alias Jono Syu’aib, keren kan?”

Karena percakapan itu teman-temanku jadi tahu nama asliku. Tapi tidak apa-apa lah yang penting tetap ganteng, hehehe….

Saat ini aku kelas XII SMA jurusan IPA. Tinggal beberapa bulan lagi akan Ujian Nasional. Jadi setiap Senin sampai dengan Kamis diadakan pengayaan. Tapi entah mengapa aku sulit sekali menerima pelajaran, mungkin karena aku kurang konsentrasi. Pernah aku curhat tentang kesulitanku itu pada Jono, tapi kata Jono bukan karena aku kurang konsentrasi, namun karena pendengaranku agak kurang. Padahal aku tidak punya penyakit telinga. Ya mungkin ada benarnya juga, aku pernah bermasalah karena salah dengar.

Pada suatu hari saat pelajaran akan dimulai, seorang guru Fisika bernama Bu Les alias Bu Lesmara masuk. Padahal ini bukan saatnya pelajaran Fisika harusnya Bahasa Indonesia.

β€œAssalamualaikum…” Bu Lesmara menyapa.

β€œWaalaikumsalam…” kami sekelas menjawab bersama.

Saat itu aku sedang asyik menulis jadi tidak tahu siapa yang datang. Lalu Jono teman sebangkuku mengagetkanku.

β€œPai Pai Pai! Nulisnya sudahi dulu ada Bu Les!”

β€œApa! Siapa? Kamu mules?”

β€œAduh bukan mules tapi Bu Les Pai, Bu Les!” sentak Jono padaku.

β€œOh Bu Les, ada apa ke sini ya?” tanyaku bingung sambil melongo.

β€œMau memberi informasi,” Jono meyakinkan.

β€œAnak-anak ada beberapa informasi dari sekolah yang akan saya sampaikan. Pertama, pelaksanaan UASΒ mulai tanggal 30 November 2015, jadi sebelum UAS dimohon untuk melunasi SPP,” kata Bu Lesmara.

β€œApa Bu?! Mencari luas SMP?” spontan aku bertanya dengan nada mengagetkan.

β€œMe-lu-na-si S-P-P, Paijooo…!” jawab Bu Les sambil menatapku agak geram.

β€œOooo…hihihi….” jawabku sambil tertawa malu.

β€œInformasi kedua, hari Sabtu akan dibagikan kartu UAS oleh wali kelas dan pengumuman terakhir, yaitu soal UASΒ tahun ini semuanya pilihan ganda.”

β€œYang benar Bu! Masa pilihan janda?”

β€œPilihan ganda Paijoooo…!” semua anak di kelas berseru.

β€œSabar, sabar Ya Tuhan…” kata Jono sambil mengelus dada.

Pembelajaran di hari itu selesai. Aku langsung bergegas keluar kelas untuk pulang. Tiba-tiba Jono berteriak-teriak memanggilku, aku berhenti.

β€œHhh….” Jono terengah-engah.

β€œAda apa Jon?”

β€œAda info penting, tadi waktu kita di kantin Bu Les datang lagi menambah pengumuman. Katanya besok harus membawa KK untuk melengkapi data diri. Sudah dulu ya, aku buru-buru,” kata Jono sambil lari pergi meninggalkanku.

Sesampainya di rumah aku langsung memberi tahu ibu tentang infomasi di sekolah tadi.

β€œBu tadi ada pengumuman di sekolah, Senin depan mulai UAS jadi harus melunasi SPP.”

β€œSudah itu saja?” tanya ibu.

β€œO ya besok suruh bawa kakak buat data diri.”

β€œKakak? Kenapa harus kakak kenapa tidak orang tuanya saja?”

β€œAku tidak tahu itu kata Jono.”

β€œTerus kalau yang tidak punya kakak gimana?” tanya ibu heran.

β€œHmmm iya ya gimana, kenapa begitu,” kataku juga keheranan. β€œYa sudah tidak usah dipikir Bu yang penting besok Kak Son alias Kak Sondik berangkat ke sekolahku.”

β€œYa.” jawab ibuku singkat.

Pagi harinya aku berangkat bersama Kak Son. Sesampainya di sekolah aku dan kakakku langsung menghadap Bu Dharmi wali kelasku.

β€œ Asalamualaikum, pagi Bu…” aku menyapa dengan tersenyum.

β€œWaalaikumsalam….” jawab Bu Dharmi.

β€œBu ini kakakku namanya Kak Sondik…” aku memperkenalkan kakakku dan ia berjabat tagan memperkenalkan diri pada Bu Dharmi.

β€œPagi Bu, saya Sondik kakaknya Paijo,” kata Kak Son.

β€œPagi. Lha ini ada apa Pai kenapa kamu bawa kakakmu? Apa ada masalah penting? Apa kamu mau pindahan?” tanya Bu Dharmi lembut dengan ekspresi wajah agak khawatir. Sontak aku kaget dan bingung dengan pertanyaan Bu Dharmi. Aku sungguh bingung mau bilang apa dan menjawab bagaimana. Lalu dengan ragu-ragu aku bertanya.

β€œLho katanya suruh bawa kakak buat data diri?” tanyaku.

β€œKakak?” tanya Bu Dharmi heran.

β€œIya kakak kan Bu?”

β€œAduh Paijo.. Paijo…” Bu Dharmi menepuk jidatnya. β€œOwalaaah… bukan bawa kakak, tapi bawa KK, Kartu Keluarga… Paijoooo…!” kata Bu Dharmi sambil tertawa terbahak-bahak, dan tentu saja spontan guru-guru di kantor itu juga ikut tertawa. Sejak saat itu dan selama berhari-hari tingkahku itu menjadi trending topic satu sekolah.*)

Lisa AryatiLisa Aryati lahir di Banjarnegara 7 Mei 1998 dan beralamat di Masaran RT 01 RW 04 Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Saat ini ia masih menempuh studi di Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

2015 in Review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 36.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 13 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Syair Pecandu Cinta

Resensi Novel oleh Kodriyah

Camera 360Judul : Relief
 Pengarang : Intan Puspita dan Aditya Dion M
 Penerbit : Caesar
 Kota Terbit : Klaten Jawa Tengah
 Tahun Terbit : April 2003
 Jumlah Halaman : xi – 160 halaman 

Intan Puspita lahir di Malang 11 Oktober, Ia merupakan sarjana ekonomi lulusan FISIP Brawijaya Malangyang saat ini bekerja di salah satu bank pemerintah Indonesia. Tulisan pertamanya bertajuk drama Ballant en Lescenari De La Meva Vida. Di buku keduanya Relief yang ia garap bersama Dion, Intan berusaha menggali lebih dalam tentang bakatnya di dunia sastra. Dion dengan nama lengkap Adittya Dion M adalah pria kelahiran Jakarta 29 September yang sedang menekuni karir di bidang property di Pulau Bali.

β€œCinta itu pahatan di hati kita mungkin akan abadi layaknya pahatan dalam dinding candi.” Merupakan petikan sajak yang dipilih Intan dan Dion sebagai pembuka novel mereka yang menceritakan cinta terlarang dua insan muda. Mereka adalah Ida Ayu Mahadewi dan Iqbal Khairani, dua pribadi yang dilahirkan dari tokoh agama tersohor yang sama-sama memiliki jiwa seni yang mendalam. Keduanya merupakan pemula cinta yang baru saja merasakan indahnya secawan cinta. Ditulis dengan dua tokoh tersebut sebagai pelaku utama dan penyajian peristiwa yang runtut dengan alur maju yang membuat karya sastra ini menarik. Namun penggambaran karakter dan lingkungan kedua tokoh yang nyaris sempurna memperjelas cerita dalam novel ini tidaklah nyata. Selain itu, kedua tokoh aku yang menceritakan masing-masing sebagai inti ceria membuat pembaca berpikir sejenak untuk emnemukan salah satu tokoh yang sedang bercerita. Tidak hanya itu pembuka novel yang menceritakan awal kelahiran mereka membuat novel ini seperti cerita anak-anak, akan tetapi rasa penasaran tidak dapat dipungkiri ketika tiba di bagian tengah cerita.

Iqbal Khairani, sastrawan muslim yang jatuh cinta dengan Ida Ayu Mahadewi, seorang penari hindu berdarah Bali yang mirip dengan Mahadewi kekasih khayalan Iqbal. Mengetahui kekasih pujaannya juga memiliki rasa yang sama membuat dua insan itu sepakat menjalin rasa, namun cintanya kelabu ketika dua keluarga mengetahui hubungan lintas agama tersebut. Keduanya bimbang memilih antara keluarga, agama, atau cinta. Di atas kebimbangan itu keyakinan datang pada Iqbal, ia nekat menemui Mahadewi di kediaman agungnya. Namun hancur hatinya ketika kedatangannya disambut oleh pria yang mengaku sebagai tunangan pujaannya tersebut. Ia pulang membawa nestapa, tapi pada akhirnya tak mampu menahan luapan cintanya kepada Mahadewi. Ia putuskan pergi menjauh dari dunia menuju Borobudur. Lalu ia meninggalkan dunia ini setelah menulis sebuah sajak yang menyatakan cintanya yang seperti pahatan relief candi. Abadi walau ia telah tiada.

Kisahnya sangat menggetarkan hati. Namun satu yang disayangkan, nilai-nilai ketuhanan yang dikesampingkan, bahkan nyaris dilanggar adalah contoh yang tidak patut, tetapi seolah dibenarkan dalam novel ini. Termasuk juga di dalamnya sikap penentangan terhadap keluarga dan luapan emosi yang merujuk kepada penyalahan takdir Tuhan. Di balik semua itu rangkaian kalimat yang disusun dalam bentuk sajak menjadi daya tarik tersendiri pada novel ini. Apalagi bahasanya mudah dipahami. Walaupun dibumbui dengan bahasa Bali, namun tetap menyelipkan artinya.

Rangkaian puisi pada bagian awal semakin membuat novel ini menarik dibaca sebagai novel sastra. Setelah membaca buku ini pembaca akan terbawa pada suasana puitis, bahkan akan mampu mengungkapkan perasaan dalam bentuk kalimat-kalimat yang indah. Hal itulah yang menjadikan karya ini patut dibaca sebagai referensi sekaligus menambah wawasan sastra.*)

kodriyahKodriyah lahir Banjarnegara 05 Oktober 1997. Pemilik kesukaan membaca ini tinggal di Desa Sipedang Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara bersama orang tuanya, Bapak Nurudin dan Ibu Sartini. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

Puisi-puisi Wijuli Muhasanah

Puisi-puisi Wijuli Muhasanah

Dikau

lentera kecil beribu cinta
di sini ada karena ia
bukan waktuku hanya bercanda
karena ada demi cinta

ialah cinta beribu bintang
menyinari kegelapan malam
memberi sejuta impian
dalam merajut indahnya khayalan

ialah cinta beribu bunga
menghadirkan berbagai aroma
merangkai berjuta warna
membawaku dalam buai asmara

Banjarnegara, 25 Juni 2014

Patung Tak Berteman

Berselimutkan sedih sore ini
Hadirku yang telah lama hilang
Mengubah sepercik cinta menjadi duka

Aku bercerita tak terdengar
Aku bertanya tak terjawab
Aku bergurau tiada yang senang

Hidup kini seperti patung tak berteman
Aku ingin segera terbang
Mencari keadilan dan kasih sayang

Namun…
Sayapku masihlah tersangkut pada bebatuan
Tak jarang duri tajam tusukkan raga
Sakit segala sakit kurasakan
Karena angan terhalang segala rintang

Banjarnegara, 4 Agustus 2015

Awan

Andai aku adalah bulan
Kusinari kegelapan malam
Andai aku adalah bintang
Kuhiasi kelamnya malam

Andai aku?

Aku hanyalah awan
Yang tak tahu arah akan datang
Aku hanyalah awan
Yang tak tahu akan turunkan hujan
Aku yang sendiri tak tahu tersebar
Takkan kembali dalam keadaan tenang

Banjarnegara, 7 November 2015
...

LiWijuli Muhasanah lahir pada tanggal 30 Juli 1998 di Banjarnegara. Siswa kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara ini merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara dari pasangan Bapak Achmad Sodikin dan Ibu Khaminah. Sekarang masih tinggal bersama orang tua di Desa Somawangi RT 05 RW 04, Mandiraja, Banjarnegara