Sebuah Resensi Istikharoh
Judul Buku:
Leichester Phenomenon “Yes, I am The Underdog!”
Penulis:
Syahban
Penerbit:
Vertikal Grafika Press & Publishing
Kota, Tahun Terbit:
Yogyakarta, Mei 2016
Tebal Buku:
292 Halaman
Joko Syahban Panggih Widodo yang kerap dipanggil J. Syahban merupakan alumni Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FKIP Universitas Sebelas Maret, yang lahir di Solo, 14 November 1966. Ia sudah menulis banyak buku motivasi. Leicester Phenomenon “Yes, iam the underdog” adalah salah satu karya terbaiknya. Melalui buku ini kita dapat berkaca pada tim kesebelasan yang terdegradasi dalam dunia sepak bola Inggris, Leicester City. Setelah lama tenggelam dalam keterpurukan, secara ajaib tiba-tiba datang dan disegani lawan. Begitulah gambaran umum dari tim sepak bola yang dijuluki The Foxes. J Syahban bermaksud mengeksplorasi energi yang mencuatkan daya motivasi bahwa semua orang berhak untuk membangunkan King Power sebagai jalan membuka jalur kesuksesan.
Pada bagian awal, J. Syahban memaparkan bahwa sukses berasal deri keberanian untuk mengambil kesempatan. Ia juga menuliskan esensi kesempatan dan cara mengubahnya menjadi berlian dengan memanfaatkan King Power dalam diri setiap manusia. Secara harfiah, King Power dapat dimaknai sebagai “kekuatan raja.” Raja yang dimaksud adalah hati yang jujur dan waspada. Jadi, kita harus berani jujur dengan diri sendiri, memahami setiap kelebihan dan kekurangannya, lalu mencari keinginan yang tersembunyi di dalamnya.
“Jangan sembunyikan keinginan untuk menang, karena kita punya kesempatan untuk meraihnya. Jangan mau kalah dengan para pemain berbandrol harga mahal, karena Anda bisa selevel dengan mereka,” (halaman 162). Begitulah penuturan Claudio Reineri yang didengungkan kepada para anak asuhnya. Dengan kalimat itu, manejer Leicester City berhasil mengobarkan semangat para pemain Leicester City. Alhasil, mereka mampu bertahan ketika mereka dipandang sebelah mata oleh tim-tim besar lawan mainnya.
“HIDUP HARUS SUKSES! Tidak ada pilihan lainnya.” (halaman 32). Tak sepantasnya kita berhenti pada tataran ‘hanya ingin’ sukses. Mengubah keinginan menjadi keharusan adalah salah satu upaya untuk meningkatkan daya juang kita dalam meraih kesuksesan. “Jika Anda sampai pada tataran ‘hanya ingin’ sukses, boleh jadi Anda akan dihentikan oleh rasa takut. Tetapi kalau Anda berketetapan diri ‘harus sukses’, monster bernama ‘takut’ itu akan lari ketakutan sehingga Anda lebih cepat menjejakan diri di panggung kesuksesan.” (halaman 174).
Keharusan akan memunculkan keberanian untuk mengusir rasa takut yang bersemayam pada diri manusia. Kita perlu mencontoh keberanian Lecester City dalam menghadapi zona ujiannya, ketika mereka disepelekan. Dengan lantang mereka berkata bahwa sekarang mereka bukanlah siapa-siapa, “Yes I am the underdog!” (halaman 94). Setelah mengakui hal itu, mereka tidak lantas terpuruk dan menyerah begitu saja. Justru, itulah awal dari kebangkitan raksasa yang tidur. Leicester City mulai merangkak untuk membuktikan pada orang yang meremehkannya bahwa mereka bisa.
Buku ini kaya dengan literasi. J. Syahban mencantumkan kisah motivasi dari berbagai penjuru dunia. Dari pemikiran orang Jawa sampai pandangan orang Belanda ada dalam buku karangannya. Di antaranya terdapat kisah Sadako Sasaki, gadis Jepang yang hidup pada tahun 1945 ketika kota Hiroshima dan Nagasaki diporak-porandakan oleh bom atom. Gadis itu mempunyai penyakit dan didiagnosis tidak akan sembuh. Keberanian dan kemauan ingin sembuh serta dilandasi dengan kepercayaan orang Jepang bahwa seribu burung kertas akan mengabulkan keinginan, ia dengan gigih berusaha membuat seribu burung itu dengan mengharap kesembuhan akan menyapanya. Namun, usahanya terhenti, gadis itu dijemput malaikat maut ketika masih kurang 356 burung, Hal tersebut membuat hati orang-orang Jepang tersentuh sampai-sampai mereka membangun monumen Sadaki Sasako dan burung kertasnya yang diresmikan pada tanggal 5 Mei 1958 di Taman Perdamaian Hiroshima. Sadako telah mengajarkan keberanian dan kegigihan untuk tetap hidup.
Secara objektif, J. Syahban memunculkan kalimat-kalimat suci dari berbagai agama. Ia menyisipkan nilai-nilai religi yang dikemas dengan begitu rapi, disebutnya sebagai kalimat-kalimat langit. “Ada ‘Kalimat Langit’ yang berbunyi “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Atau ada yang menyebutnya, habis gelap terbitlah terang.” (halaman 4). Hal tersebut merupakan sebuah keistimewaan mengingat bahwa J. Syahban seorang monotheis (orang yang mempunyai satu agama). Dengan kutipan kalimat suci dari berbagai agama, semua orang dengan latar belakang agama apapun dapat membacanya.
Kelebihan tersendiri dari buku Leicester Phenomenon “Yes, I am the underdog” adalah disertakannya gagasan yang ingin disampaikan penulis pada setiap awal pembahasan. Dalam buku ini terdapat tiga puluh bab, yang masing-masing bab didahului dengan kalimat super ala J. Syahban. Hal ini mampu memudahkan pembaca untuk memahami pandangan-pandangan yang ingin disampaikan penulis.
Leicester Phenomenon “Yes, I am the underdong” ditulis dengan banyak referensi. J. Syahban menyelipkan gagasan-gagasan dari para ilmuan yang ahli dalam bidangnya. Namun, penjabarannya terlalu luas. Contohnya pada pengenalan prinsip dasar oleh Hawari N Tanjdaya yang ditulis sebanyak lima halaman. Hal ini sedikit mengganggu kenikmatan pembaca mengingat kalimat yang digunakan oleh tokoh tersebut begitu teoritis dan sukar dipahami.
Kabar buruk bagi pembaca yang kurang mahir dalam menggunakan bahasa Inggris. J. Syahban mengutip lagu ‘The Underdog’ dari Rialto (halaman 94) dan kalimat-kalimat super ala Valentino Rossi (halaman 205) tanpa menuliskan terjemahannya. Tentunya akan mengganggu pembaca mengingat setelah diterjemahkan ternyata kalimat-kalimat tersebut mempunyai kekuatan untuk motivasi diri.
Terlepas dari semua itu, Leicester Phenomenon “Yes, I am the underdog” memberikan banyak motivasi kepada pembaca agar berani mengubah kesempatan yang datang menjadi sebuah kesuksesan. Kesuksesan bukanlah mimpi, namun sesuatu yang nyata yang dapat diraih dengan langkah pasti. Karena itulah, buku ini perlu menjadi pertimbangan untuk dibaca dan dikoleksi.*)








