Ketika Tuhan Berbicara

Resensi Vania Cahyani

imagesJudul buku : Ayat Ayat Cinta
Pengarang : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika dan Pesantren Basmala Indonesia
Cetakan : XLI, Maret 2008
Tebal buku : 419 halaman

Novel ini sudah cukup lama terbitnya, namun amanat yang terkandung dalam kisahnya tak pernah usang. Kisah ini ditulis oleh seorang novelis, sarjana Al Azhar University Cairo yang bernama Habiburrahman El Shirazy. Ia lahir pada tanggal 30 September 1976, memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mraggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mraggen, Demak. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota Budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta. Lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, jurusan Hadist, Universitas Al Azhar, Cairo dan selesai pada tahun 1999. Telah merampungkan Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies in Cairo.

Kang Abik, demikian panggilan akrabnya. Novelis best seller ini telah menghasilkan beberapa karya. Beberapa karyanya adalah Ketika Cinta Berubah Surga (cetakan ke-2, MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (cetakan ke-2, Republika, 2005), Di Atas Sajadah Cinta (cetakan ke-3, Basmala, 2005), Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadri Bermata Bening, Dalam Mihrab Cinta, dan Ketika Cinta Bertasbih. Pada tahun 2005, ia pernah meraih The Most Favorite Book dan peraih Pena Award Novel Terpuji Nasional.

Novel Ayat Ayat Cinta ini menceritakan kegigihan seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan. Berkat kesungguhannya ia berhasil menempuh program megisternya di Al Azhar Universiy Cairo. Fahri, begitulah panggilan akrabnya. Tokoh Fahri diceritakan sebagai pemuda yang memiliki sifat penuh tanggung jawab dan rendah hati. Banyak peristiwa yang terjadi ketika ia tengah menimba ilmu di Timur Tengah tersebut. Salah satunya ketika ia berusia sekitar 26 tahun ia memiliki keinginan untuk menikah. Ternyata Tuhan mendengar doanya, satu bulan kemudian ia mempersunting wanita solehah bernama Aisha. Hari-harinya selalu dihiasi dengan ketulusan dan keindahan cinta, hingga ujianpun datang dari Tuhan lewat perempuan bernama Maria.

Maria merupakan perempuan Kristen koptik yang diam-diam mencintai Fahri, namun apadaya ketika kejujuran itu terlambat ia ungkapkan yang tertinggal hanya penyesalan dan derai air mata. Cinta itu buta, begitu sekiranya yang dirasakan oleh wanita Kristen koptik tersebut. Walaupun ia tahu bahwa pemuda yang dicintainya telah dimiliki oleh perempuan lain, ia sangat ingin dinikahi olehnya. Kini rasa cinta yang dimilikinya telah membuatnya terbaring tak berdaya.

Fahri yang telah mengetahui hal itu tidak akan pernah sudi untuk menikahi Maria. Karena ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan mencitai wanita lain selain Aisha, tetapi karena desakan dari istrinya ia pun menikahi Maria. Pernikahan yang sangat singkat itu pun terjadi, namun Tuhan bekehendak lain. Bukan suka cita yang mereka rasakan melainkan duka dan lara karena setelah pernikan itu berlangsung malaikat pencabut nyawa melaksanakan tugasnya untuk mencabut nyawa Maria.

Dalam kisah ini, Habiburrahman mampu menggabungkan kalimat demi kalimat dengan bahasa yang sangat memukau dan pemilihan kata yang tepat. Hal ini menyebabkan pembaca merasa tidak bosan dengan kalimat-kalimat yang dibacanya dan ingin mengetahui isi setiap lembarannya. Selain itu, pengarang seakan-akan mampu membawa si pembaca ke dalam alur ceritanya. Tidak heran apabila pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh yang berada dalam novel tersebut. Di sinilah emosi pembaca telah dipermainkan oleh pengarang. Penggunaan bahasa Arab dapat membuat ciri khas tersendiri bagi karya-karyanya, namun apabila terlalu sering digunakan akan membuat pembaca yang kurang paham atau kurang mendalami bahasa Arab akan merasa kesulitan.

Secara tersirat novel ini telah memberikan pelajaran dan pesan moral kepada pembaca. Di dalamnya terkandung makna yang sangat dalam tentang bagaimana menjalani hidup yang penuh persoalan cinta yang mengacu pada Quran dan Hadist menjadikan novel ini memiliki kekuatan tersendiri. Oleh karena itu, novel ini sangat layak untuk dibaca dan dimiliki.*)

DSC09947Vania Cahyani lahir pada tanggal 06 Juni 1998 di Banjarnegara. Siswa kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara ini merupakan anak ke-3 dari 3 bersaudara dari pasangan Bapak Nurudin dan Ibu Nur. Sekarang masih tinggal bersama orang tua di Dusun Karanganyar RT 06 RW 02, Sipedang, Banjarmangu, Banjarnegara.

3 thoughts on “Ketika Tuhan Berbicara

  1. Resensi novel yang ditulis oleh Vania Cahyani dengan judul “Ketika Tuhan Berbicara” ini sangat menarik untuk dibaca, karena Vani membuat resensi tersebut dengan ringkas dan jelas. Prestasi, riwayat hidup, dan alur cerita dalam novel “Ayat Ayat Cinta” dapat vani tulis dengan ringkas dan jelas. Namun resensi ini masih perlu diedit lagi karena masih ada tulisan yang ejaannya kurang lengkap seperti pada kata “Bidadari” dalam kalimat “Bidadri Bermata Bening” yang merupakan salah satu novel yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy.

    • Terima kasih atas apresiasi Sheilanida yang telah memberikan saran bermanfaat untuk tulisan saya. Saya usahakan untuk ke depannya dapat menulis lebih baik lagi.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s