Puisi-puisi Umi Nafisah (2)

Rinduku

Rinduku
Apakah kau mendengarku
Apakah sama dengan rasaku

Setiap malam aku sendiri
Menunggu saat-saat engkau kembali
Dengan senyum merekah di pipi

Tawa lepasmu yang kurindukan
Genggamanmu yang penuh ketulusan
Dekapanmu yang penuh kehangatan

Sosokmu hadir dalam bayang-bayang
Dalam sekejap kaupun menghilang
Namun dalam diriku selalu terkenang

Aku rindu saat bersama
Aku rindu saat bersama
Yang ada padamu, aku merindunya

Janji Kita

Aku bertahan di sini
Karna engkau yang kunanti
Kupegang erat sebuah janji
Untuk meraih mimpi-mimpi

Meski terpisah jarak dan waktu
Aku tetap menunggu
Meski cobaan mengganggu

Kau tetap menunggu
Aku di sini bertahan
Kau pun di sana bertahan

Dengan dasar kepercayaan
Dengan benteng kesetiaan
Akan indah pada waktunya

Semua duka akan sirna
Yang ada tangis bahagia
Saat Tuhan satukan kita

Ibu

Tak sampai ku lihat wajahmu
Tak sampai kau peluk aku
Tak sampai kau beri nama aku
Yang kau tau hanya tangis pertamaku

Tuhan, aku sayang padanya
Tapi Engkau lebih menyayanginya
Ingin ku cium surganya
Tapi Engkau lebih mensucikannya

Banyak orang menceritakanmu
Tentang pengorbanan nyawamu
Mengeluarkanku dari rahimmu
Kelu rasanya mendengar itu

Tuhan, dapatkah aku melihatnya
Ataukah dia melihat dari atas sana
Anaknya yang kini tumbuh dewasa
Tersedu di atas batu nisan tanpa nama

Banjarnegara, 5 Desember 2015

Umi Nafisah lahir Banjarnegara, 7 Juni 1998 yang suka sekali membaca novel, terutama karya Habiburrahman El Shirazy. Ia masih tinggal bersama orang tuanya di Argasoka RT 02 RW 05 Banjarnegara dan merupakan siswa Kelas XII IPS-1 di MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417. Beberapa puisinya tergabung dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi 3, Pelajar Indonesia Menggugat (Forum Sastra Surakarta, 2014).

7 thoughts on “Puisi-puisi Umi Nafisah (2)

  1. Puisi-puisi dari Umi Nafisah ini mudah untuk dipahami karena pemilihan
    diksinya yang baik, apalagi saat membaca puisi tentang ibu tentang
    sebuah kesedihan ditinggal oleh sosok ibu yang melahirkannya waktu
    kecil jadi orang membacanya pasti ikut terbawa suasana yang di
    hadirkan dalam puisi tersebut.

    • Terima kasih atas apresiasi Khilmi Wahyu, puisi tersebut saya buat karena saya terinspirasi dari kehidupan seorang anak yang ditinggal ibunya saat ia dilahirkan. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya sampai dewasa kita belum pernah melihat sosok ibu kita. Selama ini kita sudah mendapat kasih sayang dari ibu kita, sedangkan dia belum sama sekali mendapatkannya. Jadi, semoga ini menjadi pesan bagi kita untuk lebih sayang kepada ibu🙂

  2. Puisi-puisi yang Umi Nafisah sajikan, memang memiliki arti yang cukup mendalam. Pemilihan diksi yang digunakan juga sangat inspiratif, sehingga pembaca dapat memahami puisi tersebut. Seperti halnya pada puisinya yang berjudulkan “Janji Kita” yang menceritakan sebuah perjuangan sepasang kekasih yang menggapai asanya untuk selalu bertahan dalam setianya guna dapat bersama pada suatu saatnya. Saya tunggu karyamu selanjutnya…

    • Terima kasih atas apresiasi Wijuli Mukhasanah, saya membuat puisi tersebut karena terinspirasi dari pengalaman yang saya dengar, cukup menyentuh bagi saya. Semoga puisi tersebut memotivasi kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Tetap bertahan dan setia, apalagi untuk pasangan yang lagi LDR hehehe…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s