Penampilan Bukan Jaminan

Pengalaman Livia Arizka

Dilarang NyopetSeperti biasa, pukul enam pagi aku menunggu bus di perempatan jalan raya. Di sana setiap pagi selalu ramai dipenuhi anak-anak sekolah, guru-guru, maupun karyawan kantor. Saat aku sudah cukup lama menunggu, akhirnya ada bus yang berhenti di depanku dan Fara. Fara tiap pagi selalu berangkat bareng aku. Kami pun langsung naik, karena kami takut terlambat. Di dalam bus penumpangnya cukup banyak, hingga aku pun terpaksa harus berdiri. Bus pun terus berjalan dan banyak dan banyak penumpang yang naik turun. Di dekatku berdiri ada kursi yang kosong, aku pun langsung mendudukinya. Ketika aku duduk, di dekatku ada seorang bapak berpenampilan rapi dengan tas yang terdekap di depan, berdiri dan sangat mendesakku. Aku merasa sangat tidak nyaman. Tapi, tidak mungkin juga kalau aku menegurnya.

Sudah setengah perjalanan, penumpang sudah banyak yang turun. Keadaan di bus sudah mulai terasa longgar. Fara duduk tepat di belakangku. Aku merasa mulai curiga kepada bapak itu, perilakunya sangat mencurigakan. Dia berbadan besar, tinggi, rambutnya keriting, penampilannya sangat rapi dan dia terus membawa tasnya di depan. Aku jadi teringat cerita temanku waktu itu. Katanya dia pernah satu bus sama pencopet dan ciri-ciri yang disebutkan temanku mirip dengan bapak itu. Aku jadi mulai bertanya-tanya, apakah dia itu copet? Ternyata orang yang aku curigai copet duduk tepat di belakang Fara. Aku jadi bingung bagaimana caranya memberitahu Fara tentang orang itu. Terpaksa aku menulis di ponselku, dan aku serahkan ke Fara. Saat aku sedang menunjukkan ponselku ke Fara orang itu melirik. Rasanya aku mulai tidak nyaman.

Ketika hampir sampai sekolahku, aku bangkit dari dari kursi dan siap-siap turun. Anehnya, orang itu ikut bangkit juga dari duduknya dan langsung berdiri di belakangku. Aku mulai merasa deg-degan, tasku aku taruh di depan dan ponsel yang di saku aku pegang terus. Saat bus berhenti, aku langsung turun dan jalan secepat mungkin. Aku takut sekali, perasaanku rasanya tidak karuan.

Sesampainya di kelas, aku menceritakan tentang orang yang di bus tadi. Ternyata temanku juga pernah satu bus dengan orang yang kuceritakan. Katanya memang benar orang itu pencopet. Aku langsung sms Fara. Aku cerita ke dia kalau orang itu memang benar-benar pencopet. Kata Fara orang itu mau mencopet anak SMK, tapi anaknya merasa tasnya mulai dibuka jadi dia menghindar. Katanya juga, orang itu turun di perempatan Pasar Wage. Kenapa orang itu turun di sana, padahal tadi waktu aku mau turun dia juga sudah siap-siap mau turun. Aku tidak menyangka orang yang aku curigai sebagai pencopet, ternyata benar-benar pencopet. Sejak itu, akau jadi lebih was-was dan lebih berhati-hati lagi.*)

Livia Arizka - MAN 2 BanjarnegaraLivia Arizka lahir di Banjarnegara, 23 Oktober 1998 dan beralamat di Merden RT 01 RW 03 Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara. Saat ini ia menempuh studi di MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417. Beberapa puisinya tergabung dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi 3, Pelajar Indonesia Menggugat (Forum Sastra Surakarta, 2014)

5 thoughts on “Penampilan Bukan Jaminan

  1. Cerita Penampilan Bukan Jaminan yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Livia Arizka ini dibuka dengan awalan yang menarik keingintahuan pembaca akan lanjutan dari cerita ini. Alur yang digunakan oleh penulis lengkap dari pengantar hingga penyelesaian. Pengantar cerita ditandai dengan pengenalan tokoh dan latar pada kalimat pertama ketika penulis sedang menunggu bus di perempatan jalan raya. Lalu, masalah mulai muncul ketika ada seorang laki-laki berpakaian rapi dengan tas di depan mendesak penulis. Dilanjutkan pada puncak masalah yaitu saat penulis sudah tidak bisa menahan rasa curiga terhadap laki-laki tersebut yang sedang berada tepat di belakang Fara, teman penulis. Penulis mencari-cari cara bagaimana untuk memberitahu temannya bahwa dibelakangnya ada seorang copet yang hendak mencari korban. Selanjutnya, masalah mulai menurun yaitu ketika penulis turun dari bus dan di sana tinggal ada Fara. Akhirnya, resolusi dari cerita ini ditandai dengan kalimat yang menyatakan bahwa pencopet turun di perempatan pasar wage setelah niatnya untuk mencopet tas salah satu siswa SMK gagal, serta pada bagian yang menjelaskan bahwa penulis menceritakan kejadian ini kepada teman satu kelasnya. Sedangkan pada bagian akhir, cerita ini ditutup dengan sebuah nasihat/amanat. Penulis menyampaikan amanat bahwa kita harus berhati-hati kapanpun dan terhadap siapapun, karena penampilan seseorang tidak selalu dapat dijadikan sebagai dasar penilaian.

  2. Sebuah cerita yang cukup bagus. Berasal dari sebuah ide yang sebenarnya sangat sederhana, tentang aktivitas rutin yang dilakukan oleh Livia setiap pagi yaitu berangkat sekolah menggunakan bus. Pada waktu itu ada sebuah kejadian dimana Livia mencurigai seorang penumpang bus yang dari penampilan terlihat cukup rapi dan terkesan baik, tetapi gerak geriknya mencurigakan. Livia menduga dia adalan seorang pencopet, dan ternyata dugaannya benar. Akhirnya Livia berhasil lolos dari incaran pencopet itu dan juga temannya yang sebelumnya sudah diberi tahu oleh Livia. Dari pengalaman tersebut penulis mengubahnya menjadi sebuah karya tulis yang dikemas cukup menarik. Gaya bahasa yang digunakan juga mudah dipahami sehingga cocok dibaca untuk semua kalangan usia. Cerita ini mengingatkan kepada kita untuk jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja, karena penampilan luar bukan merupakan sebuah jaminan. Selain itu kita juga harus selalu waspada akan kejahatan yang bisa terjadi di dalam kendaraan umum.

    • Terima kasih atas apresiasi Mohamad Rifki dan Septi Vivia, cerita ini di buat hanya berdasarkan pengalaman. Karena selama hampir tiga tahun naik bus baru pertama kali bareng sama pencopet. Sebelumnya, pernah di sms teman tentang pencopet tersebut. Setelah mengalaminya sendiri, ternyata pencopet itu memang penampilannya sangat rapi. Bahkan, tidak akan ada yang mengira kalau dia itu seorang pencopet. Dari kejadian itu, kita bisa tahu kalau penampilan seseorang tidak dapat dijadikan cerminan tentang kepribadian seseorang.🙂

  3. Cerita yang diambil dari pengalaman Livia Arizka ketika menaiki bus ini cukup bagus. Diksi yang digunakan mudah dimengerti oleh khalayak umum sehingga cocok dibaca untuk segala usia. Disamping itu, kisah yang ditampilkan dapat memberikan pelajaran bagi kita untuk lebih berhati-hati ketika menaiki bus atau angkutan umum lainnya. Selain itu, Livia juga mengajarkan kepada kita supaya jangan memandang orang sebelah mata, belum tentu orang yang berpenampilan rapi hatinya tertata rapi pula. Semangat berkarya Livia🙂

    • Terima kasih atas apresiasi Fika Faridhotul F. Memang seharusnya kita tidak boleh menilai seseorang dari penampilan saja. Kita juga harus menilai dari perilakunya. Aku tunggu juga karyamu🙂 . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s