Kembalilah Ayah

Oleh Nara Latif

Bersama AyahDi suatu desa, tinggalah seorang gadis bernama Lathifa Nuraini. Gadis periang dan ramah ini, biasa dipanggilTifa. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah yang sederhana. Tifa seringkali penasihat bagi teman-temannya. Tidak sedikit teman yang mencurahkan masalah-masalahnya kepada Tifa. Akan tetapi, Tifa jarang sekali bercerita mengenai masalahnya kepada teman-temannya. Bukan karena tak mempunyai masalah, Tifa selalu saja sibuk dicurhati teman-temannya. Sehebat apapun Tifa, ia tetaplah gadis biasa yang hidup dengan berjuta masalah dalam hidupnya.

Suatu hari, Tifa terlihat murung. Ia merenung sendirian mendekap buku hariannya.

Aku kadang seperti orang tidak waras deh. Masa ngomong sama buku,Tifa mendesah.Sayang ya aku tidak punya kakak, jadi tidak ada teman curhat. Mau cerita ke ayah, sibuk. Kalau bisa ceritapun pasti responnya kaku atau malah tidak direspon,” keluh Tifa sambil mengelus-elus buku yang ia dekap.Cerita ke ibu. Ah, tidak deh, ibu kan ribet. Lagi pula ibu tidak tahu masalah-masalah anak muda, pasti garing. tidak asyik kan…

Tifa mulai mengguling-gulingkan tubuhnya di kasur.Punya adik masih kecil. Mana ngerti, yang ada malah tambah ribet. Bukannya plong, malah tambah dongkol.

Akhirnya Tifa bangun dari kasurnya. Ia mengangkat buku hariannya di depan muka.

Mau gimana lagi, hanya diary ini harapan terakhirku. Oh diary, andai kamu bisa bicara, mungkin aku tidak akan seperti orang gila, ngomong sama buku,Tifa memeluk buku hariannya dengan erat.

Ya, itulah Tifa. Sebagai seorang remaja, Tifa sedang sensitif-sensitifnya dalam menghadapi masalah yang sedang ia hadapi. Masa remaja meamng masa yang paling berfariasi dan penuh dengan kontrofersi. Apalagi masalah asmara. Tifapun pernah mengalami masalah-masalah asmara.

Semasa Tifa duduk di bangku kelas 2 SMP, Tifa disukai oleh dua remaja lelaki yang satu sekolah dengannya. Suatu hari, sebut saja si A menyatakan perasaannya kepada Tifa. Tifa langsung saja menolaknya karena ia memang tak menyukainya. Tiba saatnya cowok B yang menyatakan perasannya. Kali ini, Tifa tidak langsung menjawabnya. Cowok yang satu ini sebenarnya Tifa suka, tapi kedua orang tuanya tidak mengizinkan Tifa untuk pacaran. Tifapun bimbang. Di satu sisi, Tifa tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya walaupun kedua orang tuanya tidak terlalu perhatian padanya. Tapi, di sisi lain Tifa sebenaranya ingin sekali menerimanya karena Tifa yakin kesempatan ini tidak akan terulang untuk kedua kali. setelah melalui kegalauan yang panjang, Tifa memutuskan untuk menolaknya, walaupun mungkin setelah mengatakannya Tifa tidak akan bisa tidur tujuh hari tujuh malam. Walau begitu, Tifa yakin keputusan yang Ia ambil sudah benar. Di usianya yang baru saja menginjak remaja, belum saatnya untuk memikirkan masalah asmara. Masih banyak hal yang lebih penting yang bisa Tifa lakukan selain mengurusi masalah itu. Untuk masalah ini, lagi-lagi Tifa menghadapinya sendirian. Ia belum menemukan seseorang untuk dijadikan tempat curhatnya.

Namun, beberapa minggu kemudian Tifa dipertemukan dengan seorang gadis bernama Setya, biasa dipanggil Tya. Tya adalah murid pindahan dari Jawa Timur, tepatnya daerah Blitar. Dialah yang akhirnya menjadi sahabat Tifa sekaligus teman curhat yang setia bagi Tifa. Tapi, saat Tifa berpisah kelas dengan gadis yang biasa Ia panggilMba Tyaini, hubungan mereka merenggang. Entah hanya perasaan Tifa atau memang benar adanya, saat Tya mulai bergaul dengan teman-temn yang lain, ia mulai menjauh dan kurang meluangkan waktu untuk Tifa. Awalnya, Tifa sedih dengan sikap Tya. Tapi, Tifa sadar kalau Tya juga punya kehidupan sendiri. Tifa tidak bisa memaksakan Tya untuk selalu ada dan terlibat dalam kehidupan Tifa. Toh, masih banyak teman yang dekat dengannya. Walapun, belum ada yang seperti Tya.

Suatu hari, Tifa mendapati masalah yang cukup berat. Masalah ini terkait dengan ayahnya. Ayah Tifa bukan termasuk orang tua yang dekat dengan anak-anaknya. Tifa pernah mendengar ibunya bercerita tentang ayahnya. Dulu, ayah Tifa pernah mengalami kecelakaan di tempat kerjanya. Saat bekerja menjadi kuli bangunan, ayah Tifa pernah jatuh dari lantai 3 karena terkena reruntuhan dari atasnya. Akibat dari kecelakaan itu, ayah Tifa mengalami gangguan di bagian syaraf. Sekarang ini penyakitnya memang sudah sembuh. Tapi beberapa minggu ini, ayah Tifa sering sekali tiba-tiba kehilangan kesadaran. Tampakya seperti orang sadar, tapi tak isa merespon apapun yang ada di sekitarnya. Setelah Tifa bertanya-tanya, ternyata ayahya masih dalam masa penyembuhan. Ia masih harus meminum obat secara rutin dan harus tepat waktu.

Keanehan belum berakhir. Kali ini lebih parah. Jika ayah Tifa merasa kelelahan, ia akan tertidur dan susah sekali untuk dibangunkan. Tidurnya ini tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah untuk menunaikan salat lima waktupun ayah Tifa tidak mau bangun. Tifa sedih melihatnya. Ia sudah berusaha untuk selalu mengingatkan ayahnya, tapi tidak pernah ada respon. Tifa tidak akan rela membiarkan ayahnya terus-terusan seperti ini. Ia ingat betul dulu ayahnya sering sekali memarahinya juga adiknya agar selalu menunaikan salat tepat pada waktunya. Tapi sekarang

Bu, ayah kenapa sih? Masa hanya sekedar bangun untuk salat saja nggak mau,keluh Tifa pada sang ibu.

Itu sudah jadi kebiasaan dari dulu sayang. Ayahmu selalu begitu kalau sedang kambuh sakitnya,respon sang ibu.

Tapi tidak sampai meninggalkan salat juga kan Bu,kata Tifa ngeyel.

Ibu juga selalu mengingatkan, tapi ayah kamu tetap tidak mau dengar.

Tifa hanya merengut dan tak bisa berkata apa-apa. Tifa benar-benar bingung sekarang. Kondisi keluarga yang tidak terlalu hangat, membuat Tifa kesulitan untuk mencari penyelesaian dari masalah ini. Tifa mulai putus asa. Tapi, ia ingat bahwa ia masih punya Allah. Tifa percaya Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya dalam masalah tanpa penyelesaian.

Ya Allah, ampunilah dosaku dan kedua orang tuaku. Kembalikanlah kami kejalan lurus-Mu. memang kadang aku marah, kesal jika ayah selalu memarahiku. Akan tetapi, jika harus melihat ayah seperti ini, aku lebih memillih untuk di marahi ayah setiap hari. Aku takut akan menjadi anak durhaka jika membiarkan ayahku berdosa seperti ini. Tapi aku tak tahu harus bagaimana. berilah petunjuk-Mu ya Allah…” Air matapun mengalir dari setiap untaian doa yang Tifa panjatkan.

Sore harinya, Tifa memutuskan untuk mencari ketenangan. Ia pergi ke sebuah danau yang tak jauh dari rumahnya.

Kapan masalah ini berakhir? Aku sudah lelah dan hampir putus asa. Kenapa aku harus dapat masalah yang serumit ini. Kenapa aku dilahirkan di keluarga yang seperti ini?keluh Tifa.

Kehidupanmu masih lebih baik dari kehidupanku,seorang gadis tiba-tiba duduk di samping Tifa.

Mbak Tya? Sejak kapan Mbak di sini?tanya Tifa terkejut.

Ternyata yang ada di sampingnya adalah sahabat karibnya yang telah lama menjauh darinya. Teman yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.

Kamu memang pintar mengalihkan pembicaraan.

Maksud Mbak apa?

Kamu kenapa ngomong seperti itu?

Yang mana?

Kamu bilang kamu ingin pergi dari kehidupan ini. Kenapa?

Oh yang itu. Ada masalah sedikit.

Masalah apa? Kenapa kamu tidak cerita sama mba? Tidak biasanya.

Ayah.

Kenapa dengan ayah kamu?

Jadi gini, ayahku kan pernah ada riwayat penyakit, dan gara-gara itu sekarang ayah jadi jauh dari Allah.

Kok bisa? Masa bisa sampai kaya gitu? Emang sakit apa?” tanya Mbak Tya penasaran.

Iya. Sakitnya itu menyerang pada syarafnya. Sekarang, kalau ayah kelelahan dan tidur, ayah bakal sulit sekali untuk dibangunkan. Bahkan untuk salatpun tidak mau,” jelas Tifa.

O…” Mbak Tya merespon dengan santainya.

Kok gitu responnya?

Terus aku harus gimana?

Kirain tanya-tanya mau dibantu, ternyata cuma dengarkan saja,” kata Tifa kesal.

Iya, iya… Maaf

Ya kamu, gitu saja nyerah

Lha terus aku harus gimana?

Ya jangan nyerah dong!

Ngomong saja sih gampang!

Kamu ingat Mbak pernah cerita tentang ayah dan ibu yang cerai?

Iya. Kenapa?

Sekarang mereka sudah rujuk kembali,” Mbak Tya menjelaskannya dengan wajah yang berbunga-bunga.

Kok bisa?” tanya Tifa terkejut.

Dengan terus berusaha dan berdoa. Berat memang rasanya, tapi akan lebih berat jika kita terus mengeluh dan sama sekali tidak beruasaha untuk menyelesaikannya. Mbak tidak akan rela kalau orang tua Mbak harus pisah. Makanya Mbak akan cari cara apapun asal orang tua Mbak bisa menyatu kembali. Percaya deh, Allah tidak pernah tidur dan di setiap kesulitan yang Allah berikan, pasti Allah telah menyiapkan jalan keluarnya,jelas Mbak Tya.

Terus aku harus gimana sekarang? Aku harus ngapain?Tifa kembali mengeluh.

Apa saja. Asal masih dalam batas yang wajar.

Mbak ada ide tidak?tanya Tifa.

Lalu Mbak Tya berpikir.

Ada,jawab Mbak Tya. Lalu mereka berbisik.

Keesokan harinya, Tya menjalankan saran yang Mbak Tya berikan. Sarannya sepele dan tidak neko-neko. Mbak Tya hanya menyarankan agar Tifa menyalakan alarm azan pada setiap waktu salat, agar ayah Tifa bisa mndengarkannya setiap waktu. Siapa tahu, dengan mendengarkan suara azan ayah Tifa akan tergugah hatinya untuk menjalankan kewajiban ibadahnya. Tifa juga selalu mengajak ayah dan ibunya untuk salat bersama. Ternyata, usaha tersebut membuahkan hasil. Sekarang, ayah Tifa sudah menjalankan aktivitas seperti biasa terutama salat. Tifapun tak lupa untuk selalu mendoakan kedua orang tuanya agar mereka selalu mendapat perlindungan dan rida dari-Nya. Kebahagiaan Tifa tidak hanya sampai di situ saja. Sekarang Ia telah memiliki satu malaikat kecil yang telah lahir di tengah keluaraganya. Seorang adik laki-laki yang diberi nama Fathan Muhamad Mukhlis itu, telah mengubah suasana dalam keluarga Tifa. Kini, kehangatan telah merasuki seluruh sudut jiwa orang tua Tifa. Semenjak kelahiran sang malaikat kecil, keluarga Tifa menjadi semakin harmoni, penuh perhatan dan kasih sayang. Kini Tifa tak pernah merasa kesepian lagi, karena Tifa sadar selalu ada Allah di setiap kesendiriannya.*)

Nara Latif - MAN 2 BanjarnegaraNara Latif lahir Banjarnegara 19 Juli 1998. Ia suka mendengarkan musik sambil belajar menulis karya sastra. Ia tinggal di Desa Masaran Kecamatan Bawang, Banjarnegara bersama orang tuanya. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XII IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417. Beberapa puisinya tergabung dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi 3, Pelajar Indonesia Menggugat (Forum Sastra Surakarta, 2014).

6 thoughts on “Kembalilah Ayah

    • Terima kasih atas apresiasi Dina. Memang sudah seharusnya, jika kita ingin karya kita diminati banyak pembaca, kita harus menyesuaikan karya kita dengan masanya. Sepertinya akan terasa sia-sia bila kita berkarya, tetapi tak ada yang dapat menikmatinya.
      Semoga karya sederhana tersebut dapat mendatangkan manfaat.🙂

  1. Cerpen ini bagus untuk dibaca karena di dalamnya mampu memberikan motivasi, bahwa jangan berhenti berusaha dan berdoa. Semua masalah pasti ada jalannya.

    • Terima kasih atas apresiasi Khilmi. Cerpen ini hanya berupa harapan agar seorang ayah dapat menjadi teladan bagi anaknya. Namun, bila sang ayah mengalami suatu kesalahan, anakpun wajib mengingatkan.

      Semoga karya sederhana tersebut dapat mendatangkan manfaat.🙂

  2. Cerpen berjudul “Kembalilah Ayah” ini sangat menarik, karena terdapat begitu banyak nilai religi dan sosial yang dapat diambil. Selain itu, cerpen ini juga dibawakan dengan bahasa yang ringan dan kekinian, sehingga mudah dipahami jalan ceritanya.

  3. Cerpen berjudul “Kembalilah Ayah” mampu dikemas dengan apik, sehingga pembaca ikut terbawa suasana dalam membacanya. Namun, dalam penulisan terdapat beberapa kata yang salah. Seperti pada kalimat “Seperti Tidurnya ini tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah untuk menunikan salat lima waktupun ayah Tifa tidak mau bangun”, “Mbak Tya hanya menyarankan agar Tifa menyalakan alarm azan pada setiap waktu salat, agar ayah Tifa bisa mndengarkannya setiap waktu”. Terima kasih:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s