Puisi-puisi Umi Nafisah

Puisi-puisi Umi Nafisah berikut termuat dalam “Pelajar Indonesia Menggugat! – Antologi Puisi Menolak Korupsi 3.”

RINTIHAN

Aku lahir di negeri subur
Aku
hidup di negeri makmur
Aku
merantau berharap hidup mujur
Namun
dengan mudah mimpi itu lenyap membaur
Makan
setelah berhasil kabur
Membawa
lari pakaian yang dijemur

Aku lari terlunta-lunta
Terbirit-birit
dikejar warga
Engkau
duduk di singgasana
Menebarkan
senyum yang memesona
Yang
kaya semakin kaya
Yang
miskin semakin menderita

Aku bodoh tak berprestasi
Dan
aku tak hidup di gedung yang tinggi
Engkau
pintar tapi korupsi
Hidup
nyaman dengan apa yang kau miliki
Tapi
itu bukan milikmu sendiri!
Engkau
si tikus berdasi

Banjarnegara, Januari 2014

TAK ADA BEDANYA

Indonesia
Tahun
45 kau merdeka
Dari
pertama kau kibarkan bendera
Hingga
kinilah sekian lama
Kenapa
penjajahan masih kurasa jua

Apa bedanya dengan masa jepang
Tak
sekalipun kami merasa girang
Karna
miskin terus mengiang
Mereka
terus berkembang
Tak
kenal malam dan siang

Tubuh tegap, gagah mengaku dermawan
Paras,
gaya tampak seperti cendekiawan
Singgah
sana dijadikan kehormatan
Aspirasi
kami dibalas senyuman
Tapi
kami ditelantarkan

Biar kami sehina ini
Kami
masih punya harga diri
Miskin
masih dilindungi Ilahi
Dari
pada kaya mengkhianati negeri
Lebih
memalukan tahta
suci

Banjarnegara, Januari 2014

Umi Nasifah - MAN 2 BanjarnegaraUmi Nafisah lahir Banjarnegara, 7 Juni 1998 yang suka sekali membaca novel, terutama karya Habiburrahman El Shirazy. Ia masih tinggal bersama orang tuanya di Argasoka RT 02 RW 05 Banjarnegara dan merupakan siswa Kelas X-4 di MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417. E-mail uminafisah@yahoo.co.id

4 thoughts on “Puisi-puisi Umi Nafisah

  1. Puisi Rintihan karya dari Umi Nafisah sangat sesuai dengan kehidupan masyarakat pada zaman sekarang. Penulis hendak menyampaikan bagaimana kondisi yang sangat senjang dan tidak adil antara rakyat kecil dengan para wakilnya yang seharusnya lebih mementingkan rakyat. Bukannya melindungi rakyat, para wakil tersebut justru mencuri kekayaan rakyatnya secara tidak langsung. Selain itu, pemilihan diksi yang tepat oleh penulis juga membuat pembaca terbawa oleh suasana dalam pusi tersebut. Nilai kehidupan yang dibawakan dalam Puisi Rintihan ini sangat sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang, di antaranya adalah nilai sosial. Puisi ini mengamanatkan bahwa sebagai seseorang yang telah diberi tanggungjawab seharusnya melaksanakan tugasnya dengan baik.

    • Terima kasih atas apresiasi Muhammad Rifki Isnawan, puisi tersebut saya buat karena saya memang terinspirasi dari kehidupan sekarang. Maraknya kasus korupsi yang membuat para penguasa semakin kaya sedangkan rakyat miskin semakin miskin. Kita sebagai rakyat kecil tidak dapat melakukan apa-apa, kita cuma bisa mengkritik koruptor dengan karya-karya kita, ayo Rif kita terus berkarya…..

  2. Puisi karya Umi Nafisah layaknya, seakan-akan memberi kesadaran bagi pembaca bahwasanya kita masih terjajah akan bangsa ini sendiri. Puisi tersebut seperti memiliki dorongan motivasi agar bangsa ini dapat berubah untuk mengejar kemerdekaan yang sesungguhnya belum nyata. Pemilihan diksi yang sesuai dan menarik, memberikan keindahan dalam membacanya yang penuh makna.

    • Terima kasih atas apresiasi Wijuli Mukhasanah, puisi ini saya buat karena keadaan negara Indonesia yang semakin terbelakang dengan maraknya kasus korupsi. Kita hanya bisa memperingatkan para penguasa dengan karya-karya kita. Ayo kita terus berkarya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s