Puisi-Puisi Nara Latif

Puisi-puisi karya Nara Latif berikut termuat dalam “Pelajar Indonesia Menggugat! – Antologi Puisi Menolak Korupsi 3”

SYUKUR DI BALIK DERITA

Walau hidup di gubug reot, aku bersyukur
Daripada
di gedung megah, tapi hidupku serakah
Walau
tidur beralas tikar, aku bersyukur
Daripada
di kasur empuk, tapi kurenggut hak mereka
yang
tak bersalah

Mulutku masih mengenali kejujuran
Pikiranku
masih paham akan kebenaran
Hatiku
masih bisa merasakan kesusahan
Walau
aku sendiri masih sering kebingungan

Sadarkah mereka yang berjas rapi dan berdasi
Berdiri
tegak bermuka tak tahu diri
Merenggut
harta negeri ini
Tak
pikir salah, dosapun tak
peduli

JERITAN RAKYAT JELATA

Terasa lemah tubuh ini
Bagai
ikan tak berduri
Bagai
kijang tak berkaki

Entah berapa banyak yang mereka lebur
Yang
aku tahu negeri ini tlah hancur
Bagi
kapal tanpa nahkoda
Kejayaan
ini tlah tertelan Segitiga Bermuda

Bila terus begini, ku tak tahu nasib negeri ini
Apakah
tetap berdiri, ataukah mati tertelan bumi

Bukankah kau telah berjanji atas nama Tuhanmu
Kan
jaga negeri sekuat tenagamu
Mengapa
kau biarkan nafsu kuasaimu
Hingga
kau lupakan janji manismu
dulu

FABEL KORUPSI

Tikus berkata,
Bila
aku koruptor
Kan
kugerogoti harta rakyat

Kucing berkata,
Bila
aku koruptor
Kan
kucuri hak mereka
Agar
mereka menderita

Anjing berkata,
Bila
aku koruptor
Kan
kugonggongkan fitnah kejam
Agar
mereka tak menerkam

Saat KPK berkata,
kan
kutangkap mereka
Mereka
berkata kan kusogok KPK-nya

Saat polisi berkata,
kan
kukurung mereka
Mereka
berkata kan kubayar polisinya

Saat penyair berkata,
Kan
kutulis menjadi puisi
Mereka
terdiam
karena
tak mungkin menyuap
penyair

Banjarnegara, Januari 2014


Nara Latif lahir Banjarnegara 19 Juli 1998 suka mendengarkan musik sambil belajar menulis karya sastra. Ia tinggal di Desa Masaran Kecamatan Bawang, Banjarnegara bersama orang tuanya. Sekarang masih menjadi siswa Kelas XI IPA Keterampilan MAN 2 Banjarnegara, Jalan Letjen Suprapto 95 A Banjarnegara 53417.

One thought on “Puisi-Puisi Nara Latif

  1. Puisi Fabel Korupsi karya Nara Latif ini sangat menarik dan menghibur. Dalam puisi ini, penulis menerangkan berbagai cara yang dilakukan oleh para koruptor untuk merampas hak rakyat. Mereka bahkan rela melakukan apa saja agar terbebas dari jeratan hukum. Penggunaan karakter hewan untuk menggambarkan sifat-sifat para koruptor berhasil meningkatkan minat pembaca. Satu hal yang sangat menarik dari puisi ini terdapat pada bait terakhir. Sebuah ide yang cemerlang. Memang benar koruptor bisa menyuap para pengadil hukum, tapi itu tidak berlaku bagi penyair. Koruptor tida bisa menyuap penyair untuk tidak membuat puisi yang mengangkat keburukan sifat dirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s