Kebersahajaan Hidup dalam Ayahku (Bukan) Pembohong

Resensi Novel
Oleh Lena Tri Lestari

Ayahku (Bukan) PembohongJudul buku : Ayahku (Bukan) Pembohong
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Kota dan tahun terbit : Jakarta, 2011
Cetakan : Ketiga, Juni 2011
Tebal buku : 304 halaman

“Itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau yang dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan yang bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri, memaksa hati untuk memilih”.

Tere Liye kembali meluncurkan karyanya yang memberi motivasi dan pemahaman mengenai hidup. Novel terbarunya yang berjudul Ayahku (Bukan) Pembohong semakin menambah panjang daftar karyanya yang menggugah jiwa untuk menjadi pribadi yang baik. Tere Liye terkadang menuliskan novelnya dengan disertai aksen Sumatera, kota kelahirannya, seperti pada novel yang berjudul Burlian (November 2009), Pukat (Februari 2010), Amelia (September 2010), dan Eliana (Februari 2011). Namun pada novel Ayahku (Bukan) Pembohong, penulis kelahiran 21 Mei 1979 ini tidak menyisipkan dialog-dialog dengan menggunakan bahasa daerah, sehingga mudah dipahami pembaca dari seluruh kalangan masyarakat. Pesan moral pun berhasil disisipkan dalam kisah yang menarik tanpa terkesan menggurui.

Novel ini mengisahkan seorang anak bernama Dam yang amat tertarik dan termotivasi dengan kisah pengalaman masa muda ayahnya. Dari kisah ayahnya itu, Dam memiliki pemahaman terhadap hidup dengan cara yang berbeda. Dam termotivasi untuk tidak mudah menyerah dan menjalani hidup dengan bersahaja. Ketika Dam melanjutkan studinya di Akademi Gajah, Dam mulai meragukan kisah-kisah ayahnya. Dam berpikir ayahnya hanya mengarang kisah tersebut, bukan pengalaman pribadi ayahnya. Kemudian, di usia 20 tahun ia memutuskan untuk membenci kisah-kisah ayahnya. Suatu hari, Dam mengatakan di depan ayahnya bahwa ayahnya adalah seorang pembohong dan mengusirnya karena masih menceritakan kisahnya kepada Zas dan Qon, anak Dam. Setelah ayah Dam meninggal, barulah muncul bukti-bukti kebenaran cerita ayahnya dan Dam baru menyadari bahwa ayahnya bukan seorang pembohong.

Novel ini menceritakan kisah yang sangat menarik dan menyadarkan kita mengenai betapa besar kasih sayang seorang ayah dalam mendidik kita menjadi insan berpribadi yang mulia. Namun, penggunaan alur campuran menjadikan novel ini terkadang membingungkan karena pembaca harus mengulang kembali memori pada peristiwa sebelumnya.

Kandungan novel ini sangat bermanfaat bagi yang menginginkan kebersahajaan dalam kehidupan. Banyak nilai kehidupan yang tersirat dalam novel ini dan dapat dipetik hikmahnya. Hal itulah yang menjadikan novel ini menarik dan layak dibaca oleh seluruh kalangan masyarakat.*)

2014-02-02 09.54.20-1Lena Tri Lestari lahir di Wonosobo, 13 Juli 1996 merupakan siswa kelas XII IPA-Keterampilan Tahun 2013/2014. Putri pasangan Bapak Tusmin dan Ibu Jatiningsih ini sekarang tinggal di Desa Plodongan RT 03 RW 01 Sukoharjo. Kecintaannya pada kegiatan membaca membuatnya berusaha untuk bisa menulis.

5 thoughts on “Kebersahajaan Hidup dalam Ayahku (Bukan) Pembohong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s