Perpisahan Itu

Cerpen Mujtahidatul Masbuqina Aulia

Gadis BerjilbabSendu, pagi ini cerah tapi tak begitu dengan hatiku yang kelabu. Hanya tinggal menghitung menit, aku akan segera pergi tinggalkan rumah ini. Entahlah, belum pernah terpikirkan sedikit pun ini akan benar-benar terjadi dalam hidupku. Aku ingin tetap bertahan di sini, aku ingin selalu bersama ibunda. Hati ini berteriak memberontak dan merintih. Tapi serasa tak ada guna.

Na, semuanya sudah disiapkan belum? Coba dicek lagi takut ada yang tertinggal,” suara Bunda mengagetkanku.

Dengan tatapan sedih aku menoleh pada Bunda, “Iya, Bun. Insya Alloh tidak ada yang tertinggal,” jawabku lemas.

Oh, ya sudah. Bunda siapkan sarapan dulu ya, untuk kamu dan nenek,” kata Bunda lembut.

Aku hanya mengangguk sambil melihat Bundaku tercinta berlalu dari hadapanku. Rasanya tak kuasa menahan kesedihan ini,sungguh. Aku pun menangis sejadinya. Begitu berat terasa hidup ini, aku harus pergi jauh tanpa didampingi mereka,kedua orangtuaku, menghadapi kejamnya dunia dan kenyataan yang mungkin mengerikan. Akankah aku sanggup?. Entahlah, mengapa rasa ini begitu sangat berlebihan. Walaupun banyak cara untuk berkomunikasi di zaman yang maju sekarang ini. Tapi, begitu banyak hal-hal yang aku takutkan. Kehilangan kebersamaan dengan kedua adikku, bermain dan bercanda dengan mereka itu juga jadi salah satu hal yang pasti akan aku rindukan. Begitu banyak kata yang ingin aku ungkapkan, tapi mulut ini tak bisa menguraikannya satu-persatu. Berat rasanya.

Usai sarapan, aku pun menyiapkan semua barang-barang bawaanku. Dengan berat kulangkahkan kaki ini keluar rumah. Baru beberapa langkah, tiba-tiba adik perempuanku memelukku, dia baru saja lulus sekolah dasar. Dia yang paling tidak menginginkan semua ini terjadi, mungkin dia masih belum siap. Dia menangis sesenggukan dalam pelukanku, dia mengungkapkan kesedihannya. Dia mengatakan bahwa tak ingin keluarga ini terpisah-pisah seperti ini. Dia ingin selalu berkumpul dengan keluarga yang utuh. Aku mencoba tegar, tangis ini hampir jatuh tapi aku tak ingin ikut larut dalam perpisahan ini. Aku hanya berkata padanya.

Jangan menangis, Alloh tahu yang terbaik untuk hambaNya. Ini cobaan, jangan pernah menyalahkannya, suatu saat pasti kita akan segera bersama-sama kembali. Kamu harus jadi anak yang kuat, rajinlah belajar. Jangan buat adikmu menangis ya? Aku akan selalu merindukan kalian.”

Kulepaskan perlahan pelukan adikku, aku menciumnya, mengusap lembut rambutnya yang tebal. Aku keluar dari rumahku dengan air mata yang tertahan, aku harus tetap tegar. Aku tahu Bunda akan sangat khawatir jika aku ikut tenggelam dalam kesedihan ini.

Bunda, adik kecilku dan kakak perempuanku mengantar aku dan nenek ke terminal bus. Tak sedikit pun ada kesedihan di wajah adik kecilku, Ali. Dia tak seperti biasanya, saat aku akan pergi pasti dia akan menangis merengek meminta pada bunda agar ia diijinkan ikut denganku. Tapi entah kenapa dia tidak seperti itu, sungguh menambah kesedihan kecil dalam hati. Kucium pipi dan keningnya, berulang kali. Aku semakin tak kuasa, sungguh. Tuhan!

Hingga tak berapa lama kemudian Bus yang kutunggu muncul. Jantung semakin kencang berdetak, nenekku sudah melangkah naik kedalam Bus. Aku masih termenung belum bergeming. Kutatap wajah Bundaku, kuraih tangan lembutnya, lalu kucium. Dan saat itu juga aku tak bisa menahan segala kesedihan itu. Kutumpahkan semua ketakutanku. Aku menangis tak ku hiraukan begitu banyak orang yang memperhatikanku. Kupeluk tubuhnya yang persis ada di hadapanku. Aku menangis.

Bunda… Maafkan segala kesalahanku. Aku tak ingin pergi. Aku ingin tetap di sini…” tangisku semakin menjadi.

Sudah, sudah jangan menangis…” bisik Bunda dengan pelan.” Nanti Bunda juga ikutan menangis. Tegarlah sayang, Bunda akan selalu berdo’a untukmu,” kata Bunda sambil mengelus kepalaku.

Aku takut, aku takut….” kataku berulang-ulang padanya.

Tenanglah, Bunda yakin kamu akan bisa melaluinya. Percayalah nak,” suara Bunda terdengar serak menahan tangisnya.

Aku tahu Bunda adalah orang yang tidak pintar menahan tangis, tapi tidak dengan kali ini. Bundaku berusaha menahan segala tangisnya itu demi aku. Bunda mencoaba membuat kau tegar dengan menunjukkan bagaimana kuatnya dia. Aku tahu. Aku menangis dipelukannya. Gemetar tubuh ini rasanya.

Ayo, Mbak.. naik, naik… !“ teriak Kondektur Bus. Aku harus naik, karena nenek sudah ada didalam, dan bus akan berangkat.

Tuhan! “bisik hatiku,

Ayo , Na. Naik, “kata Bunda, sambil melepaskan pelukanku darinya.

Aku berpamitan dengan kakak perempuanku dan memeluknya. Kemudian ku langkahkan kaki dengan begitu berat. Bus mulai berlenggang meninggalkan terminal tempat dimana aku sering berdiri disana, menanti bus mini untuk berangkat sekolah. Kulihat mata sembab Bunda yang menahan tangis, dan wajah kakakku yang tak bisa menutupi mata merahnya. Ku lambaikan tanganku seiringan dengan lambaikan tangan mereka. Tangisku pecah, aku menangis disepanjang perjalanan pagi itu. Begitu banyak kata-kata yang tidak bisa terungkap, sekarang ku tumpahkan dalam tangis. Nenek yang berada disampingku terlihat menutupi keharuannya juga. Sungguh ini kali pertama aku ketakutan begitu hebatnya. Aku mungkin bukan anak manja, aku hanya anak yang sering membantah apa yang Bunda katakan. Tak sedikit aku sering bertengkar dengan Bunda, tak sedikit Bunda seringkali marah karena ulahku. Tapi tak semudah yang aku bayangkan, hati ini tak dapat menutupi semuanya. Aku takut harus menghadapi kehidupan tanpa Bunda di sisiku, sungguh aku takut.

Semakin deras air mata ini, tak kuasa aku menahan setiap rengekan yang ingin kutumpahkan. Sesenggukan aku menangis, layaknya anak kecil yang cengeng. Beberapa orang melirik kearahku, tak kupedulikan. Tak kupedulikan sama sekali.

Bun…. Aku takut, Bun. Aku sayang Bunda.”

Hatiku berbisik, merintih bersamaan dengan untaian doa-doa yang kulantunkan. Perlahan aku merasakan usapan lembut nenekku. Nenek yang sejak tadi duduk di sampingku, menatapku, merasakan setiap kesedihanku. Dia membelaiku dengan sangat lembut sambil menutupi peluhnya dibalik kacamata tua yang ia kenakan. Bus semakin jauh, melaju dan terus berlari pergi dari tempat itu, tempat aku dibesarkan, tempat aku tak bisa pergi dari sana.

Tempat keindahan itu ada, tempat aku berlari dan tertawa riang bersama kakak dan adik-adikku. Tempat aku berteduh, bersandar, bersembunyi. Tempatku bermain dengan semua teman-temanku. Tempat aku mengukir setiap kenangan yang tak akan aku lupakan. Tempat yang takkan pernah ada persamaannya dengan tempat-tempat lain. Aku akan merindukan setiap detik yang telah kuhabiskan di sana.

Debar ini sungguh tak pernah kurasa sebelumnya. Sakit, tapi tak sedikitpun aku ingin menyalahkan Ayah atas semua ini. Walau aku merasa ini semua karena Ayah. Aku harus pergi ini semua karena Ayah! Tidak! Tidak! Ini harus terjadi bukan karena Ayah. Ini semua memang ujian untukku, hidupku, sebagai bentuk perjalanan pendewasaanku. Aku sayang Bunda dan Ayah. Aku sayang mereka semua. Kucoba berdiri lagi, kucoba menegakkan dagu yang kutundukkan. Terpejam dan membayangkan wajah Bunda yang tersenyum, wajah Bunda saat ia marah. Aku akan merindukan semua itu. Kucoba tersenyum meringankan beban di hati. Ku raih tangan keriput nenekku, dan memegangnya erat.

Aku akan tegar,nek. Aku akan menemani nenek,” kataku sambil menyenderkan kepala di bahunya.

Iya, cucuku. Nenek tahu kamu pasti bisa.” Sesungging senyum dengan belaian tangannya di kepalaku, sedikit mengobati rasa ketakutan ini.

Bunda… aku akan sangat merindukanmu,” bisikku dalam hati.

***

MumasMujtahidatul Masbuqina Aulia yang lahir di Jakarta, 13 Juli 1994 merupakan alumni kelas XII IPA-2 Tahun Pelajaran 2011/2012. Putri pasangan Bapak Zaenul Aulia dan Ibu Darurrohmi ini tinggal di Desa Somawangi Kecamatan Mandiraja Banjarnegara 53473. “Tak apa menangis untuk sebuah kebahagiaan yang besar. Mengalah tak berarti kalah, menangis tak berarti lemah. Namun, semuanya berarti sebuah tanda bahwa usaha tak selamanya mudah” adalah kata-kata yang menginspirasi hidupnya. Kini ia tengah mencari pengalaman belajar di kampung Inggris, Pare  Kediri Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s