Malaikat Terhebat itu adalah.. Bunda!

Cerpen Kartika Rahmarani

Malaikat TerhebatJam menunjukkan pukul enam pagi, tapi aku masih enggan untuk membuka mataku dan bergegas mandi, padahal sekarang kegiatan belajar mengajar di SMA tempat aku sekolah telah dilaksanakan. Bunda yang mengetahui aku belum bangun saat itu langsung menuju kamarku, niat untuk membangunkan aku agar aku cepat mandi dan bergegas kesekolah. Tapi hal itu sia-sia, aku masih tetap tidur dan nyaris menutup mukaku dengan bantal yang aku pakai tapi semua itu tercegah setelah bunda menyemprotkan sedikit air kemukaku dengan tangannya.

Dengan rasa sangat terpaksa aku langsung berjalan menuju kamar mandi. Karena masih sangat ngantuk aku lupa membawa handuk ke kamar mandi.

“Bundaaaaa… Tolong ambilkan handuk Lisa Bun, Lisa lupa bawa,” kataku sedikit berteriak agar bunda mendengar teriakanku.

“Ini Lisa handukmu! Kamu gimana sih sayang, mau mandi saja lupa bawa handuk.” Begitu sabar bunda meladeniku yang sedang bandel seperti ini.

Mandi sudah, sarapan juga sudah. Sekarang tinggal berangkat ke sekolah dengan diantar supir.

“Bunda. Lisa berangkat dulu ya. I love you,” ucapku sambil mencium tangan dan pipi bunda.

“Hati-hati ya sayang. I love you to,” jawab bunda dengan membalas ciumanku.

Assalamu’alaikum…”

Wa’alaikum salam,” jawab bunda lembut.

Aku duduk di sofa belakang mobil. Sambil membenarkan jilbabku, aku bergumam dalam hati. Bismillah…

Namaku Zamila Meilisa. Panggil saja Lisa karena semua teman dan keluargaku menggunakan panggilan itu. Aku adalah salah satu siswi SMA 13 Semarang. Mungkin bisa disebut murid baru setelah menjalani Masa Orientasi Siswa pada tiga hari ini berturut-turut.

Aku tergabung dari warga kelas X-3. Kelas yang mungkin akan membuat aku nyaman berada di dalamnya. Memiliki teman baru, guru baru, pengalaman baru, juga segala hal yang akan menemukan pengalaman berharga. Dan aku bisa belajar lebih dewasa di SMA dan kelas ini. Kelas X-3 berada dilantai dua, sebelum sampai ke kelas X-3 aku harus menaiki tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua.

Hari ini pelajaran Matematika yang pertama kelas X-3 temui, pelajaran yang menurutku sangat menguras tenaga dan pikiran. Dilanjutkan dengan pelajaran Sejarah yang tidak beda dengan Matematika yang juga sangat menguras tenaga. Dan akhirnya pelajaran demi pelajaran telah dilalui semua oleh siswa-siswi SMA 13 Semarang, juga pelajaran tambahan yang selalu mendadak telah dipelajari.

Aku mempercepat langkahku melewati koridor sekolah, karena saat itu telah menunjukkan pukul tiga sore. Setelah mengikuti pelajaran tambahan mendadak aku langsung menyambar pintu kelas karena aku ingin segera pulang.

Hujan menetes dari luar kamarku. Aku membuka tirai kamarku memandang liar melihat langit yang begitu kelam pagi ini. Pagi yang mungkin bisa menjadi indah untukku karena hari ini adalah hari minggu. Tapi karena hujan itu alasanku membatalkan niatku untuk pergi berjalan-jalan. Kualihkan tatapanku pada boneka yang ku taruh pada meja belajarku, yang disampingnya berdiri kokoh bingkai foto yang terpampang foto diriku dengan sahabat masa kecilku yang paling aku cinta. Tapi naasnya dia telah meninggal pada kecelakaan pesawat yang menewaskan semua keluarganya.

Bunda melangkah mendekatiku yang masih berdiri di balik tirai jendela kamarku.

“Kamu tidak ada acara hari ini sayang?” tanya bunda sambil merapikan rambutku yang berantakan karena belum sempat aku menyisirnya.

“Tidak Bunda. Cuaca seperti ini sangat tidak mendukung.”

“Syukuri saja sayang, Allah masih mau memberi kita nikmat dengan menurunkan hujan hari ini,” kata bunda lembut.

“Iya Bunda… terima kasih telah mengingatkan Lisa karena nikmat yang Allah berikan ini.”

“Itu sudah menjadi kewajiban Bunda, sayang.”

“Iya… Maafkan Lisa juga atas kejadian kemarin pagi. Soal Lisa sudah bikin Bunda kesal.”

“Tidak apa-apa sayang. Itu adalah tugas Bunda. Selama Bunda masih berada di sini bersama Lisa. Bunda ingin Lisa janji satu hal sama Bunda. Lisa harus tetap memiliki semangat belajar yang tinggi, memiliki motivasi yang sangat luar biasa. Bunda ingin kamu menjadi orang sukses kelak.”

“Motivasi luar biasa itu adalah Bunda. Lisa janji akan melakukan hal itu. Lisa sayang Bunda,” bisikku pada dekapan bunda yang hangat.

Ini yang aku suka dari bunda. Selalu mengajariku rasa syukur, tawakal, sabar. Bunda selalu memberi semangat padaku jika aku lemah.

Matahari pagi ini sangat cerah. Beda dengan kemarin, matahari mengeluarkan mendungnya. Kicauan burungpun seakan seperti berada di taman yang indah. Taman yang memiliki banyak keindahan denga bunga-bungan dan tanaman-tanaman yang berada di sekitarnya.

Aku berangkat kesekolah seperti biasa, diantar oleh supir. Sambil duduk di sofa mobil sebelah kiri, aku memandang setiap jalanan yang aku lalui. Mengamati setiap pohon yang begitu lebat tumbuh di pinggiran jalan menuju sekolahku.

“Lisa…” panggil suara lembut yang sangat aku kenal.

“Iya. Baru berangkat Cit?” tanyaku

“Iya ini. Berangkat sama supir?”

“Seperti biasa,” kuulas senyum termanisku.

Cita adalah salah satu temanku dikelas X-3. Kami bertemu saat MOS berlangsung dan beruntungnya kami satu kelas jadi kami bisa lebih akrab dari ini.

Teettt… Teetttt…!

Bel istirahat pun berbunyi, aku langsung pergi bersama cita. Mengisi perut kami dengan bakso yang ibu kantin jual. Pagi ini aku tidak sempat sarapan karena aku tadi sangat terburu-buru untuk segera ke sekolah.

***

Tidak menyangka sekarang aku sudah kelas XII. Aku mendapat rangking satu di kelas XII. Aku sangat senang dengan hal ini, aku bersyukur sekali dan ternyata usahaku selama kelas X tidak sia-sia. Aku percaya Allah membimbing jalanku, jalan baik menuju nikmat-Nya.

***

Kini aku sedang menunggu detik-detik kelulusanku. Aku lebih sering solat tahajud sekarang, memohon pada Allah semoga aku masih berada dijalan yang Allah Ridhoi. Aku lulus dengan nilai paling baik nomer satu di SMA 13 Semarang, aku sangat bangga ternyata aku mampu melewati ini semua. Allah mendengarkan doaku. Nilai dan kelulusan terbaik ini untuk bunda tersayangku, malaikat terhebat dalam hidupku.

Setelah mendapat ijazah aku segera mendaftar pada universitas yang aku inginkan sejak dulu. Universitas Negeri Semarang. Dan hari senin ini hari dimana aku melaksanakan test wawancara. Satu jam lebih aku mengikuti test wawancara itu dan aku langsung bergegas untuk pulang. Tapi tiba-tiba suara handphone-ku berbunyi, perlahan kuambil handphone itu dari tasku dan melihat pada layar siapa yang menelepon dan ternyata ayah yang meneleponku.

Assalamu’alaikum Ayah, ada apa?”

Wa’alaikumsalam Lisa. Kamu ke rumah sakit sekarang ya, Ayah tunggu di sini. Ayah di Rumah Sakit Islam Sultan Agung.” Tuutt. Telepon diputus.

Aku segera lari menuju mobil. Kini tidak lagi bersama supir tapi aku sendirian. Aku sedikit mengebut karena aku panik, hatiku rasanya berkecamuk. Kenapa aku disuruh ayah ke rumah sakit. Siapa yang sakit.

Mobil kuparkir pada halaman Rumah Sakit Islam Sultan Agung dan aku segera berlari kedalam rumah sakit menuju ruang UGD. Tadi ayah memberi tahu aku harus kemana setelah sampai dirumah sakit. Kulihat ayah dengan kepala menunduk dan aku langsung meliarkan pandanganku pada sekeliling mencari sosok yang aku cintai. Bunda. Tapi aku tidak berhasil. Tidak ada bunda di situ.

“Ayah!”

Ayah mengangkat wajahnya, menatapku, lalu memelukku erat. Wajah ayah pucat seperti sangat merasakan ketakutan dan ayah menangis dalam pelukan sehingga membuatku turut dalam kesedihan.

“Bunda kritis, Nak. Sekarang sedang ditangani dokter. Kita berdoa untuk kesembuhannya ya.”

“Bunda sakit apa Ayah?”

“Kanker rahim.”

“Kenapa Ayah baru memberi tahuku sekarang?” suaraku parau tak kuasa menahan tangis. Namun, ayah tetap membisu.

“Tak perlu ada yang diperdebatkan lagi sayang. Kita hanya perlu berdoa sambil menunggu kepastian.”

Aku tidak mampu untuk berkata apapun. Aku terdiam bagaikan orang bisu yang tidak mampu berbicara apapun. Mataku memandang lurus denga tatapan kosong. Sejunak ku memandang ruang UGDnyang tak pernah kubayangkan selama ini. Air mata membasahi pipiku, kuusap kedua belah mataku dengan jilbab warna hijau toska, warna kesukaan bunda.

“Bunda harus kuat. Harus! Bunda tidak boleh lemah!” kataku lirih.

“Pasti sayang!” kata ayah sambil memelukku.

Hampir satu setengah jam aku dan ayah menunggu, tapi belum ada kepastian dari dokter yang menangani bunda. Aku dan ayah terus melantunkan Alquran kecil yang tadi kubawa, sambil menangis aku memegang tangan ayah dan ayah membalasnya lebih erat. Seperti mengisyaratkan jika kita harus kuat dan tabah. Terbayang diingatan aku senyum bunda yang tulus, ikhlas. Tapi dibalik senyumitu bunda menyimpan beribu kesakitan dan kenyataan terpahit.

“Keluarga Ibu Delia?” tanya dokter yang menangani bunda.

“Iya dok, saya suaminya,” ujar ayah pada dokter itu.

“Mari ikut saya sebentar, Pak.”

Aku berlari menemui suster, menanyakan keadaan bunda dan semoga suster itu memiliki jawaban terbaik.

“Adik bisa lihat di dalam,” suara suster itu datar.

Perlahan aku memasuki ruangan itu. Sangat dingin di dalam ruang UGD ini. Dan beberapa perawat mengelilingi unda.

“Bangun Bunda!” ujarku pelan.

Tidak ada jawaban. Bunda seperti patung, dian dan hanya mampu terbaring di ranjang. Satu perawat melepas tabung oksigen yang berada di luar mulut bunda. Hatiku tersayat, sakiiittt sekaliii. BUNDAAAAA!!!!! Jeritan itu hanya terdengar oleh hatiku. Kudekap bunda, seorang yang telah merawatku sejak kecil hingga seperti ini, namun kini tubuh itu telah kaku.

Innalillahi Wainnailaihi Roji’un…” suara ayah berat di belakangku. Kudekap tubuh besarnya dan menangis di pelukannya.

“Ini cuma mimpi kan Ayah?! Bunda nggak ninggalin Lisa enggak kan Ayah?” kataku dengan suara parau.

Ayah hanya terdiam, bisu. Terpaku di tempatnya berpijak.

Kini bunda tak lagi di sini. Kita sudah beda alam. Ikhlas! Itu cara yang ku coba saat ini. Mungkin ini yang dapat membuat bunda tersenyum, meski aku tak tahu akan hal itu. Aku rindu bunda. Aku rindu ketegarannya. Aku rindu kasih sayangnya, ketulusannya, kelembutannya, sikap keibuannya.

Aku diterima di Universitas Negeri Semarang dengan jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Ku persembahkan kesuksesanku ini pada bunda. Aku telah berada di setengah jalan kesuksesanku. Ini janjiku pada bunda. *)

 

Kartika RahmaraniKartika Rahmarani yang lahir di Banjarnegara, 10 Mei 1996 merupakan siswa kelas XII IPA-4 MAN 2 Banjarnegara. Putri pasangan Bapak Yulianto dan Ibu Aria Eka Winarni ini beralamat di Krandegan RT 01 RW 03, Banjarnegara. “Hidup harus lebih baik dari yang pernah saya alami sebelumnya” merupakan kata-kata yang menginspirasi langkah hidupnya.

2 thoughts on “Malaikat Terhebat itu adalah.. Bunda!

  1. Ceritanya bagus dan mengharukan, selain itu ceritanya memberikan pemahaman kepada kita bahwa kasih ibu sepanjang hayat

  2. “Ya Allah, ampunilah hamba dan kedua orang tua hamba. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” Amin

    Sebesar apa pun pemberian kita, pengorbanan kita tak akan mampu membalas jasa mereka. Sabda Rosulullah saw. walau kita memberikan emas sebesar gunung Uhud pun tak akan bisa membalas jasa-jasa mereka. Dalam kitabullah pun memerintahkan kita berbakti kepada orang tua kita setelah menyembah Allah, dan kita pun tidak boleh mengucapkan kata kasar walau “ah” padanya, terutama pada ibu.

    Salam kreatif, salut untuk Jeng Kartika, begitu menyentuh ceritanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s