Mahabah Sang Mualaf (2)

Sebaiknya membaca Mahabah Sang Mualaf (1)

Cerpen Novi Setyowati

Mahabah Mawar“Bagaimana mungkin Bapak menyuruh saya berkhotbah? Bukannya Anda tidak memberitahukan sebelumnya. Syarat macam apa itu? Anda kan tahu sendiri jika pemahaman agama saya masih sedikit?” tanya Antonius emosi.

“Jika kamu tidak dapat berkhutbah. Bagaimana kamu akan membawa Laila ke jalan Illahi?” tanya abah Laila tak kalah heboh.

Suasana semakin memanas. Penolakan getir itu adalah cambuk terperih dalam kisah cinta Antonius. Antonius semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran abah :Laila. alasannya seolah-olah mematikan seluruh semangat Antonius. Ini irrasional. Berkelebatan kebencian mendominasi akal sehatnya. Mega cintanya pada Laila begitu menjerat hati Antonius di lembah kenistaan.

Pengorbanannya selama ini sia-sia sudah. Pupus sudah harapan dan semangat Antonius untuk mencerna semua materi tentang islam. Kali ini pikirannya sangat kalap dan kesesatan menggelora. Keimanannya mulai memudar sampai terbesit sejenak di hatinya untuk murtad karena cahaya yang selama ini ia kejar telah padam menutup kebahagiaannya. Namun, pemikiran sesat itu segera disingkirkan oleh ustadz Rozaq dengan segala pemahaman yang ditancapkan pada diri Antonius. Ia tebarkan petuah-petuah suci lewat ucapan sesejuk embun pagi yang menyegarkan jiwa raga manusia.

“Perjuangan tidak selalu berakhir bahagia, Nak. Manis pahit yang dirasakan adalah sebuah konsekuensi dari keputusan yang kamu ambil. Kamu sudah berjuang sedemikian dalam dan penuh kegetiran. Kamu sampai rela meninggalkan segala kemewahan demi Laila. Apa kamu mau menyerah begitu saja?” ustadz Rozaq terdiam sesaat untuk memberi waktu pada Antonius agar dapat memahami kata-kata dan maksud darinya.

“Anakku, jodoh itu sudah ada yang mengatur, jadi jika kamu itu jodoh Laila maka kalian pasti akan bersatu. Namun jika kalian tidak berjodoh, berarti Allah telah menyiapkan segala yang terbaik untuk kebahagiaan kalian. Yang lebih dari yang kamu kira. Percayalah dengan kodar yang telah ditetapkan-Nya,” lanjut ustadz Rozaq.

Seluruh tubuh Antonius bergetar pelik dan bulu kuduknya bergidik mendengar lantunan ayat Alquran yang dibacakan oleh ustadz Rozaq untuk menenangkan gejolak batin Antonius. Kesejukan merongrong di kalbu dan meredam semua guntur kemarahan Antonius. Air matanya menitih deras saat menyadari betapa berdosa dirinya telah berpikir sesat, ingin keluar dari islam adalah pemikiran yang salah besar karena hanya karena wanita. Perjuangan mempertahankan islam di hatinya sudah amat panjang ia lalui, dan apabila pemikiran sesat itu akan mematahkan perjuangan itu makan kesia-siaanlah yang akan ia dapatkan.

*****

Bertahun-tahun lamanya Antonius harus hidup dalam dera cambuk cinta Laila. Meski hatinya amat terluka, keinginan Antonius untuk menggapai secuil puing mahabah Laila tidak terkurangi sedikit pun. Cinta suci untuk Laila tak mungkin pernah padam tertiup angin keperihan dunia yang berpihak padanya. Cinta itu telah mengalir di nadinya, berhembus di nafasnya, berdawai di setiap detak jantungnya.

Kini Antonius paham tentang semua penolakan abah Laila. Ternyata abah Laila tidak sejahat yang Antonius pikirkan sebelumnya. Alasannya karena ia telah menerima pinangan dari seorang ustadz dari desa sebelah yang lebih dulu mengkhitbah Laila, namun tetap merahasiakannya dari Antonius saat itu. Abah Laila sangat mengerti bagaimana keadaan Antonius kala itu. Jiwa islam Antonius masih sangat rapuh dan imannya akan luluh lantak jika menerima penolakan itu. Kemungkinan terburuknya adalah Antonius akan murtad.

Abah Laila berpikir keras untuk menolak Antonius dengan sangat halus agar imannya tidak tergoyah, caranya menggunakan syarat-syarat yang tak terduga berharap akan menambah pemahaman Antonius tentang Islam, agar suatu saat Antonius mengetahui semuanya maka pegangannya sudah cukup kuat menahannya dari terjatuh ke lembah kesesatan dan kegelapan hidup.

Beberapa hari setelah menghadiri manisnya persatuan cinta Laila dengan lelaki yang terlihat sangat alim. Antonius duduk termenung di kursi teras rumah. Adik Antonius, Marcelia datang menemuinya berderai air mata. Ia berlutut di depan Antonius dan memeluk pinggang Antonius erat penuh permohonan. Antonius kaget dan berusaha membantu Marcelia berdiri, namun pegangan Marcelia terlalu kuat.

“Kak Anton, Mama dan Papa habis kecelakaan kemarin, saat mereka ingin mencari tahu keberadaan Kakak. Kesana kemari Celia mencari Kakak. Dan entah mendapat aura dari mana Celia sampai di tempat ini. Celia merasa Kakak ada di sini, dan ternyata Tuhan Yesus mendengar sembah doa Celia,” tangis Marcelia di pangkuan Antonius.

Ustadz Rozaq dan Bu Rozaq keluar dari rumah saat mendengar tangisan Marcelia yang memecah keheningan. Bu Rozaq membantu Marcelia berdiri. Ia masih terisak hebat. Antonius berdiri dan memeluk adiknya erat untuk menguatkan hati adik satu-satunya itu.

“Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang?” tanya Antonius penuh kekhawatiran.

“Mama lumpuh, tidak dapat berjalan lagi. Dan Papa….” Marcelia semakin tersedu, nafasnya tersengal-sengal penuh kecemasan yang mendalam.

“Papa kamu kenapa, Nak?” tanya Bu Rozaq membelai rambut halus Marcelia. Gadis berusia sekitar delapan belas tahunan itu tidak dapat membendung rintihan batinnya lagi. Air matanya mengalir menembus kemeja Antonius dan mengalir di dada Antonius.

“Papa kritis. Dari kemarin belum sadar betul. Setiap setengah sadar, kata-kata yang terucap adalah nama Kak Antonius. Celia merindukan Kakak, Mama juga, dan Papa lebih rindu dari itu. Mama dan Papa sudah menerima semua keputusan Kakak,” jawab Marcelia terbata-bata.

“Bukannya mereka sudah membenci Kakak, Celia?” tanya Antonius ragu.

Marcelia tidak dapat menjawab pertanyaan Antonius karena terlampau terisak.

“Tidak ada orang tua yang benar-benar membenci anaknya, Nak Anton. Kasih sayang orang tua itu sepanjang masa. Seberapa besar pun kesalahan anaknya, kasih sayang mereka takkan pernah pudar. Temui mereka, Nak. Tanpa mereka kamu takkan ada di dunia ini,” nasihat Bu Rozaq.

Dada Antonius sesak dan hatinya hancur berkeping-keping melihat mamanya yang duduk lemah di kursi roda . tatapan matanya amat sendu memendam segumpal kerinduan. Antonius langsung berhambur di pangkuan mamanya dan menumpahkan tangis kerinduannya dalam dekapan sang mama. Tanpa banyak bicara mereka mengungkapkan segala lara lewat gerak tubuh. Setelah merasa kerinduannya terobati, Antonius berjalan ke ruang ICU tempat papanya terbaring.

Antonius terpaku melihat tubuh lemah papanya yang tanpa daya. Bibirnya bergerak membentuk rangkaian kata Antonius. Antonius berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke papanya dan menggenggam tangan papanya sangat erat.

“Papa, Antonius sudah datang. Antonius di sini,” bisik Antonius getir.

Papanya menggerakkan bibirnya meski matanya tetap tertutup. Air mata Antonius mengucir deras saat memahami kata-kata yang dimaksud papanya.

“Anton, islamkan Papa,” pintanya sangat lirih seperti gumaman angin lalu.

Hati Antonius sangat terenyuh mendengarkan papanya yang akhirnya tergerak hatinya. Kesedihan tak meredam semangat Antonius untuk membimbing papanya mengucapkan kalimat syahadad sebagai tanda keislamannya. Papanya tersenyum tenang dan menghela nafas lemah setelah mengucap kalimat syahadad dengan terbata-bata. Antonius juga membimbing mama dan adiknya untuk mengucapkan kalimat syahadat itu. Ruangan itu sesak akan tangis dan kebahagiaan yang sama kadarnya.

Satu menit setelah menjadi muslim, papa Antonius pun segera menghembuskan nafas terakhirnya dengan sangat damai. Wajahnya berseri seolah tidak merasakan sakit setelah kecelakaan itu. Antonius dan keluarganya dapat merelakan kepergian papa dengan penuh keikhlasan hati agar papa dapat bahagia di sisi Sang Pencipta.

TAMAT

Novi SetyowatiNovi Setyowati lahir di Wonosobo, 11 November 1996. Siswa Kelas XII IPA-1 MAN 2 Banjarnegara ini tinggal di Plodongan RT 05 RW 02, Sukoharjo, Wonosobo

3 thoughts on “Mahabah Sang Mualaf (2)

  1. Ceritanya sangat menarik, meskipun pada akhirnya Antonius tidak bsa mendapatkan Laila, namun saya salut dengan pengorbanan Antonius yang begitu besar untuk masuk Islam, meskipun pada awalnya karena seorang wanita.

  2. mengharukan, betapa berat perjuangan seorang lelaki untuk mendapatkan gadis dambaanya, walaupun akhirnya ia sendiri tak mendapatkan yang ia inginkan, namun hatinya tetap kokoh. patut diambil pelajaran dari cerita tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s