Mahabah Sang Mualaf (1)

Cerpen Novi Setyowati

Mahabah MawarQulhuwallahu ahad (Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa). Lafadz itu menggema di setiap tarikan nafas Antonius. Lafadz yang disenandungkan oleh jelmaan bidadari surga dengan tilawah yang sangat mengagumkan. Ayat indah tersebut mampu menggetarkan hati seorang pemuda Nasrani bernama Antonius, dan pelantunnya pun dengan mudah memikat hati Antonius sebegitu dalamnya hingga menumbuhkan hasrat Antonius untuk dapat memilikinya. namun sudah dapat ditebak, duri-duri kepiluan pasti akan menjadi rintangan, mengaburkan tabir yang tak Nampak, fatamorgana yang maya,dan keentahan dunia yang tak mudah ditembusnya. Perbedaan agama adalah tembok kepiluan yang bertengger di antara Antonius dan Laila. Selama ini mereka sudah saling kenal karena pernah satu kampus meski berbeda fakultas, tapi baru kali ini Antonius merasakan getaran yang ganjil mengusik ketenangan hatinya. Nyanyian cinta bersenandung merdu di hati Antonius meski ganjalan agama akan tetap menghantui setiap jejak langkah perjalanan cintanya.

Semakin lama Antonius tidak mampu lagi menahan gejolak hatinya yang menggebu-gebu ingin segera terungkap kepada sang bidadarinya. Setiap kali Antonius mendekati Laila, Laila malah begitu menghindar, seolah-olah Antonius itu seorang penculik atau penjahat yang akan mengganggu kedamaiannya, namun setelah Antonius menjelaskan jika ia ingin mengenal Laila dan ingin memperisteri Laila, Laila hanya menjawab.

“Temui Abah dan Ummi saya, Mas,” jawab Laila menunduk namun tak menyembunyikan senyum yang begitu merekah di bibir ranum Laila.

Satu minggu setelah mengungkapkan perasaannya pada Laila, Antonius pun memberanikan diri untuk menemui orang tua Laila dengan penuh semangat dan percaya diri. Namun nyalinya menciut seketika, hatinya terkoyak merana, penolakan yang dilakukan oleh abah Laila sangat jelas alasannya.

“Sampai kapanpun, saya tidak akan sudi menikahkan anak saya dengan non muslim. Pernikahan silang, pernikahan dengan beda agama itu dilarang dalam agama saya, entah di agamamu. Saya akan tetap dalam keyakinan saya,” ujar abah Laila sangat mengena.

Penolakan yang dilakukan abah Laila melunturkan semangat Antonius, merobohkan benteng kepercayaan dirinya, mencairkan nyalinya, namun tak sedikit pun menggeserkan semilimeter pun tekad Antonius untuk memiliki Laila.

Qulhuwallohu ahad. Mantera pembuka rahasia hidayah dalam diri Antonius. Ayat indah yang menghipnotis dan menyemaikan rasa ingin tahunya akan berbagai teka-teki yang terselubung di tiap huruf dan penggalan kata dalam ayat tersebut. Ayat itu senantiasa bergurau di aliran darahnya dan merintih meminta Antonius menelaah segala misteri relijius yang tersirat mengungkapkan sejuta keindaannya. Lafadz itu seolah-olah mengetuk pintu hati Antonius dan menjanjikan kebahagiaan padanya.

*****

Gurat kegelisahan terlukis di setiap garis wajahnya yang sendu. Mata sayunya mendeskripsikan merontanya hati Antonius. Berkecamuk terbalut sunyi dan kemelut jiwanya yang tanpa tepi. Sepi bergelayut manja di bahu Antonius yang harus menahan beban terberat dalam lingkaran jiwa-jiwa yang berlomba mengais serpihan kebahagiaan sesaat untuk memalingkan segala kefanaan dunia sebelum ajal menjemput.

Lafadz indah dan Laila mampu memberi energi luar biasa bagi Antonius. Pendirian Antonius tak gentar sedikit pun saat mendengar segala kecaman, celaan, cercaan, cacian, ancaman, dan hardikan yang dilontarkan oleh orang tuanya, mereka membujuk Antonius untuk tetap pada agama kristennya, sampai papa Antonius mengeluarkan kalimat yang memekakkan telinga, namun Antonius tetap keras kepala untuk mengikuti kata hatinya.

“Enyahlah. Jangan pernah menunjukkan wajah hinamu di depan kami. Wahai penghianat agama, camkan, Tuhan Yesus takkan memberkatimu!” hardik papa Antonius penuh api amarah yang berjilatan menghanguskan kasih sayangnya yang selama ini tercurah kepada Antonius.

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Antonius harus meninggalkan orang tuanya, meninggalkan kemewahan dunia yang melimpah ruah menjanjikan kebahagiaan yang terang benderang. Antonius keluar dari rumahnya hanya berbekal keyakinan akan niat baiknya. Langkah kakinya yang tak berarah membawa Antonius terdampar di sebuah bangunan yang di dalamnya menyembunyikan jiwa-jiwa tenang terlarut khusyuk meninggalkan hingar bingar dunia sesaat untuk menghadap Sang Pencipta. Beberapa saat hening membuat pikiran Antonius terbang memenuhi batin kosongnya.

“Wahai anak muda, apa kamu sudah shalat?” pertanyaan dari seorang imam masjid yang bernama ustadz Rozaq memecahkan lamunan Antonius.

Antonius menatap ustadz Rozaq dengan heran. Ia tidak tau makna yang terkandung dalam kalimat sang ustadz.

“Maaf saya mengganggu, nama saya Rozaq, orang-orang biasa memanggil saya ustadz Rozaq,” sambung ustadz Rozaq.

“Tidak, Us..tadz,” Antonius merasa sulit mengucapkan kata yang asing di telinganya. “Nama saya Antonius, saya dari umat kristiani,” jawab Antonius lebih lancar.

“Lalu, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya ustadz Rozaq ramah penuh toleransi. Tak tergambar keengganan sedikit pun di mata ustadz untuk berbincang dengan seorang non muslim.

“Saya ingin masuk islam,” ucap Antonius.

Hati ustadz Rozaq tersentak hebat. Namun ia sangat berantusias untuk membantu Antonius mengerti berbagai pemahaman tentang islam. Satu per satu paku keingintahuannya terlepas otomatis saat menyimak penjelasan ustadz Rozaq dengan takzim. Di depan jamaah masjid itu Antonius melepas jubah kristennya. Dengan  bantuan ustadz Rozaq, Antonius mengucapkan syahadad tauhid dan syahadad rasul dengan terbata-bata. Semua orang yang menyaksikan keislaman Antonius mengucapkan tahmid. Masjid itu penuh haru-biru atas tergeraknya hati seorang pemuda Nasrani untuk menjadi muslim meski harus meninggalkan orang tuanya dna kemewahannya. Yang lebih mengejutkan lagi, ustadz Rozaq saat itu juga mengangkat Antonius sebagai anaknya. Sungguh anugerah terindah bagi seorang Antonius.

*****

Syair cinta pujangga berkumandang silih berganti dengan kidung asmara yang mulai menyelami hati penikmat anggur dunia yang tidak baka. Keyakinan terukir dalam hati Antonius. Ia mulai merenda benang-benang kasihnya bersama Laila. Mengaitkan ikatan demi ikatan menjadi sebuah rajutan dari wol kekekalan cinta. Senyawa kasih sayang dan unsur keberanian bereaksi menghasilkan buih-buih keyakinan pada diri Antonius untuk menggapai mahabah dari sang bidadari yang terjaga dari keserakahan nafsu para arjuna. Segenap keberanian mampu menapaki kembali kisah cinta yang sempat tertunda karena tabir agama, namun seberkas cahaya hidayah menembus kabut penghalang dan menyingkapnya sedikit demi sedikit. Antonius sudah memantapkan hatinya untuk melabuhkan segenap ketulusan kasihnya pada Laila setelah petualangan panjang yang ia lalui dengan penuh aral yang melintang.

Di luar dugaan. Wajah abah Laila masih terlihat datar. Tidak ada ekspresi senang sedikit pun akan kehadiran Antonius untuk mengungkapkan itikad baiknya tersebut. Ia diam selama Antonius mengutarakan segala niatnya datang ke rumah itu lagi. Abah Laila hanya diam, menatapa Laila dalam seperti memberi aba-aba pada Laila untuk melakukan sesuatu. Laila segera memberikan Alquran pada abahnya. Abahnya meletakkan Alquran itu di depan Antonius. Menatap Antonius lekat.

“Bacalah Alquran ini,” suruhnya dengan wajah geram.

Antonius menatap Laila yang sedari tadi menunduk menyembunyikan mata bening berhias pelangi keindahan duniawi. Menyadari Antonius menatap Laila begitu dalam, abah Laila berdehem mengagetkan Antonius dan segera berpaling dari Laila.

“Jangan menatap Laila sedemikian dalamnya,” tukas abah Laila tajam.

“Maaf,” Antonius menunduk penuh kegetiran. Rasa percaya dirinya tercekat oleh resah gelisah penuh amarah. Satu syarat telah dipenuhinya namun mengapa abah Laila memberi syarat lain yang tidak pernah diduganya.

“Saya ingin Laila memiliki imam yang dapat mengimami dalam shalat dan kehidupannya kelak. Jika tidak dapat membaca Alquran, bagaimana kamu akan menjadi pemimpin anak saya?” argumen abah Laila sangat kukuh.

“Saya sudah hafal dari surat an-Nass sampai ad-Dukha,” sahut Antonius.

“Alquran tidak hanya sebatas suratan tersebut, Antonius,” sela abah Laila.

“Baiklah. Beri saya waktu dan kesempatan,” pinta Antonius dengan nada merendah.

Ayah Laila diam. Ummi Laila dan Laila sendiri pun diam memaku seperti batu.

Antonius pulang ke rumah orang tua angkatnya dengan selubung kepedihan yang sangat curam dan sekarung kekecewaan yang sangat berat. Orang tua angkatnya dengan kasih sayang tulus mau membantunya untuk belajar Alquran. Antonius sangat berterima kasih pada mereka yang sangat mulia itu.

Semangat menggebu Antonius dan ketelatenan dari orang tua angkatnya membuihkan keajaiban luar biasa. Dalam waktu enam bulan Antonius mampu membaca Alquran dengan kaidah ilmu tajwid yang benar seratus persen meski kadang mahraj hurufnya ada yang kurang fasih. Enam bulan adalah waktu yang sangat lama bagi Antonius, namun berkat keteguhan hati, ia dapat melewatinya penuh percaya diri. Setelah enam bulan yang menyulitkan, berpisah dengan sang pujaan hati. Antonius kembali menemuinya penuh keyakinan. Ia telah memenuhi syarat dari orang tua Laila, jadi tidak ada alasan lagi untuk menolaknya untuk ketiga kalinya.

Antonius sebenarnya masih takut menghadap orang tua Laila mengingat sakitnya saat mereka menolak sembah setianya untuk mengkhitbah Laila, namun semua pamikiran itu ditepisnya dengan penuh percaya diri. Kehidupan ruh cinta yang menguatkan jiwanya untuk dapat menerima kemungkinan terburuk sekali pun.

Kali ini harap-harap cemas Antonius menanti jawabandari orang tua Laila yang menatapnya tajam penuh selidik. Hati Antonius bergidik saat melihat sedetik senyum merekah dari bibir mereka, namun segera tergantikan oleh kebekuan sikap yang membuat pikiran Antonius tak menentu. Awan ketegangan kembeli mencekam suasana. Zikir cinta berbisik dan sahut-menyahut menyaksikan tirai-tirai mahabah menyingkap sebuah mahligai cinta Laila yang sedang hendak digapai oleh Antonius.

Kembali abah Laila mengedarkan pandangan yang mematikan jiwa dan keyakinan Antonius. Jantung Antonius berdetak dengan ritme yang berantakan. Darahnya berdesir dahsyat membius seluruh raganya. Nafasnya terputus-putus. Kemungkinan terburuk itu menjadi sebuah realita yang menutup tirai rahasia saat Antonius menatap gerak bibir abah Laila.

“Berkhotbahlah di masjid nanti siang saat shalat jumat,” ucap abah Laila menambah ketegangan.

Keringat dingin Antonius bercucuran deras melebihi aliran sungai. Ia mulai merasa dipermainkan oleh keluarga Laila. Amarahnya segera mencuat.

Bersambung ke Mahabah Sang Mualaf (2)

….

Novi SetyowatiNovi Setyowati lahir di Wonosobo, 11 November 1996. Siswa Kelas XII IPA1 MAN 2 Banjarnegara Tahun Pelajaran 2013/2014 ini, sekarang tinggal di Plodongan RT05 RW 02, Sukoharjo, Wonosobo.

2 thoughts on “Mahabah Sang Mualaf (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s