Laskar Hidup Fatimah

Cerpen Nunik Ida Susanti

Memikirkan Masa DepanInilah hidupku, sepulang sekolah aku terbiasa bermain dengan sampah-sampah kotor yang mungkin bagi kebanyakan orang sampah-sampah ini tidak berguna dan menjijikantapi tidak untukku bagiku sampah adalah hidup dan sampah adalah temanku. Karena sampah inilah, aku bisa membantu kedua orang tuaku untuk menyambung hidup dan juga membantuku untuk tetap bisa bersekolah. Aku memang bukan dari keluarga yang kaya, keluarga yang bergelimangan harta, yang bisa beli ini itu sesuka hati. Aku hanyalah anak dari seorang pemulung yang setiap hari bersusah payah mencari uang dengan mengorek-ngorek sampah, dan kemudian sampah itu dikumpulkan untuk dijual di tempat pengepul. Tidak semua sampah dapat menghasilkan uang, sehingga kami harus memilah-milah terlebih dahulu mana sampah yang dapat menghasilkan uang dan mana yang tidak bisa menghasilkan sebuah uang. Raja matahari telah berdiri tegak di atas kepalaku, rasa haus perlahan-lahan mulai mencekik leher ini, butiran keringat pun mulai berjatuhan dari kening ini, tubuh yang kurus kering ini pun mulai memberontak meminta istirahat. Namun jika aku istirahat sekarang, aku pasti tidak akan mendapatkan banyak sampah.

Ah lebih baik aku lanjutkan saja mencari sampah, maafkan aku diriku.” Aku pun mulai mengorek-ngorek sampah lagi. Walaupun aku sudah terbiasa dengan sampah-sampah yang bau ini namun terkadang aku pun jijik dengan sampah-sampah yang ada karena ada beberapa sampah yang sangat kotor dan baunya juga begitu busuk sampai-sampai mengalahkan bau bangkai tikus.

Matahari telah terbenam di ujung barat sehingga meninggalkan bercak-bercak kegelapan, perlahan kota ini bagaikan berhias kunang-kunang yang begitu indah lewat berkas-berkas cahaya lampu yang menyala indah dengan izin sang Illahi. Dan, inilah waktu yang aku tunggu-tunggu karena aku bisa berkumpul dengan keluargaku dan aku bisa melepas rasa lelah yang sedari tadi membelenggu tubuhku ini, rasa haus yang sedari tadi mencekik leherku, rasa lapar yang membuat cacing-cacing di perutku melakukan demo.

Sesampainya di rumah aku segera meletakkan sampah-sampah yang berhargai ini, kemudian aku masuk ke rumah terlihat ayah, ibu, kedua kakakku, dan satu adikku telah menunggu di meja makan. Setelah semua berkumpul termasuk aku, ibu segera pergi kedapur untuk mengambil makanan, aku pun ikut membantu ibuku. Setelah makanan telah siap di meja makan kami pun berdoa terlebih dahulu, setelah itu kita baru makannamun entah kenapa adikku yang bernama Aisyah. Ia tidak sedikit pun menelan makanan itu melainkan dia hanya terpaku dan terus menerus memandangi makanan itu.

Aisyah kenapa kamu kok makanannya cuma dilihatin aja, nanti makanannya malu lho,” kataku sembari menatap wajahnya yang terlihat kusut.

Kenapa si kita setiap hari harus makan nasi sama ikan asin saja, ayah, ibu kapan kita bisa makan ayam goreng,” ucapnya kini terlihat sebuah butiran bening jatuh dari kelopak matanya yang indah.

Nak kamu tidak boleh mengeluh makanlah makanan yang ada, nanti kalau ayah sama ibu sudah punya uang pasti nanti bisa makan ayam goreng, sekarang kamu makan nasi dengan lauk ikan asin ini ya…” jawab ibuku sembari mengahapus butiran bening yang jatuh dari kelopak matanya.

Anakku yang paling cantik, kamu tahu nggak?” tanya ayah.

Apa Ayah. . . ?” ucap Aisyah.

Allah telah berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7, yang artinya Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku)maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. jelas ayah.

Benar kata ayah kalau Ade bersyukur mungkin besok Allah akan melimpahkan makanan ini, mengubah lauk ikan asin ini menjadi ayam goreng yang begitu nikmat. Oh iya, Ade juga harus tahu padahal masih banyak orang di luar sana yang masih banyak kekurangan makanan mereka kelaparan, kedinginan, mereka tidak punya tempat tinggal, apa Ade mau Allah akan memberi azabnya menghilangkan semua makanan ini, rumah, mainan yang kamu punya hayo pilih mana. . ?” kataku ikut angkat bicara dan menjelaskan kepada adikku Aisyah yang baru berumur 5 tahun.

Tidak, Aisyah nggak mau itu… Baiklah, sekarang Aisyah akan makan makanan ini, ” ucapnya sembari melahap makanan yang sedari tadi hanya ia pandangi.

Selesai makan malam aku pun segera belajar. Walau lelah masih terasa namun bagiku sekolah itu nomor satu dan aku juga ingin menjadi seorang yang pandai, bisa menjunjung nama kedua orang tuaku. Lagi pula aku tak ingin mengecewakan mereka yang sudah bersusah payah menyekolahkanku sampai saat ini aku bisa duduk di bangku SMA bahkan kedua kakakku rela tidak bersekolah lagi demi aku. Selain itu, aku juga ingin membuktikah bahwa anak dari keluarga pemulung bisa menjadi seorang yang hebat dan sukses seperti mereka yang kaya raya bahkan anak seorang presiden sekalipun itu.

*****

Pagi ini kuawali dengan penuh semangat dan mimpi, mimpiku yang begitu tinggi sampai-sampai mampu menembus lapisan atmosfer hingga sampai keangkasa raya yang begitu luas, tinggi dan indah, sebelum aku memulai pelajaran pertama aku terlabih dahulu berdoa, “Allaahumma innii as-aluka ilham nafian waamalan mutaqbbalan warizqanthai-yyiban. Ya Allah, aku minta pada Engkau ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima dan rizki yang baik, batinku berucap, berdoa meminta kepada-Nya. Kini aku siap untuk mengikuti pelajaran pertama dan siap mendengarkan keterangan-keterangan yang Ibu Guru berikan. Otak dan hati kecil ini juga sudah siap untuk menerima dan menyimpan semua ilmu yang diberikan Allah lewat ibu guru. Tak terasa bel istirahat telah berbunyi, teman-temanku berhamburan keluar. Kebanyakan dari mereka memilih istirahat untuk pergi ke kantin. Namun, tidak denganku. Lebih baik uang yang aku miliki aku simpan, di sisi lain aku juga ingin membelikan ayam goreng untuk adikku Aisyah. Kasihan dia.

Fatimah kamu kok melamun si, kamu nggak ke kantin lagi,” sebuah pertayaan itu membuatku sedikit kaget.

Ee. . . . . . kamu Ca, aku nggak ingin kekantin kalau kamu sendiri?”tanyaku balik.

Aku tidak pergi ke kantin, lagi pula aku sudah membawa bekal dari rumah kamu mau bantu aku habisin kue ini?” tawar Caca padaku.

Makasih Ca, lebih baik ini buat kamu saja,” tolakku. Jujur aku juga ingin memakan kue itu tapi aku rasa tidak pantas.

Kamu mau ya, nanti Allah membenciku karena tidak memakan kue ini sampai habis. Allahkan tidak suka dengan orang yang suka membuang-buang makanan, ayolah bantu aku mubasir tahu?” rayunya. Aku pun tidak dapat menolaknya aku pun memutuskan untuk menerima penawaran dari Caca. Tiba-tiba saja saat aku baru memakan separuh dari kue itu, ibu guruku datang memanggilku dan menyuruhku untuk menghadapnya di kantor, aku pun segera pergi ke kantor.

Maaf Fatimah, sekolah tidak bisa memberimu beasiswa dikarenakan keuangan sekolah kali ini juga sedang dalam masa kritis,” ucap Ibu Guru. Mendengar perkataan itu sentak membuatku tercengang perasaan gundah, resah, bingung mulai datang menerpaku bagaikan sebuah petir menyabar jiwa ini bagaimana tidak selama ini aku hanya mengandalkan beasiswa. Jika aku tidak mendapatkan beasiswa lagi mungkin bisa-bisa aku tidak bisa meneruskan jenjang ini sampai lulus jika aku memaksakan keadaan ini aku berarti akan semakin membebani keluargaku terutama kedua orang tuaku. “Oh Tuhan apa yang harus hamba lakukan,” batinku yang bingung.

Fatimah kamu tidak apa-apa?” tanya Ibu Guru membuyarkan lamunanku ini.

Saya bingung Bu. Ibu kan tahu saya ini berasal dari keluarga dengan latar belakang yang seperti apa. Sedangkan selama ini 90% saya mengandalkan beasiswa untuk bersekolah. Jika seperti ini apa yang harus saya lakuakan Bu,” ucapku sembari menundukkan kepalaku ini dengan lemas. Perlahan mata ini mulai basah oleh tetasan air mataku yang mulai jatuh.

Fatimah, Ibu tahu perasaan kamu saat ini. Tapi kamu tenang saja, ibu akan bantu kamu sebisa Ibu. Ibu juga tidak mau kehilangan murid seperti kamu. Jadi, kamu tidak usah terlalu memikirkan masalah ini.”

Makasih Bu. . . . . . .” ucapku sembari memeluknya erat. Kini perasaanku mulai tenang. Dengan mata yang masih sedikit sembab aku keluar dari ruangan guru menyelusuri koridor-koridor sekolah menuju kelasku, sesampainya di kelas aku segera duduk kembali di tempat dudukku. Semua pasang mata yang ada di kelasku kini memandangiku penuh dengan tanya. Namun, tak ada satu pun yang berani mendekatiku atau pun bertanya kepadaku.

Entah kenapa waktu terasa begitu cepat sampai-sampai sekarang sudah tiba pada jam istirahat terakhir, seperti biasa aku hanya berdiam diri duduk di kelas, sesekali kulirik keadaan di sekelilingku. Saat aku sedang melirik memandangi sudut luar kelasku, tiba-tiba saja ada seseorang yang berjalan pelan melewati koridor kelasku, sosoknya yang terlihat begitu ramah, anggun dan santai. Sosok seperti itu selalu meninggalkan seberkas rasa yang aneh dalam hati ini, getaran yang tak biasa selalu datang menerpanya, dia adalah seseorang yang selama ini aku kagumi bahkan aku cintai, sejenak masalah yang sedang aku hadapi hilang dan berubah rasa yang aneh atau mungkin bisa juga dibilang rasa cinta. perasaan ini perlahan menuntunku dan menggerakan jemariku sehingga sebuah pena telahku raih, kini pena itu menari-nari di atas kertas putih dan perlahan goresan pena itu membentuk sebuah kata yang mewakili isi hati ini.

K-ketika bencana cinta datang
E-erosi mengkikis hati ini
L-lumpur menerjang jiwa ini
A-api bergejolak membakar rasa ini
S-stunami meluluhkan raga ini

S-serpihan cinta menyangkut dihati ini
E-endapan kasih pun mulai mengambang
P-puing-puing cinta pun berjatuhan
U-udara perlahan mulai menyesakkan jiwa
L- lelehkan rasa yang membeku
U-uraikan partikel-partikel yang menempel
H-hingga aku benar-benar merasa

D-dirimulah yang aku sayang
U-untukmu juga aku mencinta
A-Allahlah yang akan menyatukannya

Perlahan sebuah kata itu berpadu satu sama lain hingga menjadi sebuah puisi. Selesai pena ini menari-nari tiba-tiba saja masalah itu kembali melintas jelas di pikiranku, sehingga rasa itu kembali buyar dan terlupakan olehku. Kini perasaan cemas dan kawatir kembali datang menerpaku tapi aku harus yakin Allah akan membantuku begitu pun ibu guruku. “Oh Tuhan, laa haulawala quwwata illabillaah, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, ya Allah aku percaya pada-Mu,” batinku.

Pulang sekolah aku langsung pergi ke rumah dan membicarakan semua ini kepada kedua orang tuaku, bagaimana pun mereka harus tau semua ini. Namun sayang, kedua orang tuaku belum ada di rumah. Di rumah hanya ada adikku Aisyah bersama kakak keduaku.

Ayah sama ibu belum pulang Kak?” tanyaku lemas.

Belum De, kamu kenapa? Apa ada masalah di sekolah, apa kamu lapar, cerita dong sama Kakak?” tanya kakakku berantai.

Nggak lapar kok Kak.Ada masalah di sekolah,” jawabku sembari meletakkan tas ini ke sebuah kursi tua dan duduk di kursi itu.

Masalah apa De, apa teman-teman kamu yang buat masalah?” tanya kakakku lagi sembari mendekat ke arahku.

Tidak Kak, beasiswaku dicabut Kak” jawabku menundukkan kepala.

Lo kok bisa si. Emang kamu bikin kesalahan apa De?” tanya kakakku dengan nada yang sedikit sok tahu. ”Sekolah mengalami krisis keuangan Kak, tapi kata guruku beliau mau membantuku, Kak. Walau demikian, rasa kekawatiran itu tetap membelit batin ini,” jawabku.

De, yakinlah semua ini ada jalan keluarnya, jadi berdoalah saja,” ucap kakakku sembari menepuk pundakku seolah memberi sebuah keyakinan dan semangat untuk menghadapi ini.

*****

Dua bulan kemudian, masalah itu tak kunjung menampakkan jalan keluar. Hatiku semakin terkikis rasa cemas, aku takut jika ketakutanku akan kehilangan semua ini benar-benar menjadi sebuah kenyataan. Tiba-tiba, saat aku sedang duduk di kelas sembari membaringkan kepala yang terasa begitu berat, ada seseorang yang mengejutkanku dengan belaian lembutnya yang menyisiri rambut ikal ini.

Ibu. . . . . Ibu Guru?” ucapku setengah kaget.

Ibu datang kemari membawa kabar baik buat kamu, kamu siap untuk mendengarkannya Fatimah,” ucap Bu Guru sembari tersenyum, melihat senyuman Ibu Guru yang begitu indah membuat perasaan ini seolah berubah menjadi lebih tenang, firasat baik pun mulai datang menghiasi hati ini.

Siap Bu. . . . . . . ” jawabku diikuti anggukan kepala.

Bacalah ini, nanti kamu akan tau kabar baik apa yang ibu bawa,” ucapnya sembari memberiku selembar kertas, setelah itu aku pun segera membacanya.

Jadi kalau aku bisa menang, aku bisa dapatkan beasiswa sebesar 1,2 juta Bu… Makasih Bu, Fatimah pasti bisa,” ucapku penuh semangat, aku pun segera berdiri dan memeluk erat tubuhnya.

Kalau begitu kamu harus rajin belajar, lombanya tinggal 25 hari lagi. Ibu yakin kamu bisa jadi yang terbaik,” ucap Bu Guru membalas dekapanku.

Malam harinya aku menceritakan kabar baik ini kepada keluargaku, mereka pun begitu senang.

Sekarang kamu harus rajin belajar, dan sekarang kamu juga harus hentikan pekerjaanmu mencari sampah,” ucap ibuku.

Benar itu De, biar Kakak yang bantu ayah, kamu harus fokus sama tujuan kamu…” kata kakakku.

Baiklah Fatimah akan berusaha untuk mendapatkan semua itu” ucapku penuh semangat. ”Tapi ingat Nak, jangan pernah lupa untuk berdoa” ujar ayah sembari berlalu pergi meninggalkan ruang tamu. Mendengar dukungan besar dari keluargaku semakin membuatku semangat, bukan hanya dari keluarga saja dukungan dari guru-guruku beserta teman-temanku juga begitu besar, sehingga membuat diri ini menjadi lebih termotivasi.

*****

Hari yang ku nanti telah tiba, hari ini aku ditemani Ibu Guru siap untuk mengikuti lomba MIPA tingkat kabupaten. Sebuah keyakinan telah kugenggam erat, aku yakin aku bisa jadi yang terbaik dan aku yakin usahaku selama ini akan berbuah manis. Setelah melakukan pendaftaran aku pun siap untuk mengikuti jalannya lomba, aku pun masuk ke dalam ruangan dimana diruangan itu telah terdapat banyak peserta, mungkin lebih dari 30 peserta lomba yang siap untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik.

Bismillahirrahmaanirrahiim, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, ya Allah mudahkanlah hamba dalam mengerjakan soal-soal ini amin,”batinku berdoa meminta pertolongan-Nya. Selesai berdoa aku pun siap untuk mengerjakan 50 soal yang berada di hadapanku ini.

Satu jam telah berlalu aku pun telah selesai mengerjakannya, kemudian lembar jawaban pun aku kumpulkan setelah itu aku segera keluar menemui Ibu Guru.

Bagaimana Fah, apa kamu bisa mengerjakan semua soalnya. . . ?” tanya ibu guruku penuh perhatian.

AlhamdulillahBu, saya bisa mengerjakan semuanya dengan baik. Dan semoga hasilnya nanti sebanding dengan usahaku ya Bu?” ucapku tersenyum.

Amin. Fatimah, Ibu punya bekal buat kamu, yaitu DUIT?” ucap Ibu Guru sembari menatap kedua bola mataku.

Apa Bu, DUIT. . ?” jawabku kaget.

Iya DUIT, ALIAS Doa, Usaha, Ihktiar, danTawakal. Itupenting buat kamu lakukanlah Fah. . .” jelas Bu Guru. Mendengar penjelasannya aku hanya mengangguk dan tersenyum.

*****

Aku rasa waktu berjalan begitu cepat, hingga tak terasa hari ini adalah hari pengumuman siapa yang menjadi pemenang, siapa orang yang terbaik di antara yang terbaik, siapa yang beruntung di antara yang beruntung. Menanti detik-detik itu membuat detak jantung berdebar tak menentu sampai-sampai wajahku pun ikut membeku dalam dekapan resah dan gelisah. Melihatku yang sudah tak tenang Ibu Guru langsung menggegam tanganku erat, dan kurasakan genggaman keyakinan, sehingga mampu melumerkan kebekuan ini sendiri.

Percayalah Allah akan memberikan yang terbaik untukmu dan untuk kita. . . ”ucap bu guru menenangkan jiwa ini. Satu persatu nama dipanggil dari yang masuk kesepuluh besar, namun hingga saat ini namaku tak kunjung disebut. Jiwa ini pun kembali bergejolak tak karuan dan akhirnya namaku tersebut dan berhasil menjadi yang terbaik, aku begitu senang bahkan sampai-sampai lonjat-lonjat tidak karuan. ”Alhamdulillaahalaa kulli haalin. Alhamdulillah dalam segala-galannya, ya Allah makasih atas semua ini yang kau berikan,” batinku berucap atas karunia-Nya.

Setelah menerima uang beasiswa dan tropi aku pun segera pulang. Begitu sampai rumah, aku langsung menemui ibuku yang sedang bekerja mencari sampah. Sepanjang jalan ini aku tak melihat ibu, namun aku terus mencari sampai akhirnya aku melihat ibu yang berada diseberang jalan.

Ibu. . . .Fatimah menang Bu!” teriakku keras, namun teriakan ini tak mampu melintas memembus jalan yang sedang ramai ini.

Mungkin aku harus ke sana,” gunamku lirih. Aku pun langsung menyeberangi jalan ini. Tetapi, saat aku menyeberang dan sudah di tengah jalan tiba-tiba saja mobil sedan hitam melintas dengan cepat.

Ibu. . . .!” teriakku begitu keras. Melihat silaunya lampu mobil itu membuatku tak dapat melihat apa yang terjadi pada diriku. Namun, aku merasa raga ini terdorong dan terpental. Sepertinya ada seseorang yang menolongku. Saat mata ini kubuka ternyata yang telah menolong aku adalah ibuku sendiri. Namun naas ibuku justru tertabrak mobil tadi, ibuku terpental lumayan jauh. Kini tubuhnya basah oleh darah yang keluar dari kepalanya.

Melihat semua ini butiran bening pun jatuh melimpah ruah membasahi pipi ini, ”Ibu. . . . bangun ibu bangun, ibu nggak boleh pergi…” ucapku mendekap tubuhnya yang terluka akibat kecelakaan tadi.

Tolong-tolong, ibu jangan tinggalin aku ibu?” ucapku dengan linangan air mata. Ibu pun tersadar, ibu langsung menyentuh butiran bening ini dan berkata, “Nak ibu bangga padamu, maafkan ibu mungkin ini adalah nafas terakhir ibu. Nak, jangan pernah kamu berhenti sampai di sini, jaga ayahmu, kedua kakakmu dan adikmu…” ucap ibu yang langsung tertidur.

Nggakenggak, ibu nggak boleh tidur. Tolong-tolong kenapa tak ada yang menolongku, tolong ibuku aku tak mau kehilangnya ibu. . . . . . .!” teriakan ini tak dapat membangunkan ibuku lagi, tak berdaya ku melihat semua ini, butiran bening ini semakin menjadi. Takdir sudah berkata lain ibuku meninggal di tempat kejadian.

Ibu. . . . . . . . .!” teriakku yang masih tak percaya. ”Ibu, aku datang untuk mengabarkan kabar baik, tapi kenapa kabar ini malah menjadi sebuah akhir. Tuhan, kenapa bukan raga ini saja yang Engkau ambil, kenapa Engkau mengambil nyawa ibuku, kenapa Tuhan…” batinku bergejolak tak percaya melihat kenyataan pahit ini.

Oh, Bunda, ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku, kini kau telah terlelap jauh dalam sanubari, tangan halusmu tak mampu membelaiku lagi, sebuah dekapan tak mampu menghangatkan tubuh ini lagi, tutur lembut tak mampu ku dengar lagi, “Nak, sudah makan belum? Nak belajarlah dulu… Nak, istirahatlah dulu… Nak jangan pulang larut malam… Nak, biar kita miskin tapi janganlah kita miskin ilmu?” Kata-kata itu kini telah lenyap hilang, telinga ini kini mulai sepi dan hampa, dan kini tak ada lagi yang mengajariku tentang hidup, kini tak ada lagi yang mengajariku tentang sabar , kini tak ada lagi yang memarahiku dan menghawatirkaku.

Butiran bening ini mengalir deras melihatmu yang terbujung kaku terbungkus kain putih, dengan mata yang tertutup rapat dan tangan yang sedekap di atas pusar, kapas putih yang menutupi hidungmu. “Oh ibu, kenapa ini harus terjadi” jeritku sembari mendekap tubuhnya yang tak bernyawa lagi. Rasa tak percaya masih melekat erat dalam hati kecil ini.

Nak iklaskan ibumu, biarkan ibu tenang bersamanya-Nya” ucap ayah berbisik di telingaku.

Maafkan aku Yah, ini terjadi karenaku Yah. . . ?” kataku membalikan tubuhku dan memeluk erat tubuh ayah. Kurasakan tetesan bening jatuh dari kelopak matanya mengenai pipi ini yang juga basah.

Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kita kembali, Nak. Jangan salahkan dirimu, ini adalah suratan dari Ilahi. Sekarang kita antar jenasah ibumu ketempat peristirahatan terakhirnya,” ucap ayah sembari membantuku berdiri.

Iringan doa mengantar ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kini tubuhnya telah tertimbun tanah. Senyumannya, tawanya, kata-kata bijaknya kini telah tenggelam bersama raganya. Semua itu takkan pernah kembali lagi. ♫ Kata mereka diriku slalu dimanja, kata mereka diriku slalu ditimang oh bunda ada dan tiada dirimu kan slalu ada didalam hatiku…♫

Selamat jalan Ibu, aku janji akan menjadi anak yang baik, menjaga ayah, kakak, dan adik. Tenanglah kau bersama-Nya, doaku takkan berhenti untukmu Ibu.

M-mengapa hidupku seperti ini ?
Aapakah ini takdir hidupku
N-namun sungguh aku tak mampu

D-ditinggal pergi olehmu ibu
U-untuk selamanya dan tak kan pernah kembali
A-aku hanya ingin kau di sini

B-bersamaku jalani hari
A-Allah, apa yang sedang terjadi
R-rahasia ini sulit tuk kupahami
A-apakah ini akhir kisahku bersamamu, ibu.

*****

Nunik Ida SusantiNunik Ida Susanti yang lahir di Banjarnegara, 6 Maret 1995 merupakan siswa kelas XII IPS Keterampilan MAN 2 Banjarnegara. Putri pasangan Bapak Budi Waryanto Judi dan Ibu Paryanti ini beralamat di Gentansari RT 04 RW 04 Pagedongan, Banjarnegara. Cerpen “Laskar Hidup Fatimah” ini ditulis saat ia masih duduk di kelas X dan berhasil menjadi cerpen terbaik pada Lomba Menulis Cerpen Islami HUT MAN 2 Banjarnegara ke-46 Tahun 2011.

 

5 thoughts on “Laskar Hidup Fatimah

  1. Assalamualaikum

    Ya. Hidup adalah perjuangan. Cerita yang diberikan juga menarik. Perjuangtan hidup untuk dunia, juga tidak melalaikan rasa ke-syukur-an ke-Tuhan-an.
    Ada rasa qona’ah tapi juga sikap optimis yang diaplikasikan lewat usaha nyata disertai dengan kesabaran. Innalloha Ma’ashobirin, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
    Subhanalloh.

  2. Cerpen ini mempunyai nilai moral dan pesan yang sangat baik, mengajarkan kita untuk selalu bersyukur terhadap apa yang diberikan oleh Allah swt, dan bekerja keras untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan.

  3. Cerpen yang sangat baik ,alurnya tak dapat di tebak sehingga pembaca pensaran dan membaca habis ceritanya apalagi amanat yang di sampaikan sangatlah baik .MANTAP !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s