Kecerobohan dan Amarah

Cerpen Ischak Rosadi

marah-ischak-rosadiTerdengar bunyi bel jam menunjukkan angka 11.00 malam, aku tidak menghiraukan hal tersebut karena kasenanganku bermain game di PC yang baru saja aku install tadi sore. Ibu datang menghampiriku yang sudah tidur, mungkin beliau bangun karena mendengar suara game yang masih kumainkan.

”Nak sudah malam, cepat tidur! Nanti kamu bangun terlambat lho…”

”Iya Bu, sebentar lagi aku tidur.”

Seakan percaya dengan kata kataku, ibu pun pergi untuk tidur lagi. Akupun masih asyik dengan game yang sedang aku mainkan itu. Tak terasa waktu menunjukan pukul 12.00. Karena kantuk yang sudah tak bisa diredam lagi akupun beranjak tidur. Malam itu aku tidak membuka buku sedikitpun, karena terlalu ngantuk akupun langsung terlelap setelah terbaring di atas kasur yang empuk.

Gubrak…! Aku melihat jam dinding yang telah menunjukkan angka 06.20

“Wahhh aku terlambat,” kataku dalam hati. Yang kuingat dalam benakku adalah aku akan terlambat masuk sekolah. Karena aku sadar bahwa perjalanan ke sekolahku yang memang memakan waktu cukup lama yaitu sekitar 15 menit. Tanpa kupikir panjang akupun langsung bergegas ke kamar mandi. Dengan berpacu dengan waktu akupun langsung membasahi tubuhku dengan air. “Aku tak mau terlambat,” pikirku.

Setelah aku selesai menyiram tubuhku yang telah aku selimuti dengan sabun mandi, aku langsung memakai semua seragamku yang harus aku kenakan di hari itu. Hari itu adalah hari Senin. Karena itu hari pertama setelah libur akhir pekan, aku tak mau datang terlambat ke sekolahku.

Aku langsung pergi ke kamar untuk mengambil tas dan kaus kakiku. Sial…! Ternyata aku belum menyiapkan buku yang akan dibawa untuk hari ini. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil buku yang ada di rak tanpa aku melihat buku apa yang akan aku bawa untuk hari ini. Aku hanya melihat dari warna kover yang ada di situ, lalu aku bergegas untuk sarapan. Hati yang dipenuhi oleh rasa terburu-buru serta diselimuti oleh kemarahan karena aku bangun kesiangan tanpa ada yang membangunkanku.

Aku menemui ibuku yang sedang berdiri di depan meja makan sembari memanggilku untuk makan. Akupun marah kepada ibuku karena tidak dibangunkan tepat waktu seperti biasanya, dan beliaupun berkata kepadaku bahwa beliau sibuk sekali karena biasa pagi hari harus mempersiapkan makan pagi untuk keluarga dan juga berkata bahwa itu semua salahku kenapa tidur larut malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.45, aku semakin takut jika terlambat sekolah, ketakutanku disebabkan jika terlambat pasti aku mendapatkan hukuman oleh guru piket. Hal tersebut membuatku semakin meningkatkan amarahku yang sudah dari tadi muncul.

Makanan yang sedang aku santap segera aku bawa ke dapur. Walaupun belum terasa kenyang, tapi sudah kutinggalkan.

Lho.. kok sarapanmu nggak dihabiskan,” tanya ibu.

Aku menjawab dengan nada marah, “Ibu sih, kenapa aku kok tidak dibangunkan? Kan aku jadi terburu-buru, takut telat tahu…!”

Kan ibu sudah bilang kalau ibu sedang sibuk, jadi ibu kelupaan bangunin kamu,” ibu menjawab. Lalu aku memakai sepatu sembari dengan kaus kaki yang yang sudah ada di sepatuku, aku sudah tidak ingat apa apa karena hanya satu hal yang membuatku takut. Aku bergegas berangkat sekolah tanpa mengucapkan salam ataupun doa yang biasa aku lakukan, dengan berlari aku menuju ke tepi jalan raya yang sudah padat.

Aku menunggu angkutan yang biasa mengantarku sampai ke sekolah, sebentar aku menunggu sudah ada angkutan yang lewat, dan aku langsung menaiki angkutan itu tanpa pikir panjang. Ternyata angkutan yang aku naiki sangat lamban karena memang banyak penumpang yang turun di tempat yang tak jauh dari lokasi yang ku gunakan untuk menunggu. Amarahku semakin naik mengingat egoku yang ingin cepat sampai ke sekolah agar aku tak terlambat. Dengan nada marah aku bilang kepada kondektur yang ada di angkutan tersebut.

“Bisa cepat sedikit tidak sih…? Tidak tahu kalau aku lagi buru buru ya…? Pelan banget sih jalannya…?!”

Dengan muka tak bersalah ia menjawabku dengan nada yang kesal pula, ”Sabar dong memang ini angkutanmu…? Salah kamu sendiri kenapa kamu berangkat jam segini.”

Aku membalas kata-katanya, “Tapi jalannya kan bisa dipercepat…?” Tapi dia tidak menjawab kata-kataku lagi. Sepertinya dia tidak ingin mengomentari kemarahanku. Setibanya di sekolah aku langsung lari menuju ke kelas, beruntung aku belum terlambat masuk.

Setibanya di kelas aku kaget karena melihat teman-temanku yang sedang mengerjakan PR minggu lalu, dan ada yang sedang belajar. Aku mendekati temanku dan bertanya, “Memang ada PR untuk hari ini?”

“Memang kamu belum menegerjakan PR Fisika? PR-nya kan sudah seminggu,” jawab salah seorang teman. Aku kaget karena baru ingat bahwa ada PR Fisika yang sudah diberikan oleh guru kepada kami seminggu yang lalu.

Tanpa pikir panjang, aku langsung merebut buku tugas Fisika temanku yang sudah selesai mengerjakan, tapi ternyata aku tidak beruntung karena begitu mulai menyontek, bel masuk sudah berbunyi. Aku takut mendapat hukuman jika tidak mengerjakan PR, padahal pelajaran Fisika ada di jam pertama dan tugas itu pun akan dibahas untuk penilaian.

Guruku sangat tepat waktu hari itu, dia datang sangat awal, dengan muka pucat, aku ketakutan karena satu-satunya yang belum mengerjakan PR itu. Setelah mengucapkan salam, beliaupun menyuruh kepada semua siswa untuk mengeluarkan tugas yang sudah diberikan, dan bertanya siapa yang belum mengerjakan PR. Dengan rasa takut, akupun menjawab bahwa saya yang belum mengerjakan PR.

Beliau menyuruhku maju dan bertanya, “Kenapa kamu belum mengerjakan PR. Padahal PR itu saya berikan seminggu lalu.” Dengan terbata bata aku mencoba menjawab sambil sesekali memandang ke arah temanku yang sedikit tertawa melihatku di depan. Sebelum aku berargumen, Pak Guru langsung menyuruhku untuk berdiri di depan kelas hingga bel tanda pelajaran berakhir.

“Hari ini aku sungguh sial…!,” kataku dalam hati, akhirnya bel pun berbunyi, yang menandai bahwa hukumanku telah berakhir.

Tapi ternyata ada satu masalah lagi yang aku hadapi, hari itu adalah ulangan PKn dan aku baru sadar jika saat melihat temanku sedang belajar, pasti ia sedang belajar untuk ulangan PKn nanti. Sekali lagi masalah mendatangiku, dan sekali lagi guru mapel PKn datang tepat waktu. Aku sungguh tidak berdaya mengerjakan soal PKn yang murni harus dihapalkan, ditambah lagi rasa lapar yang menggerogoti perutku, karena pagi tadi hanya sedikit menyantap nasi. Aku sungguh menyesal hari itu, setelah memarahi ibuku, lalu kepada kondektur angkutan umum, ditambah tidak mengerjakan PR dan tidak belajar untuk ulangan. Aku sungguh tidak ingin mengulanginya lagi dan sadar bahwa itu karena kecerobohanku.

Ternyata kecerobohan dan amarah, sama sekali tidak dapat mendatangkan manfaat positif ataupun solusi bagi kita, kemarahan hanya akan mendatangkan masalah yang jauh lebih besar, karena hati telah dibutakan oleh kemarahan yang mendalam. Sedang kecerobohan hanya akan merugikan kita, karena secara tidak langsung telah melakukan hal yang tidak diperhitungkan akibatnya di kemudian hari. *)

Ischak RosadiIschak Rosadi adalah siswa Kelas XII IPA-1 MAN 2 Banjarnegara (2013/2014) yang tinggal di Desa Pekasiran Kecamatan Batur, Banjarnegara. Hobi dalam dunia Pertanian dan Komputer. Motto Hidup: “Aku melakukan yang terbaik demi hasil yang terbaik, Usahaku berbanding lurus dengan hasilnya.”

11 thoughts on “Kecerobohan dan Amarah

  1. Syukurlah, akhirnya muncul kesadaran atas kesalahan sikap telah berlaku kurang baik terhadap ibu. Atas setiap ‘kesialan’ ada baiknya kita berinstrospeksi, barangkali kesalahan ada pada diri kita sendiri.

    Sebuah kisah yang menarik, meski ditampilkan secara datar. Teruslah berkarya, jangan pernah patah semangat…!

  2. Bagus .bagus..bagus… Tingkatkan terus kreativitasmu dalam menulis. Hidup akan jadi bermakna bila kita mampu memberikan sesuatu pada orang lain, meskipun hanya lewat tulisan.

    Khusus untuk cerpen di atas, semoga bisa direalisasikan dalam kehidupan yang nyata dan bermanfaat pula bagi pembaca yang lain.

    Amin…

  3. Salam kreatif

    Setelah tertidur panjang, aku ingin terbangun lagi. Saat aku buka mata yang kulihat adalah cerpen ini. Sederhana, dan betul-betul pendek. Dari hal kecil bisa menjadi hal besar, suatu hal yang biasa akhirnya menjadi luar biasa jika ada sedikit kemauan untuk menuangkaanya menjadi sebuah karya. Jangan pernah berhenti berkarya karena dari karya-karya itulah orang akan mengenang kita setelah kita tiada.

  4. Assalamu’alaikum
    Oalah… Bocah-bocah. memang game bisa mengakibatkan begitu. bukannya tidak boleh main game, tapi harus bisa mengatur waktu. ya akhirnya begitu…. jadi amburadul deh.
    Semoga kita bisa mengatur waktu kita lebih baik sehingga lebih terencana dan terarah.

  5. Mengankat cerita remaja yang sering terjadi dan memberikan arah berpikir untuk mengatasi kebiasaan jelek para remaja ,he he he he he jadi pingin ikut nulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s