Terlambat

Cerpen Erwan Puji Rahayu

Fajar telah menyingsing, sinar matahari pun sudah cukup tinggi seraya membangunkan tubuh yang telah terlelap. Aku coba membuka mata, bangun, dan duduk sebentar di atas ranjang kayu, niatku untuk menghilangkan rasa pusing yang seakan ingin membuat aku tertidur kembali. Perlahan tapi pasti aku melawan rasa kantuk dan malas yang melandaku. Penat raga ini, melakukan langkah yang hampir sama di setiap pagi, bangun dan berangkat menuju tempat yang selalu menuntutku untuk menjadi anak bangsa yang setia diri, bangsa, dan negara. Entah sampai kapan teori ini selalu merongrong di kepalaku.

Jarum jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 06.00 WIB. Wah, aku kesiangan. Aku bergegas beranjak dari tempat tidurku dan segera berlari menuju ke kamar mandi. Secepat mungkin aku mandi agar tidak terlambat sampai sekolah. Sepuluh menit telah berlalu, aku pun selesai mandi dan segera memakai seragam putih abu-abuku. Dari dalam kamarku, aku dengar teriakan keras yang memecah gendang telingaku. Bahkan kamarku seakan hancur oleh gemuruh suara itu. Cicak yang tenang merayap di dinding bahkan sampai jatuh dari pegangannya. Aku sudah biasa mendengar suara itu, yang sudah tak asing lagi ditelingaku. Ya, siapa lagi kalau bukan ibuku yang sedang memanggil.

Erwan…. sudah siang… apa kamu tidak berangkat ke sekolah….!! Lihat jam di kamarmu, sudah jam berapa sekarang….!!”.

Sontak aku menjawab. “ Iya Bu… SIAAAAAP!”.

Aku segera bergegas meninggalkan rumah. Bergaya seperti tentara yang akan pergi ke medan perang, aku menyusuri tepi jalan dengan langkah lebar dan cepat seolah-olah musuh besarku yang begitu banyak jumlahnya sedang memandangku dan dengan sigap menyerangku. Yaah, musuh besarku tentulah waktu. Naas, nasibku hari ini tak seberuntung hari-hari yang lain, kendaraan yang biasa aku naiki setiap hari tak ada satu pun yang lewat. Lima belas menit sudah aku menunggu, arlojiku tepat berada di angka 06.30. Aku putus asa, ingin rasanya aku kembali ke rumah dan tidak bersekolah hari ini. Tapi tak mungkin aku pulang, alasan apa yang harus aku katakan pada ibu. Aku paksakan untuk terus sabar menunggu.

Waktu terus berjalan, dari kejauhan aku lihat kendaraan yang semakin mendekatiku. Bukan kepalang senang hati ini, rasanya beban hati menunggu telah luntur, “Wah, itu kendaraan yang aku tunggu.” Tanpa ragu dan tak mau melewatkan kesempatan ini, aku pun melambaikan tangan untuk menghentikan laju kendaraan itu. Segera aku naik. Tanpa aku duga di dalam kendaraan aku bertemu Wahyu, temanku yang juga mengalami nasib sama sepertiku, kesiangan yang tidak pernah aku harapkan.

Lho…, kamu terlambat juga Yu?”.

Iya, aku bangun kesiangan, semalam aku begadang sampai larut malam,” jawab Wahyu.

Ternyata kita mengalami nasib sial yang sama, ya Yu”.

Perjalanan yang harus aku tempuh untuk sampai sekolah 30 menit. Roda kendaraan terus berputar melawan arah jarum jam untuk membawaku sampai ke tujuan. Pukul 07.10 tepat aku dan Wahyu sampai depan pintu gerbang sekolah, padahal sekolah masuk tepat pada pukul 07.00.

Sial..! Kita terlambat, pintu gerbang sudah ditutup!” sontak suara yang dikeluarkan dari mulut temanku.

Di depan pintu gerbang sudah menunggu Pak Tarsun, seorang penjaga gerbang sekolah. Dengan mata yang nyaris tidak berkedip dan kumis tebal yang seakan tak bisa membiarkan bibirnya untuk tersenyum, membuat semua orang takut kepadanya. Detak jantungku pun berdebar sangat kencang Hanya wajah takut dan kepala tertunduk lesu yang bisa aku berikan di depan Pak Tarsun. Bagaimana tidak, aku seolah-olah harus beperang lagi, satu masalah sudah beres, tapi aku harus menghadapi penjaga gerbang sekolah untuk bisa masuk sekolah. Pak Tarsun bertanya tanpa melepaskan pandangan matanya kepada kami.

Kenapa kalian terlambat?!”

Kami pun terdiam melihat wajah galaknya itu.

Alasan apa yang membuat kalian terlambat?!”

Kami kesiangan Pak….,” jawab kami serempak dengan sedikit gemetar. Keringat dinginku muncul, mengalir deras membanjiri seliuruh tubuhku, gemetar menghampiri diriku, tak kuasa aku memandang Pak Tarsum yang melotot dan memamerkan wajah seram berkumis tebal.

Tulis nama kalian di buku hadir dan ambil surat izin masuk! Cepat!”.

Baik Pak”.

Tanpa perlawanan sedikitpun aku pun mematuhi perintah dari Pak Tarsum. Akhirnya aku dan Wahyu dapat masuk, dan segera menuju ruangan kelas. Pak Warno sudah berada di dalam kelas. Pelajaran matematika pun sudah berlangsung selama 25 menit. Ku ketuk pintu kelasku sebanyak 3 kali, “Tok.. tok.. tok..!”

Wah… pagi benar kalian berangkat..,” sindir Pak Warno.

Sontak membuat seisi ruang kelasku ramai. Semua teman menertawakan aku di depan kelas. Pelajaran matematika yang semula menegangkan menjadi santai sejenak. Wajahku berubah warna menjadi merah. Tak ingin rasanya aku terlambat lagi.

Kalian berdua boleh mengikuti pelajaran ini asalkan kalian bisa mengerjakan 1 soal yang saya berikan dengan benar,” tegas Pak Warno.

Baik, Pak.”

Perlahan kami mulai menggoreskan kapur tulis di papan tulis untuk mengerjakan soal yang diberikan Pak Warno. Kami pun berhasil mengerjakan soal tersebut dengan benar. Akhirnya kami diperbolehkan untuk duduk dan mengikuti pelajaran.

***

Sudah 8 jam aku belajar di sekolah hari ini. Tiba waktunya semua siswa untuk pulang. Aku pun pulang dengan wajah lesu dan lemas. Benar-benar hari yang sangat melelahkan. Sembari berharap hari ini tak kan terulang lagi dalam hidupku. Hidup memang kadang membosankan tetapi pengalaman hari ini telah memberikan pelajaran besar dalam hidupku, aku adalah anak bangsa yang yang akan membangun bangsa. Oleh karena itu, aku harus berani melawan dan memerangi musuh besar dalam diriku sendiri, yaitu rasa malas agar tidak terlambat sekolah seperti hari ini.

****

Erwan Puji RahayuErwan Puji Rahayu adalah alumni kelas XII IPS 3 MAN 2 Banjarnegara Tahun Pelajaran 2009/2010. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di Universitas PGRI Yogyakarta. Karya-karya Erwan yang lain bisa dinikmati di http://erwanpujirahayu.wordpress.com/. Cerpen “Terlambat” ini ditulis Erwan saat ia masih duduk di kelas XII Madrasah Aliyah.

9 thoughts on “Terlambat

  1. Cerpennya sangat inspiratif karena kita sebagai pelajar juga mempunyai pengalaman yang sama. Dengan pengalaman tersebut, semoga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

    • Betul, cerpen-cerpen yang idenya berasal dari pengalaman keseharian yang kita alami dapat menjadi sarana pembelajaran di masa yang akan datang.

      (Mudah-mudahan Erwan selaku penulisnya suatu ketika mau pula membalas komentar yang ada).

      Terima kasih atas kunjungan Anisa dan komentarnya.

  2. Betul-betul pengalaman para siswa, idenya sangat kreatif. Dan ada juga pesan moral yang bagus. Semoga di MAN 2 tidak ada lagi yang terlambat🙂

  3. cerpen bagus selain isi dari cerpen yang dapat memberi kita pelajaran bahwa bagaimana kita bisa menghargai waktu yang tak kenal kompromi.
    penggambaran suasana yang juga detail seakan kita dapat merasakan suasana itu sendiri..

  4. Dengan adanya pengalaman , seseorang dapat introspeksi diri terhadap semua kesalahan yang pernah mereka lakukan pada masa lalu. Sehingga terciptalah keinginan untuk tidak akan mengulangi kesalahan yg sama🙂

    Pengalaman menjadi sebuah acuan orang dapat Introspeksi diri🙂 *maybe

  5. Cerpen ini sungguh menarik.
    Kita bisa lebih bisa belajar dalam menggunakan waktu, jangan sampai kita tidak bisa mengatur waktu dengan baik karena waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali dan kita hanya bisa instrokpeksi diri agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama.

  6. Cerpennya sangan menarik karena tema yang di ambil sangat kreatif. Cerpen itu memberikan pelajaran pada saya agar tidak terlambat untuk yang ke dua kalinya.🙂

  7. Terima kasih karena telah membaca tulisan ini, jadikanlah pengalaman dalam kehidupan menjadi inspirasi dalam hidup dan jadikanlah pengalaman menjadi cerita yang mengesankan, yang tak dapat dilupakan serta menjadi pembelajaran di masa yang akan datang…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s