Ketika Ego Mengalahkan Nurani

Oleh Wiwiet Hermawati

TimnasKali ini tak terlihat senyum dari keindahan bintang, hanya tetesan air langit yang menghiasi kegelapan. Dalam hening aku masih berangan. Jiwaku setia di sudut kamar, tapi pikiranku melayang entah kemana. Imajinasiku semakin liar.

Nyanyian hewan malam mengalun menemaniku yang setia dengan sang malam. Suara hujan dengan irama tak beraturan mengalun indah, bersama dengan detikkan jam yang terus berjalan mengganti hari. Mataku enggan untuk menutup, aku masih menikmati keheningan malam. Dalam angan yang abstrak terlintas olehku tentang ego manusia. Jarum jam masih berjalan, perlahan melewati angka yang tertera, ia semakin menunjukkan keheningan malam. Kini anganku sudah masuk pada hal yang lebih mendalam mengenai ego.

Tak tersadari olehku, airmata mulai menetes. Bagaimana mungkin bangsaku yang kaya memiliki kisah hidup seperti ini. Para pemimpin yang dijadikan harapan justru tak peduli akan hidup kami, ego menguasai diri mereka.

Sepak bola, bagi sebagian orang ini hanyalah permainan, tapi untuk beberapa orang ini adalah hidupnya. Airmataku mengalir semakin deras. “Mengapa sepak bola negeriku seperti ini?!!” teriakku memecah keheningan malam. Dadaku sesak dengan tangisan yang tak kunjung usai.

Dulu aku berharap banyak untuk kemajuan sepak bola negeri ini. Tapi sayang, harapan itu hanyalah utopia belaka. Segolongan orang terhormat datang, menguasai segalanya. Mimpi mereka yang melangit dikendalikan oleh mereka yang berkuasa. Masih teringat jelas olehku tentang bagaimana perjuangan pahlawan dalam lapangan hijau. Tentang pahlawan yang berusaha memajukan persepakbolaan. Mereka yang menjadi generasi penerus rela meninggalkan tanah airnya hanya untuk menimba ilmu ke negeri sebrang, dengan harapan bisa memperbaiki sepak bola tanah airnya. Mereka rela meninggalkan masa-masa terindah bersama keluarga atau pun sahabat. Perjuangan dan kerja keras adalah teman setia untuk melewati kerasnya kehidupan.

Kenyataan tak berpihak untuk mereka yang berusaha keras. Terkadang kenyataan memang begitu kejam, ia tak seindah mimpi. Usaha yang telah dilakukan tak sebanding dengan hasil yang didapat. Tapi inilah hidup, tak selamanya harapan berbanding lurus dengan kenyataan.

Malam semakin terasa hening, tak terdengar lagi suara rintikan hujan. Aku masih tetap berangan. Hatiku bertanya, “Bukankah kebangkitan sepak bola bangsa ini baru saja dimulai? Tapi mengapa sekarang nasib sepak bola berada pada titik samar? Aku tak mengerti mengapa mereka tega menghancurkan rangkaian mimpi indah ini.” Mungkin para petinggi sepak bola mampu menjawab pertanyaan ini, dan mungkin dengan jawaban penuh kemunafikan.

Kecewa, ungkapan paling tepat yang bisa aku ucap. Berawal dari dualisme kompetisi yang menjadikan perpecahan, disusul dualisme klub dan kini dualisme kepengurusan. Negeri ini memang kaya akan keberagaman budaya, tapi apakah perlu sepak bola juga diperkaya dengan keberanekaragaman? Bukankah bola yang menyatukan perbedaan? Jika sepak bola saja sudah berbeda, lalu apa yang akan menyatukan?

Hatiku meronta, tangisku masih terjaga dalam hening malam. Betapa mirisnya melihat sang garuda tak kunjung terbang tinggi mengepakkan sayapnya, malah justru semakin jatuh. Hanya mampu bertahan dengan sisa sayap yang belum patah.

Aku bisa apa?! Menangis, meronta, memohon sekalipun mereka tak akan mendengar keluhku. Banyak di antara kami yang mengeluh dan memohon, tapi nyatanya jeritan hati kami tak terdengar oleh mereka. Ego telah mengalahkan nurani.

Ya, ini salah mereka! Keegoisan mereka telah menghancurkan semuanya!” kataku keras penuh emosi. Manusia memang selalu menganggap dirinya yang terbaik, begitu juga denganku. Aku menganggap apa yang aku katakan ini baik dan cara mereka salah. Mungkin ini terlihat sedikit egois, tapi terkadang egois itu perlu.

Kugoreskan tinta pada sebuah kertas kusam. Kuungkapkan rasa terpendamku, mungkin ini bisa membuatku lebih baik.

Ingin aku ungkapkan semua rasa yang ada. Rasa tentang kekecewaan. Sepak bola adalah pemersatu, tapi mengapa sekarang menjadi jurang pemisah? Apa kini sepak bola hanya untuk golongan tertentu saja? Hanya untuk mereka yang berkuasa! Lalu bagaimana dengan para pemimpi sepak bola? Haruskah mereka melepas mimpinya hanya karena keegoisan?! Kataku tak mungkin didengar, apalagi untuk dimengerti. Aku hanya bisa berangan dan berharap. Sendainya saja bapak-bapak yang terhormat itu sedikit membuka pintu hati dan menyisihkan egonya, mungkin sepak bola tidak semakin menuju titik samar. Ingin kutanyakan pada mereka: Di mana hati nurani kalian? Beginikah cara kalian memajukan sepak bola? Tolong, sedikit dengarkan jeritan hati kami. Keinginan kami sederhana, melihat sepak bola negeri ini semakin baik.”

Tangisku terhenti, suasana hati mulai membaik. Menulis membuatku sedikit merasa lega. Tulisan memang tak mampu menyelesaikan semuanya, tapi ini membuatku merasa lebih baik. Meski tulisan tak mampu berbuat apapun, tapi ia adalah gambaran dari isi hati yang tak didengar.

Harapanku sederhana, melihat sepak bola negeri ini semakin membaik. Pintaku tak banyak, hanya ingin membuat mereka mengerti dan merasa bagaimana sakitnya kami melihat sepak bola yang semakin menuju titik samar. Sampai kapan keadaan seperti ini dipertahankan?! Semua ingin yang terbaik. Kami tak bisa apa-apa, hanya berharap mereka menggunakan nuraninya untuk kembali memperbaiki kehancuran ini. Ini hanyalah angan liarku, sebuah mimpi tak berujung.

Mataku mulai menutup perlahan, tak kuasa menahan pilu. Dalam kegelapan terlintas rangkaian mimpi. Mungkin mimpi ini akan menjadi nyata saat aku membuka mata. Aku yakin esok Tuhan akan mengabulkan harapanku dan harapan bangsa ini. Aamiin. (*)

Wiwit HermawatiWiwit Hermawati lahir Banjarnegara 26 Oktober 1995 merupakan siswa Kelas XII IPA-4 MAN 2 Banjarnegara, yang tinggal di Desa Paseh Kecamatan Banjarmangu Banjarnegara. Penyuka sastra dan olahraga (khususnya sepak bola)  ini memiliki moto hidup: “Jangan hidup dalam sebuah mimpi tapi hiduplah untuk mewujudkan mimpi!

9 thoughts on “Ketika Ego Mengalahkan Nurani

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Wiwit…

    Goresan hati yang pilu memikirkan nasib sepak bola negara yang semakin merencam kedudukannya. Memang benar, di mana-mana sahaja berlaku sifat egois pihak tertentu telah mengatasi nurani. Kuasa telah memakan segala keenakan minat bermain dengan ikhlas. Akhirnya, uang menjadi taruhan santapan yang mengenyangkan sehingga nasib sepak bole terumbang ambing.

    Hebat ya, peminat sepak bola sempat merintih tangis mengenang nasib sepak bola negaranya.Kalau tulisan ini bisa diutarakan ke pihak berkenaan tentu lebih bermakna agar mereka faham bahawa masyarakat lingkungan banyak yang tidak setuju dengan cara orang atas mengurus sepak bola negaranya.

    Teruskan usaha dan bakat menulis. 2 jempol dari bunda.
    Salam kenal dan salam sukses dari Sarikei, Sarawak.😀

    • Seperti itulah kehidupan saat ini, tahta dan kekuasaan menjadikan seseorang melupakan nuraninya. Mungkin mereka tidak terlalu perduli dengan nasib persepak bolaan, lebih mementingkan kekuasaan. Kepedulian itu justru hadir dari masyarakat dan pemain sepak bola itu sendiri.

      Terima kasih bunda, salam kenal juga dari saya🙂
      Satu lagi, SALAM SEMANGAT !🙂

  2. Saya acungkan jempol sambil berdiri membaca tulisanmu, selain susunan kalimatnya enak dibaca juga topik yang kau tulis juga luar biasa.maksud saya biasanya remaja hanya menulis melulu yang gemerlapan atau yang melankolik saja ) Saya bayangkan kalau di Indonesia ini banyak anak-anak cerdas dalam mengamati dan menganalisa sekitarnya seperti Wiwit Hermawati , saya yakin negeri ini akan cepat menjadi negeri besar , jaya dan menjadi kiblat dunia.
    Salam sayang dari eyang Bintang Rina

    • Terima kasih Eyang, tulisan yang saya tulis juga terinspirasi dari surat yang Syamsir Alam berikan untuk PSSI. Saya lebih suka menulis hal yang terjadi di sekitar saya, termasuk juga tentang persepakbolaan. Semoga akan banyak generasi penerus bangsa yang lebih peka dengan keadaan sekitar.

  3. Assalamu’alaikum wr. wb

    Salut buat Wiwit yang sangat bagus mengungkapkan perasaan tentang persepak bolaan Indonesia. Susunan kata-katanya membuatku merasakan betapa banyak masalah yang terjadi di persepakbolaan Indonesia. Menyedihkan memang persepakbolaan Indonesia saat ini.
    Kita memang berharap semoga bisa lebih baik dan maju. Diawali dari pengurusnya, yang dapat menjadi motivasi bagi persepakbolaan Indonesia. Sehingga dapat membuktikan pada dunia bahwa sepak bola Indonesia bagus, tidak hanya bagus di Indonesia, namun di dunia juga.

    Semoga persepakbolaan Indonesia semakin maju dan tenteram, dan benar-benar dapat menjadi pemersatu bangsa ini, sehingga sang garuda dapat terbang tinggi mengepakkan sayapnya..
    SEMANGAT INDONESIAKU..!!!🙂

    Karya yang bagus, Wit.. I like this.

    Salam kreatif..🙂
    Wassalamu’alaikum wr. wb…

    • Wa’alaikumsalam wr. wb

      Terima kasih, apa yang saya tulis hanya sekedar untuk mewakili perasaan para pecinta sepak bola yang menginginkan kemajuan sepak bola. Banyak yang memiliki bakat sepak bola, tetapi terhalang oleh kepengurusan. Mungkin jika pengurus lebih memperhatikan keadaan sepak bola, mulai dari pemain, sarana dan prasarana, atau yang lainnya, sepak bola indonesia akan lebih baik dari ini.
      Kita hanya berharap, semoga persepakbolaan negeri ini lebih maju, lebih baik dari yang sekarang.
      Sekali lagi, terima kasih Mahfud.

  4. Seandainya saja para petinggi persepakbolaan Indonesia bisa mempersatukan dualisme kompetisi yang terjadi, saya yakin persepakbolaan Indonesia akan lebih maju,dan sepak bola bisa menjadi landasan untuk mempersatukan perbedaan yang ada. Semoga saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s