DESTENY

Cerpen Tisa Yuli Astriana

mengintip mautDesteny. Tujuan. Nggak semua orang punya tujuan. Tujuan adalah arti hidupmu. Kau hidup karena ada tujuan yang ingin kau tuju. Hidup tanpa tujuan sama artinya kau telah mati, kau telah menghilang dari nafas kehidupan kawan.

Matahari telah memaksa masuk jendela  kamar Reere, membuat Reere terpaksa bangun dengan menyipitkan matanya. Hal pertama yang dilihat Reere saat membuka matanya adalah ibunya yang sedang menangis. Bagi Reere, mengawali hari dengan tangisan ibunya sungguh menyiksa. Ingin dia membendung tangis ibunya dengan membaginya kasih dan sayang yang ia punya. Tapi apa daya, dia juga telah lelah dengan kehidupannya. Dia juga butuh tangan hangat untuk memeluk hatinya yang semakin lama semakin rapuh dan kapanpun siap hancur berkeping-keping.

“Ibu, tenangakan dirimu. Di dunia ini nggak ada sesuatu yang selalu sama. Segalanya pasti akan berubah. Kuatkan dirimu sendiri, di sini masih ada anak-anak yang membutuhkan pelukanmu,” kata Reere menenenangkan ibunya.

“Maafkan ibumu yang lemah ini. Sungguh ibu sudah lelah Reere,” sahut ibunya dengan iringan senggukan.

“Kami yakin ibu tidak selemah ini. Ibu mampu keluar dari jurang yang telah memerosok kita. Kami mohon, bantu kami.” Reere yang berniat untuk menenangkan ibunya justru ikut larut dalam kesedihan.

Reere adalah anak tertua dalam keluarganya. Dia sekarang hanya tinggal dengan ibu dan adiknya, serta pembantu dan supir kepercayaan keluarganya. Dua hari yang lalu peristiwa yang paling dia takuti dan dia benci seumur hidup akhirnya datang menghampirinya. Ayah yang selama ini menjadi tumpuan dan orang yang hanya bisa mengerti dia telah pergi jauh dan tidak akan pernah kembali. Sungguh peristiwa itu membuat segala sesuatunya terlihat berbeda. Terlalu suram.

Kini hidupnya gelap. Ibunya yang hari-hari selalu tersenyum ceria kini hanya sering terdiam. Adiknya yang masih belum terlalu mengerti masalah yang datang menjenguk keluarga mereka. Memaksa Reere untuk lebih menguatkan dirinya sendiri untuk ibu dan adiknya. Sulit memang, dia sadari itu. Karena dia sendiri sungguh belum bisa menerima pukulan hebat yang menimpa keluarganya.

Sepeninggal ayah sebagai kepala keluarga, kehidupan keluarga Reere serasa ikut pergi meninggalkan dunia. Reere yang masih di bangku SMA harus dituntut untuk jadi lebih dewasa.

Hari-hari telah berlalu, awalnya semua terasa sempurna. Keadaan ibunya telah membaik, adiknya juga telah terbiasa dengan ritme kehidupannya kini.

“Sisy,” panggil Reere pada adiknya, “Kamu berangkat bersama kakak ya,” tanya Reere mengawali percakapan pagi itu di meja makan sambil menyantap sarapannya.

“Kak, Sisy takut.  Sisy nggak mau pergi. Sisy mau tinggal di rumah,” jawab adiknya menolak ajakan Reere.

“Apa yang kau takutkan sayang?” tiba-tiba ibu datang entah dari mana.

“Entahlah. Aku hanya merasa jika aku keluar dari rumah ini hari ini juga. Aku tidak akan pernah kembali lagi,” jelas Sisy lirih.

Hal ini lagi, pikir Reere. “Apa yang kau bicarakan Sy, sungguh kakak tidak mengerti,” tanya Reere.

Sisy hanya terdiam, membeku tak menghiraukan pertanyaan kakaknya. Ibunya juga hanya bisa tersenyum tanpa arti.

***

Kadang sempat terpikir di benak Reere, mengapa kita harus selalu mengawali sesuatunya dengan hari. Namun, meski dia tidak mengawali sesuatu, hari tetap datang menghampirinya. Dia muak. Bagi Reere hidup ini tidak ada artinya. Dari kecil hingga dewasa, tidak ada orang yang sepenuhnya percaya dengan dirinya kecuali ayahnya. Tapi setelah kepergian ayahnya, usai sudah perjalanan hidup Reere. Dia hidup bagaikan seonggok daging tak bernyawa.

Reere bukan gadis biasa, dia bisa melihat kematian dan hal yang mengiringinya. Bukannya dia tidak merasa takut akan semua hal itu. Dia hanya telah terbiasa dengannya. Hanya orang tua Reere yang mengetahui kelebihan ini, namun hanya ayahnya yang dapat menerimanya.

Ke manapun dia pergi, dia tidak pernah sendiri. Jika kalian bisa melihat apa yang dilihat Reere. Ketahuilah rasanya seperti tidak ada tempat untuk bernapas. Di manapun, kapanpun, tanpa kau sadari dia ada di sini. Banyak orang bilang, mereka sering dijenguk keluarganya yang sudah tiada kala mereka tidur, tapi mereka salah. Sebenarnya mereka benar-benar datang dalam gelap malam untuk melihatmu.

Di sekolah orang-orang telah terbiasa melihat perilaku Reere yang lebih suka sendiri, tapi suatu hari untuk yang pertama kalinya ada yang menghampiri Reere dan berbicara dengannya.

“Kamu Reere, bukan?” tanya murid laki-laki itu.

“Iya,” jawab Reere singkat.

“Aku tetangga barumu, namaku Noval. Senang berkenalan denganmu, tidak kusangka kita satu sekolah,” kata Noval ingin memulai sebuah pembicaraan. Tapi Reere hanya menanggapinya dengan diam membisu lalu pergi meninggalkan Noval yang merasa bingung dengan sikap Reere.

“Hei, kau murid baru. Jangan dekat-dekat dengannya nanti kau bisa dihantui,” kata salah seorang siswa.

“Apa maksudmu dihantui?” tanya Noval tidak mengerti.

Tapi sebelum sempat mendengarkan penjelasan temannya, bel tiba-tiba berbunyi. Untuk hari ini, hari pertamanya di sekolah Noval dihadiahi oleh beribu penasaran akan gadis yang bernama Reere.

Reere tidak sempat berpikir, ada siswa yang mau berbicara dengannya. Mungkin dia belum tahu siapa aku sebenarnya, pikir Reere. Dalam perjalanan pulang sudah ada hampir 13 hantu yang ditemuinya. Salah satunya adalah gadis dengan wajah yang hancur dan darah keluar dari setiap lubang yang ada di wajahnya. Reere meski telah terbiasa, dia tetap merasa takut, dan terlebih tidak ada lagi tempat untuk mencurahkan ketakutannya setelah ayahnya tiada. Pernah suatu malam, ayahnya datang menemui Reere.

Dengan wajah pucat ayahnya berkata, “Kau akan baik-baik saja tanpaku kan, Nak? Ayah sayang padamu,” setelah mengatakan hal itu ayahnya menghilang. Andai ayahnya tahu kalu dia tidak baik baik saja.

Pernah Reere memiliki pemikiran untuk ikut dalam dunia mereka, tapi setelah melihat wajah ibu dan adiknya. Pemikiran itu seketika hilang. Benar, dia masih memiliki ibu dan adiknya. Tidak seharusnya dia pergi dari sini. Belum. Siang hari di rumah Reere bagaikan pemakaman. Sepi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Reere mencoba memanggil ibunya,

“Ibu, bu. Ibu dimana?” tidak ada jawaban.

Dia naik ke lantai dua, kamar ibunya. Dan menemukan ibunya telah gantung diri dengan seikat tali mencekik leherya. Reere menjerit, namun seakan diruang hampa suaranya tidak terdengar sama sekali. Bahkan oleh telinganya sendiri. Dia berlari keluar mencari bantuan, tapi tak ada seorangpun. Setelah beberapa saat barulah pembantu dan supir muncul.

“Kalian dari mana saja? Aku mencari-cari kalian…!” teriak Reere dengan histeris.

Namun supir dan pembantunya hanya diam tanpa ekspresi

“Ada apa dengan kalian?” sekali lagi teriak Reere, “Tolong ibuku, cepat…!”

Supir datang terlebih dulu kelantai dua dan sebelum menurunkan mayat ibunya Reere ke lantai. Tiba-tiba semilir angin masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, seketika itu juga entah karena apa, supir terpeleset dan kepalanya tetusuk pisau yang dia gunakan untuk memotong tali yang menjerat leher ibu Reere. Hingga menembus kepalanya, menyemburkan darah segar dari kepalanya. Dilain tempat pembantu rumah yang berlari menaiki tangga, tanpa menyadari terdapat genangan air yang muncul entah dari mana. Membuatnya terpeleset dengan kepala membentur lantai terlebih dahulu, membuat kepalanya patah seketika itu juga dan tulang leher keluar dari tubuhnya. Hanya disisakan daging yang membuatnya tetap menyatu.

Reere pucat pasi, tidak sanggup untuk berteriak sekalipun. Bingung dengan apa yang sedang terjadi. Tanpa disadari dari arah belakang, adiknya menarik baju Reere. Dan berkata,

“Kak, kita harus pergi dari sini. Dia ada di sini,” jelas adiknya dengan gemetaran yang hebat.

“Siapa maksudmu?” tanya Reere, meski dia tahu siapa yang dimaksud. Tapi, dia ingin memastikan dan berharap bahwa bukan yang ada di dalam pikiran Reere.

“Dia yang membenci keluarga kita,” jawab Sisy.

Seketika itu juga, pikiran Reere mengembara pada delapan tahun silam, di mana peristiwa mengerikan terjadi pada keluarga besarnya.

Delapan tahun yang lalu, di malam hari yang hujan dengan lebatnya. Keluarga Reere dalam perjalanan pulang setelah berlibur. Dalam perjalanan tidak ada yang ingin memulai sebuah pembicaraan, karena hujan yang lebat menimbulkan suasana yang suram. Tanpa disadari ayahnya ada seorang gadis yang sedang melintasi jalan, dan tidak sengaja tertabrak oleh mobil ayahnya. Kami turun dengan segera untuk melihat kondisi gadis itu, tapi tubuhnya tidak ditemukan, bahkan hingga kini. Hingga akhirnya kami menyerah dan pergi meninggalkan tempat kejadian tanpa tahu hal apa yang akan datang menghampiri kami.

Setelah kejadian mengerikan itu, perlahan-lahan keluarga besar kami menghilang satu persatu. Mati dengan begitu mengenaskan. Sampai sekarang saatnya telah datang untuk keluargaku. Giliran kematian untuk datang menghampiri keluargaku. Kedua orang tuaku telah selesai, saatnya aku dan adikku. Namun, aku tidak ingin mati sekarang. Aku harus bertahan, aku masih memiliki sesuatu yang harus aku lakukan. Aku memiliki tujuan hidupku yang belum sempat aku wujudkan.

***

Setelah semua peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu, laki-laki yang bernama Noval, yang mengaku sebagai tetangga rumah, hari ini mendatangiku lagi.

“Aku turut berduka dengan peristiwa yang menimpa keluargamu,” katanya pada Reere.

“Yah, terima kasih,” jawab Reere tanpa menoleh.

“Cuaca hari ini cukup cerah, tidak inginkah kau berjalan keluar sebentar. Sekedar menyegarkan badan?” tawar Noval.

“Tidak, aku hanya ingin dirumah bersama adikku.”

“Ajak juga adikmu, sayang kalau melewatkan hari ini”

Reere melirik Noval dengan tajam, kemudian berkata, “Aku bilang TIDAK…! Tidak bisakah kau pergi saja!?”

“Waw, baiklah aku pergi. Sampai jumpa besok disekolah.” Noval kemudian pergi meninggalkan Reere sendiri. Reere tidak yakin besok masih bisa berjumpa dengannya lagi atau tidak.  Entahlah.

Esoknya di sekolah, benar saja, Noval menghampiri Reere. Meski telah diperingatkan berkali-kali oleh semua temannya tapi dia tidak pernah mencoba untuk menjauhi Reere. Entah apa dalam diri Reere yang membuat Noval tertarik. Banyak hari yang telah berlalu, dan sebanyak itu pula Noval tiada henti menghampiri Reere, hingga Reere menyerah dan menanggapinya.

Beberapa bulan telah berlalu dan keduanya semakin sering bersama. Reere juga telah terbiasa dengan kehadiran Noval. Dan suatu ketika, saat Noval datang ke rumah Reere dengan niat untuk mengajaknya keluar. Tiba-tiba, dia merasa ada sesuatu yang sedang memperhatikannya. Tapi dia tidak peduli, karena dia hanya peduli pada Reere. Sebelum sempat Noval memencet bel, pintu telah terbuka sendiri dan Reere keluar dari baliknya dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.

“Ada apa? Apa sesuatu terjadi?” tanya Noval gugup.

“Kau harus segera pergi, dan jangan pernah mencoba untuk menemuiku lagi sebelum sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi lagi pada orang yang kusayangi,” kata Reere tiba-tiba.

“Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Noval tidak mengerti.

“Cepat pergi sebelum dia datang!” teriak Reere dan mencoba untuk mendorongnya pergi.

Akhirnya Noval pergi, Reere hanya bisa menangis sesenggukan.

“Lihat! Kau puas? Apalagi yang kau inginkan dariku. Kau telah merenggut segalanya, keluarga, teman, bahkan cintaku. Sudah cukup, pergilah, kumohon!” teriak Reere pada sosok hitam yang berdiri di sudut ruangan. Belum selang satu menit, terdengar teriakan dari kamar Sisy.

“Kau!  Jangan kau sentuh adikku.” teriak Reere sambil berlari menuju kamar adiknya. Namun terlambat, tubuh adik Reere telah dibanjiri oleh darah, yang keluar dari seluruh tubuhnya yang terbalut goresan luka dari pecahan kaca. Tubuh adiknya tergeletak dengan canggung di lantai. Reere mendekati tubuh adiknya yang masih terasa hangat. Dan diselimuti darah. Wajah yang dulu begitu lucu dan manis, sekarang terlihat sungguh mengerikan.

“Tidak, tidak, tidaakk…!” Reere berteriak kencang, “Mengapa harus aku, mengapa harus keluargaku?” dia terduduk lemas di pintu, sambil menangis.

Sungguh kematian seseorang rasanya begitu menyedihkan.

v     

Entah sudah berapa hari semenjak kejadian yang tidak ingin diingat Reere telah berlalu. Kehidupan Reere kini bagai mayat hidup. Dia tak ingin mati tapi juga enggan untuk melanjutkan kehidupannya kini.

Kh..kh..khau.. shung..ghuh mhe..nye..dih..khaan….” terdengar suara bisikan di telinga Reere.

“Kau yang menyedihkan, tidak sadarkah kau telah mati. Tempatmu bukan di sini. Pergi, ”teriak Reere membalas bisikan itu, “Kumohon pergilah…!!” ratap Reere.

Setelah Reere menghentikan tangis yang keluar dari kedua matanya yang semakin hari semakin kering, terkuras habis. Dia bermaksud untuk melihat kegelapan yang ada diluar. Kemudian terlintas sebuah pemikiran yang membuatnya terbangun dari duduknya.

“Aku harus menghentikan kutukan ini. Aku tidak ingin menghabisakan sisa hidupku hanya untuk meratapi semua ini,” teriak Reere pada dirinya sendiri.

“Aku harus kembali ke tempat di mana segala sesuatunya dimulai,” akhirnya Reere memutuskan.

Diapun pergi ke tempat dulu terjadinya kecelakaaan. Sudah bertahun-tahun tapi dia tidak akan pernah lupa pada peristiwa yang memiliki andil besar dalam perjalanan hidupnya kini. Sesampainya dia di tempat itu matahari telah bersembunyi. Gelap malampun datang menghampiri. Dengan pekatnya malam, Reere menyusuri setiap sudut jalan dan berhenti pada sebuah ladang. Dia memutuskan untuk mencari mayat atau sisa-sisa dari tubuh gadis yang menghantuinya itu.

“Sialan, di mana aku bisa menemukan tubuh gadis itu,” kata Reere pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba semilir angin lewat tepat di depannya. Membuat Reere menyadari kalau dia tidak sendiri di sini.

“Untuk apa kau kemari? Mau menghentikanku?  Jangan bermimpi,” kata Reere pada angin kosong di hadapannya.

Hening. Hanya terdengar suara gemerisik pohon dan daun yang saling bergesekan. Sungguh suasana yang mencekam. Dari belakang Reere datang sosok yang tak terlihat dan menepuk pundak Reere. Membuat jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik.

“Aaahhh…” teriak Reere.

“Tenanglah ini aku,” jawab suara di kegelapan.

“Siapa kau, jangan berani-berani mendekat!” balas Reere.

“Noval,” jawab Noval dengan sedikit mengarahkan cahaya dari senter yang dibawanya ke wajahnya.

“Apa yang kau lakuakan di sini?” tanya Noval.

“Bukan urusanmu,” jawab Reere singkat.

“Kumohon aku hanya ingin membantu,” pinta Noval.

“Kalau kau ingin membantu dan tetap ingin hidup. Sekarang juga langkahkan kakimu menjauhi tempat ini. Aku juga memohon padamu. Sungguh akau tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu,” balas Reere dengan sedikit diwarnai tangisan.

Dari sudut pohon, tanpa mereka sadari ada yang sedang memperhatikan mereka.

“Sudah hampir satu jam kita mencari, tidak inginkah kau menyerah saja?” tanya Noval yang akhirnya tetap ikut menemani Reere.

“Istirahatlah dulu jika kau sudah lelah, aku akan tetap mencari,” tawar Reere.

“Bodoh, mana mung…” Kkrriieet. Bbrrruuuaakkk!!!! Tiba-tiba pohon yang berdiri di samping Noval tumbang. Dan hanya berjarak beberapa centi meter dari tubuh Noval.

“Kau?! Kau tidak apa-apa?!” tanya Reere seketika itu juga.

“A, aku. Baik-baik saja” jawab Noval dengan sedikit gemetaran.

“Sudah kubilang, pergilah. Kau hampir saja terbunuh.”

“Tapi, nyatanya aku tidak terbunuh kan. Bahkan tidak tersentuh sedikitpun.” Ucapan Noval tersebut terkesan hanya untuk meyakinkan hatinya sendiri. Meski sebenarnya dia sangat ketakutan.

Dengan masih dihiasi rasa takut, mereka melanjutkan pencarian. Akhirnya mereka menemukan tubuh gadis itu, yang sudah sangat sulit untuk dikenali. Dari matanya keluar akar-akar tanaman, seluruh tubuhnya telah diselimuti tumbuh-tumbuhan. Sungguh keadaan yang menyedihkan.bahkan sulit untuk dikenali. Apakah itu seorang mayat laki-laki atau perempuan.

“Kau yakin ini yang sedang kau cari?” tanya Noval pada Reere.

“Aku sungguh sangat yakin. Cepat kita pindahkan mayat ini. Dan kita kuburkan dengan layak. Agar semua kutukan sialan yang menimpa keluargaku dapat terselasaikan.” kata Reere, sambil mencoba untuk menyibak daun-daun yang menutupi tubuh mayat gadis  itu.

Setelah berhasil menguburkan mayat gadis itu. Mereka kembali ke jalan untuk mengambil mobil mereka dan kembali.

“Reere, aku suka padamu,” kata Noval tiba-tiba, dalam perjalanan menuju mobilnya.

“Apa? Jangan bercanda!” balas Reere.

“Tidak, sungguh aku serius. Aku senang akhirnya kisah suram ini berakhir. Aku turut bahagia untuk hidupmu yang baru. Tapi aku ingin kau menikmati sisa hidupmu yang baru ini denganku,” jawab Noval.

Diam-diam Reere tersenyum gembira mendengar pengakuan Noval padanya. Namun, belum sempat dia menurunkan senyum yang menyungging di wajahnya. Kejadian itu terjadi.

Jleebb, tiba-tiba sebatang ranting pohon yang entah jatuh dari mana menusuk leher Noval. Belum selesai disitu, Noval terpeleset di tumpukan ranting yang tajam.

“Aaaaahhhhh…” teriak Reere kencang.

Reere menghampiri tubuh Noval yang terjatuh, dan melihat ranting telah menusuk kepala Noval tepat di belakang kepalanya hingga menembus rahangnya. Darahpun mengucur deras dari wajah dan leher Noval.

“Kenapa? Bukankah ini sudah berakhir?” teriak Reere kebingungan.

Kau tidak bisa berhenti jika kau telah memutuskan untuk masuk ke dalamnya.(*)

 

TisaTisa Yulia Astriana, gadis manis yang lahir di Tulungagung 08 Juli 1995 ini duduk di kelas XII IPA 4 dan tinggal di Jalan Selamanik 27, merupakan pecinta komik dan novel fiksi.Hidup nggak selalu samaadalah kata-kata yang memotivasi dirinya.

6 thoughts on “DESTENY

  1. Assalamu’alaikum,

    Sebuah cerpen yang bisa membuat jantungku berhenti untuk sedetik, menahan kengerian dalam setiap aliran sajak-sajaknya, menahan gejolak emosi jika seandainya mengalami apa yang dialami oleh sang tokoh, dan ikut terbawa alunan cerita yang ternya ujungnya tak bahagia.

    Wah, ternyata suka horor juga ya, semoga horor itu bisa melahirkan cerita-cerita yang lumayan waw juga.

    Saya tunggu cerpen berikutnya.

    • sekedar komentar singkat, tapi padat. membuat saya menjadi semakin bersemangat.
      oke siap, tunggu kedatangan saya di season selanjutnya… °\(^▼^)/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s