Badai Hidup Diana

Cerpen Metanisa Rofi Hamtina

GalauHari ini adalah hari yang buruk bagi temanku, Diana. Karena, dua jam yang lalu, dia telah resmi menjadi seorang buah hati yang berasal dari keluarga broken home. Bisa terbayangkan, bagaimana tersayatnya perasaan temanku dan kedua saudaranya, ketika palu kuasa telah dibunyikan oleh hakim sebanyak dua kali. Menandakan, bahwa kedua orang tuanya telah resmi bercerai.

Aku menahan nafas sejenak. Kukira Diana adalah manusia yang beruntung. Terlahir dari keluarga kaya raya. Segala kebutuhan dan keinginannya dengan mudah dapat terpenuhi. Tetapi kejadian dua jam yang lalu yang menimpanya membuatku tersentak tak percaya. Bagaimana mungkin kedua orang tuanya bercerai? Perasaan selama ini, aku memandang keluarganya cukup harmonis. Tak nampak sedikitpun guratan yang memberi kesan rumah tangga retak.

Kumelangkah menuju lemari baju. Kuraih handphone china milikku dan kubuka conversation. Terdapat riwayat sms-an ku dengan Diana pagi tadi. Sekitar pukul sepuluh hingga pukul sebelas tepat. Kupandangi satu persatu pesan dari dia dan balasan dariku. Air mataku hampir saja tumpah, seakan aku merasakan apa yang dirasakan temanku itu. Kututup conversation, aku nonaktifkan handphone dan beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh muka.

Adzan Subuh berkumandang di segala penjuru. Berpadu dengan suara kokok ayam jantan dan cicit burung yang bersahutan. Menambah syahdu suasana fajar. Aku segera bangkit dari tempat tidurku. Ketika aku akan beranjak menuju mushola rumah, handphone ku bergetar. Satu pesan diterima, dari Diana.

Ra, hari ini berangkat pagian ya, please! Aku butuh teman curhat.” From : Diana.

Aku menghela nafas, pasti masalah keluarganya. Aku hanya tersenyum dan meletakkan handphone-ku, lalu menuju ke mushola rumah.

Jam enam lebih lima belas menit, aku telah sampai di depan kelasku. Pintunya masih dikunci, kuncinya di pak penjaga. Aku segera menyusuri koridor, mencari keberadaan Diana. Setelah lima menit mencari, akhirnya aku menemukannya. Sesosok gadis dengan seragam OSIS berjilbab. Dihiasi bross bunga berwarna pink menggantung di kerudungnya. Yeah, itulah Diana. Dia sedang menangis di bangku taman, aku segera mendekatinya. Dia tersenyum menyambut kehadiranku. Aku duduk di samping kanannya sambil mengambil buku novel dari tasku. Diana lalu menatapku dengan matanya yang sembab.

Zahra, kamu mau membaca atau mau mendengarkan curhatku?” tanya Diana antusias.

Aku kaget mendengar perkataannya barusan. Kusegera menutup novelku dan memasukannya ke dalam tas.

Sorry Diana. Kukira kamu belum siap curhat. Makanya, aku menunggumu. Baiklah, aku mau mendengarkan curhatmu, ceritalah,” kataku kemudian.

Diana menarik nafas dalam, menatapku, lalu bercerita. Sesekali dia menangis. Aku berusaha menenangkan dan menghiburnya. Ya Allah… berat nian cobaannya.

Setelah shalat Isya dan belajar, aku menuju kamarku. Aku merenungi nasib buruk yang menimpa Diana. Benar-benar miris! Dia mendapatkan hak asuh ayahnya bersama kakaknya. Sedangkan adiknya mendapat hak asuh ibunya. Diana yang selalu membanggakan ayahnya, menganggap ayahnya adalah orang baik. Ternyata diam-diam suka main perempuan. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana rasanya mempunyai ayah seperti ayahnya Diana. Dan pada saat itu Diana pasti terpukul. Dia kini mengetahui mengapa ibunya menggugat cerai pada ayahnya. Wanita mana yang mau dipermainkan oleh lelaki, terlebih lelaki itu adalah suaminya sendiri?

Ditambah lagi, Diana hampir saja kehilangan keperawanannya. Ray, pacarnya hampir saja memperkosanya. Diana dengan sekuat tenaga menghindar dari kebejatan nafsu Ray. Akhirnya dia berhasil dan berlari dari kejaran Ray yang dalam kondisi mabuk plus penuh nafsu birahi. Diana pun tak menyangka dengan Ray. Dia kira Ray adalah anak yang pendiam, cerdas, dan asyik. Ternyata di balik itu, dia adalah seorang yang amoral. Dia gemar keluar malam, pergi tidak jelas, dan gemar melampiaskan nafsu yang ada pada dirinya dengan menghalalkan segala cara, Naudzubillah….. Diana sangat terpukul. Karena, baru sekarang dia mengetahui semua kebejatan Ray, bagaimana Ray yang sesungguhnya

Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam tepat, mataku sudah tak mampu lagi tuk merekah. Aku memperbaiki posisi berbaringku, kulantunkan doa tidur dalam hati. Lalu aku memejamkan mata. Ahh… aku berharap hari esok lebih baik dari hari ini, untuk diriku terutama Diana. Semoga aku bisa membantunya dalam menyelesaikan masalah beratnya.

Semester satu telah berakhir. Diana bercerita semua masalahnya ketika hari pertama class meeting. Kini pembagian raport telah tiba. Ibuku dengan senyumnya yang menawan menghampiriku sambil membawa raportku. Ternyata, aku berhasil masuk sepuluh besar di kelas. Alhamdulillah…..aku sangat bahagia. Tiba-tiba, mataku tertuju pada Diana. Dia tidak menunjukkan wajah bahagia sepertiku, wajahnya sangat murung. Ayahnya sudah pulang dari tadi. Ternyata prestasinya menurun drastis, dia mendapat peringkat terakhir di kelasku. Aku tak menyangka, ternyata masalah berat yang dialami Diana berpengaruh pada nilai akademisnya.

Aku berusaha memberi ketenangan, nasihat, dan motivasi. Setelah itu senyumnya mengembang. Dia mengucapkan terima kasih kepadaku dan memelukku erat. Sungguh, aku mendapat pelajaran berharga, bahwa jangan melihat seseorang dari sisi luarnya saja. Barangkali kita perlu mencoba memahami sesuatu yang tak terlihat pada dirinya. Lalu, ketika mendapatkan masalah berat, berusahalah ikhlas karena Allah bersama hambanya yang mau berusaha, berdoa, dan tawakal. Janganlah terlalu dipikirkan karena hal itu hanya akan berakhir dengan penyesalan yang tak ada penyelesaian. Ini seperti yang dialami temanku, Diana.

 

metanisa X.10Metanisa Rofi Hamtina lahir Kuningan 4 Mei 1997 merupakan siswa Kelas X-10 MAN 2 Banjarnegara. Putri pasangan Bapak Ilham Budi Santosa dan Ibu Kustantinah ini tinggal di Kauman Kulon RT 02 RW 03 Kutabanjar Banjarnegara. Penyuka berbagai jenis buku dan film ini memiliki moto hidup: Jadilah semakin baik ke depan.

4 thoughts on “Badai Hidup Diana

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Metanisa…

    Usia kamu sebaya dengan anak bunda yang sulung. Tetapi bunda kagum atas karya tulis (cerpen) yang telah Nisa hasilkan. Ternyata masih muda tetapi mampu menggarap potensi menulis yang bisa dipertingkatkan.

    Terlihat ada kelemahan dalam plot penceritaannya. Mungkin hasilan yang singkat (…namanya cerpen) sehingga kurang mencapai penghujung yang mengesankan kerana harus segera ditamatkan.

    Salut ya, bunda bangga. 2 jempol sebagai penilaiannya.
    Salam manis selalu.😀

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb, Bunda…

      Terima kasih atas apresiasinya Bunda. Saya senang sekali. Masukan dari Bunda insya Allah bisa saya gunakan untuk memperbaiki diri. Untuk plot, bahkan penggunaan kalimat saya memang masih harus banyak belajar. Ternyata sulit sekali menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan.

      Salam hormat dan kenal untuk Bunda…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s