Rindu Tak Berujung

Langit malam ini terlihat begitu berwarna dengan ribuan bintang yang menghiasi tiap sisinya. Hening dan dingin, serasa hanya aku yang menghuni isi dunia yang luas ini. Hanya sebuah gitar yang mengisi sepi malamku bersama bintang yang menerangi gelap malam. Kupetik senar gitarku, kunyanyikan sebuah lagu penggambar suasana isi hati saat ini.

Teringat masa kecilku / kau peluk dan kau manja / indahnya saat itu / buatku melambung di sisimu / Terngiang hangat nafas segala untukku / kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu...

Sepenggal syair ini cukup mewakili perasaanku saat ini. Masa kecilku memang sangat membahagiakan, penuh kasih sayang dari ayah dan ibu, dimanja olehnya, dipeluknya dan diciumnya. Saat itu aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Apa yang kumau selalu kudapat. Apa yang kubutuhkan selalu terpenuhi. Cinta, kasih sayang, perhatian, dan kebersamaan selalu mereka berikan untukku. Apa yang mereka berikan untukku ini sudah lebih dari cukup. Aku tak pernah berpikir ini semua adalah keadaan singkat, aku tak pernah berpikir jika semua ini akan cepat berakhir, aku tak pernah berpikir jika ini adalah keindahan pertama dan terakhir masa kecilku.

Hidupku kini sudah sangat berubah, aku yang dulu selalu bersama ibu kini lebih sering menyendiri, aku yang selalu dimanja kini lebih bisa mandiri, aku yang dulu selalu diperhatikan kini lebih tidak dipedulikan. Aku tak mau seperti ini tapi Tuhan berkehendak lain, dan keadaan yang memaksaku untuk seperti ini. Mungkin aku yang dulunya rajin, pandai, penurut, kini telah berubah menjadi aku yang pemalas, menjadi aku yang bodoh, dan yang selalu membangkang. Ini juga bukan mauku, lagi-lagi keadaan yang membuatku seperti ini. Mungkin ini pelarianku dari semua masalah yang ku hadapi. Pelarian karena kurangnya kasih sayang dari seorang ayah sejak ibu meninggal.

Aku kini lebih tidak dipedulikan ayahku, apalagi setelah ia menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Ayahku kini lebih memperhatikan anak tirinya yang usianya 3 tahun di bawah usiaku. Mungkin ayah terlalu menyayangi istri barunya, hingga aku diabaikan. Aku lebih memilh diam menanggapi sikap ayah yang telah berubah kepadaku, karena aku tahu sesungguhnya ia sangat menyayangiku tanpa harus menunjukkan bagaimana sikapnya kepadaku. Sedangkan ibu tiriku sama sekali tidak meperhatikanku, aku sadar aku bukan anak kandungnya jadi pantas jika aku tak memperoleh perhatian dan kasih sayang darinya.

Aku selalu merasa sendiri dalam keramaian, merasa menjadi orang asing di antara orang yang aku kenal. Aku sama sekali tidak diperhatikan dan selalu saja aku diabaikan. Mungkin karena aku sudah besar, atau mungkin karena ayahku sudah tak menyayangiku lagi seperti dulu?! Tapi tak mungkin ayahku seperti iitu, mungkin ini hanya rasaku saja yang terlalu berlebihan menanggapi sikap ayahku.

“Kenapa? Kenapa semua harus seperti ini? Kenapa semuanya beubah? Aku rindu masa laluku, aku rindu kasih sayang, aku rindu diperhatikan?!” teriakku sambil menangis. Berteriak dan terus berteriak, setidaknya ini membuatku merasa lebih lega. Memang aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menanggapi semua keadaan ini. Aku tak berani mengatakan apa-apa pada ayah. Aku hanya terdiam dan bersikap seolah-olah aku dalam keadaan baik, meski sebenarnya keadaan hatiku bertentangan dengan sikapku. Jujur, aku sangat membenci keadaan ini. Keadaan membuat semua perubahan terjadi, perubahan yang lebih buruk untukku, perubahan yang juga membuat sikap dan sifatku berubah menjadi yang lebih buruk.

Aku sering merasa iri ketika ayah lebih memperhatikan anak tirinya dibanding saya sebagai anak kandungnya. Adik tiriku lebih beruntung dari aku, ibunya sangat baik dan perhatian, ayahku juga sudah seperti ayah kandungnya dan setidaknya ia masih memiliki ayah kandung meski ia jarang bertemu dengannya. Sedangkan aku? Orang tua tiriku tak sebaik pemikiranku, kasih sayang ayahku lebih berkurang, dan ibu kandungku sudah meninggal. Ini tak adil untukku, sejak ibu meninggal aku tak pernah mendapatkan kebahagiaan yang layak. Ayah hanya memperhatikanku sedikit, tidak lebih dari perhatiannya terhadap adik tiriku.

“Arel, Arel sudah makan?” tanya ayah kepada Arel, adik tiriku.

“Sudah, Yah,” jawab Arel yang sedang asyik bermain boneka.

“Makan pake apa?”

Pake nasi goreng.”

“Sama siapa?”

“Sama Kak Reza.”

“Za, adikmu rewel apa tidak?” tanya ayah kepadaku.

“Tidak, Yah,” jawabku singkat.

Aku merasa sangat kesal dengan ayah, kenapa hanya Arel yang ditanya? Kenapa aku ditanyai tentang keadaan Arel? Apa dia tidak inigin tahu bagaimana keadaan anaknya ini?! Biarlah, sekarang aku sudah terbiasa seperti ini. Diabaikan, dan dibeda-bedakan. Ketika berangkat sekolah aku jarang mendapatkan uang saku dari ayah, aku lebih sering menggunakan uangku sendiri untuk saku. Saat liburan sekolah tiba, aku sama sekali tak diajak untuk berlibur, hanya Arel yang diajak mereka untuk berlibur. Ini memang sangat tidak adil untukku, bagaimanapun juga aku tetap anak mereka, sama seperti Arel, berhak mendapatkan apa yang Arel dapat. Sayangnya mereka terlalu mengabaikanku.

Selalu kulantunkan doa agar ayah bisa seperti dulu, memanjakanku dengan kasih sayangnya, memberiku perhatian, dan selalu ada untukku. Tapi Tuhan belum mau mengabulkan doaku, mungkin ia ingin melihat seberapa besar kesabaranku menghadapi semua ini. Mungkin nanti atau esok ayah akan memperlakukan aku seperti yang dulu, atau bahkan lebih baik dari yang dulu.

Rasa rindu untuk ibu selalu kurasa, tak ada hari yang ku lewati tanpa merindukannya. Apa lagi ketika aku melakukan suatu hal yang biasa aku kerjakan bersama ibu, atau melihat teman sebayaku sedang bersama ibunya. Tak jarang aku meneteskan air mata. Saat ku melihat seorang teman yang sedang dimarahi ibunya, rasa rindu untuk ibu kembali hadir, aku merindukan caciannya, merindukan nasihatnya, merindukan raut wajahnya saat memarahiku. Semenjak ibu meninggal tak ada lagi yang memarahiku layaknya perhatian ibu yang meluap untuk anaknya.

Saat anak-anak yang lain merasa kesal dengan perhatian yang berlebih dari orang tuanya, aku malah ingin mendapat perlakuan seperti itu. Mereka yang menganggap orang tuanya begitu mengesalkan saat mereka memberi sebuah nasihat adalah mereka yang tak mampu bersyukur, mereka tidak tahu seberapa beruntungnya mereka. Mereka masih bisa mendapat sebuah perhatian, perhatian dari bentuk kasih sayang. Mungkin 2 tahun lalu adalah terakhir kalinya aku mendapat omelan dari seorang ibu. Entah kapan aku bisa merasakannya lagi dari orang lain yang sama seperti ibuku.

Ramadan adalah bulan yang memiliki banyak kenangan antara aku dan ibu. Tapi saat ibu sudah tak bersamaku lagi Ramadhan tak ada yang istimewa. Hariku semakin terasa sepi, tak ada yang membangunkan aku saat sahur, tak ada ibu yang tarawih bersamaku, tak lagi kudengar suara merdunya yang lanyah melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Hampa, sunyi, sepi, ini yang selalu kurasakan saat menjalani puasa tanpa ibu.

Suara takbir nan indah yang berkumandang berhasil membuatku meneteskan air mata. Mungkin seorang laki-laki yang menangis terlihat lemah dan cengeng. Tapi memang beginilah aku, sangat lemah ketika merindukan seorang ibu. Kini tak ada seorang ibu yang mengantarkanku ke masjid, tak ada ibu yang melantunkan takbir bersamaku. Orang tuaku kini lebih sibuk sendiri, mereka jarang dirumah. Malam takbirpun mereka masih sibuk hingga melupakanku. Mungkin mereka baru pulang nanti ketika akan shalat idul fitri. Aku yang dulu selalu berangkat shalat idul fitri bersama ayah dan ibu sekarang harus berangkat sendiri. Tak ada mereka yang menemani perjalananku.

Ini adalah kali kedua aku merayakan idul fitri tak bersama yang tercinta. Saat yang lain pulang kerumah bersama keluarganya setelah shalat ied, aku malah ke makam hanya bersama ayahku. Membersihkan makam ibu, dan berdoa untuk ibu. Aku tak bisa menahan air mataku saat doa kami lantunkan, ini terasa sangat menyakitkan. Menyakitkan saat orang yang biasa berdoa bersamaku, kini kudoakan dalam hidup kekalnya. Kini aku tak bisa bersamanya lagi, aku tak bisa memberikan apa-apa untuknya, hanya sebuah doa yang masih bisa kuberi untuknya. Doa yang tak pernah putus, seperti kasih sayangku yang akan selalu ada. Beliau memang sudah tiada, sudah tak ada jasadnya lagi, tapi kebaikannya, kasih sayangnya, dan semuanya masih ada. Masih tetap hidup bersamaku, bahkan bersama orang-orang yang mengenalnya.

Sebuah rindu tak berujung adalah saat aku merindukan seseorang yang tak mungkin bisa untuk kulihat lagi, meski terlihat nyata ketika kasih sayangnya masih tetap hidup bersamaku. Kini aku sendiri menjaga kasih sayangnya, aku takkan mengecewakannya. Untuknya aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Meski kami tak bisa bertemu, setidaknya hanya doa yang akan tetap menjadi obat kerinduan. (*)

Wiwit Hermawati lahir Banjarnegara 26 Oktober 1995 merupakan siswa Kelas XII IPA 4 MAN 2 Banjarnegara, yang tinggal di Desa Paseh Kecamatan Banjarmangu Banjarnegara.Penyuka olahraga ini memiliki moto hidup: “Jangan hidup dalam sebuah mimpi tapi hiduplah untuk mewujudkan mimpi!

12 thoughts on “Rindu Tak Berujung

  1. Rindu yang tak berujung dan harusnya memang takkan pernah berujung. Ada yang bilang cinta anak sepanjang galah, cinta ayah sepanjang jalan, dan cinta ibu dibawa mati. Cintailah ibumu lebih dari sepanjang galah jika bisa sama-sama dibawa mati. Percayalah orang tua kita pasti begitu menyayangi kita meski tidak ditunjukan secara langsung. Buatlah orang tua kita bangga dan bahagia saat mereka masih ada di dunia dan saat mereka telah abadi dalam damai.

    • Sebuah rindu ataupun kasih sayang untuk orang tua memanglah harus selalu mengalir, seperti halnya air yang mengalir tanpa ujung. Rasa sayang orang tua terkadang ditunjukkan bukan memberi apa yang kita ingin melainkan membatasi apa yang kita harap. Itulah kasih sayang orang tua yang terkadang di nilai salah oleh anaknya. Apapun itu, kita harus tetap membuat mereka bahagia atas apa yang kita lakukan.

  2. Ping-balik: Ibu Yang Sudah Tiada | Eomeoni…

  3. Rindu tak berujung sama pula dengan mencari kebahagian sejati yang tak akan mencapai titik tengah sebuah air mengalir🙂

  4. Meski Ibu tak terlihat tapi, akan berada di samping kita, kasih sayangnya akan terus mengalir, melihat senyum dan mengawasi tingkah laku anaknya. Ibu akan hadir dalam mimpi mengukir saat-saat indah di dalam mimpi.

  5. Dengan membaca cerpen ini para pembaca pasti akan lebih besyukur karena masih mempunyai ayah dan ibu serta pastinya akan lebih menyayangi mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s