Kado untuk Dahlan

Judul Buku : Sepatu Dahlan
Pengarang : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I, Mei 2012
Tempat Terbit : Jakarta Selatan
Tebal Buku : XVIII + 374 Halaman

Khrisna Pabichara lahir di Borongtammatea, kabupaten Janeponto sekitar 89 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau lahir pada tanggal 10 November 1975. Ayah dua orang putri yang sering disapa Daeng Marewa ini adalah penyuka prosa yang telah melahirkan sebuah kumpulan cerita pendek, Mengawini Ibu : Senarai Kisah yang Menggetarkan (Kayla Pustaka, 2010). Novel Sepatu Dahlan merupakan buku ke-14 yang telah dikarangnya. Kini Khrisna sedang giat-giatnya menggarap Surat Dahlan, novel kedua dari Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan yang kisah utamanya tentang perantauan Dahlan di Samarinda, pertama kali menjadi kuli tinta, sampai dengan saat membesarkan Jawa Pos. Selain itu beliau juga bekerja sebagai penyunting lepas dan aktif dalam berbagai kegiatan literasi.

Sepatu Dahlan merupakan novel pertama dari TrilogiNovel Inspirasi Dahlan Iskan karya Khrisna Pabichara yang banyak menggunakan bahasa Jawa khas Jawa Timur. Novel kedua dan ketiga yang rencananya berjudul Surat Dahlan dan Kursi Dahlan masih dalam tahap penulisan. Novel ini diawali dengan prolog pengisahan Dahlan Iskan yang terbaring di rumah sakit menanti saat pencangkokan hati. Dari sini mulailah cerita masa kecilnya berputar di bawah pengaruh obat bius.

Kebon Dalem dan ladang-ladang tebu menjadi saksi bisu kerasnya kehidupan Dahlan kecil bersama Zain, adiknya. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia bagi Dahlan. Nguli nyeset, nguli nandur, sampai melatih tim bola voli anak-anak juragan tebu dia lakukan demi membantu perekonomian keluarga dan mewujudkan dua cita-cita besarnya, sepeda dan sepatu. Perjalanan 12 kilometer pulang pergi tanpa menggunakan alas kaki ke Pondok Sabilil Muttaqien adalah pilihan Dahlan yang terakhir setelah SMP Magetan yang diimpikan gagal dimasuki karena faktor ekonomi dan tiga angka merah yang begitu mengecewakan ayahnya bertengger di ijazah SR Dahlan. Ditemani ayahnya yang penuh ketegasan, Ibu dengan senyum yang menentramkan, dan teman-teman akrabnya Qomariah dan Kadir, Dahlan melewati hari-hari dengan penuh keceriaan.

Cobaan demi cobaan membuatnya tegar dan pantang menyerah. Mulai dari kegagalan masuk SMP Magetan, meninggalnya sang ibu yang berujung dengan pencurian tebu karena dia dan Zain kelaparan, sampai tim volly yang dia pimpin wajib memakai sepatu saat pertandingan final antara PSM melawan SMP Magetan, sekolah Aisha. Aisha adalah anak gadis dari mandor Qomar yang telah menghembuskan geletar asing di dadanya. Empat kali pertemuan Dahlan dengannya membuat getar-getar cinta merasuki keduanya. Namun tak ada yang berani mengungkapkan tentang perasaan itu, hanya lewat surat kejujuran diantara keduanya terungkap. Lalu, bagaimana kelanjutan kisah cinta keduanya? Sanggupkah Dahlan mewujudkan dua cita-cita besarnya?

Alur campuran dalam Sepatu Dahlan membuat novel ini seperti sebuah teka-teki yang membuat pembacanya penasaran. Lembar pertama bercerita Dahlan yang sudah dewasa, kemudian berlanjut dengan cerita Dahlan kecil bersama dua cita-cita besarnya, sepatu dan sepeda, hingga akhirnya berujung pada surat cinta Aisha. Tiba-tiba cerita itu disambung kembali dengan cerita Dahlan yang sudah dewasa. Lembar kelanjutan dari surat cinta Aisha hingga akhirnya Dahlan Dewasa terbaring di rumah sakit tidak ada dalam novel ini. Bagian inilah yang menjadi teka-teki dan baru akan terjawab setelah novel kedua dan ketiga yaitu novel Surat Dahlan dan Kursi Dahlan diterbitkan. Penggunaan bahasa Jawa dalam novel ini yang tidak disertai artinya dapat menyulitkan pembaca yang tidak memahami bahasa Jawa dengan baik.

Novel Sepatu Dahlan merupakan kisah nyata dari perjalanan hidup Dahlan Iskan yang sekarang menjabat sebagai Menteri BUMN. Perjuangan, persahabatan, keluarga, dan rasa lapar yang menyiksa dirangkai indah dengan penggambaran latar yang jelas dan kalimat sederhana. Ditaburi bumbu cinta Aisha, membuat novel ini semakin lengkap untuk dibaca. Ada hal menarik dari novel bersudut pandang orang pertama ini, yang jarang dijumpai dalam novel lain, yaitu diary Dahlan yang ditulis dalam novel ini. Hal ini membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan apa yang terjadi dalam novel tersebut. Dahlan Iskan berharap semoga akan terselip inspirasi dan manfaat di novel yang menjadikannya inspirasi bagi penulisan novel Sepatu Dahlan.

Kemiskinan yang membelenggu hidup Dahlan bukanlah hal yang harus disesali. Dua cita-cita besarnya harus diraih dengan kesabaran dan tekad kuat tanpa mengeluh, karena baginya “Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya”. Novel ini pantas dibaca oleh semua kalangan terutama remaja bahwa cita- cita besar harus diraih dengan semangat dan optimisme. Kemiskinan bukanlah halangan untuk memperoleh pendidikan. (*)

Dwi Permata Sari Putri yang lahir di Banjarnegara, 7 September 1995 merupakan siswa Kelas XII IPA Keterampilan. Putri pasangan Bapak Moch Syaifudin dan Sri Yuliati ini tinggal di Semarang RT 01 RW 03 Banjarnegara.

Siti Nurdiyati yang lahir di Banjarnegara, 08 Mei 1994 merupakan siswa Kelas XII IPA Keterampilan. Putri pasangan Bapak Ratno dan Ibu Maryati ini tinggal di Argasoka RT 01 RW 05 Banjarnegara.

Teguh Amanahyang lahir di Banjarnegara, 15 Maret 1993 merupakan siswa Kelas XII IPA Keterampilan. Putri pasangan Bapak Samsul Basri dan Ibu Watini ini tinggal di Desa Bondolharjo RT 01 RW 07 Punggelan Banjarnegara.

Zaenati yang lahir di Banjarnegara, 4 Desember 1995 merupakan siswa Kelas XII IPA Keterampilan. Putri pasangan Bapak Winarmo dan Aminah ini tinggal di Beji RT 02 RW 03 Banjarmangu, Banjarnegara.

6 thoughts on “Kado untuk Dahlan

  1. Sebuah resensi karya bersama ini sengaja di-posting karena uraian di dalamnya begitu menarik, juga secara kebetulan sosok “Dahlan Iskan” sedang ramai diperbincangkan sepak terjangnya di tanah air.

    Selamat menikmati sajian ini, semoga bisa mendapatkan manfaat.

    • Ketika saya membaca novel karya Krisna Pabichara tersebut, saya jadi teringat masa-masa 12 tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD. Menempuh perjalanan yang hampir sama dengan perjalanan Dahlan menyusuri rindangnya hutan karet tempat saya dan keluarga melaksanakan program transmigrasi. Benar-benar novel yang penuh inspiratif.

      Semangat…!

      • Membaca resensi Sepatu Dahlan ini kembali membuat air mata menggenang di pelupuk mata. Betapa besar perjuangan beliau untuk 2 cita-cita besarnya, sepatu dan sepeda. Aku juga teringat bagaimana perjuangan menyusun resensi ini sampai jam tengah 8 malam di warnet. Pengalaman yang seru dan mengesankan…

        Ingatlah jangan pernah putus asa dan menyerah untuk sesuatu yang kita inginkan. Semangat, selamat dan sukses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s