Senyuman Terakhir Si Kecil

Aku tinggal di Karangtengah, sebuah desa kecildi Kabupaten Banjarnegara.Rumahku dekat dari sebuah sungai dengan aliran airnyabegitu kencang. Di sekitarnya terdapat beberapa kolam ikan yang kedalamannya mencapai 2 meter.Sawah nan hijau dan kebun dengan bermacam-macam bahan pangan, semakin melengkapi desa tempat aku tinggal sekarang. Hari-hariku terasa hangat ketika si kecil selau menemani.

Siapa si, si kecil itu?

Dia anak pertama dari mba dan mas-ku.Dia bernama Banu. Bocah kecil dengan bola mata bulat. Lahir pada tanggal 9 Juni 2011. Dia membawa kebahagiaan baru dalam keluarganya, sebuah anugrah yang terindah dari Allah Swt. Hari-hari terus kian terlewati dan umurnya pun semakin bertambah. Tahapan pertumbuhan bayi ia lewati penuh dengan suka cita. Aku tak akan pernah lupa kelucuannya, ketawanya, bahkan tangisannya. Sangat menggemaskan ketika dia mulai bisa merangkak. Dia merangkak menjelajahi lantai rumah ku, dengan penuh semangat dia berusaha merangkak dengan cepat. Sungguh keluguannya tidak bisa kubayangkan.

Sudah menjadi kebiasaan ketika sore datang, aku, mbak-ku dan si kecil jalan-jalan di sekitar rumah, dan pada waktu magrib, mbak-ku menyuapi si kecil yang sedang asyik bermain di rumahku. Kebiasaan itu berlangsung setiap hari dalam hidupku. Bagaimana mungkin aku tidak dekat dengannya, setiap hari setelah pulang sekolah aku selalu bermain dan menjaganya.

Tepat tanggal 9 Juni 2012 kemarin dia berumur satu tahun. Saat dia berumur sebelas bulan dia sudah bisa berjalan walaupun baru satu dua langkah. Ketika dia berusia genap dua belas bulan, jalannya semakin lincah, dan diadakan pula doa bersama untuk mengucapkan syukur kepada Allah Swt tentang semua nikmat ini. Semua anggota keluarga merasa bahagia dengan nikmat yang telah diberi. Aku juga merasa bahagia, karena hari-hari ku selalu diwarnai dengan canda tawa si kecil.

Pada tanggal 28 Agustus 2012 aku akan mengikuti acara buka puasa bersama dengan teman-teman, tetepi rasa malas tiba-tiba menghampiri. Setelah pulang dari sekolah, aku duduk di teras rumah. Kemudian aku duduk bersama sepupuku di depan rumahnya. Lalu si kecil datang menghampiriku, dia bersandar di kakiku dan tersenyum sangat manis kepadaku. Tidak lama kemudian mbak-ku datang menanyakan si kecil. Mungkin mbak-ku telah mempercayakan si kecil kepadaku untuk dijaga. Tapi setelah mbak-ku pergi, si kecil juga ikut pergi mengikuti di belakangnya.

Mbak, itu si kecil ngikutin di belakangnya”.

Aku yakin mbak-ku mendengar ucapan itu,” pikirku.

Itu terjadi sekitar pukul 14.30 WIB. Saat pukul 15.00 WIB, mbak-ku menghampiriku lagi. Dia bertanya di mana si kecil. Aku hanya bisa menjawab bahwa dia mengikutinya tadi. Tapi kenapa sekarang mbak-ku menanyakannya?. Seharusnya si kecil bersama dia..! Aku, mbak-ku, dan sepupuku berpencar mencari si kecil. Begitu banyak rumah warga yang telah dimasuki tetapi sikecil tidak ada juga. Ada seorang saksi mata, bahwa tadi dia melihat si kecil berjalan sendirian di depan rumah sedang berjalan ke arah selatan, lalu entah si kecil berjalan ke mana. Aku mempunyai firasat buruk. Aku menyuruh kepada sepupuku untuk mencarinya di sekitar kolam. Selang beberapa detik, ada suara teriakan dari sepupuku. Dia memanggil mbak-ku dengan kerasnya.

Aku,mbak-ku, dan orang-orang yang mendengar teriakan itu langsung datang ke sumber suara. Innanillahi, aku melihat tubuh bayi kecil terlentang di atas air kolam. Tanpa pikir panjang, mbak-ku terjun ke kolam, berenang untuk meraih tubuh kecil itu. Si kecil lalu dibawa ke darat, pertolongan terus diupayakan untuk menyelamatkan nyawanya. Semua orang tertegun dan menangis akan apa yang dilihatnya. Mas-ku sendiri sedang tetidur nyenyak, dia tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya. Mas-ku terkagetkan akan suara keramaian itu, dia bangun dan melihat apa yang terjadi. Mas-ku langsung terjatuh melihat tubuh si kecil terbujur lemas dan basah.mbak-ku juga pingsan-pingsan terus. Akhirnya, si kecil dibawa ke rumah sakit, bapakku yang membawanya.

Semua orang berharap nyawanya masih bisa tertolong. Kita semua menunggu berita, dan tangispun tidak bisa tertahan. Tangisan terus terdengar sampai akhirnya bapakku pulang dari rumah sakit membawa jenazah si kecil. Itu pertanda si kecil tidak bisa tertolong, si kecil telah meninggalkan semuanya. Tangisan semakin bertambah kencang, tidak menyangka kejadiannya seperti ini. mbak-ku masih pingsan-pingsan terus, mas-ku juga tertihat sangat kehilangan. Saat itu juga si kecil akan dimakamkan. Sebelum dia dimandikan, aku menciumnya dan memegang dadanya. Mukanya tampak tersenyum dan tubuhnya bagaikan anak yang sudah berumur lima tahun. Wajahnya dewasa, membuat aku semakin merasa kehilangannya.

Lalu dia dimandikan, dikafani, dan dishalati. Setelah itu aku juga ikut mengantarkan si kecil ke tempat terakhirnya. Tangis masih terus terdengar sampai pemakamannya. Semua orang bertanya-tanya,anak sekecil itu tidak mungkin melewati medan yang susah seperti itu sendirian untuk mencapai kolam. Aku pun tak menduga semua ini. Di sisi lain aku merasa menyesal, mungkin aku telah dipercaya oleh mbak-ku tetapi aku tidak menjaganya. Aku sangat merasa kehilangan, aku sangat sayang si kecil.

Selama seminngu keadaan mbakku sangat memperihatinkan, dia semakin stres, dia diam terus, mengurung diri di kamar. Sungguh aku semakin menyesal melihat keadaan ini. Aku hanya bisa memohon kepada Sang Pencipta.

Ya Allah, jadikan dia jembatan untuk mebahagiakan orang tuanya di akhirat nanti. Dan berikanlah tempat yang indah untuknya ya Allah…” pintaku dalam doa.

Aku terdiam dan menyadari bahwa saat dia bersandar di kakiku sambil tersenyum, ternyata itu adalah ucapan terakhirnya untukku. Dia sempat berpamitan pada-ku.

Terima kasih sayangku.”

Aku tidak akan pernah lupa senyumanmu, dan namamu akan selalu ada di setiap doaku. Kau si kecil kehidupanku. (*)

 

Anggita Meiliana Sariyang lahir Banjarnegara, 5 Mei 1995 merupakan siswa kelas XII IPA Keterampilan. Putra pasangan Bapak Siswanto dan Ibu Sudarsini ini tinggal di Karangtengah, Banjarnegara. “Jadilah dirimu sendiri, bangkit dengan kaki sendiri” adalah moto dalam langkah hidupnya.

3 thoughts on “Senyuman Terakhir Si Kecil

  1. Assalamu’alaikum ….
    Sahabat… kesabaran dan keikhlasan adalah teman yang baik saat kita kehilangan sesuatu yang amat berharga bagi kita. Berdoalah semoga dia menjadi anak yang berbakti meski dia belum mengerti dan mungkin tidak akan pernah mengerti arti kata itu. Alloh lebih mengerti apa yang terbaik untuk kita. bersabarlah….

  2. assalamu’alam wr. wb.
    Allah akan memberikan kepada semua hamba-hamba-Nya yang beriman, cobaan itu menandakan rasa cinta kasih-Nya, Allah ingin mengetahui seberapa sabarnya dia, dan itulah Allah yang sangat mencintai kepada manusia yang sabar.

    Bersabarlah, semua pasti ada hikmahnya, do’a dari seorang ibu kepada anaknya pasti tersampaikan, dan dikabulkan Allah.
    Nabi saw bersabda “anak yang meninggal, ia akan menjadi dinding untuk orang tuanya agar terhundar dari siksa neraka”,

    Semoga keluarga mba Anggi akan mendapat kebahagiaan lagi yang diberikan Allah. amien

    wassalamu’alaikum wr. wb.

    Semangat, salam kreatif

  3. assalamu’alaikum wr.wb
    Terimakasih atas dukungan dari teman-teman. Kesabaran memang menjadi pangkal bagaimana orang menghadapi sebuah cobaan dari Allah SWT, dan semoga si kecil ku bisa menjadi jembatan untuk ke dua orang tuanya. Amiiin
    Wassalamu’alaikum wr.wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s