Selalu Salah

Cerpen Wiwit Hermawati

Saya pikir saya terlahir seperti anak-anak pada umumnya, memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Tapi mereka selalu menganggap saya beda, saya lain dari mereka, entah apa yang membuat mereka beranggapan seperti itu. Apapun yang selalu mereka katakan, saya tak pernah menganggapnya serius dan lebih mengabaikan apa yang di ucap mereka. Bukan karena saya sombong dan tak mau mendengarkan penilaian orang lain. Namun, lebih kepada saya yang hanya mau mendengarkan perkataan yang baik-baik saja.

Saya selalu salah di mata mereka, semua yang saya lakukan tak ada yang benar di mata mereka. Saya selalu disalahkan. Saya sadar saya memang salah, dan mungkin selalu salah. Introspeksi diri dan berusaha memperbaikinya, mungkin itu yang sering saya lakukan. Tapi sayangnya, ini tak semudah seperti apa yang saya bayangkan. Tapi tak apa, memang beginilah saya apa adanya. Tak apa jika saya beda dari mereka.

Memang sejak kecil saya sering melakukan sebuah kesalahan. Mayoritas apa yang saya lakukan selalu salah.

Nak, belikan Ibu tepung terigu satu kilo, uangnya di meja,” perintah ibu suatu ketika.

Iya, Bu,” sahut saya.

Entah apa yang sedang saya pikirkan, hingga saya keliru membeli minyak goreng.

Ini Bu…”

Lho… kenapa minyak goreng? Bukankah Ibu menyuruhmu untuk membeli tepung terigu?”

Ah, iya Bu, maaf saya salah Bu, he… he…” saya menjawab perkataan ibu dengan senyuman, seolah-olah seperti anak yang tak berdosa.

Hal seperti itu sudah biasa saya lakukan berkali-kali saat ibu menyuruh saya membelikan sesuatu. Mungkin karena saya mengabaikan pekataanya dan meremehkan perintahnya, jadi apa yang saya lakukan ketika diperintah lebih banyak salahnya dibanding dengan benarnya.

Ketika saya sudah duduk di SMP kesalahan seperti ini masih biasa saya lakukan, entah itu di sekolah ataupun di rumah. Sewaktu bel istirahat berbunyi tanda waktu istirahat berakhir, saya masih santai makan di kantin. Sadar bahwa bel istirahat sudah berlalu cukup lama, saya langsung berlari menuju kelas. Karena baru masuk SMP dan belum terlalu hapal dengan lokasi kelas, jadi langsung saja saya membuka pintu dan masuk ke dalam sebuah kelas yang sudah memulai pelajaran kembali. Saya belum begitu paham dengan anak-anak kelas dan tidak menyadari hal ini.

Anak-anak kelas 7-A pastinya pintar-pintar kan? Jadi, silakan maju dan jawab soal yang Ibu berikan di papan tulis,” perintah seorang guru yang sedang mengajar matematika.

Hah, 7-A? Apa mungkin guru ini salah menyebutkan kelas? Kelas saya di 7-B, bukan 7-A,” gumam saya yang sedikit agak kebingungan.

Setelah satu jam pelajaran di sini, saya yang masih kebingungan dengan kata-kata Bu Guru yang selalu menyebutkan bahwa ini adalah kelas 7-A, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

Maaf Bu, kenapa ibu bilang dari tadi bahwa ini adalah kelas 7-A? Bukannya ini kelas 7-B ya Bu?” tanya saya dengan malu-malu.

Ini memang kelas 7-A, apa kamu bukan anak kelas sini?” tanya kembali guru tersebut sambil menghampiriku yang duduk sendiri di pojok belakang.

Hah 7-A Bu?!” saya terkaget dan menghentikan sejenak kata-kata yang ingin saya sampaikan.

Semua anak dalam kelas terdiam, saya semakin salah tingkah ketika mereka semua memandang ke arah saya. Keringat dingin bercucuran, bibir bergetar tak sanggup meneruskan kata-kata yang ingin diucapkan. Pojok kelas serasa berubah menjadi suram. Akhirnya, saya meneruskan apa yang ingin saya katakan.

Oh, 7-A ya Bu. Maaf Bu, saya salah kelas, saya kelas 7-B…”

Sontak hal ini seperti sebuah lawakan, satu kelas termasuk gurunya menertawai saya. Saya bagai seorang pelawak gratisan untuk menghibur mereka. Saya yang sudah begitu merasa malu, akhirnya keluar kelas dengan tertunduk.

Itu kesalahan yang memalukan saat saya di sekolah. Malamnya saya kembali melakukan kesalahan yang memalukan. Karena terburu-buru berangkat shalat tarawih, saya asal memakai sandal. Entah sandal seperti apa yang saya gunakan, saya benar-benar tak bisa mengingatnya. Saat pulang tarawih kebingungan mulai menghampiri saya. Saya tidak tahu alas kaki mana yang akan saya kenakan untuk dibawa pulang. Tuhan memang sangat berbaik hati, memberikan petunjuk untuk hambanya yang sedang kebingungan seperti saya. Saya yang melihat sepasang alas kaki seperti yang biasa dikenakan ibu, akhirnya saya memakainya. Ah… ternyata sandal ibu sudah berada di teras depan, ini berati ibu sudah pulang dan sandal yang saya pakai bukan milik ibu. Ternyata, saya kembali melakukan sebuah kesalahan lagi.

Bu, ternyata ibu sudah pulang dulu.”

Iya…”

Tadi sewaktu berangkat saya lupa menggunakan sandal yang mana, waktu pulang saya lihat sandal yang sama persis seperti punya ibu, jadi saya pulang memakai sandal itu. Saya kira itu sandal ibu, eh malah bukan, he… he…” jelas saya.

Kamu ini, selalu saja salah seperti ini…” jawab ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ibu yang kembaliin sandalnya, terus ambilin sandal saya ya. Saya malu, Bu,” pinta saya kepada ibu.

Iya…” jawab ibu yang langsung keluar dari kamarnya.

Kebiasaan untuk kesalahan-kesalahan seperti ini masih saja terjadi ketika saya sudah menyelesaikan belajar di bangku Madrasah Aliyah. Begitu pula saat akan berangkat merantau jauh mencari ilmu, menjadi seorang anak kuliahan, saya kembali melakukan kesalahan yang tidak kalah memalukannya. Ketika di bus saat perjalanan menuju kota Malang ponsel yang saya gunakan mati, untung saja saya membawa cadangannya. Tapi sayangnya, ponsel yang saya pakai tidak ada nomor telepon orang tua maupun teman-teman saya karena nomor-nomor mereka tidak tersimpan dalam sim card. Jadi percuma juga, karena saya tidak bisa menghubungi seorangpun.

Sesampainya di Malang saya langsung menuju Hotel untuk menginap sementara. Berhubung ponsel saya sedang di isi baterainya jadi saya mengirim pesan singkat untuk ibu menggunakan ponsel yang sama sekali tidak ada nomor-nomornya. Saya hanya hapal nomor ibu, jadi hanya ibu yang saya beri kabar.

Saya yang sedikit mengantuk tidak mengecek ulang nomor yang saya ketik. Ketika dalam keadaan mengantuk saya biasa mengetik sms ataupun nomor dengan tidak jelas dan terkadang salah. Satu jam kemudian saya yang sedang tidur terbangunkan oleh suara ponsel yang terus berdering. Saya kaget, ketika saya baru mengangkat ponsel tiba-tiba si penelepon marah-marah tidak jelas dan memaki saya habis-habisan. Saya hanya diam dan mengiyakan semua perkataannya.

Ini mimpi atau nyata? Orang salah sambung kenapa memarahi saya seperti ini? Sangat-sangat dan sangat galak sekali pria ini…” kata saya dalam hati.

Langsung saja saya matikan telepon karena merasa sangat terganggu.

Ketika sim card saya sudah terpasang kembali ke ponsel yang biasa saya gunakan, ternyata saya salah kirim sms. Saya salah ketik satu nomor di belakang. Pantas orang tadi marah-marah. Tapi apa yang saya perbuat? Bukankah itu hanya sebuah sms biasa? Merasa bersalah sekaligus penasaran akhirnya saya menelepon balik pria yang tadi memaki saya. Saya meminta maaf dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengannya hingga ia marah-marah. Pria itu menceritakan semuanya, dia membuat saya kembali merasa bersalah.

Ternyata orang yang menerima sms ini adalah seorang ibu yang baru pulang dari pemakaman anaknya. Kebetukan ponsel yang biasa digunakannya sedang rusak, jadi dia menggunakan ponselnya yang lain, yang dalam ponselnya tersebut tidak ada nomor satupun. Si ibu yang menerima sms dari langsung pingsan. Ini isi pesan saya:

To: 0866667778889

Bu anak mu ini sudah sampai. Alhamdulillah sampai dengan selamat. Tadi sebelum sampai disini saya kepanasan, merasa sangat panas, bahkan panasnya lebih dari tempat kita. Tapi, setelah sampai tempat tujuan ternyata tempatnya sejuk. Tempat tidurnya nyaman dan ada AC-nya. Saya dilayani dengan baik, mungkin saya akan betah di sini. Bagaimana keadaan ibu di sana? Meski baru sebentar tapi saya sudah sangat merindukan ibu. Saya selalu menunggu ayah dan ibu untuk menyusul ke sini. Saya tunggu kedatangan kalian… Jika kalian tidak secepatnya datang untuk menyusulku, aku akan mejemput kalian ke sini untuk menemaniku…!😀

Oh Tuhan…! Lagi-lagi saya salah! Pantas ibu itu pingsan setelah membaca sms dari saya,” kataku dalam hati, kesal sembari memegang kepala, “Kenapa hambamu ini selalu salah?”

Mungkin ini yang membuat mereka selalu mengatakan bahwa saya berbeda dengan mereka. Saya selalu melakukan kesalahan. Celakanya, kesalahan saya ini sering kali merupakan kesalahan yang sangat memalukan. (*)

….

Wiwit Hermawati lahir Banjarnegara 26 Oktober 1995 merupakan siswa Kelas XII IPA 4 MAN 2 Banjarnegara, yang tinggal di Desa Paseh Kecamatan Banjarmangu Banjarnegara.Penyuka olahraga ini memiliki moto hidup: “Jangan hidup dalam sebuah mimpi tapi hiduplah untuk mewujudkan mimpi!”

 

11 thoughts on “Selalu Salah

  1. Assalamu’alaikum..

    Buat temanku, Wiwit. Jangan pernah menyerah untuk memperbaiki kesalahan. Cobalah berpikir kalau kamu itu harus berbuat yang benar. Fokuskan hatimu untuk melakukan yang benar. Bersemangatlah!!!!!

  2. Kita dilahirkan bukan karena sebuah kesalahan, tapi karena sebuah perjuangan.
    Tak ada manusia yang hidup di dunia ini selalu salah. Asal ada kemauan untuk berubah menjadi lebih baik, jalan itu selalu terbentang luas. Jadi jangan pernah putus asa untuk menjadi orang yang lebih baik, karena pepatah mengatakan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.
    Selamat berusaha sahabat…..

  3. Apapun yang terjadi pada diri seorang manusia,bukanlah merupakan suatu kesalahan.Apapun itu,itu adalah tantangan yang harus menjadikan diri kita menjadi lebih dewasa .Apapun itu hadapilah dengan senyuman.Cayoo dek ^_^ .

  4. cerita itu bagaikan menggambarkan kehidupanku.

    Kesalahan memang wajar, tetapi apabila terlalu sering semangat kita akan semakin turun, dan menganggap dirinya tidak berguna, padahal setiap manusia pasti ingin menjadi yang berguna bagi manusia lain. Mungkin dengan semangat baik yang ada dalam diri kitalah yang akan merubah perilaku tersebut. Karna Allah selau dengan kita. Aku pernah mendengar kata-kata “Apabila kita ingin mendekat dengan kebaikan maka Allah akan selalu menolong hamba-Nya itu”.
    so “You’ll Never Walk Alone”. hehehee🙂

    • Cerita seperti ini memang banyak dialami oleh manusia pada umumnya, dimana kita selalu lupa akan hal-hal kecil.

      Kita memang membutuhkan semangat lebih untuk mengubah kebiasaan buruk yang ada dalam diri kita. Kebiasaan memang sulit dirubah, tapi dengan keyakinan pasti kita bisa.
      Terimakasi kawan🙂

  5. Kesalahan merupakan jalan awal untuk menjadi lebih baik. Apabila kita tak pernah melakukan kesalahan, apakah kita akan berusaha untuk menjadi lebih baik kawan ? tentu itu hal yang sulit dan jarang dilakukan, terutama seusia kita ini yang lebih cenderung melakukan sesuatu yang kita anggap baik, padahal itu belum tentu baik.
    Jadi, bersemangatlah untuk memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan. Jadikan kesalahan untuk kita selalu instropeksi diri. Okee !
    Bukankah Allah lebih menyukai hamba-hamba-Nya yang selalu berusaha memperbaiki dirinya, terutama dalam mendekatkan diri kita kepada-Nya.

    • Kita takkan pernah tau apa yang benar tanpa kita pernah melakukan kesalahan. Kesalahan bukanlah suatu hal yang harus kita takuti untuk mencoba hal baru. Tapi setidaknya kita mau dan mampu berusaha menjadi lebih baik dan meminimalisir kesalahan. Bukan hal mudah, tapi akan lebih sulit jika kita tidak mau berusaha mencoba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s