Hidupku Inspirasiku

Cerpen Moh. Nasihin Ngibad

Semilir angin pagi menyelinap masuk menjamah seluruh kamar sederhana yang sekian lama aku tempati. Aku masih termangu di balik jendela kayu berwarna merah pucat.

“Kapan itu tidak masalah bagiku,” tuturku lirih.

Menatap foto kedua orang tuaku. Foto kusut mereka nyaris membuatku selalu berandai-andai. “Kring.. kring…!” jarum jam berdentang begitu cepat, secepat angin yang berhembus ketika aku keluar dari kamar dengan cat putih tanpa hiasan apapun. Pukul enam lebih dikit. Sebenarnya bukan masalah malas atau tidak malas, tapi memang pagi ini dinginnya bukan main.

“Dinginnya bagaikan di Kutub Utara!” pikirku ringan.

***

Pergi sana.. Mengganggu saja!” teriakan nenek di belakang terdengar nyaring.

Biasa, nenekku sibuk mengusir ayam-ayam milik tetangga yang mencoba masuk lewat pintu belakang. Aku hanya tinggal bersama nenek. Kedua orang tuaku sudah lama berpisah. Sejak usiaku masih enam tahun. Hari–hari bersama nenek tidak lekas membuatku patah semangat. Ada impian yang besar terbenak dalam diriku. Jauh dari kasih sayang orang tua, tidak ada tempat untuk meluapkan senang maupun sedih. Bagiku itu sesuatu yang harus aku jalani.

***

Seperti biasa, ada jadwal otomatis yang harus aku laksanakan. Pergi bersama teman mencari kayu untuk dijadikan bahan bakar. Maklum, kami tinggal di rumah sederhana berdinding kayu.

“Jangan buat hidupmu susah dengan impian itu!“ ucap Bara, temanku sedari aku kecil.

Seakan–akan dia mendesakku untuk mematahkan mimpi-mimpi itu.

Aku tidak merasa susah! Aku senang dengan impian–impianku!“ sahutku ringan. Sambil memasukkan secarik kertas ke dalam saku kemeja.

Huh… sudahlah! Kita selesaikan pekerjaan kita dulu! Capek berdebat terus dengan kamu!“ Bara menghentikan celotehannya.

Dia segera mengangkat kayu bakar dan bergegas pulang. Sementara aku mengekor di belakanggnya, dan masih terus berpikir tentang ucapan Bara tadi.

***

Gerimis datang. Membawa harapan baru bagi semua makluk. Kemarau panjang sudah usai. Siksaan bagi tanaman yang kekeringan, ikan yang kehausan, sirna tatkala gerimis–gerimis itu kini menjelma menjadi hujan lebat disertai petir dan halilintar. Aku duduk termangu di samping jendela kamar, sembari menatap tetes demi tetes air yang yang jatuh dari atap rumah.

Aku pasti bisa meraih mimpi–mimpiku!“ gumamku dalam hati.

Jangan terlalu banyak mimpi!!“

Ah… ucapan nenek pasti itu-itu saja.“ Ucapan–ucapan itu hampir setiap hari menusuk gendang telingaku. Aku biarkan saja ucapan nenek.

“Akan aku buktikan kelak!!“

Hatiku bergolak. Seakan ingin mematahkan kata–kata itu. Ditemani radio kecil, kudengarkan lagu–lagu yang diputar. Sesekali aku iseng mengirimkan SMS, sekedar meminta lagu favoritku.

Hampir tengah malam. Mataku belum kunjung terpejam. Terus berkedip menatap cahaya ribuan bintang yang terlihat di sela–sela atap rumah. Hujan lebat tadi sudah berhenti ketika adzan Maghrib berkumandang. Malam yang sunyi mengiringi keterjagaanku.

***

Siang ini di rumahku terdengar berbeda. Suasana sepi yang setiap hari selalu menemani hilang tatkala terdengar canda tawa anak–anak kecil. Ya, cucu-cucu nenek yang lain datang.

Baguslah! Setidaknya aku bisa beberapa saat pergi ke rumah Bara. Sekedar ngobrol di pelataran rumah,“ ujarku dan terus meninggalkan rumah kecil tempat aku bernaung.

Aku dukung mimpimu!” Tiba-tiba Bara mengagetkanku.

Dia muncul di balik tumpukan batu bata.

Jangan meledek-ku lagi!!“

Aku belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Bara. Aku tahu sifat dia, sukanya meledek orang lain.

Nggak percaya?“ Bara mengernyitkan kening. Mencoba meyakinkanku dengan ucapannya tadi. Aku hanya mengangkat kedua tangan dan masa bodo dengan ucapan Bara.

Raih mimpi-mimpimu dan teruslah berjuang!!“ Bara meneruskan ucapannya.

Pasti!!!“ jawabku

Terima kasih kawan atas dukungannya,“ aku menepuk bahu Bara.

***

Usai Sholat Maghrib, aku dipanggil tanteku untuk ke rumahnya. Biasa, diajak ngobrol-ngobrol dan nonton TV.

Tante tadi ketemu sama teman Tante. Dia guru di SMA. Katanya tahun ini ada kejar paket.“

Beneran, Tan?!“ Mataku berbinar. Seakan ada harapan baru.

Coba kamu SMS Om kamu! Siapa tahu Om kamu mau membiayai kamu sekolah.“

Tante menyuruhku menghubungi Omku yang ada di Kalimantan. Aku bangga punya Tante yang selalu mendukung, membantu dan tidak jarang memberiku nasihat-nasihat untuk masa depanku. Bagaikan melayang dengan sayap kokoh menembus tebalnya awan. Omku sanggup membiayai aku untuk belajar lagi di sekolah. Bukan kejar paket!! Tegasku. Tapi ini benar – benar sekolah. Tempat menuntut ilmu meraih masa depan yang pasti.

Alhamdulillah...“

Aku ucapkan rasa syukur pada Tuhan yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang. Terima kasih Nenek, terima kasih Bara, terima kasih Tante, dan terima kasih Om. Terima kasih juga saudara–saudara dan tetangga–tetanggaku.

Di akhir kisah ini, aku akan berpesan kepada teman-teman, khususnya yang mengalami nasib sama seperti aku. Teruslah berdoa, berjuang, dan ayo jangan mudah menyerah! Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia… (*)

***

Moh. Nasihin Ngibad yang lahir Banjarnegara, 14 November 1991 sekarang duduk sebagai siswa kelas XII IPA Keterampilan. Putra pasangan Bapak Mohammad Hasyim dan Ibu Parsiyah ini tinggal di Desa Gunungjati Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara. “Keinginan adalah keberhasilan yang sedang diupayakan” adalah moto yang selalu mengiringi langkah hidupnya.

12 thoughts on “Hidupku Inspirasiku

  1. assalamualaikum…

    terimakasih sobat. Setelah membaca cerpen sobat di atas, hidup saya menjadi lebih terarah, karena cerpen sobat sangat menginspirasi dan menghidupkan semangat hidup saya.. mudah-mudahan karya sobat lebih banyak menginspirasi orang lain di manapun.

  2. Man jadda wa jadda…
    Masih ingat kan sobat kata-kata di atas?.
    Jadi teruslah bermimpi dan mewujudkannya dalam dunia nyata, agar mimpi itu bukan sekedar angan-angan yang sia-sia belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s