Hidup Semangat dan Bermanfaat, Bahagia Dunia Akhirat

Oleh Amanah D’Penzy

Hidup adalah sebuah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepadaku. Tanpa hidup ini, aku tidak tahu dan tidak akan pernah tahu arti sebuah perjuangan, arti sebuah pengorbanan dan usaha untuk menjadi lebih baik dan yang terbaik, membawa manfaat untuk orang lain, mencintai orang yang aku sayangi dan membahagiakan orang yang menyayangi aku.

Hidup yang aku jalani bukanlah hidup yang sempurna. Tetapi juga bukan hidup yang tidak bahagia. Hidup aku sangat bahagia, bahkan mungkin aku adalah orang paling bahagia di dunia ini. Aku mempunyai pahlawan-pahlawan yang sangat menyayangi dan mengasihi, sehingga mereka menjadi idolaku dari semenjak lahir hingga detik ini.

Sebenarnya hidup ini biasa saja atau bahkan kurang karena salah satu pahlawan hidupku, yaitu Ayah, pergi meninggalkanku dan keluarga menghadap Sang Pencipta di keabadian. Saat itu raga ini masih dalam rahim ibu tercinta. Aku dilahirkan di sebuah desa yang masih asri. Saat usiaku 6 bulan, ayah meninggalkan aku dan keluarga. Jumlah kami tidak sedikit, 8 orang. Ibuku harus menjadi tulang punggung keluarga agar kehidupan kami tetap berjalan. Beliau berjuang seorang diri mencari nafkah karena saat itu kakakku yang tertua baru duduk kelas 6 SD.

Beliau banyak mengajari aku ilmu dunia dan akhirat serta arti sebuah kehidupan. Aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang penuh dengan aturan. Tiada waktu tanpa aturan. Menurut ibu hidup akan lebih teratur dan aman dengan aturan. Tidak ada sanksi fisik yang beliau berikan, hanya nasihat-nasihat yang kadang membuat aku merasa bersalah karena telah melanggar aturan yang telah dibuat beliau. Sebenarnya peraturan itu juga demi kebaikanku, hanya saja aku belum menyadarinya saat itu.

Dari hidup yang biasa aku ingin menjadi luar bisa. Menurutku hidup bukan hanya mengikuti takdir tetapi hidup adalah suatu perjuangan, suatu pengorbanan untuk meraih sebuah kesuksesan yang sesungguhnya. Kesuksesan tidak bisa diraih dengan begitu saja tetapi memerlukan usaha, pengorbanan dan semangat, serta modal yang cukup. Salah satu modalnya adalah pendidikan. hidup tanpa pendidikan ibarat orang buta kehilangan tongkat. Dia tidak bisa hidup dengan baik. Hidup hanya sekali maka harus aku gunakan hidup ini untuk sesuatu yang berguna baik di dunia maupun di akhirat, untuk diri sendiri maupun orang lain, serta untuk membahagiakan orang-orang yang aku sayangi.

Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, asal kita mau berusaha pasti ada jalan. Inilah yang membuat aku bersemangat untuk berusaha dan berusaha mewujudkan cita-cita. Cita–citaku sederhana, ingin menjadi seorang guru. Sebuah cita-cita yang telah terukir sejak lama dalam memory-ku, yaitu sejak aku masih di bangku SD. Tapi, ternyata jalan menggapai cita- cita ini tidak mudah untuk aku lalui dengan tangan kosong. Pendidikan yang tinggi adalah bekal hidup aku menjemput cita–cita tersebut. Dan salah satu syarat dari sebuah pendidikan adalah biaya. Faktor biaya cukup membuat aku kesulitan dalam pendidikan. Sebab ibu aku hanya seorang petani biasa. Apalagi, beliau masih membiayai aku dan ketiga kakak perempuanku yang sekarang sedang menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren.

Kenyataan bahwa aku anak desa yang sudah tak berayah membuat napas ini terasa berat. Tapi, dari sinilah aku ingin membuktikan bahwa anak desa tidak selamanya tertinggal, tidak berpendidikan, dan tidak sukses. Anak desa juga bisa mempunyai cita-cita yang tinggi dan sukses daam hidupnya. Walaupun dengan biaya yang pas-pasan, aku tetap ingin bersekolah setinggi-tingginya hingga cita-citaku tercapai. SD dan SLTP aku tempuh di desa tetapi untuk SLTA aku ingin di kota, aku ingin suasana yang baru. Ibuku tidak menyetujui keinginan tersebut. Karena jarak rumah dan sekolah lumayan jauh, ibu dan kakak menyarankan untuk kost di kota.

Awalnya aku tidak begitu yakin bisa hidup jauh dari ibu yang menjadi pahlawan hidupku yang pertama. Hal ini berlangsung selama beberapa minggu. Sering aku merasa sedih dan bersalah telah meninggalkan ibu sendirian di rumah, apalagi awalnya beliau tidak begitu setuju aku bersekolah di kota. Alasan beliau singkat. Beliau tidak ingin anak bungsunya tinggal jauh dari beliau. Begitu besar cinta beliau untukku, dan begitu luas samudra kasih yang beliau limpahkan untukku. Tapi, hingga detik ini aku belum bisa membalas jasa-jasa beliau. Bukti cinta yang lain dari beliau adalah beliau menyekolahkan aku lebih tinggi daripada kakakku meskipun dengan susah payah. Aku sangat bersyukur bisa melanjutkan sekolah.

Lalu, apakah aku sekolah hanya sekedar berangkat lalu pulang dan biasa-biasa saja? TIDAK…! Aku harus berusaha, sekolah yang sungguh-sungguh agar perjuangan beliau tidak sia-sia. Dalam hati aku bulatkan tekad dan keyakian bahwa sekolah di kota ini akan aku niatkan ibadah, dan bekal mencari ilmu untuk mengubah nasib aku menjadi lebih baik dan membuat bahagia ibu aku kelak. Melihat aku yang begitu bersemangat, akhirnya beliau merelakan kepergian aku ke kota. Dengan segudang doa dan restu dari beliau, langkah aku semakin yakin bahwa inilah jalan hidup aku mewujudkan cita-cita. Pahlawan aku yang kedua adalah kakak laki-laki aku. Kini beliau sudah menikah dan punya satu orang anak. Meskipun begitu beliau masih sangat menyayangi aku seperti dulu sebelum beliau menikah. aku menganggap beliau adalah malaikat kedua setelah ibu aku yang Allah Swt turunkan untuk aku, sebagai pengganti ayah aku, meskipun demikian posisi ayah tidak akan pernah bisa terganti.

Kakak aku adalah orang yang mendukung aku untuk sekolah yang tinggi walaupun harus jauh dari rumah. Beliau mengatakan sekolahlah yang kamu suka, karena apabila kamu suka maka kamu akan berusaha menjadi yang terbaik. Kata-kata ini menjadi sebuah motivasi bagi aku untuk semakin berusaha menjadi yang terbaik. aku merasa bersalah dan berdosa jika aku mengecewakan beliau.

Aku masih teringat jelas perjuangan dan pengorbanan beliau. Saat itu aku masih di rumah. Langit mendung tak bersahabat, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Jam telah menunjukkan pukul 06.05 WIB, itu artinya aku harus segera berangkat sekolah. Waktu terus berjalan, dan aku berharap dan terus berharap agar dapat berangkat sekolah tepat waktu. Tetapi, ternyata hujan tidak kunjung reda. Lima belas menit berlalu, kakakku memutuskan untuk berangkat saja meskipun hujan masih deras. Akhirnya kami berangkat.

Aku melihat tangan beliau kebiruan menahan dingin, bajunya basah. Apa ekspresi beliau ketika kami akan berpisah? Beliau memberi senyuman, aku jabat tangan yang kedinginan itu untuk mohon izin. Tak sedikitpun wajah yang lelah itu beliau tampakkan. Sungguh mulia pengorbanan beliau tapi sampai saat ini aku belum bisa membalas jasa beliau.

Kalau kebetulan motivasi belajarku melemah, semangatku layu, aku ingatkan lagi pada diri ini. Siapa diri aku? Apa tugas dan cita-citaku? Apa aku sanggup untuk mengecewakan pahlawan-pahlawanku? Aku mantapkan dalam hati. Aku adalah anak desa yang mempunyai cita-cita yang tinggi dan ingin membahagiakan, serta membuat bangga para pahlawan-pahlawanku. Sejak aku sekolah jauh dari mereka, aku mendapatkan banyak pelajaran, baik yang menyenangkan maupun tidak. Dan, pelajaran yang paling berharga adalah berupa kesadaran bahwa mutiara paling berharga di dunia ini adalah keluarga.

Keluarga adalah teman di kala sepi, penghibur di kala lara, dan tempat berkumpul saat bahagia. Keluarga adalah hadiah terindah yang Tuhan beriakan untukku. Pahlawan yang ketiga menurutku adalah ketika aku jauh dari ibu dan kakak aku, mereka adalah orang- orang yang cerdas, berhati mulia dan penyayang, yang telah mengajari, membimbing, dan menjadi orang tua kedua aku setelah orang tua di rumah. Mereka adalah pahlawan yang memberi aku dorongan semangat, membekali aku dengan segudang ilmu yang kelak bermanfaat untuk kehidupan. Aku bahagia ada di tengah-tengah mereka. Dengan dorongan semangat dan doa dari mereka, semangatku bangkit dan berapi-api yang siap menyongsong masa depan, dan menggapai cita-cita.

Aku sadar bahwa tidak ada hidup yang sempurna di dunia ini, baik di masa lalu maupun masa yang akan datang. Semua mempunyai sesuatu kekurangan. Tinggal bagaimana orang tersebut membuat kekurangan itu menjadi suatu kelebihan yang mampu menutupi kekurangan. Semua orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda, tidak ada yang sama. Baik itu datar saja atau bahkan berliku-liku. Tapi, aku yakin bahwa hidup itu bisa diubah untuk menjadi lebih baik, dan menjadi yang terbaik dengan jalan mempunyai prinsip hidup yang jelas yang mampu membawa kita perubahan yang kita tuju dan mewujudkan cita-cita.

Prinsip hidup adalah sesuatu yang berpengaruh besar terhadap usaha dan semangat kita dalam menjalani hidup ini. Untuk itu aku sadar, aku harus mempunyai prinsip hidup yang kuat dan mapu menjadi pegangan hidup aku dalam menjalani hidup ini. Prinsip hidup aku adalah hidup semangat bahagia dunia akhirat. Menurutku hidup di dunia ini harus penuh semangat. Karena tanpa semangat, aku mungkin tidak akan mempunyai cita-cita yang tinggi dan tidak akan bersekolah sampai detik ini, bahkan mungkin aku tidak akan ada di dunia ini. Tapi dengan semangat aku yang tinggi dan tekad yang kuat, aku ingin menunjukan pada dunia, inilah aku anak desa yang ingin mendapatkan pendidikan yang tinggi sehingga bisa mewujudkan cita-cita dan hidup yang sukses.

Bagiku pendidikan adalah penerang dalam menuju kehidupan sesungguhnya, sekaligus sebagai bekal agar aku bisa hidup dengan lebih baik, dan membuat orang yang aku sayangi bahagia. Hidup di dunia ini terasa kosong apabila hidup kita tidak membawa manfaat bagi orang lain. Karena, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Berbuat baik kepada orang lain kadang terasa sangat berat, kadang kita tidak mau melakukannya karena takut kita rugi. Tetapi justru itulah yang ibu aku ajarkan. Berbuat baiklah kepada orang lain dan jadikan hidupmu bermanfaat untuk mereka, agar hidup di dunia ini tidak sia-sia. Jika kamu mampu melakukan itu artinya hidupmu sudah berguna dan kamu akan hidup bahagia di dunia dan kelak di akhirat. Nasihat beliau ini masih aku ingat dan ingin terus aku amalkan, meskipun hatiku tidak bisa sebening embun dan selembut hati malaikat. Semua manusia di dunia ini pasti menginginkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat, begitupun aku.

Untuk bahagia di dunia yang harus aku lakukan adalah berusaha, berdoa dan pasrah setelah berusaha secara maksimal untuk menjadi lebih baik dan mewujudkan apa yang yang aku cita-citakan. Salah satu jalan yang aku pilih dalam berusaha adalah berusaha di jalur pendidikan. Dengan pendidikan yang bagus dan baik , maka hidup ini akan menjadi lebih baik. Kebahagiaan akhirat bisa di capai dengan ibadah yang rutin, berbakti dan mematuhi nasihat orang tua juga menjadi salah satu syaratnya.

Dari kenyataan hidup yang sederhana ini aku terinspirasi untuk mampu menjadi yang luar biasa, menjadi lebih baik, dan menjadi yang terbaik. Dengan demikian, pahlawan-pahlawan di hati dan orang-orang yang aku cintai dapat ikut merasakan kebahagiaan dan kebanggaan. Andaikan itu semua terjadi, betapa berartinya hidup aku ini. (*)

Amanah D’Penzy adalah nama pena Teguh Amanah lahir di Banjarnegara, 15 Maret 1993. Sekarang duduk di kelas XII IPA Keterampilan. Putri pasangan Bapak Samsul Basri dan Ibu Watini ini masih tinggal bersama orang tuanya di Desa Bondolharjo RT 01 RW 07 Punggelan Banjarnegara.

7 thoughts on “Hidup Semangat dan Bermanfaat, Bahagia Dunia Akhirat

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Amanah…

    Namanya sahaja sudah cukup menginspirasikan ibunda dan kakak lelaki untuk memegang amanah dari sang ayah yang sudah lama pergi tanpa pernah melirik wajah yang ditinggalkan. Bunda cukup terharu dan tersentuh dengan semangat yang Amanah tanam untuk diri bagi membalas jasa ibu dan para pahlawan terbilang dalam kehidupan.

    Beranilah menyentuh hidup ini dengan sentuhan hati, minda dan jiwa yang kental. Jangan pernah putus asa. Jika orang lain bisa, Amanah juga demikian sama. Ahhh… kisah Amanah mengingatkan bunda kepada anak-anak SD Muhammadiyyah dalam Laskar Pelangi, sentuhan ajaib dari Andrea Hirata.

    Salut buat curhat yang dicerpenkan. Semoga sukses dan bunda mendoakan dari jauh untuk kemenjadian hidup Amanah dan keluarga agar lebih bermakna dari sekarang. Bunda yakin, ibu dan kakakmu sangat berbangga dengan Amanah hingga mereka menyakini untuk mengeras diri bagi kelanjutan kecerdasan Amanah di bidang pelajaran. Jangan hampakan mereka yang telah berkorban apa sahaja demi cinta dan AMANAHnya.

    Salam manis selalu dari bunda di Sarikei, Sarawak.😀

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

      Terima kasih Bunda untuk apresiasinya, terima kasih juga untuk doa yang Bunda berikan dari Sarikei, Sarawak sana. Memang hidup ini perlu semangat untuk menggerakkannya, tanpa semangat hidup ini akan diam terhenti dan membeku. Curhat tak harus dengan seseorang tapi bisa lewat tulisan, yang nantinya akan menjadi sebuah karya sastra dan bisa dibaca orang lain tanpa orang lain itu harus mengerti bahwa sebenarnya tulisan tersebut adalah curhat dari kita.

      Semoga semangat kita tidak akan pernah terhenti sampai jantung kita tak lagi berdetak. Hidup yang terindah adalah saat kita bisa membuat orang yang kita sayangi bahagia dan bisa bermanfaat bagi orang lain.

      Salam semangat selalu dari Amanah untuk Bunda…

  2. Buat temanku, Amanah.. saya sangat bangga punya teman seperti kamu…

    Tetap semangat ya. “Untuk bahagia di dunia yang harus aku lakukan adalah berusaha, berdoa, dan pasrah setelah berusaha secara maksimal untuk menjadi lebih baik dan mewujudkan apa yang yang aku cita-citakan”. Kata-kata tersebut saya sangat sepakat… Saya juga akan berusaha melakukan apa yang ditulis kamu untuk kebaikan hidupku.

  3. Berusaha maksimal, berdoa dan ikhlas menerima takdir Tuhan akan membuat hidup ini bermakna, daripada hanya diam, membenci takdir serta mengumpat keputusan-Nya yang hanya akan membuat hidup tak berguna.

    Selamat berjuang, semoga hidupmu akan lebih baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s