Puisi-puisi Maula Ash Shidieqy

Kematian

 

Kenapa ia begitu terasa menakutkan

Kadang ia terasa begitu dekat

Ia seakan sesuatu yang tak pernah diharapkan

Ya, dialah kematian

Suatu fase dari akhir episode

Perjalanan hidup manusia

 

Dialah pemutus segala glamor

Kehidupan dunia

Dialah yang membuat kita sadar

Untuk apa kita di sini

Seberapa kecil dan lemah diri kita

Dan betapa murahnya harga dunia ini

 

Kematian memang menakutkan, sangat

Namun, berusahalah kita agar tak menakutkannya

Bagaimanapun jua, tak ada yang dapat menolak

Akan kedatangannya

 

Jalan Hati

 

Alunan melodi musik

Ataukah kerlip emas dalam peti besi

Ataukah pancaran jelita wajah wanita

Yang manakah yang membuatmu bahagia

Renungkan, untuk apalah kita mencari hal itu

Menghambakan diri demi hal itu

Toh, itu mungkin air laut kehidupan dunia

Yang kita minumkan ke dalam hati kita

Yang mana semakin diminum semakin haus

 

Itulah tuntutan hati kepada kita

Untuk mencarikan tempat yang tenang baginya

Memanglah begitu sulit bagi kita

Untuk memahami bahasa kata kata hati

 

Cobalah tanyakan pada pencipta hati itu

Tanyakan pada-Nya apa yang harus kita perbuat

Mungkin di dalam bertanya itulah

Terdapat tempat bagi hati

 

Rumah Baru

 

Ingatlah, bahwa pasti akan kita rasakan

Ketika orang berkata selamat jalan

Mereka membilaskan tangan ke pelupuk mata mereka

Untuk kita

 

Ketika kau dipaksa tidur beralaskan tanah

Mengumpankanmu untuk belatung dan cacing

Hanya sebuah pakaian berlapis yang mereka berikan

Sebagai selimut pelindung jika kedinginan

Itulah yang mereka berikan

 

Mereka, mereka, mereka

Merekalah anak anakmu yang menyayangimu, di hari lalu

Merekalah saudaramu yang selalu ikhlas membantumu, dahulu

Merekalah para karyawanmu yang selalu tunduk padamu, saat itu

Merekalah akan membanjiri tempat tinggalmu

sekarang dengan air mata

Dan merekalah yang akan dengan segera berbalik pulang

 

Malam pertama di sana kau hanya ditanya dua hal

Pertanyaan yang menentukan hari esokmu di sana

Pertanyaan yang ditanyakan penanya profesional

Jika kau takut akan saat-saat itu

Maka belajarlah sebelum kau ditanya di sana

 

Maula Ash Shidieqy lahir di Banjarnegara, 17 Mei 1995 merupakan siswa kelas XII IPA-2 MAN 2 Banjarnegara. Putra pasangan Bapak Mulkhikam dan Ibu Artini ini sekarang masih tinggal bersama orang tuanya di Desa Limbangan RT 03 RW 03 Madukara Banjarnegara.

 

11 thoughts on “Puisi-puisi Maula Ash Shidieqy

    • Terima kasih atas apresiasi Anda,

      Sebenarnya memang puisi ini ditujukan untuk memotivasi diri sendiri agar tidak hanya mengejar dunia tetapi dapat menyeimbangkan antara dunia sekarang dan dunia setelahnya.

      Syukurlah bila maksud dari puisi ini dapat pula bermanfaat bagi sesama.

  1. Assalau’alaikum Wr. Wb…

    Salut untuk Maula, yang mampu mencipta karya dengan tema yang biasanya tidak tersentuh oleh penulis remaja, yang lebih akrab dengan tema-tema “cinta dan kasih sayang” yang penuh kegembiraan. Namun agaknya Maula memiliki perbedaan, dengan mengajak kita mengingat “Kematian” sebagai “Jalan Hati” untuk mencapai “Rumah Baru”.

    Tetap semangat dalam berkarya sambil menebar manfaat bagi sesama…

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Terima kasih atas apresiasi Bapak…

      Puisi tersebut memang memiliki tema yang berbeda dengan tema yang diangkat teman-teman sebaya saya. Harapan saya, setiap remaja dapat berpikir seluas mungkin agar kita dapat maju bersama dalam satu naungan syari’at.

      Mudah-mudahan Allah Swt. meridai…

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, Maula…

    Puisi adalah perluahan hati yang memerlukan kosentrasi untuk memaknai apa yang tersirat di dalamnya. Usaha Maula dalam membentuk kata dan bahasa yang indah selari dengan makna sangat dihargai dan mempunyai potensi untuk lebih menyerlah dari keindahan lengkok gayanya. Banyakkan menulis puisi dan membaca puisi orang lain. hal ini akan menambah ilmu dan banyaknya dekorasi kata.

    Salut dan 2 jempol untuk usaha yang sangat bagus ini.
    Salam kenal dan semoga sukses memajukan diri dalam apa juga bidang pengajian.😀

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Terima kasih atas apresiasi Bunda terhadap puisi saya yang masih begitu sederhana. Puisi ini saya buat ketika ada seorang tetangga saya yang meninggal. Lalu setelah itu saya berpikir tentang kematian yang menurut saya begitu menakutkan bila kita tidak mempersiapkan bekal dengan baik.

      Sekali lagi terima kasih untuk Bunda, saya akan berusaha mengikuti saran dari Bunda.

  3. Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Kematian memang tak pernah kita ketahui kapan datangnya. Entah nanti, besok, dan lusa, semua itu sudah menjadi catatan Yang Maha Kuasa. Kita sebagai umat muslim, diwajibkan untuk saling mengingatkan kepada sesama, selalu memikirkan, sudah cukupkah bekal yang akan menemani kita kelak di akherat nanti ?
    Mariii…kita berusaha untuk selalu berada dijalan-nya🙂
    Aamin.

  4. Mungkin benar itu memang menakutkan, namun tidak ada seorangpun yang mampu menghindar. Puisi itu mengingatkan akan kematian temanku @uliz&anto semoga mereka di terima di sisi Alloh SWT, amin…

  5. puisi yang sangat menyentuh hati
    membuat hati kita bergetar
    mengingatkan kita semua bahwa hidup di dunia ini hanya sementara
    jadi janganlah siasiakan hidup kita dengan hal yang tak bermanfaat yang akan merugikan diri kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s