Pak Syarotun, Oemar Bakri MAN 2 Banjarnegara

Hey…. sobat Galeri……

Tahu nggak, sosok guru yang selalu naik sepeda ontel saat berangkat ke madrasah kita? Mengingatkan lagu lamanya Om Iwan Fals yang berjudul “Oemar Bakri”, kan? Nah, di edisi kali ini Galeri menampilkan sosok tersebut, seseorang yang pengabdiannya di madrasah kita telah dimulai sejak tahun 1981. Wah, wah… siapa ya beliau itu…? Tak lain dan tak bukan adalah Bapak Nutorays, alias Pak Syarotun. Eh, beliau punya nama beken lho, yaitu Pa’sya. Tapi, ini tidak pakai ungu lho… Pa’sya ini orangnya humoris, ramah, plus asyik ngajarnya… Pa’sya lahir di Banjarnegara, 17 Maret 1956, sekarang tiggal di Kutabanjar RT 1 RW 2 Kelurahan Wangon, Banjarnegara.

Ingin tahu nggak riwayat pendidikan beliau…….? Pa’sya dulu sekolah di MI Cokro Tribuana (1965), Pendidikan Guru Agama C (PGAC) selama 4 tahun (1965-1969), kemudian Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) selama 6 tahun (1969-1975), IAIN Sunan Kalijaga Purwokerto D-3 Jurusan Pendidikan Agama Islam (1975-1981). Eh, setelah itu ternyata Pa’sya masih melanjutkan lagi belajarnya dengan mengambil Jurusan Sosiologi di UNNES (2001-2002).

Pa’sya yang sudah diangkat menjadi PNS sejak tahun 1984 ini, punya pengalaman yang banyak sekali, di antaranya pernah mengajar PAI, Sejarah, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Akidah Akhlak, Sosiologi, Quran Hadits, PSPB, dan IPS khusus. Wah…wah…! Menurut Pa’sya, hal yang bisa membuat beliau senang itu kalau siswa-siswanya taat, memperhatikan, mau bertanya mengenai pelajaran… (Sobat Galeri, dengarkan tuh… he.. he…).

Mau tahu nggak hal yang membosankan buat beliau? Yang tidak menyenangkan bagi Pa’sya nih ya, kalau beliau sedang mengajar tapi siswa-siswanya nggak antusias, tidak memperhatikan, berbicara sendiri atau asal cemplong, dan akhirnya tidak paham terhadap materi yang disampaikan. Akibatnya, kalau sudah merasa tidak sreg, motivasi untuk melanjutkan mengajar jadi terganggu, suasana di kelas menjadi tidak kondusif, kemudian jengkel pada diri sendiri.

Menurut Pa’sya, apa pendidikan itu…?” tanya Galeri.

Sederhana saja… Menurut saya pendidikan adalah usaha untuk mencetak manusia menjadi orang yang memiliki karakter yang bagus. Orang itu tidak harus pintar sekali, yang penting punya karakter…,” kata Pa’sya dengan senyum yang ramah.

Harapan beliau buat madrasah kita yang paling kita cintai ini pastinya lebih majuu…. (Tapi, majunya bukan maju nabrak Kantor Badan Pertanahan, lho.. hihihi…). Sedangkan harapan untuk para guru, karyawan TU hendaknya makin setia pada atasan dan makin semangat dalam bekerja dan mengajar murid-muridnya, toh semuanya demi madrasah tercinta ini. Terus buat para siswa, harapan Pa’sya adalah jadilah anak yang selalu berbakti kepada guru plus selalu menaati nilai dan norma yang ada…

Dulu Pa’sya pernah ikut ujian pengawas bisa lulus dan ikut ujian pengulu juga lulus. Tapi, mengapa Pa’sya ingin tetap menjadi guru?” tanya Galeri lagi.

Pa’sya mengatakan bahwa ia ingat kata-kata Bapak Abdul Hamid (Kepala Madrasah periode beberapa tahun silam) “Seandainya aturan kepegawaian dijalankan Pak Rotun nggak bisa ngajar di sini.”

Lho, memangnya ada aturan yang bagaimana?”

Nah, dulu tuh ada aturan bahwa guru SLTA harus S-1, lha pada waktu itu Pak Syarotun belum bisa melanjutkan ke S-1 karena keterbatasan ekonomi. Namun, saat ada tawaran siapapun yang mau nglanjutin ke S-1 akan mendapatkan Beasiswa maka Pa’sya ikutan seleksi. Akhirnya, Pa’sya termasuk dari 31 orang yang lolos menjalani tes dari sekian banyak orang dalam satu provinsi.

Ada yang unik nih, pertama kali pa’sya naik sepeda motor pada tahun 2004, terus naik sepeda ontel “jengki” waktu kuliah di semarang. Nah, sekarang naik sepeda ontel “wandu” yang biasa dibawa ke MAN 2 Banjarnegara ini lho… He…he.. keren kan namanya..

Mengenai keluarga, Pa’sya memiliki 2 orang anak, pertama dan terakhir. Anak pertama dulu pernah mendapatkan beasiswa ke Kairo (jurusan Bahasa dan Sastra) tetapi sayangnya tidak diambil. Bahkan pada tanggal 30 September 2011 anak pertama tersebut menikah dengan orang Ternate.

Pa’sya yang selalu kelihatan enjoy sekali menjalani kehidupan, ternyata punya prinsip hidup “yang penting dalam saya adalah bisa melakukan tugas dan kewajiban dengan baik dan saya tidak ada ambisi untuk menjadi manusia yang banyak tuntutan atau yang neko-nekoo...”

Selama di MAN 2 Banjarnegara Pa’sya sudah pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Urusan Humas, Wakil Kepala Urusan Sarana Prasarana, Bendahara SOP, Ketua PGRI, Pembina Pramuka, dan Pembina PMR.

Ada kisah nih, sewaktu Pa’sya menjadi pembina PMR, Pa’sya pernah menyertai Baksos PMR. Nah, saat itu di baksos ada simulasi untuk menolong orang ketika terjadi kebakaran, banjir, dan sebaginya. Kebetulan di desa itu ada sungai, jadi simulasi yang dilakukan adalah pertolongan pada warga yang terkena musibah banjir di sungai tersebut. Pada waktu itu, teman Pa’sya berperan sebagai orang yang sedang terseret arus sungai namun teman Pa’sya tersebut bener-bener seperti tenggelam. Ketika dibawa ke tepi sungai, teman Pa’sya tersebut benar-benar lemas seperti orang pingsan. Spontan semua orang di situ menjadi takut terjadi apa-apa. Tapi, tiba-tiba teman Pa’sya itu bangun…. Ha…ha… ternyata akting teman Pa’sya oke juga…

Kemudian di desa itu bertepatan juga dengan perayaan hari Isra’ Mi’raj, sehingga warga setempat meminta bantuan kepada Pa’sya dan yang lainnya untuk membantu memeriahkan acara. Pa’sya pun kembali ke MAN untuk meminta bantuan Marching Band MAN 2 untuk memeriahkan acara tersebut. Dan, di hari perayaan Pa’sya diberi amanat untuk mengisi pengajian. Pa’sya berpikir bahwa orang-orang akan merasa bosan apabila pengajiannya terlalu panjang, jadi Pa’sya hanya mengisi pengajian dengan sangat singkat, namun ternyata para warga setempat justru memprotes isi pengajian yang terlalu singkat itu.

Di akhir pembicaraan Pa’sya berpesan: “Jadilah manusia yang berguna untuk diri sendiri, agama, nusa, dan bangsa. Begitulah pembicaraan Galeri bersama Bapak Syarotun alias Pa’sya. Semoga dapat diambil manfaatnya. (*)

One thought on “Pak Syarotun, Oemar Bakri MAN 2 Banjarnegara

  1. Salut nih…

    Menggali sumber inspirasi dari pengalaman seorang guru merupakan salah satu bentuk penghargaan kepada guru tersebut, di samping untuk memotivasi diri. Bukankah pengalaman adalah guru yang baik, apalagi pengalaman dari seorang guru…

    Salam hormat untuk Pak Syarotun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s