Rasaku Membunuhku

Cerpen Musrifah

Matahari telah bersinar dan suara burung telah membangunkanku. Saat terbangun hal pertama yang aku ingat adalah ulang tahun kekasihku. Hari ini dia ulang tahun dan aku bingung mau kasih kejutan apa buat dia. Di dalam kamar aku terus melamun sambil mencari ide untuk membuat kejutan. Tiba-tiba ada teriakan yang membangunkan aku dari lamunan.

“Chaca………….. sudah siang, ayo siap-siap berangkat ke sekolah,” teriak Ibu.

“Iya Bu sebentar, aku mau mandi dulu,” jawabku dengan santai. Setelah selesai mandi aku langsung membuka tabunganku karena uangnya akan kupakai untuk membeli kado buat sang kekasih. Aku terpaksa mengambil tabungan karena untuk hal seperti ini aku tidak mungkin minta uang pada orang tua. Kemudian aku langsung menuju ke dapur. Kulihat Ibu sedang sibuk beres-beres di dapur.

“Sarapan dulu Cha,” kata Ibu.

“Aku sarapan di sekolah aja Bu, soalnya buru-buru,” jawabku sambil berpamitan sama Ibu.

“Ya sudah, hati-hati Nak…“ kata Ibu.

“Iya Bu…” jawabku sambil lari.

*****

Sesampainya di sekolah aku langsung masuk ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi. Aku lihat semua teman-teman aku sudah berada di kelas, namun belum ada gurunya.

“Siang amat Cha?” kata Lola. Lola adalah teman satu bangku aku.

“Iya nih soalnya telat bangun… hehe…” kataku sambil cengengesan. Saat aku sedang berbincang-bincang dengan Lola, tiba-tiba Pak Guru datang. Kemudian kami pun mengikuti pelajaran. Beberapa jam berlalu, bel istirahat berbunyi. Aku, Lola, Puput, dan Raras langsung menuju ke kantin. Mereka bertiga adalah teman akrabku. Meskipun kami baru kenal sejak masuk Madrasah Aliyah ini namun kami berempat akrab sekali. Aku langsung cerita sama teman-teman kalau hari ini Andi ulang tahun.

Gimana kalau kamu kasih dia baju Cha?” kata Raras.

“Iya aku setuju dengan Raras. Tapi, kamu juga harus buat kue ulang tahun,” sahut Puput.

“Tapi aku nggak bisa bikin kue, kalau aku minta bantuan ibu nanti ibu jadi tahu kalau aku sudah pacaran,” kataku.

“Ya sudah mending nanti kita ke mall, beli kue sekalian beli bajunya,” usul Lola.

“Iya aku setuju,” jawabku dengan hati gembira.

 *****

Setelah pulang sekolah kami langsung menuju ke mall. Sesampainya di sana, kami langsung menuju ke tempat kue. Setelah membeli kue, kami langsung menuju ke tempat pakaian. Dan akhirnya, aku membeli kemeja. Karena menurut aku kemeja itu sangat cocok kalau dipakai Andi. Dengan rasa tak sabar, aku langsung sms Andi agar nanti sore bisa ketemu. Tapi sayang sms-ku tidak dibalas oleh dia. Namun aku tetap berpikir positif, mungkin memang dia lagi sibuk. Namanya juga mahasiswa.

“Aduh aku lapar nih… makan yuk?”ajak Raras.

“Iya aku juga lapar,” kata Lola. Akhirnya kami berempat menuju ke tempat makan. Saat sedang menunggu makanan yang belum datang, tanpa sengaja aku melihat Rina. Dia adalah teman akrabku di SMP dulu. kami selalu lalui suka dan duka bersama. Namun sejak di SLTA kami jarang bertemu, bahkan komunikasipun mulai renggang.

Hay Rin, apa kabar?” sapaku dengan nada penuh kerinduan.

“Chaca… aku baik-baik aja. Aku kangen banget sama kamu,” kata Rina.

“Sama Rin aku juga kangen banget sama kamu, sudah lama kita nggak bersama” jawabku dengan penuh kebahagiaan.

“Oya Cha, kamu masih sama Andi nggak?” tanya Rina. Namun aku hanya tersenyum. Belum sempat aku menjawab pertanyaan Rina, tiba-tiba aku terkaget dengan perkataannya.

“Tadi aku lihat Andi lagi sama Ani, dia lagi di toko boneka. Kayaknya mereka berdua balikan lagi ya? Soalnya kelihatan mesra banget.”

Aku sangat kaget mendengar perkataan Rina. Apalagi Ani adalah mantan kekasih Andi. Sebenarnya hatiku tak ingin percaya, tapi kata-kata itu keluar dari mulut teman aku sendiri. Dan tidak mungkin kalau aku tidak mempercayainya, karena tidak mungkin Rina bohong. Hatiku terasa sangat sakit dan hampir ku teteskan air mata. Namun tiba-tiba aku terkaget dengan ucapan Rina.

“Aku pulang dulu, ya Cha?”

“Iya hati-hati ya Rin?” jawabku sambil memperlihatkan senyum palsuku. Ketiga sahabatku langsung memeluk aku, akupun menangis di depan mereka.

“Jahat banget sih tu cowok? Tega-teganya kayak gitu” kata Lola.

“Lol jangan ngomong gitu donk, ini semua kan belum jelas” kata Puput sambil menenangkan perasaanku.

Gimana kalau sekarang kamu telepon Andi aja?” usul Raras.

Akhirnya aku menelepon Andi, namun tidak di angkat sama dia. Bahkan sampai tiga kali aku meneleponnya, dan saat itu juga dia menolak telepon dari aku. Hal ini membuat aku semakin yakin dengan kata-kata Rina. Tanpa berpikir panjang aku langsung sms Andi minta putus. Hatiku benar-benar kecewa, karena aku merasa pengorbananku selama ini sia-sia. Aku tidak jadi makan karena selera makan aku tiba-tiba jadi hilang. Akhirnya kami pun pulang.

*****

Sesampainya di rumah aku langsung menuju ke kamar, Ibu sampai bingung dengan sikap aku. Aku sengaja tengkurap di atas tempat tidur untuk menyembunyikan tangisku. Ada rasa tak rela kesetiaanku dibalas dengan penghianatan. Sampai hidungku tersumbat, aku baru bisa menahan air mata yang diam-diam tumpah-ruah. Lalu seperti kecapaian setelah mengharu-biru sendiri, mataku sempurna terpejam. Rasanya belum lama terpulas, tiba-tiba aku terbangun kerena mendengar suara HP berbunyi. Ternyata itu adalah sms dari Andi. Dia bilang semua itu hanya salah paham, tapi aku sudah tidak mempercayai semua itu. Karena hati ini sudah terlanjur sakit.

 *****

Satu minggu telah berlalu, aku mencoba jalani hari-hariku tanpa Andi. Meski terasa sangat sulit, namun aku berusaha untuk melawan perasaan ini. Aku tak pernah memperlihatkan kesedihanku pada siapapun, terutama pada Ibu. Untuk sedikit mengurangi rasa pedih ini, aku banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman. Karena saat bersama mereka aku bisa melupakan sejenak beban ini. Ketika hari libur aku dan ketiga teman-temanku pergi jalan-jalan ke mall. Tanpa sengaja aku bertemu dengan Dinda. Dia adalah sahabat SMP aku dulu, meski dia bukan teman akrabku tapi aku masih tetap ingat dia.

“Dinda, kamu ingat aku nggak? Ini Chaca,” sapa aku.

“Ih Chaca, iya aku ingat banget,” jawab Dinda.

“Oya Din, dengar-dengar kamu satu SMA sama Rina ya?” tanyaku.

“Iya Cha, malah kita satu kelas. Oya Cha, kamu tahu nggak kalau sekarang Rina pacaran sama Andi lho.. mantan kekasih kamu dulu. Emang sudah berapa lama kamu putus sama Andi?” tanya Dinda. Aku benar-benar sangat shock mendengar kata-kata Dinda. Mulutku terbungkam kaku sampai tak bisa berkata apa-apa. Lalu salah satu sahabatku ada yang menjawab pertanyaan Dinda.

“Baru satu minggu mereka berdua putus, dan itu pun gara-gara Rina yang bilang ke Chaca kalau Andi sedang jalan sama mantan kekasihnya,” jelas Lola.

“Idih.. tega banget Rina sama temen sendiri kok kayak gitu, emang pagar makan tanaman. Ya sudah Cha, kamu yang sabar ya? Aku mau pulang dulu,” kata Dinda.

“Ya sudah hati-hati ya Din? Makasih untuk informasinya,” kataku mencoba tegar.

“Iya sama-sama,” jawab Dinda dengan terburu-buru.

“Dasar buaya emang tu orang, kalau aku ketemu ingin aku pukul tu orang,” kata Raras.

Bener banget tu, yang cewek juga nggak ngaca, sudah tahu pacar temen, ehhhh masih diembat juga. Bener-bener ingin aku acak-acak tuh muka,” kata Puput dengan raut muka geregetan.

“Sudahlah, kita pulang aja yuk? Aku sudah nggak mood jalan-jalan” kataku. Akhirnya kami berempat pulang, dan teman-teman mengantarkan aku sampai rumah. Namun mereka nggak ada yang mampir, karena mereka tahu kalau aku sedang butuh waktu untuk sendiri. Aku langsung menuju ke kamar dan Ibu semakin bingung dengan sikap aku akhir-akhir ini. Aku hanya bisa menangis dengan perasaan tak percaya dengan apa yang terjadi.

Kenapa harus Rina? Kenapa bukan orang lain? Dia adalah sahabat akrabku dulu. Mungkinkah dia tega menghinati aku?” tanyaku dalam hati.

Seperti biasa untuk sedikit menghilangkan rasa sakit ini, aku selalu membuka facebook untuk mencurahkan semua isi hati ini. Karena aku penasaran, aku membuka dinding facebook Andi. Dan ternyata benar kata Dinda, bahwa dia memang benar-benar berpacaran dengan Rina. Andi merubah status hubungannya menjadi berpacaran dengan Rina. Hati ini terasa semakin sakit, bagaikan ada seribu jarum yang menyusuk hati ini. Aku benar-benar merasa jadi bahan mainan mereka berdua.

*****

Hari terus berganti, empat bulan telah berlalu aku mencoba membangkitkan semangat hidup aku kembali. Meski luka ini belum sepenuhnya sembuh, namun paling tidak hati ini mulai terasa pulih kembali. Saat aku sedang asyik membaca novel di kamar, tiba-tiba ada sms. Dan itu adalah sms dari Andi, hati ini terasa bergetar. Aku tidak tahu apa yang terjadi, mengapa hatiku berdetak sekencang ini?

“Mungkinkah aku masih mencintai Andi?” tanyaku dalam hati. Dalam sms itu Andi minta untuk bertemu. Dan bodohnya aku, aku mau saja dengan ajakan Andi. Kita berdua bertemu di taman yang biasa kita ketemu dulu. Dan saat aku sampai di taman itu, aku lihat Andi sudah ada di taman itu. Detak jantung ini semakin kencang, bahkan membuat aku terasa begitu gugup.

“Sudah lama kamu Ndi?” sapa aku.

“Eh Cha,, aku kira kamu nggak akan datang. Makasih ya kamu sudah mau datang buatku,” jawab Andi.

“Sudahlah kamu mau ngomong apa sebenarnya? Aku nggak punya banyak waktu untuk kamu,” kataku berpura-pura jutek.

“Sinis banget sih kamu sama aku? Aku mau minta maaf sama kamu, aku tahu kalau aku salah. Aku mohon beri aku kesempatan kedua. Aku janji nggak akan ngelakuin kesalahan yang kedua kalinya,” kata Andi sambil meyakinkanku.

Hatiku terasa tidak karuan, aku tidak percaya Andi bisa mengatakan semua itu. Apa mungkin dia masih mencintai aku? Atau dia hanya ingin mempermainkan perasaanku? Ahhhhhhhhhh entahlah…

Lah terus Rina mau kamu ke manain?” tanyaku.

“Aku sudah putus sama dia Cha.. Aku sadar kalau cinta aku hanya untuk kamu. Aku mohon, izinkan aku untuk menebus kesalahanku di masa silam,” kata Andi. Aku hanya bisa terdiam, dan hampir saja aku percaya dengan rayuan Andi.

“Aku nggak bisa Ndi, aku nggak mau nyakitin perasaan Rina. Biar bagaimanapun juga, dia adalah temen aku,” kataku.

“Tapi aku sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Rina, aku tahu kalau kamu masih cinta aku Cha. Tolong jangan munafik, jangan bohongi perasaan kamu,” jelas Andi. Iya Andi memang benar kalau aku memang benar-benar masih cinta dia. Tapi sungguh dalam hatiku aku tidak mau nyakitin hati Rina.

“Nggak Ndi kamu salah, aku sudah nggak cinta lagi sama kamu. sudah dulu aku mau pulang, aku banyak tugas,” kataku berpura-pura menyembunyikan perasaan ini. Aku langsung pergi tanpa menghiraukan teriakan Andi.

“Benarkah apa yang aku lakukan tadi? Salahkah jika aku korbankan cintaku demi kebahagiaan sahabat aku sendiri?” bisikku dalam hati.

 *****

Dengan hati yang tak menentu, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Aku cerita sama teman-teman tentang kejadian kemarin.

“Cha, kalau kamu masih cinta Andi, kenapa kamu nggak perjuangin cinta kamu? Ngapain kamu harus mikirin perasaan Rina? Toh dia juga nggak mikirin perasaan kamu,” kata Raras.

“Aku nggak setuju sama kamu Ras, aku nggak rela kalau Chaca balikan lagi sama Andi. Aku nggak mau dia sakit lagi karena Andi. Cowok kayak dia itu nggak pantas untuk dicintai dengan tulus,” kata Lola.

Aku hanya bisa terdiam, hati ini semakin tak menentu. Antara batin dan pikiran aku saling bertentangan. Hati ini masih ingin bersama Andi, sementara pikiran ini tak mau menyakiti perasaan Rina. Rasanya ingin aku lupakan sejenak masalah ini.

Emm, gimana kalau kamu cari pacar lagi aja Cha? Dari pada kamu sedih kayak gitu, aku nggak tega ngeliatnya,” usul Puput.

Nggak semsudah itu buat aku ngelupain Andi Put, jujur hati ini selalu diselimuti perasaan tak rela. Tapi aku janji sama kalian, aku akan mencoba untuk melupakan Andi sedikit demi sedikit,” kataku mencoba tuk tegar.

“Nah gitu donk.. ini baru Chaca yang aku kenal,” kata Lola. Ketiga temanku langsung memelukku. Aku pun ikut tertawa bareng mereka. Aku mencoba berusaha tegar didepan mereka, aku tidak mau mereka ikut sedih karena aku.

 *****

Seperti biasa, aku selalu membuka facebook untuk sejenak melupakan masalah aku. Namun sering kali aku ingin mengetahui kabar tentang Andi. Aku selalu membuka dinding facebook dia. Dan kali ini hal yang aku temukan adalah mengetahui kalau Andi balikan lagi sama Rina. Bahkan mereka semakin menunjukkan kemesraan mereka. Lagi-lagi air mata ini mengalir membasahi pipiku. Aku sungguh tidak mengerti dengan perasaanku. Aku sadar kalau aku masih cinta dia. Tapi aku juga sadar kalau sekarang ada Rina yang cinta Andi. Dia sekarang bukan milikku lagi, mau tidak mau aku harus melupakan dia.

 *****

Hari terus berjalan, dan aku mulai bisa melupakan Andi. Dan kini aku ikuti saran teman-teman, akhirnya aku menerima cinta Nino. Dia adalah kakak kelas aku yang sudah menyukai aku sejak dulu. Aku sadar untuk saat ini aku belum bisa mencintai dia, tapi aku akan mencoba untuk terus jalani. Karena aku yakin cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.

Tiga bulan telah berlalu, dan kini aku merasa mulai nyaman jalan sama Nino. Aku bahagia karena dia begitu baik sama aku. Dia selalu bisa ngertiin aku. Bahkan dia sering kali mengalah untuk aku. Namun, tiba-tiba Andi datang lagi mulai mengganggu aku. Perasaan ini mulai tidak karuan lagi, hati yang akan aku berikan buat Nino tiba-tiba tertutup kembali. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau nyakitin hati Nino, tapi aku juga tidak bisa pungkiri kalau aku masih cinta Andi. Aku belum bisa mencintai Nino dengan tulus. Aku sadar jika aku terlalu memaksakan diri untuk berpura-pura mencintai Nino, ini semua hanya akan membuat dia sakit. Aku tidak mau nyakitin orang-orang yang sudah tulus menyayangi aku.

“Mungkinkah aku harus mutusin Nino? Aku nggak mau dia terluka karena aku, tapi aku nggak bisa terus-terusan bohongin hati ini. Oh Tuhan tolong aku, berikan aku jalan yang terbaik,” rintihku dalam hati.

Akhirnya aku mencoba untuk bicara baik-baik dengan Nino. Aku meminta agar hubungan aku dan dia cukup sampai disini. Aku melihat kekecewaan di wajah Nino, namun aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berdoa semoga Nino mendapatkan cewek yang jauh lebih baik dari aku. Aku akan jalani hidup ini apa adanya, biarlah cintaku pada Andi terpendam bisu dalam hatiku. Karena aku yakin kadang Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan.

 *****

Musrifah yang lahir di Wonosobo pada 29 Juli 1993 merupakan siswa Kelas XII IPA 1 MAN 2 Banjarnegara. Putri Bapak Dartono yang tinggal di Tripis RT 08 RW 04 Watumalang Wonosobo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s