Jiwa dan Gelas

Oleh Itsnaini Rahmawati

Seperti biasa setiap pagi, si Ibu selalu disibukkan membuat sarapan, membuat minum, menyiapkan perlengkapan suaminya, dan berbenah rumah. Anaknya yang masih bayi tiba-tiba menangis, padahal si Ibuk lagi repot-repotnya. Itu terjadi hampir di setiap pagi. Apa kata Ibu?? Ibu hanya berkata, “Terima kasih anakku, betapa sayangnya engkau pada ibu, sehingga setiap hari telaten mengajari ibu belajar sabar.” Begitulah orang yang ber-JIWA UTUH menanggapinya.

Mungkin kita pernah dicaci-maki orang lain. Gimana tanggapan kita? Balas mencacinya atau tetap baik padanya? Orang yang ber-JIWA UTUH akan berpikir, ”Terima kasih Saudaraku, dengan ini aku bisa belajar menjadi lebih baik, menjadi lebih sabar.”

Begitulah JIWA yang  UTUH menanggapi suatu peristiwa.

“Demi JIWA dengan segala penyempurnaannya.” (As-Syams:8)

JIWA adalah mahluk-Nya…

Dia bersumpah atas nama JIWA…

Dia tak kan bersumpah atas nama JIWA, jika JIWA adalah suatu yang tak penting.

JIWA tercipta secara sempurna.

Kita yang akan menjaga JIWA kita hingga tetap utuh sempurna,atau…

tak dapat menjaganya hingga menjadi retak  bahkan pecah.

Umpama gelas kaca…

Gelas yang utuh akan membawa kebaikan, memberi banyak manfaat.

Karena JIWA yang UTUH akan memahami, bahwa hidup adalah hamparan kesempatan untuk berbuat baik.

Gelas yang retak hanya sedikit membawa kebaikan, sedikit memberi manfaat.

Karena JIWA yang RETAK memahami, bahwa hidup adalah hamparan kesempatan untuk berbuat baik dan buruk.

Gelas yang pecah, tak membawa manfaat,

Karena JIWA yang PECAH memahami, bahwa hidup sebagai hamparan kesempatan untuk berbuat buruk.

UTUH-nya JIWA kita, akan membuat kita memandang dan menyimpulkan SEGALA SESUATU DALAM HIDUP secara UTUH.

Sebab JIWA yang UTUH akan menyadari bahwa HIDUP ADALAH PERJALANAN.

Sadarkah kita apa konsekuensi dari sebuah perjalanan??

Yakni… ada yang akan dituju dan ada yang ditinggalkan….

Apa yang dituju dari perjalanan hidup??

Kehidupan akhirat.

Apa yang ditinggalkan??

Kehidupan dunia.

JIWA yang UTUH akan memahami bahwa,

“Hidup adalah perjalanan meninggalkan kesenangan dunia untuk mencapai kesenangan akhirat.”

Dan setiap kejadian dalam perjalanan hidup adalah pemberitahuan dari langit agar kita bermanfaat untuk yang lain, agar kita menjadi lebih baik, sehingga menjadi lebih baik dalam perjalanan menuju kebahagiaan akhirat, lebih baik dalam perjalanan meninggalkan kesenangan dunia.

-Jelajah Hati Nurul Asri, Yogyakarta-

6 thoughts on “Jiwa dan Gelas

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb….

    Sangat mencerahkan analogi jiwa dan gelas. Kedua-duanya memberi makna tersendiri bahawa kehidupan ini bisa menjadi guru kepada setiap langkah kita. Biar ujian itu datang mana arahnya, kita diajar untuk menanggapi setiap peristiwa yang berlaku.

    Terima kasih kerana mengingatkan tentang kesabaran dari sesiapa sahaja yang bisa didatangkan Allah kepada kita. Selalunya kita tidak betah sabar dan suka merungut tanpa membuat refleksi. Astaghfirullah. Sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar.

    Salut ya buat penulisnya.
    Salam kenal dari Sarikei, Sarawak.😀

  2. Wa’alaikumussalam wr wb…
    Salam kenal juga Ibu Fatimah…
    Alhamdulillah bila tulisan itu memberi manfaat, semuanya hanya dari Allah semata. Dan sudah semestinya kita saling mengingatkan. Saya hanya ingin berbagi dari sedikit yang saya ketahui dari kegiatan belajar saya. Saya masih belajar.
    Sungguh damai berada dalam Islam, sungguh indah hidup di dalam Islam… Syukur tak terkira pada-Nya kita bersaudara dalam naungan Islam, Ibu. Semoga cahaya-Nya senantiasa sampai di qolbu kita hingga kita wafat… Amin Ya Rabb….
    Tulisan-tulisan ibu juga menginspirasi..^_^jazakillah khairan..

    • Assalaamu’alaikum wr.wb, Itsnaini…

      Salam kenal kembali ya. Senang bisa mengenali penulis artikel di atas..
      Alhamdulillah, Terima kasih atas apresiasi Itsnaini terhadap tulisan saya.
      Kita sama-sama masih belajar untuk mendidik diri mengenal Tuhan melalui tulisan kita di samping berpesan untuk menuju kebaikan.

      menulislah, agar semua bisa mencapai manfaat dari ide yang diilhamkan Allah melalui kebijakan akal dan budi kita.

      Salam mesra selalu.😀

  3. Tulisan yang sangat menggugah hati, di usia Anda yang masih terbilang muda sudah terasah kepekaan nurani sebagai seorang anak yang sungguh berbakti kepada kedua orang tua. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi anak-anak muda untuk selalu berbakti kepada orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s