Memendam Rasa

Cerpen Nisamedee

Masih teringat di benak Rini beberapa bulan kemarin. Ketika ia merasakan suatu perasaan hangat yang menjalar di tubuhnya, saat pertama kali ia mendengar pernyataan cinta dari mulut Dani. Bulan-bulan itu seakan berlalu begitu cepatnya. Dan kini dihadapannya terbentang kenyataan yang harus ia hadapi. Mau tidak mau, semua manusia pasti akan merasakannya, tapi bagi Rini sama sekali ia tak ingin merasakannya. Ia tak kuat. Ia takut.

Tiba-tiba tanpa disadarinya, ada yang menepuk pundaknya. Ternyata Dani. Sudah lama ia tak melihatnya lagi, semenjak ada jeda libur panjang menantikan kelulusan.

“Hai Rin kok diam aja, lagi melamun apa?” sapa Dani sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.

Eh kamu, em lagi ngelamunin teman-teman, gak nyangka waktu cepat banget rasanya berlalu.”

“Ya memang. Beginilah hidup. Cepat sekali meninggalkan kita. Secepat aku akan meninggalkanmu.”

“Ya mungkin. Karena kita akan menempuh jalan masing-masing.”

“Aku akan tetap melanjutkan sekolahku di sini, bagaimana denganmu?”

“Mungkin aku tidak. Aku harus mengikuti kedua orang tuaku. Mereka akan pindah, mungkin akan jauh dari sini.”

“Kalau memang begitu, ikutilah, toh tak akan mati jika kita berpisah. Bagaimana?”

“Berat memang, kita akan terpisah jauh. Walaupun jauh, kamu masih akan tetap ingat aku kan?”

“Hal-hal seperti itu tak usahlah kau tanyakan, aku pasti akan ingat kamu terus.”

 “Wah yang lagi berduaan nih. Bagi-bagi dong ceritanya.” Nina tiba-tiba datang mengampiri Dani dan Rini yang sedang berbincang.

“Mau bagi-bagi cerita yang mana. Cerita kami ada banyak,” jawab Dani.

“Yang mana aja deh. Tapi gak jadi ah, nanti bisa-bisa nyampe nginep gara-gara ndengerin cerita kalian. Hehehe….”

“Akhirnya nyerah juga Nin.”

“Ow tidak semudah itu. Tapi ngomong-ngomong kalian cocok banget ya, aku jadi iri.”

Ah bisa aja. Ngomong-ngomong acaranya udah dimulai tuh, ke sana yuk!” ajak Dani tak sabar.

Dari jauh samar-samar terdengar alunan musik pengiring dari paduan suara yang dibawakan oleh perwakilan adik kelas. Dari raut wajahnya, kelihatan sekali mereka membawakan lagu yang berjudul “Terima Kasihku” ini dengan penuh penghayatan. Bahkan beberapa di antaranya sampai meneteskan air mata.

“Huhuhu…aku tak tahan untuk tidak menahan air mataku,” kata Nina seraya menghampiri Rini yang sedang terhanyut bersama alunan lagu tadi.

“Benar Nin, aku pun tak kuasa menahannya. Perpisahan memang selalu jadi hal yang paling kubenci dalam hidup ini,” sela Rini sambil ikut meneteskan air mata kesedihan.

“Hus jangan begitu, ini semua sudah jalan hidup. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan tiap manusia pasti akan mengalaminya, begitu juga kita-kita,” ucap Ni’mah, sang calon ustadzah sambil manggut-manggut.

“Hehehe… maaf Mah, kita hanya terbawa suasana aja. Soalnya lagunya menghanyutkan banget sih,” jawab Rini tiba-tiba sambil menyeka air matanya yang sudah tak terbendung itu.

Acara hari perpisahan itu pun diakhiri dengan pembacaan puisi dan doa oleh sang calon ustadzah, Ni’mah. Semua menunduk, semua mengamini. “Semoga di hari depan menjadi lebih baik lagi bagi semuanya.”

******

Seminggu, dua minggu, berlalu bagaikan angin yang melaju. Terasa begitu cepat. Semua terasa berbeda bagi Rini. Yang dulunya waktu ia masih berada didekat Dani, semua terasa menyenangkan. Bahkan hal yang paling Rini benci pun, jika bersama Dani ia merasa senang. Rasanya Dani seperti obat. Obat dari segala kerinduan jiwanya. Jiwanya yang tersakiti oleh keadaan.

Dan hal yang paling Rini tunggu-tunggu adalah ketika dia dan Dani mengobrol. Tentang apapun itu, kejadian lucu, masalah pelajaran, masa depan, bahkan sampai hal-hal sepele pun jika dibicarakan dengan Dani menjadi lebih bermakna. Tak perlu menghitung waktu, bisa sampai berjam-jam Dani dan Rini mengobrol. Dan semua itu menyenangkan.

Terasa indah, terasa menyejukkan. Rini merindukannya. Merindukan tawa, canda, tangis. Dari seorang anak manusia, yang hanya bisa memberikan penderitaan, kekesalan, kekecewaan. Rini tau semua itu, hal-hal yang paling menyakitkan pun. Tapi tak bisa disangkalnya, ia merindukannya. Sangat merindukannya. Semua perasaan cinta, sayang, dan rindu hanya bisa ia pendam dalam-dalam, ia ingin Dani tahu. Tapi dengan cara apa Rini memberitahunya, itu yang membuat Rini masih enggan untuk mengatakannya.

Besar harapan Rini agar Dani menghubunginya. Sekian lama menunggu, kabar apapun itu tak pernah muncul dari Dani. Sedikitpun. Ia merindukannya. Ingin rasanya bertemu kembali. Dua hal yang sangat ingin Rini mengetahuinya. Bagaimanakah perasaan Dani padanya? Rindukah Dani padanya? Semua itu, lagi-lagi hanya bisa ia pendam.

Ketika itu Rini baru memasuki tahun pertamanya di sekolah menengah atas. Kata orang-orang, masa SMA adalah masa yang menyenangkan. Tapi tak berlaku bagi Rini. Masa ini sungguh pahit.

“Hai Rin sendirian aja,” sapa Anam ketika melihat Rini berdiri sendirian di depan kelas memandangi anak-anak yang sedang melaksanakan olahraga di halaman sekolah.

“Iya nih,” jawab Rini sekenanya.

“Ada apa sih, rasanya akhir-akhir ini kamu kelihatan murung, ada sesuatukah? Ayo dong cerita, siapa tahu aku bisa membantu.”

“Sebenarnya gak ada sih, cuman aku aja yang membuat masalah itu muncul.”

Loh kok bisa. Ada apa sih Rin?”

“Aku malu sebenarnya cerita ke kamu. Tapi tak apalah. Aku lagi kangen sama seseorang Nam.”

“Wah. Sang kutu buku ini ternyata bisa kangen juga. Kangen sama siapa?”

Emangnya orang kutu buku gak boleh ngerasa kangen gitu?” jawabku ketus.

“Hehehe……… Enggak kok Cuma bercanda. Kangen sama siapa sih Rin? Kamu punya penggemar rahasia ya?”

Enggak, Cuma teman dekat waktu di SMP dulu. Statusku sama dia bisa dibilang berpacaran, tapi hubungan kami seperti bukan orang berpacaran. Aku bingung. Mau menyapa duluan, malu. Gak disapa, aku kangen. Bingung Nam. Sebagai perempuan rasanya tidak enak kalau aku yang memulai duluan. Pingin banget rasanya ngelupain dia, tapi susahnya minta ampun deh

“Emangnya dia gak pernah menyapa kamu Rin?”

“Semenjak kelulusan SMP dia belum pernah menyapa aku lagi.”

“Wah patut dipertanyakan tuh, jangan-jangan ada sesuatunya lagi.”

“Aku harap sih gak ada apa-apa Nam.”

Pembicaraan antara Anam dan Rini pun terhenti ketika bel mulai berbunyi tanda istirahat selesai. Mereka buru-buru memasuki kelas.

“Turut prihatin deh Rin, semoga aku bisa membantu nantinya.”

“Iya Nam, sama-sama.”

Tak ada yang bisa dilakukan Rini kali ini. Rasa rindunya sudah meluap-luap, tapi tak sanggup ia melampiaskannya. Hanya diam, memendam semua perasaan yang dialaminya.

Rasa rindunya semakin bertambah ketika ia melihat seseorang dari balik jendela sedang berdiri di pohon samping kelasnya. Seseorang yang mirip dengan Dani. Siapakah gerangan?

“Nam, tahu gak orang yang ada di seberang sana itu?” tanyaku seraya menunjuk seseorang yang ku maksud.

“Mana? Oh yang itu, itu Hadi. Anak kelas tiga. Ada apa? Kamu naksir ya?”

“Ih enggak kok. Cuma pingin nanya aja.”

“Mungkin dia bisa bantu aku ngilangin sedikit demi sedikit perasaanku ke Dani,” kata Rini dalam hati.

Akhirnya sekian lama, Rini mencari ke sana kemari, alamat, nomor telepon, tanggal lahir si Hadi. Ngikutin dia ke sana kemari. Tapi hasilnya tetap, Rini masih merindukan Dani, Soulmate selamanya.

Semenjak kejadian melihat Hadi, yang menurut Rini ia mirip dengan Dani. Membuat Rini semakin “buta”. Siapapun orang lewat yang dilihatnya, ia selalu bilang bahwa orang tersebut adalah Dani. Padahal dilihat dari sudut manapun, sama sekali orang itu tidak mirip dengan Dani.

“Nam lihat tuh, mirip banget sama Dani,” kata Rini seraya menunjuk seseorang yang sedang berjalan melewatinya.

“Yang barusan lewat Rin? Ya ampun, dilihat dari manapun dia gak mirip.”

Udah, biarin aja Nam si Rini menikmati khayalannya. Mungkin tingkat kerinduannya sudah akut. Hehehe…” ucap Ayu seraya tertawa.

Kesedihan Rini bertambah lagi ketika ia dan teman-teman sekelasnya sedang menunggu bel masuk berbunyi, kebanyakan dari teman-temanya itu sibuk sms-an, entah dengan siapa.

“Hei Yu, kamu lihat deh. Kaya ada lomba sms-an massal ya, semua lagi pada pegang handphone. Terutama yang cewecewe tuh.”

Ayu yang tergolong kutu buku seperti Rini, lebih banyak menghabiskan masa istirahat tentunya dengan membaca buku daripada sms-an.

“Iya, mereka sms apan ya, kok pada hobi banget.”

Rini yang penasaran pun, coba bertanya pada Santi.

“Kamu memangnya sms-an sama siapa sih San, kok sering banget,” tanya Rini penasaran.

Sama pacar dong, siapa lagi. Memangnya kamu enggak?”

“Aku cukup sms-an dalam hati aja San, hehehe,,,,” jawab Rini basa-basi.

“Ah mana bisa. Udah deh, aku mau lanjut lagi nih.”

“Uh segitu seriusnya,” balas Ayu cemberut.

Terik matahari sepulang sekolah tak mengurungkan niat Rini untuk berjalan-jalan ke toko buku. Ia sudah tak sabar untuk mencari buku-buku terbaru. Ketika sedang asyik memilih-milih, ia seperti melihat seseorang yang dikenalnya. Teman SMP-nya dulu. Dengan segera Rini menghampiri temannnya itu.

“Nina?” sapa Rini perlahan.

“Wah, Rini! Bagaimana kabarmu? Lama sekali kita tak bertemu lagi,” jawab Nina sambil memeluk Rini dengan cepat.

“Kabarku baik. Kamu sendiri gimana? Sudah setengah tahun kita tak bertemu Nin. Ngomong-ngomong kamu sekolah di mana?”

“Aku juga baik kok. Aku sekarang sekolah bareng Dani, Rin. Dia sekarang beda banget loh.”

“Beda gimana Nin?”

“Banyak yang naksir sama Dani, sampai kakak kelas pun ada yang naksir sama dia. Eh kamu masih sama Dani atau enggak sih?”

“Ya masih, memangnya kenapa?”

“Yang benar Rin? Aduh, aku gak enak nih mau ngomongnya.”

Kenapa sih Nin? Jangan bikin penasaran donk.”

“Setahuku, sekarang Dani udah punya pacar baru.”

“Hah! Jangan bohong deh Nin, aku lagi kalut nih mikirin dia.”

Beneran Rin, dia pacaran sama teman sekelasku. Dan kamu tahu gak siapa orangnya?”

“Ih ya jelas enggak lah, siapa Nin?”

“Teman kita dulu Rin, si Ni’mah. Aku juga heran, ternyata dia bisa jadi seperti itu.”

“??????”

Tak ada kata lain yang sanggup diucapkan oleh Rini. Dia benar-benar shock sekarang. Rini benar-benar tidak menyangka Dani akan melukainya seperti ini. Setelah semua pengharapan, dan kesetiaan yang selalu ia jaga. Kini dengan penghianatannya, meluaplah semua pengharapan itu. Satu-satunya orang yang sangat ditunggu-tunggunya, ternyata telah berpaling darinya.

Malam ini lebih banyak Rini menghabiskan waktunya di lantai atas kamarnya. Semua buku-buku diistirahatkan. Ia ingin menghabiskan malamnya bersama bintang-bintang. Tak bosan-bosannya ia memandangi langit malam itu. Memandang setiap butir-butir bintang yang menyebar menutup langit dan sebagian menutupi hatinya. Angin malam pun bertiup semilir, menepis helaian rambut Rini dengan lembut karena tak tega melihatnya.

“Angin, sampaikan salamku padanya, rasa rinduku, rasa sayangku, rasa cintaku. Aku ingin kau menyampaikannya. Sampaikanlah. Aku di sini tetap menunggunya, tetap mengukir namanya di hatiku. Walau ukiran itu sedikit retak karena kehadiran orang lain. Sampaikanlah. Aku menginginkannya, walaupun penderitaanlah yang selalu kudapat. Karena di balik penderitaan itu, terselip kebahagiaan. Kebahagiaan karena aku bisa mencintainya. Sampaikanlah. Sangat sulit mencari penggantinya, kaulah yang kucari, kaulah yang kunanti. Aku sangat berharap dia punya perasaan seperti yang kurasa. Sampaikanlah angin, walaupun hanya desiran halus di tubuhnya. Sampaikanlah. Aku ingin dia tahu apa yang sedang kurasa, dan dia ikut pula merasakannya. Agar ia bisa merasakan seberapa besar penderitaan yang ia berikan padaku. Sampaikanlah. Aku akan tetap bersabar, dan tetap menerimanya jika ia kembali nanti. Kembali, bersama lembaran baru yang indah. Untuk kita berdua.”

******

Bersama bintang dan bulan malam itu, Dani menghabiskan sisa malamnya. Sebenarnya dia tak kuat harus menanggung semua perasaan yang sedang dihadapinya saat ini. Ia tak tahu, apa yang ia dapat selama ini. Hanya penyesalan dan rasa bersalah yang terus menghantuinya. Berkali-kali Nina mengingatkannya akan kelakuan yang telah ia lakukan selama ini.

“Apa yang membuatku seperti ini?” teriak Dani dalam hati.

Sesaat ia merasakan desiran halus semilir angin malam yang menyapanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang membisikkannya sesuatu. Perlahan-lahan ia mulai merasakannya, ia kembali merenung. Ia memahami desiran itu sebagai desiran yang tak biasa, ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang ingin angin itu sampaikan kepada Dani.

Lambat laun ia mulai merasakannya. Merasakan rasa sakit yang dialami orang lain. Rasa rindu, rasa sayang, yang ia ucapkan lembut melewati angin itu. Angin itu lama-lama bertiup makin kencang sehingga membuat Dani menggigil.

 “Siapakah itu, siapakah yang menyampaikan perasaannya lewat angin ini?”

Ketika tanpa sadar, ia kembali teringat dengan Rini. Ia tak sampai hati mengingatnya. Ia merasa sangat bersalah padanya.

“Rini, kaukah itu? Kaukah itu Rini? Jawab aku Rini! Kaukah itu? Aku perlahan merasakan penderitaanmu. Sunggguh berat yang kau rasakan Rini. Maafkan aku. Kini aku telah sadar. Aku tak sungguh-sungguh mencintai Ni’mah. Maukah kau memaafkanku Rini? Dari lubuk hati yang paling dalam aku mengucapkannya Rini. Kau sangat berhak benci padaku Rini, kau sangat berhak. Dan sesungguhnya, akulah yang sangat tidak berhak untuk memintamu kembali padaku lagi Rini. Tapi, itulah yang kumau saat ini. Aku sangat ingin kata maaf yang tulus keluar dari mulutmu. Kata bahwa kau mau menerima lelaki seperti aku ini ke dalam kehidupanmu lagi. Maukah kau mengucapkannya Rini? Aku sangat berharap. Sampaikanlah angin, sampaikanlah padanya.”

Angin yang tadinya kencang, kini berubah tenang kembali. Setenang perasaan Rini yang telah tersampaikan perasaannya. (*)

*****

Nisamedee adalah nama pena Khairun Nisa Meiah Ngafidin yang lahir di Kendari pada tanggal 18 Mei 1994 merupakan alumni MAN 2 Banjarnegara tahun 2011. Sekarang menjadi mahasiswa Jurusan PTIK Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Alamat rumah di Bawang RT 01 RW V Bawang Banjarnegara 53471, Nomor Telepon  085747127xxx.

6 thoughts on “Memendam Rasa

  1. Subhanalloh . . . . . . seakan aku merasakan apa yang dirasakan Rini.
    Semoga saja jalan cintaku tak seperti itu … amien🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s