Titik Hitam dan Kertas Putih

Oleh Imam Eka Cahyadi

“Bu,  saya merasa kehidupan di dunia ini hampa, tidak ada yang istimewa dan layak disyukuri,” kata seorang anak pada ibunya, “…Sampai-sampai, saat tidur yang mestinya menjadi momen kebahagiaan yang terindah, tak lagi kurasakan. Saya tidak puas atas apa yang saya miliki. Teman, sekolah, kehidupan, kemampuan, serta fisik yang saya miliki sepertinya tidak sesuai harapan. Saya selalu menjadi anak yang kekurangan di dunia ini.”

“Terus?” tanya ibu, tersenyum mendengar keluh kesah dari  anaknya tersebut.

“Semakin kuat saya berusaha untuk mengubah keadaan, yang saya terima adalah semakin banyak kekecewaan,” ungkapnya penuh rasa.

“Ya … Ibu mengerti apa yang kamu alami Nak, itu manusiawi,” kata ibu sambil kembali tersenyum. Kemudian ibu melanjutkan, “Sekarang Ibu akan mengambil kertas putih kosong dan ibu tunjukkan padamu… Nah, apa yang kamu lihat?”

“Ibu jangan bercanda, saya tidak melihat apa-apa….. semuanya putih,” jawabnya.

Sambil mengambil spidol hitam dan membuat satu titik di tengah kertas, ibu berkata, “Nah, sekarang Ibu telah beri sebuah titik hitam di kertas itu, sekarang apa yang kamu lihat?”

“Saya melihat satu titik hitam, Bu.”

“Pastikan lagi,” pinta Ibu.

“Titik hitam!” jawabnya yakin.

“Nah, sekarang Ibu tahu penyebab masalahmu, Nak. Kenapa engkau hanya melihat satu titik hitam saja dari kertas tadi? Cobalah ubah sudut pandangmu, Nak. Menurut ibu, yang ibu lihat bukan titik hitam tapi tetap kertas yang putih meski ada satu noda di dalamnya. Ibu melihat lebih banyak warna putih dari kertas tersebut, sedangkan kenapa kamu hanya melihat hitamnya saja dan itu pun hanya setitik?” ucap Ibu.

“Sekarang mengertikah kamu, Nak? Dalam hidup ini, bahagia atau tidaknya hidupmu tergantung dari sudut pandangmu memandang hidup itu sendiri. Jika kamu selalu melihat titik hitam tadi yang bisa diartikan kekecewaan, kekurangan, dan keburukan dalam hidup maka hal-hal itulah yang akan selalu hinggap dan menemani dalam hidupmu, Nak…”

“Cobalah pahami, bukankah di sekelilingmu penuh dengan warna putih, yang artinya begitu banyak anugrah yang telah diberikan oleh Allah kepada kamu. Kamu masih bisa melihat, mendengar, membaca, berjalan, fisik yang utuh dan sehat, serta begitu banyak kebaikan dari orang-orang yang mencintaimu dari pada kekurangannya. Berapa banyak orang-orang yang kehilangan orang yang mencintainya? Juga banyak kebaikan dari sekolahmu, di sisi lain banyak anak yang tidak seberuntung kamu, banyak anak yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Begitu banyak orang yang lebih miskin dan kekurangan dari pada kamu. Kamu masih memiliki rumah untuk berteduh, ayah, ibu, dan teman-teman yang baik, yang selalu mendukungmu. Kenapa kamu selalu melihat sebuah titik hitam saja dalam hidupmu?”

“Betapa mudahnya melihat keburukan orang lain, padahal begitu banyak hal baik yang telah diberikan orang lain kepada kita.. Betapa mudahnya melihat kesalahan dan kekurangan orang lain, sedangkan kamu lupa kelemahan dan kekurangan dirimu sendiri.. Betapa mudahnya menyalahkan dan mengingkari-Nya atas kesusahan hidupmu, padahal begitu besar anugrah dan karunia yang telah diberikan oleh-Nya dalam hidup kita… Betapa mudahnya menyesali hidupmu, padahal banyak kebahagiaan talah terciptakan untuk kamu dan menantimu… “

“Mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas ini? Padahal, sebagian kertas ini berwarna putih? Sekarang mengertikah kamu, Nak?” tanya ibu.

“Ya Bu, saya mengerti sekarang. Betul ini kertas putih….. hanya saja ada titik hitam di tengahnya,” ucap si anak.(*)

Imam Eka Cahyadi yang lahir di Banjarnegara, 18 September 1994 adalah siswa kelas XII IPA-1 MAN 2 Banjarnegara, Tahun Pelajaran 2011/2012. Pemilik moto hidup “sederhana dan simple, sederhana dalam sikap tapi untuk ilmu tidak boleh sederhana, kini tinggal di Prigi RT 03 RW 05 Sigaluh, Banjarnegara. Alamat e-mail : cimameka@yahoo.com atau emtycharter@ymail.com

.

4 thoughts on “Titik Hitam dan Kertas Putih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s