Man Jadda Wajada

Sebuah resensi karya Amanah D’Penzy

Judul Buku:  Negeri 5 Menara

Pengarang:  A. Fuadi

Penerbit:  Gramedia Pustaka

Kota Terbit:  Jakarta

Tahun Terbit:  2009

Cetakan:  Pertama, 1 Juli 2009

Tebal Buku:  xiii +  416 Halaman

Negeri 5 Menara merupakan novel pertama yang ditulis oleh A. Fuadi, terinspirasi dari kisah nyata. A. Fuadi adalah alumni Pondok Modern Gontor, lulusan kuliah Hubungan Internasional UNPAD, serta pernah menjadi wartawan Tempo dan VOA. Selain itu Fuadi juga pernah mendapatkan beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University pada tahun1998. Selang beberapa tahun kemudian, yaitu tahun 2004 dia kembali mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Terakhir, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.

Novel Negeri 5 Menara merupakan novel yang diniatkan untuk menjadi ibadah sosial oleh A. Fuadi ini menyajikan cerita yang berbeda dengan novel-novel yang lain, yang biasanya menyajikan masalah percintaan sebagai hal yang diutamakan, tetapi novel ini lebih menekankan pada semangat untuk mewujudkan cita-cita dan kuatnya persahabatan antartokoh utama dan pendukung. Selain itu, latar tempat juga dijelaskan secara detail, tidak heran jika pada bagian belakang buku banyak yang bekomentar positif  terhadap  novel Negeri 5 Menara ini.

Cerita ini dimulai dari Arif Fikri, bocah dari pinggiran Danau Maninjau Sumatra Barat, yang tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Alif bercita-cita menjadi “Habibie” dan melalui sekolah umum ia dapat mewujudkan semua itu, apalagi nilainya cukup mendukung. Namun Ibunya menginginkan Alif menjadi seorang ulama besar seperti Buya Hamka. Pilihan yang sulit bagi Alif, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mondok di suatu pesantren di Jawa Timur meskipun dengan keputusan setengah hati. Tiga hari tiga malam Alif bersama ayahnya melintasi punggung Sumatra dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Alif tidak mengira dia akan menjadi santri Pondok Madani yang terkenal dengan kegiatan belajar mengajar sedemikian padat dengan aturan-aturan kedisiplinan ekstraketat. Hari pertama, Alif terkesima dengan sebuah pepatah arab “man jadda wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya. Akhirnya pepatah arab tersebut menjadi “mantera” ampuh untuk membangun mimpi masa depan dan mewujudkan cita-citanya.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai Alif dipertemukan dengan Baso dari Gowa yang berusaha mati-matian menghafal 30 jus Alquran sebagai syarat untuk menggapai impiannya bersekolah di Madinah, Atang dari Bandung, Raja dari Medan yang mempunyai hobi membaca buku tebal, Dulmajid dari Sumenep dan Said dari Surabaya. Di bawah menara masjid Pondok Madani yang berdiri kokoh, para Sahibul Menara sering berkumpul menunggu magrib sambil menatap awan lembayung yang bergerak ke ufuk. Awan itu mereka gambarkan seperti benua impian mereka masing-masing. Aturan berbahasa yang ketat membuat para Sahibul Menara harus berusaha keras menyesuaikan diri. Cobaan demi cobaan menghadang mereka mulai dari menjadi Jasus hingga menjadi Shaolin Temple. Namun, Alif cobaan terberat adalah menahan keinginannya untuk bersekolah seperti Randai. Empat tahun berlalu para Mahibul Menara berpisah untuk menggapai cita-cita masing-masing. Akhirnya, para Sahibul Menara, yaitu Alif dari Washington DC, Atang dari Kairo, dan Raja dari London bernostalgia bersama di  London, sebuah impian yang tak terduga.

Novel ini mampu mengungkapkan tentang dahsyatnya sebuah mimpi serta menguak sisi positif dari sebuah pondok pesantren. Kebanyakan orang menganggap bahwa pondok pesantren hanya untuk belajar agama, tetapi dalam novel ini pondok pesantren adalah gerbang untuk mengetahui dunia luar dengan cara mempelajari bahasanya. Bagian akhir cerita yaitu sebelum para Sahibul Menara bernostalgia, tidak digambarkan secara jelas. Hal ini  membuat pembaca merasa seperti ada bagian yang hilang. Selain itu, alur campuran yang digunakan oleh penulis dalam novel ini juga membuat pembaca sedikit kesulitan untuk memahaminya.

Gaya bahasa yang digunakan dalam penulisan novel ini adalah gaya bahasa Asosiasi, yaitu membandingkan sesuatu yang berbeda namun dianggap sama. Contohnya pada kalimat, “… jauh di kedalaman hatiku, bagai api dalam sekam.” Pengarang juga mengibaratkan tokoh Rajab Sujai seperti Tyson dan Pondok Madani laksana kampung di atas awan.

Negeri 5 Menara karangan A. Fuadi ini memberikan motivasi dan inspirasi bagi para pembaca, khususnya bagi remaja dan pelajar agar tidak mudah putus asa dan jangan pernah berhenti untuk bermimpi karena “man jaddda wajada,” siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya. (*)

Amanah D’Penzy adalah nama pena Teguh Amanah yang lahir di Banjarnegara, 15 Maret 1993 merupakan siswa kelas XI IPA Keterampilan. Putri pasangan Bapak Samsul Basri dan Ibu Watini ini sekarang tinggal di Desa Bondolharjo RT 01 RW 07 Punggelan Banjarnegara. Resensi berjudul “Man Jadda Wajada” merupakan resensi terbaik dalam Lomba Penulisan Resensi HUT MAN 2 Banjarnegara ke 46 Tahun 2011.

9 thoughts on “Man Jadda Wajada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s