Akankah Hanya Sampai di Sini?

Oleh  Lela Caga (Nur Laila Sofiatun)

Semilir angin siang itu menerbangkan rambut hitam panjang seorang remaja di taman sekolah sebuah SMA. Bibir tipisnya yang sedikit merah mencuap-cuap menjelaskan sesuatu kepada empat remaja lainnya. Saking semangatnya tak ia hiraukan seekor kupu-kupu tengah bertengger di atas jepit rambutnya yang berbentuk bunga anggrek ungu.

“Apa itu nggak berlebihan Git,” Ana memotong penjelasan Gita.

“Menurut aku acara pelantikan anggota PMR kali ini harus beda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita harus berani mengadakannya di luar sekolah, pasti lebih menarik. Hem…Betul nggak?

“Tapi Git, Buper itu lumayan jauh lho, takutnya Kepala Sekolah nggak ngizinin kita”.

“Kalau urusan itu kamu jangan khawatir An, kan ada Arga yang pintar ngrayu, hehehe…”

Lho, lho, kok jadi aku si yang kena getahnya…”

“Kamu kan yang paling jago ngrayu Kepala Sekolah Ga, apalagi kamu cowok terganteng di sini lho, hehe…,” rayu Gita kepada Arga. Yang dirayu wajahnya segera memerah.

“Ya jelas Arga paling ganteng lah, orang di sini cowoknya cuma dia.. hihihi…” ucap Riska mengejek Arga.

Udah ah, jangan bercanda terus. Kembali ke topik awal kita. Aku setuju kalau pelantikan diadakan di Buper”

“Hore…!” jawab semua peserta rapat mendengar ucapan Ana.

Eits, jangan senang dulu, ada syaratnya”

“Syaratnya apa An ?”

“Harus dapat izin dari Kepala Sekolah, gimana?”

Oke. Siapa takut,” jawab Arga meyakinkan

***

Minggu ini pengurus harian PMR sibuk mengajukan proposal pelantikan PMR. Awalnya Kepala Sekolah tidak mengizinkan kalau pelantikan diadakan di Buper tetapi setelah tiga kali Arga meyakinkan Kepala Sekolah, akhirnya beliau luluh juga, dengan syarat harus ada guru pendampingnya. Pengurus harian PMR pun sibuk mempersiapkan semuanya. Setiap hari mereka pulang ke rumah lewat jam lima sore. Mereka terlihat sangat bersemangat karena merekalah pengurus PMR pertama yang akan mengadakan pelantikan di luar sekolah.

Rapat-rapat sering diadakan, bahkan terkadang sampai memotong jam pelajaran. Hari ini rapat pematangan pelantikan dan jadwal kegiatan. Tidak seperti seminggu yang lalu rapat kali ini dihadiri oleh seluruh anggota PMR.

“Seperti telah kita bahas tadi ketua panitia terpilih adalah Gita Susanti dengan wakilnya Arga Saputra dan acara pelantikan PMR dilaksanakan pada tanggal 4 – 5 Juni 2011,” ucap Ana mengakhiri rapat hari itu.

***

Suara jangkrik yang riuh rendah diiringi kodok yang mengorek membuat orkestra malam itu cukup meriah. Langitpun terlihat cerah dihiasi berjuta-juta bintang dengan bulan sebagai ratu mereka. Namun, meja makan di rumah Gita begitu hening, hanya terdengar suara sendok yang sedang beradu dengan piring-piring berisi nasi dan sayur kangkung dengan lauk tahu goreng. Gita mulai risih dengan keadaan seperti itu. Pak Marno, ayah Gita yang biasanya banyak cerita aktivitasnya di siang hari terlihat diam. Sepertinya beliau ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung diucapkan. Gita yang semakin tak betah dengan keadaan itu mulai angkat suara.

“Ayah kenapa? Tumben diam, apa ada masalah?”

“Emm….sebenarnya ayah ingin mengatakan hal yang penting denganmu Git, tapi ayah bingung mau mulai dari mana?”

“Ayah mau ngomong sama anak sendiri kok bingung, terserah ayah mau mulai dari mana, Gita pasti dengerin kok.”

“Git, misalkan kamu ni…”

“Ayah mau nitip jahitannya Bu Siti kalau kamu ke sekolah,” tiba-tiba Bu Marno yang dari tadi diam memotong perkataan suaminya sambil memberikan isyarat kepada suaminya.

“Oh cuma itu, Gita kira apa,” jawab Gita kecewa karena ternyata hanya perintah untuk mengantarkan jahitan ayahnya.

Malam itu Pak Marno terlihat gelisah di kamarnya. Meskipun badannya sudah terbaring di dipan berukuran 1,5×1 meter sejak sejam yang lalu, namun matanya belum terpejam menerawang ke langit-langit kamarnya yang sudah keropos. Istrinya yang terbaring di sisinya sudah terlelap dari tadi. Beliau masih teringat kejadian di meja makan. Sebenarnya bukan itu yang hendak ia katakan kepada Gita. Bukan itu. Tetapi hal yang lebih penting dari hanya sekadar mengantar jahitannya Bu Siti. Ini benar-benar lebih penting dari itu, karena ini menyangkut masa depan putri sulungnya, Gita. Dan beliau masih digelayuti kebimbangan untuk mengatakannya.

***

Tiga hari setelah kejadian malam itu Pak Marno masih dibebani rasa bimbang. Tetapi beliau sudah memutuskan untuk mengatakannya malam itu setelah makan malam. Beliau ingin berbicara empat mata dengan Gita.

Tok…Tok…Tok….,” suara pintu yang diketuk membuyarkan konsentrasi Gita yang sedang menyusun jadwal kegiatan.

“Git, ini ayah. Apa ayah boleh masuk, ayah ingin bicara berdua dengan kamu.”

“Ya boleh, Yah, masuk saja nggak Gita kunci kok.”

Setelah lima belas menit dalam keheningan, akhirnya ayahnya mulai berbicara.

“Git, kamu masih ingat sama Pak Restu teman ayah nggak?”

“Oh yang sekarang trans di Kalimantan ya, Yah?”

“Iya betul, sekarang beliau sedang di Banjarnegara untuk menjenguk saudaranya yang sakit parah, dan lima hari yang lalu beliau menagih janji kepada ayah, apakah ayah harus menepatinya”

“Seperti nasihat ayah pada Gita, janji itu adalah utang, utang itu harus dibayar. Jadi, ayah wajib menepatinya. Memangnya ayah janji apa?”

Bukannya menjawab Pak Marno malam diam mendengar pertanyaan putrinya.

Kok diam Yah….”

“Git, sebenarnya janji itu menyangkut masa depanmu…….,” Pak Marno kembali terdiam. Seperti ada beban berat yang menimpanya saat beliau mengatakannya.

“Sebenarnya sepuluh tahun yang lalu ayah berjanji untuk menikahkan kamu dengan Aryo putra sulung Pak Restu…”

“Apa…? Kenapa ayah tidak pernah cerita sebelumnya?”

Suasana semakin tidak karuan. Gita yang tadi cukup tenang mulai gelisah mendengar apa yang baru saja di ucapkan ayahnya.

“Git, bukannya ayah tidak ingin cerita sama kamu, tetapi ayah berniat menceritakan semuanya setelah kamu lulus SMA. Namun Tuhan berkata lain, Pak Restu menginginkan pernikahan ini dilangsungkan segera.”

Setitik air mata mulai jatuh dari sudut mata Gita. Pilu, sedih, dan gelisah saat ini melandanya. Ia sudah kehilangan kata-kata untuk berkata tidak. Karena semua alasan yang ingin ia sampaikan ayahnya telah lebih mengetahuinya. Tentang cita-citanya, tentang impiannya, tentang kegiatannya, segalanya ayahnya lebih tahu.

“Git, Ayah minta maaf. Tapi, kamu tahu tentang prinsip hidup ayah kan? Ayah harap kamu bisa menerimanya. Pernikahanmu akan dilangsungkan tangga 24 Juni…” ucap Pak Marno sambil mengelus rambut Gita yang hitam lurus.

Pak Marno meninggalkan Gita yang sedang dirundung kesedihan. Ia tahu putrinya sangat sedih mendengar keputusan ini. Tetapi ia juga tidak mungkin menjilat ludahnya sendiri. Tidak mungkin. Beliau terlanjur menyetujui semuanya, tentang pernikahan Gita yang disegerakan sebelum membicarakannya dengan Gita.

Malam inipun merupakan malam yang begitu gelap bagi Gita. Tanpa bintang-bintang dan tanpa cahaya rembulan. Terlalu banyak rasa ngilu yang bersarang di hatinya. Ia terlalu tidak paham dengan kondisinya saat ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Malam itupun ia lalui bersama air mata kesedihannya.

***

Keesokan harinya Gita berniat membicarakan tentang rencana ayahnya kepada ibunya setelah pulang dari sekolah, sebelum ayahnya pulang dari bekerja. Mungkin ibunya bisa diajak diskusi. Di sekolah Gita tidak fokus dengan apa yang ia kerjakan. Yang ada di pkirannya saat ini adalah segera pulang ke rumah untuk menemui ibunya. Rapat PMRpun dibatalkan. Setelah bel pulang berbunyi, Gita dengan setengah berlari pulang ke rumah.

Tumben kamu pulang cepat Git, nggak ada rapat?” tanya Bu Marno ketika mendapati putri sulungnya pulang lebih awal.

“Gita ingin bicara empat mata dengan Ibu.”

“Ooh, duduk sini sayang,” sambil menepuk bangku di sebelahnya.

“Bu, apakah pernikahan Gita tidak bisa dibatalkan?” ucap Gita sambil menatap wajah ibunya memelas.

Ibu menarik napas panjang, ”Git, kamu tahu bagaimana ayah kamu kan? Sekali ayah berkata, ’ya’ maka sampai kapanpun akan tetap begitu.”

“Tapi Bu, Gita ingin terus sekolah. Gita ingin menjadi bidan pertama di desa kita Bu. Ibu tahu kan itu cita-cita Gita sejak kecil”

“Git, Ibu tahu itu. Tetapi perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh nantinya paling-paling kerja di rumah, memasak, mengasuh anak-anaknya, membersihkan rumah. Lihat saja Mbak Rini tetangga kita yang katanya Sarjana Keperawatan, setelah menikah juga hanya mengasuh anak-anaknya dan merawat rumah. Kamu mengerti kan Git?”

“Tapi Bu, itu kan mereka. Gita tidak akan seperti itu,” Gita mulai menangis.

“Ingat sekali lagi Git. Sekali ayah berkata nikah maka kamu harus mematuhinya. Tidak ada alasan untuk menolaknya. Apa kamu ingin jadi anak durhaka?”

“Gita tidak ingin durhaka Bu. Tapi, apakah pernikahan itu tidak bisa ditunda Bu, setidaknyaaa…,” Gita mengantung ucapannya.

“Setelah Gita pelantikan PMR.”

“Maaf, Git. Pernikahanmu tidak mungkin diundur karena keluarga Pak Restu akan kembali ke Kalimantan tanggal 26 Juni. Maaf karena ibu tidak bisa membantu…”

Tangisan Gita semakin menjadi. Bu Marno memeluk Gita sambil berbisik, ”Ini sudah jadi rencana Tuhan untuk kamu, Git.”

Mereka berdua akhirnya berpelukan satu sama lain. Air matapun tak luput jatuh dari sudut mata Bu Marno yang mulai berkerut. Ia tidak tega melihat putrinya seperti itu. Tetapi, keputusan suaminya tidak mungkin dapat diganggu gugat.

Setelah pembicaraan siang itu, Gita menjadi lebih pendiam. Di sekolah Gita lebih banyak menyendiri. Bahkan dalam rapat-rapat PMR ia lebih banyak diam. Teman-temannya tidak tahu dengan apa yang dialaminya saat ini. Ia tidak bercerita kepada siapapun. Bahkan dengan Riska sahabatnya ia tidak bercerita. Ayahnya tetap mengizinkan Gita untuk tetap berangkat sekolah dan atas permintaan Gita, ayahnya juga merahasiakan pernikahannya. Gita ingin mereka tahu setelah ia benar-benar sudah sah menjadi istri Aryo.

***

Hari ini pengurus harian PMR akan mengadakan survei lokasi ke Buper. Gita ikut serta dalam survei tersebut, meskipun teman-temannya melarang karena kondisi fisiknya sedang tidak fit.

Jalan menuju Buper merupakan jalanan yang berkelok-kelok. Di sepanjang sisi jalan ditanami pohon mahoni yang membuat jalanan terasa lebih sejuk. Keberangkatan mereka menuju lokasi berjalan lancar. Namun, perjalanan pulang mereka tidak seberuntung tadi. Hujan mengguyur jalanan ketika mereka baru setengah jalan. Dan sialnya lagi, mereka tidak membawa jas hujan.

Keesokan harinya Gita terlihat sangat pucat. Sebelum berangkat ibunya telah menasihati agar Gita tidak usah berangkat. Tetapi Gita tetap berangkat karena hari ini akan dilakukan rapat untuk membahas hasil survei kemarin.

“An, temenin aku ke toilet ya. Aku agak pusing,” pinta Gita saat pelajaran Matematika berlangsung.

Melihat Gita yang begitu pucat Ana menemani Gita ke toilet meskipun dengan berat hati karena harus meninggalkan pelajaran Matematika, pelajaran kesukaannya. Baru saja mereka sampai di toilet, Gita segera memuntahkan isi sarapannya tadi pagi. Beberapa siswi yang ada di sana mengarahkan pandangan mereka ke arah Gita. Yang dipandangi tak acuh karena terlalu sibuk memuntahkan isi perutnya. Ana yang menyadari hal itu memberi isyarat agar mereka tak memandang Gita seperti itu.

***

Gita sakit. Ya, setelah kejadian di toilet itu, Gita tidak masuk sekolah. Bahkan ia tidak jadi ikut rapat hari itu. Gita diizinkan untuk pulang lebih awal. Kabar Gita sakit segera menyebar ke seluruh antero sekolah. Apalagi setelah hari ketiga dari ketidakberangkatan Gita, Pak Marno dan Bu Marno datang ke sekolah untuk menyampaikan bahwa Gita akan segera menikah. Waka kesiswaan begitu kaget mendengar apa yang disampaikan orangtua Gita. Beliau bahkan menyarankan agar orang tua Gita  memikirkan kembali tentang hal itu. Tapi keputusan mereka sudah bulat, bahkan terlalu bulat.

***

Seminggu sebelum menikah ia menyempatkan diri untuk berangkat sekolah. Ia tak menyangka ternyata saaat ini ia telah menjadi buah bibir hampir seluruh siswa di SMA-nya. Dan, yang paling menyakitkan adalah omongan yang mengatakan, ”Kalian tahu nggak Gita ketua PMR tahun ini sudah hamil, makanya ia cepat-cepat menikah.” Entah dari mana datangnya kabar itu tapi hampir semua warga sekolahnya mempercayainya.

Saat jam istirahat ia datang ke kantor Waka Kesiswaan. Entah apa yang dia lakukan. Tapi, Gita berharap ini akan menjadi jalan untuknya meraih cita-citanya menjadi seorang bidan.

Sebelum pulang dia menyempatkan diri untuk datang ke rapat PMR. Para pengurus PMR menyambut kedatangan ketua mereka dengan penuh kegembiraan.

“Teman-teman, saya mohon pamit pada kalian semua. Seminggu lagi saya akan menikah dan …..,” ucapannya terpotong saat butiran air mata jatuh di pipinya.

Setelah  menghela nafas panjang Gita melanjutkan ucapannya, “Kumohon kalian jangan percaya dengan omongan yang mengatakan bahwa aku  hamil. Itu semua tidak benar, sungguh……. ..” Tangisan Gita sudah tidak tertahankan lagi. Ia menangis di hadapan teman-temannya.

“Sudah jangan lanjutin lagi Git, kita semua percaya sama kamu kok…”

Di sela-sela tangisannya Gita juga meminta maaf tidak bisa hadir pada acara pelantikan karena pernikahannya pun akan dilaksanakan tanggal 25 Juni.

***

Malam yang akan mengubah segalanya bagi Gitapun tiba. Tadi siang akad nikahnya sudah dilangsungkan dengan cukup meriah. Kebaya putih dengan bawahan batik masih menempel di tubuh Gita. Kini ia sedang duduk di ranjang pengantinnya. Ranjang yang penuh dengan hiasan bunga. Ia menunggu suaminya yang sedang menghapus make up di mukanya. Gita memperhatikan Aryo yang sedang membuka jas dan dasinya. Ia ingin mengatakan sesuatu.

“Mas, bolehkah Gita meminta sesuatu…”

Ucapan Gita menghentikan gerakan tangannya, kemudian menghampiri Gita dan duduk di sampingnya.

“Memangnya Gita pingin apa, ngomong aja. Kita kan sudah jadi suami istri jadi tidak perlu sungkan-sungkan.”

“Mas, Gita masih ingin sekolah,” Gita diam sejenak untuk melihat raut muka Aryo yang kini telah menjadi suaminnya, lalu ia melanjutkan, “Apakah Mas mengizinkan Gita untuk sekolah, setidaknya sampai Gita lulus SMA, Gita mohon…”

“Memangnya Gita ingin menjadi apa?”

“Gita ingin menjadi seorang bidan Mas. Tapi, jika memang sudah tidak bisa diwujudkan, setidaknya Gita ingin lulus SMA”

“Tapi bukankah orang yang sudah menikah tidak boleh SMA lagi.”

“Maka dari itu Gita pingin sekolah di Sulawesi, Gita sudah minta surat pindah dari sekolah, akankah Mas mengizinkan Gita untuk sekolah lagi?”

Pertanyaan itu amat membingungkan Aryo. Ia diam menanggapi permintaan Gita, istrinya. Ia bingung harus menyanggupinya atau tidak. Jika ia menyanggupinya maka selama satu tahun ke depan di Sulawesi ia harus mengatakan bahwa Gita adalah saudaranya, bahwa mereka tak akan melakukan hubungan suami istri selama satu tahun. Dan, apa yang akan dikatakan orang tuanya nanti. Tetapi, jika tidak maka ia akan menghancurkan cita-cita Gita, istrinya. Cita-cita calon ibu dari anaknya. Akankah dia tega?

Malam pertama pernikahan mereka pun tak berjalan seperti para pengantin lainnya. Di ranjang yang telah dihiasi bunga-bunga aneka warna berbaring Aryo dan Gita yang saling membelakangi. Gita masih terlihat menangis. Pikirannya memandang keluar jendela kaca kamarnya. Akankah malam ini akan mengakhiri cita-citanya atau akan menjadi jalan baru baginya. Gita tak tahu. Ia sudah siap untuk menerima apapun keputusan Aryo, suaminya.

-SEKIAN-

Lela Caga adalah nama pena dariNur Laila Sofiatun, lahir di Banjarnegara, 11 Mei 1993 yang merupakan alumni MAN 2 Banjarnegara tahun 2011. Sekarang kuliah di Pendidikan Fisika Universitas Negeri Semarang dan tinggal di Desa Badamita RT 04 RW 02 Kecamatan Rakit, Banjarnegara 53463.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s