Sapu Tangan Terbang

Oleh Umu Khairani Mintareja

“Hai Ran! Ke mana aja, dari kemarin kenapa nggak nongol-nongol?” sapa Sisi, gadis remaja yang berperawakan ideal,tidak kurus, dan juga tidak gemuk.

“He..he… maaf yah, aku dah lama nggak gabung ma kalian, mangnya ada berita yang menghebohkan ya selama aku nggak masuk?”

“Banyak banget sampai-sampai kalo aku ceritakan nggak akan selesai deh,” jawab Sisi.

“Ayolah ceritakan,”dengan wajah sedikit memohon Ran mengharap sahabatnnya itu mau menceritakan kejadian-kejadian yang ada selama ia tidak masuk sekolah. Sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba Zaza mengagetkan mereka berdua.

”Hayo!! Lagi ngomongin apa sih kok serius amat?” tanya Zaza dengan wajah tanpa dosa, padahal Sisi dan Ran merasa kagetnya minta ampun sampai-sampai jantung mereka mau copot. Perbincangan ketiga sahabat itu pun diakhiri dengan datangnya bunyi bel yang menyelusup sampai ke sudut ruang sekolah. Hal itu berarti pelajaran akan segera dimulai.

Sisi, Ran, dan Zaza adalah tiga sekawan yang sulit untuk dipisahkan, walaupun mereka kenal baru dua setengah tahun sejak mereka duduk di bangku SMA. Mereka adalah tiga sahabat yang unik. Sisi, gayanya sangat feminim dan sering sekali berganti pacar. Maklum, dengan wajahnya yang manis dan bibirnya yang tipis banyak menggoda cowok yang ada di sekelilingnya. Ran agak berbeda, ia tidak terlalu feminim tetapi juga tidak terlalu tomboy. Gayanya cuek, wajahnya oval, hidung tidak pesek dan juga tidak mancung. Badannya tinggi dan agak besar namun belum termasuk kategori gemuk lho. Kata teman-temannya, dia lucu karena pipinya yang chubby. Dia belum pernah sama sekali pacaran, katanya sih nggak penting. Satu lagi, si  Zaza yang karakternya bertolak belakang sekali dengan Sisi. Dia tomboy abis, sampai-sampai dia tidak punya baju cewek sama sekali, kecuali baju yang dia kenakan untuk sekolah yang masih menunjukkan bahwa Zaza itu cewek. Sama halnya dengan Ran, Zaza juga belum pernah mencoba yang namanya pacaran. Katanya sih apa itu pacaran, nggak mudeng ah.

Memang mereka bertiga adalah pribadi yang berbeda-beda. Namun di tengah perbedaan itu,  justru persahabatan mereka sangat erat dan tidak pernah dirundung masalah walaupun sekecil apapun. Perbedaan yang ada ternyata digunakan untuk saling mengisi kekurangan masing-masing.

Tett,tett,tett,tett…!!” bel pertanda berakhirnya proses belajar mengajar hari ini, telah menggema ke seluruh sudut ruangan. Semua siswa pun berhamburan keluar ruangan. Mereka sudah tidak sabar ingin sampai ke rumah. Ada juga sih yang tidak terburu-buru ingin pulang dan masih duduk di sekitar sekolah. Tiga sekawan yang biasa dijuluki geng ceriwis ini (mungkin karena ketiganya doyan banget ngomong dan ke mana-mana selalu bersama), tidak mau kalah dengan yang lain mereka ikut berjubel keluar tanpa memikirkan kiri-kanan, mereka menerjang kerumunan orang yang ada di depannya.

”Akhirnya kita bisa keluar juga,” kata Ran dengan wajah yang bangga karena dapat mendahului teman-temannya.

”Iya, serasa didalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan kardus-kardus yang menumpuk dan kita disuruh memindahkannya,” kata Sisi yang selalu lebay.

“Walah gayamu, kayak pernah aja disuruh angkat kardus,” kata Zaza dengan sedikit menyindir Sisi yang centil dan manja itu.

”Eh, aku go home dulu ya, bokap dah jemput tuh.”

Oke, hati-hati ya Ran, kalo jatuh berdiri sendiri,” kata kedua sahabatnya dengan serempak. Tak lama kemudian Sisi dan Zaza pun pulang dengan naik angkot langganan mereka. Ketika mereka berdua baru naik, kenek yang selalu meledek gerombolan geng ceriwis itu pun bertanya, “Neng, kok anggotanya kurang satu? Ke mana?”

”Ehm, Abang ini kayak nggak tahu aja. Si Ran itu kan kadang-kadang dijemput ma Bokapnya,” jawab Zaza.

”Ya maklum Neng, Abang kan sudah kepala tiga jadi sudah mulai pikun.”

”Abang ini, gitu aja kok lupa. Tapi, kalo masalah duit nggak pernah lupa.”

”Wah itu beda lagi, Neng.”

Selama di perjalanan pulang tak henti-hentinya mereka bercengkerama, entah apa yang mereka bahas, hingga mereka hampir kebablasen.

”Kiri Bang…!” teriak Zaza dan Sisi bersamaan.

”Kiri…kiri…, eh lubang….lubang…! Neng ini, membuat kaget saja!”

”Ha…ha…ha…, latahnya keluar lagi tuh,” seru Zaza yang senang sekali meledek abang kenek yang latah. Turunlah mereka berdua dengan tertawa geli karena telah berhasil membuat latah abang kenek tadi.

*****

Keesokan harinya Sisi, Zaza, dan Ran telah berkumpul di tempat yang telah dijanjikan. Hari minggu dan adalah kebiasaan mereka bertiga untuk jogging.

”Sebenarnya aku males banget hari ini, masih ngantuk,” kata Zaza.

”Eits tidak bisa, kita kan sudah janjian. Ayo, kita mulai lari,” seru Sisi.

Mereka bertiga pun berlari menuju alun-alun yang selalu ramai pada saat hari minggu seperti ini. Di alun-alun ini juga tidak kalah dengan pasar yang selalu ramai dipadati oleh penjual dan pembeli yang sedang bertransaksi. Maklum, di sini juga banyak pedagang yang menjajakan dagangannya kepada setiap orang yang singgah utuk sekedar beristirahat  ataupun mengisi perut mereka yang kosong. Setelah Sisi, Zaza, dan Ran berlari mengitari alun-alun untuk beberapa putaran, mereka pun beristirahat sambil menyantap bubur ayam yang sejak tadi menggoda cacing-cacing dalam perut mereka bertiga.

“Akhirnya aku bisa sarapan bubur ayam,” kata Sisi.

“Idiih…lebay banget Si, kayak nggak pernah makan aja,” ujar Zaza.

Sedang asyik-asyiknya makan di atas karpet yang telah disediakan, tiba-tiba… Prang!! Mangkuk yang sedang dipegang Ran jatuh dan bubur yang berada di dalam mangkuk tersebut mengotori baju dan celana Ran.

”Aduh gimana nih teman-teman, semuanya jadi tumpah, pakaianku kotor lagi.”

“Salah kamu sendiri, Ran,” kata Sisi. Tak lama kemudian ada sebuah benda melayang terhembus angin dan kemudian jatuh di depan Ran.

”Wah lumayan nih ada sapu tangan, milik siapa ya? Ah, nggak apa deh aku pakai aja dulu buat bersihkan bajuku daripada pulang dengan baju kayak gini,” ujar Ran dalam hati.

“Cepat gih bersihkan, cepat pulang biar nggak malu kelamaan di sini dilihatin orang banyak tuh” ajak Sisi.

”Ya, ya, bentar nih lagi tak bersihin dulu.”

Ketika Ran sedang membersihkan bajunya ada seorang cowok yang berperawakan tinggi, besar, warna kulit kuning langsat, hidung mbangir menghampiri dan menegur Ran dengan nada yang kurang bersahabat.

”Hei kamu yang pakai kaos biru,sini kamu!!” ujar cowok tadi.

Ran yang merasa mengenakan kaos berwarna biru pun spontan menjawab, ”Ada apa manggil-manggil seenaknya, emangnya kamu siapa? Nggak sopan banget sih.”

”Tahu nggak, hah itu…”

Nggak tahu tuh!”

“Aku belum selesai bicara tahu! Dengerin dulu kalo orang lagi ngomong.”

Emangnya apaan sih, penting banget ya? Nggak tahu orang lagi sibuk juga.”

Ran masih saja membersihkan pakaiannya yang kotor.

”Tahu nggak,  itu sapu tangan aku cari-cari dari tadi, ternyata di sini. Kamu yang ngambil, ya?”

”Enak aja, aku juga nggak tahu, tiba-tiba jatuh di depanku. Berhubung pakaianku kotor, ya aku pakai aja buat lap,” jawab Rani dengan cueknya.

“It, it…, itu… sapu tangan mahal tahu! Seenaknya saja kamu pakai. ayo kembalikan!”

Bukannya minta maaf, Ran dengan cuek-nya berkata, ”Ini aku kembalikan, makasih ya?”

”Ini sapu tangan sudah kotor, harus kamu cuci dulu!”

“Katanya suruh dibalikin, kan sudah aku balikin,” kata Ran.

”Ya, tapi maksudku…”

Belum selesai ngomong Ran memotong, “Maksudku apa…,maksudmu mau kenalan gitu, eh sorry ya. Sudah ah aku mau pulang, bye bye … Ayo teman-teman!” ajak Rani pada kedua temannya.

”Awas ya kalo kita ketemu lagi…!” ujar cowok tadi dengan kesal.

*****

”Aduh aku telat, sudah jam berapa nih, gawat aku harus cepat-cepat kalo nggak bisa disetrap…” Dengan tergesa-gesa Ran mandi. Belum sempat sarapan, Ran langsung berangkat ke sekolah. ”Ah, gara-gara semalam aku nonton film sampai larut malam.”

Setibanya di depan sekolah Ran langsung berlari,  pintu gerbang sudah akan ditutup.

”Tunggu Pak Satpam…!” teriak Ran. Untungnya Pak Satpam belum keburu menutup pintu gerbangnya dan Ran pun diizinkan masuk. Dengan tersengal-sengal Ran menuju ke kelasnya. Jam pertama adalah pelajaran matematika, gurunya terkenal sangat killer. Dengan masih gugup dan badan yang penuh keringat di sekujur tubuhnya, Ran memberanikan diri mengetuk pintu kelas.

”Assalamu’alaikum, permisi Pak…”

”Wa’alaikumsalam…,” semua siswa menjawab salam Ran.

“Siapa? Mengganggu pelajaran saya saja!”

Dengan wajah yang mengiba  Ran masuk dan meminta maaf, berharap ia tidak diberi hukuman yang berat. Namun pada akhirnya, Ran tetap harus berdiri di depan kelas sampai pelajaran Matematika usai.

“Assalamu’alaikum….,” terdengar suara Bu Laila di muka pintu.

”Wa’alaikumsalam…,” jawab yang di dalam kelas.

”Maaf Pak, saya mengantar siswa baru untuk kelas ini.”

Bu Laila mengantarkan seorang siswa pindahan yang akan bergabung di kelas Ran. Siswa itu pun memperkenalkan diri, Danu namanya dan dia pindahan dari Jakarta. Kening Ran, Zaza, dan Sisi berkerut. Mereka merasa tidak  asing dengan siswa pindahan tersebut. Setelah diingat-ingat ternyata siswa baru itu adalah cowok yang bertengkar dengan Ran di alun-alun kota kemarin, yang sapu tangannya terbang dan berlabuh di pangkuan Ran. Ketika Danu duduk dan melihat ke sudut depan ruang kelas ia merasa tidak asing dengan gadis yang berdiri di depan kelas sambil menundukkan kepalanya. ”Wah itu kan cewek yang kemarin memakai sapu tanganku,” ujar Danu dalam hati.

Akhirnya jam pelajaran Matematika usai, Ran sangat bahagia karena hukuman yang diberikan kepadanya telah usai. Namun kebahagiaannya itu terusik dengan kehadiran Danu, siswa baru yang pernah bertengkar dengannya. Ran tetap berusaha bersikap cuek.

Pada jam istirahat, tiba-tiba Danu menghampiri Ran yang sedang asyik menyantap jajan yang ia beli di kantin bersama kedua temannya.

”Hei, kamu kan cewek yang waktu itu memakai sapu tanganku tanpa izin, ya kan?!” ujar Danu dengan nada agak tinggi.

”Iya, emangnya kenapa? Aku kan sudah minta maaf,” sahut Ran.

”Minta maaf  saja nggak cukup, kamu harus mencuci sapu tanganku yang telah kamu kotori kemarin. Nih sapu tangannya!” kata Danu seraya melemparkan sapu tangan itu.

Saat Danu melemparkan sapu tangan itu ke arah Ran, tiba-tiba angin yang cukup kencang menerbangkan sapu tangan itu kembali. Tidak disangka-sangka sapu tangan yang kotor itu mendarat di wajah Kepala Sekolah yang kebetulan melintas…*)

*****

Umu Khairani Mintareja lahir di Jayapura, 7 April 1993. Merupakan alumni MAN 2 Banjarnegara tahun 2011 yang gemar bersastra. Kini Rani yang kuliah di Jurusan Teknologi Produk Kulit, Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta ini tinggal di Perum Kalisemi Indah, Blok A1/6 Parakancanggah Banjarnegara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s