Satu Keinginan

Cerpen  Nisamedee

Tepat tengah malam, Trimo masih duduk termenung. Ia sadar, ia tak punya apa-apa, hanya berteman bantal kempes tiap malamnya, beratapkan daun rumbia, dan beralaskan tanah. Sementara dengungan nyamuk seolah menjadi iringan musik tersendiri di kesunyian malam. Ia teringat kembali kejadian siang tadi.

“Bu, bolehkah saya melanjutkan sekolah? Teman-teman yang lain juga akan melanjutkan,” kata Trimo dengan penuh harap.

 “Tidak. Sekali ibu bilang tidak, tetap tidak. Buat apa kamu melanjutkan sekolah, kita itu orang miskin, tak punya apa-apa. Jangankan membayar sekolahmu, untuk makan saja tak mesti. Bagaimana jika kamu sekolah, siapa yang akan membelikan kamu buku, baju, sepatu, dan lain-lain? Siapa?!” sergah Bu Pinah, ibu tiri Trimo, yang kemudian melanjutkan dengan omelannya.

 “Tahukah kamu, semua ini gara-gara ayahmu! Begitu tololnya aku hingga mau menikah dengan ayahmu yang miskin, terlebih lagi harus mengurusmu!”

“Maafkan saya Bu, andai saya tahu keberadaan ayah,” kata Trimo.

“Ah, sudahlah. Tak perlu berandai-andai, pokoknya cepat atau lambat kamu harus menemukan ayahmu secepatnya. Sekarang pergilah kamu ke dapur, ambil kacang rebus itu, dan juallah. Terserah kamu mau menjualnya di mana.”

Begitulah rutinitas harian Trimo setelah pulang sekolah. Ia harus menjual kacang rebus di jalan raya untuk makan sehari-hari dengan ibu tirinya. Bahkan, jika kacang rebus itu tidak laku terjual, Trimo harus menelan pil pahit karena setibanya di rumah ia akan dimarahi ibu tirinya dan tidak mendapatkan jatah makan.

Perasaan Trimo sudah kebal untuk hidup seperti itu. Ia telah terbiasa untuk menerima dan menjalaninya, walaupun pahit rasanya. Ia mesti tabah, sebagaimana yang diajarkan oleh ayahnya, ayah yang telah meninggalkannya entah ke mana. Ingin sekali ia menemukan keberadaan ayah.

******

“Hei anak miskin, mau sekolah tidak setelah kamu lulus? Apa tetap setia dengan kacang rebusmu, hah? Sungguh malang nasibmu. Tapi, wajah-wajah seperti kamu itu memang pantas kok untuk jualan kacang, ha…ha…ha…!” meledaklah tawa Rio dan teman-teman satu gengnya.

 “Apalagi sangat cocok dengan kulitnya yang hitam, seperti ikan gosong, ha…ha…ha…!” ledek Tio yang satu geng dengan Rio. Teman-teman Trimo hanya berani berdiam diri. Mereka tak berani ‘cari mati’ untuk melawan Rio dan kawan-kawannya.

“Ssssstt…!” suara dari arah depan yang memberi kode kalau ada guru datang.

“Selamat siang, anak-anak,” sapa Bu Kia sambil berjalan masuk kelas.

“Selamat siang Bu..!” sontak beramai-ramai siswa menjawab salam Bu Kia.

“Ada pengumuman dari kepala sekolah, bahwa bagi siswa yang kurang mampu, yang ingin melanjutkan skolahnya, dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh beasiswa atau bantuan gratis dari pemerintah. Bagi yang berminat, silakan fotokopi raport dari semester satu sampai dengan semester lima, lalu kumpulkan kepada wali kelas kalian.”

Sepulang sekolah, sambil berjalan menuju rumahnya Trimo tidak berhenti memikirkan pengumuman dari Bu Kia tadi. “Ini sungguh kesempatan emas buatku,” batin Trimo, “Tapi bagaimana dengan ibu, ia tak mengizinkan aku untuk sekolah lagi”

Setelah beberapa lama berjalan, sampailah Trimo di rumah, yang sebenarnya tak pantas disebut rumah karena lebih pantas disebut gubuk, dengan kanan kiri dindingnya semuanya terbuat dari anyaman bambu, yang banyak bolongnya karena sudah tua, dan juga beralaskan tanah yang lembab dan dingin bila malam hari. Tanpa sempat beristirahat  barang sebentar, Trimo segera berganti pakaian kemudian mempersiapkan kacang rebus yang akan dijualnya di jalanan. Ia sempatkan untuk menengok tudung saji di meja makan untuk melihat apakah tersedia makanan atau tidak, ternyata ada. Namun, baru saja mau mengambil makanan itu, terdengar suara mengejutkan.

 “Hei, bocah! Mau apa kamu?” bentak Bu Pinah.

”Makan Bu, saya lapar, dari tadi pagi belum makan,” jawab Trimo lirih.

”Tidak bisa. Kamu harus menjual kacang rebus itu dulu baru kamu boleh makan. Itu jatahku!”

Trimo hanya mampu terdiam, tak berani melawan ibu tirinya. Akhirnya ia pun pergi juga untuk berjualan kacang rebus, meski dengan tubuh yang lemas menahan lapar.

Di jalan Trimo bertemu Firman, teman  senasibnya.

”Hai Fir, mau jualan di daerah mana kita sekarang?” tanya Trimo.

“Kemarin kan sudah di dekat lampu merah, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke terminal, siapa tahu di sana lebih laku,” kata Firman yang berjualan aneka minuman.

Okelah, ayo ke sana!”jawab Trimo dengan ceria.

Sesampainya di terminal, mereka berpencar untuk  menjajakan dangangannya kepada para penumpang ataupun pada sopir dan kenek angkutan yang sedang beristirahat.

Tak terasa jam telah menunjukkan angka 16.30, Trimo dan Firman pun bertemu kembali dan segera mengemasi dagangannya dan berniat untuk pulang.

“Bagaimana hari ini? Apakah terjual semua?” tanya Firman.

“Alhamdulillah, meskipun masih ada sisa sedikit tapi lumayan,” jawab Trimo. Mereka pun bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Sampai ketemu besok Mo.”

“Ya, sampai ketemu juga Firman. Hati-hatilah di jalan dan sampaikan salamku untuk ibumu.” Mereka pun berpisah di persimpangan jalan.

Sebenarnya Trimo merasa sangat lemas hari ini karena sejak pagi ia belum memasukkan sedikitpun makanan ke mulutnya. Kini ia segera berlari melihat rumahnya dari kejauhan. Ia sudah tak sabar lagi untuk  memuaskan cacing-cacing yang telah memberontak di perutnya. Setelah meletakkan sisa dagangannya, ia pun mencari ibu tirinya untuk menyerahkan uang hasil berdagang. “Bu…… Trimo sudah pulang.”

Tak lama Bu Pinah pun menghampiri Trimo, “Mana uangnya?”

“Ini Bu,” jawab Trimo.

Bu Pinah segera menghitung uang yang diberikan Trimo. “Seribu, dua ribu, lima ribu. Lho, cuma segini dapatnya? Sedikit sekali, ini hanya cukup untuk makan malam saja.”

“Maaf  Bu, memang hanya segitu lakunya,” bela Trimo.

“Huuh!” keluh Bu Pinah sambil berlalu keluar rumah, berkumpul lagi dengan ibu-ibu tetangga.

Trimo sudah tak sabar lagi, ia buru-buru pergi ke dapur untuk mengambil makanannya. Di atas meja reyot itu hanya tersedia sepotong tempe goreng yang  gosong karena terlalu lama di atas api, dan juga sepiring nasi dingin.

“Tak apalah, sekedar untuk mengganjal perutku,” batin Trimo menghibur diri.

Di malam hari Trimo tak pernah sedikitpun melewatkan waktunya untuk belajar. Ia amat mencintai hobinya itu. Dulu sewaktu ayahnya masih bersamanya banyak waktu yang ia gunakan untuk belajar bersama teman-temannya sepulang sekolah. Tapi kini setelah ayahnya pergi untuk mencari pekerjaan yang layak, ia sudah tak punya waktu lagi untuk mengerjakan hobinya itu.

Trimo selalu memimpikan untuk dapat melanjutkan sekolah ke jenjang lanjutan atas. Itulah cita-citanya bila ia lulus SMP nanti. Ia ingin sekolah setinggi mungkin, menjadi anak yang berprestasi, dan menciptakan sesuatu yang bisa berguna bagi kehidupan manusia. Seperti idolanya sepanjang hidup, BJ Habibie. Ia mendapat banyak pelajaran berharga dan juga inspirasi hidup yang ia dapatkan dari tokoh idolanya tersebut. Ia sangat berharap jika takdir membolehkannya untuk bertemu dengan idolanya itu.

Tapi halang rintang telah menantinya. Bu Pinah sama sekali tak mau mengizinkan Trimo untuk melanjutkan sekolah. Bu Pinah menyuruh Trimo untuk bekerja agar mendapatkan uang yang banyak. Apalagi sekarang ini Bu Pinah sedang ikut-ikutan trend ibu-ibu tetangga yang senang memakai pernak-pernik emas. Sering ia termenung, akan jadi apa ia nanti jika ia tidak dapat bersekolah sampai tinggi. Akankah ia tetap berkutat dengan pekerjaannya sekarang ini, berjualan kacang rebus di jalanan.

Jika ia dapat bersekolah, ia tentu akan mendapatkan banyak ilmu. Setelah ada ilmu, tentunya muncul ide-ide untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya itu. Setelah muncul ide-ide, ia akan membuat sesuatu yang berguna, bagi dirinya, keluarga, dan juga seluruh umat manusia. Seperti idolanya BJ Habibie, yang dapat membuat pesawat, sehingga hasil pemikirannya itu dapat bermanfaat bagi orang banyak. Tentunya ada kepuasan tersendiri, begitu pikir Trimo.

“Ah, sudahlah. Kuharap aku dapat memperoleh apa yang aku inginkan,” katanya dalam hati seraya mengucapkan doa sebelum tidur. Terlelaplah ia dalam gelap malam.

******

Trimo merupakan anak terpintar di kelas, sehingga teman-temannya sangat menyeganinya. Di sekolah ini Trimo bertumpu penuh pada beasiswa yang didapatnya dari sekolah. Karena ibu tirinya tak mampu membiayai, ia terus bekerja keras dalam belajar agar terus mendapatkan beasiswa itu.

Hari terus berganti, Ujian Nasional telah berlalu, hingga tibalah saat yang dinanti-nanti oleh para siswa, pengumuman ujian! Nama Trimo tentu terpampang di daftar anak-anak yang lulus dengan nilai yang tinggi. Bahkan dialah sang juara. Ia mendapat peringkat pertama. Sungguh membanggakan.

“Trimo, apakah kamu benar-benar tidak ingin melanjutkan sekolahmu, Nak?” tanya Bu Ani di ruang guru.

“Ingin Bu, sangat ingin,” jawab Trimo seadanya.

“Kenapa kamu tidak mendaftar saja kemarin untuk dapat beasiswa? Itu akan membantumu,” kata Bu Ani ramah.

“Saya ingin Bu, tapi saya tidak bisa. Ibu saya melarang untuk melanjutkan sekolah.”

“Oh, ibu tirimu itu memang keterlaluan. Ia selalu memanfaatkanmu. Ia tak pernah peduli dengan keadaanmu. Bersabarlah. Yakinlah bahwa suatu saat, kebaikan akan berpihak padamu. Teruslah bekerja keras. Jangan pernah mengeluh dengan keadaanmu sekarang. Tetapi, bangkitlah untuk mencapai apa yang kamu inginkan dan kamu cita-citakan. Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu, Nak,” nasihat Bu Ani dengan rasa keibuan.

“Terima kasih Bu, saya akan mengingat kata-kata Ibu. Saya akan terus berusaha semampu saya. Permisi Bu.”

Setelah hari itu, hidup Trimo menjadi berubah. Tak ada lagi nyanyian, tak ada senda gurau, tak ada coretan-coretan bermakna di atas kertas putih. Tak ada petuah-petuah ataupun nasihat yang didengarnya dengan penuh semangat. Yang ada hanyalah keramaian, kebisingan, panas, dan debu yang menyertainya setiap hari.

Seperti biasa, kali ini karena Trimo tidak sekolah, ia tentu bekerja seharian. Di tengah teriknya panas matahari yang menyengat tubuh. Ditambah lagi bajunya yang sudah sobek di sana-sini karena tak pernah dibelikan baju oleh ibunya. Hal itu menambah beban panas yang langsung menyentuh kulit, membuatnya menjadi lebih hitam. Legam!

Trimo pun mulai berjalan mondar-mandir untuk menjual dagangannya. Pukul 12.00 Trimo istirahat untuk melepas lelah. Ia pergi ke mushola untuk melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai, ia kembali lagi untuk berjualan, berjalan menuju tempat yang ramai. Tak sengaja ia melihat seseorang yang tak asing baginya.

Trimo terkejut bukan main. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sosok yang sedang duduk di atas bangku panjang di terminal itu mengingatkannya pada seseorang, betapa rindunya ia dengannya. Seseorang yang membuatnya tegar, yang telah mengajarkan arti hidup, dan tentu saja seseorang yang telah membuatnya  ada di bumi ini.

Ia kenal wajah itu, rambut, caranya berpakaian, dan juga gaya duduknya. Tanpa ragu Trimo pun menghampiri orang tersebut. Berharap apa yang dilihat dan dirasakannya adalah benar-benar sesuai yang diharapkannya. Ia pun menyentuh pundak orang tersebut. Berharap bukanlah orang berwajah muram yang dilihatnya.

 “Permisi, Pak,” sapa Trimo lembut dan ramah. Orang tersebut menoleh. Terlihat jelas di wajah orang tersebut. Rasa senang, bahagia, haru, bercampur sedikit ketakutan bersatu padu membentuk rona merah di wajahnya.

“Trimo…. Benarkah kamu Trimo…, anakku?”

“Ayah…?” Trimo seperti tak percaya dengan kenyataan di depannya. “Benar Yah, ini Trimo anak ayah.” Keduanya saling berpelukan dan menangis terharu. Setelah sekian lama berpisah, dan kini mereka dipertemukan kembali di tempat ini. Bahagia, hanya itu yang dapat terasa pada hati keduanya. Ternyata ayah Trimo berada di terminal karena ingin mencari anaknya, anak semata wayangnya, Trimo. Setelah sekian lama, kini mereka telah bertemu. Pak Giyo pun mengajak Trimo untuk mencari penginapan yang layak.

“Yah, kenapa kita tidak pulang saja ke rumah? Ayah tak ingin bertemu ibu?”

“Sudahlah, Nak, tak usah membahas ibu tirimu lagi. Dia bukan orang yang baik. Sekarang, lebih baik kamu tinggal bersamaku.”

Setelah mendapatkan penginapan yang layak bagi mereka berdua. Trimo dan ayahnya pun menghabiskan waktu berdua. Trimo bercerita tentang perlakuan ibu tirinya.

“Tadinya kupikir dia orang yang baik, sehingga kupilih menjadi pengganti ibumu. Tapi ternyata tidak. Bagaimana denganmu, masih sekolah kan?” tanya Pak Giyo.

“Emm, tidak Yah.”

“Lho, kenapa? Pasti ibumu yang melarang. Ah sudahlah, setelah kita pindah nanti kamu akan kusekolahkan. Kamu harus sekolah, harus terus menuntut ilmu. Itu akan berguna bagi masa depanmu kelak. Janganlah kamu contoh ayahmu yang hanya lulusan SMA tapi tidak mempunyai keterampilan apa-apa.”

******

Setelah dua hari, mereka pindah ke tempat ayahnya bekerja, Jakarta. Trimo heran, kenapa orang-orang lebih memilih Jakarta sebagai tempatnya untuk mencari kerja. Padahal di sana begitu banyak orang bersaing untuk mendapatkan pekerjaan tanpa keterampilan yang mereka miliki. Rumah yang kini ditempati Trimo sangat layak huni, tak seperti rumahnya dulu. Di kamarnya, Trimo dapat memajang foto idolanya, BJ Habibie, tak lupa dengan penemuan yang telah diciptakan oleh beliau. Sebagai “pemicu semangat” begitu katanya dalam hati.

“Ayah sudah mendaftarkanmu ke SMA Nak. Senin depan kamu sudah bisa bersekolah,” kata Pak Giyo. Trimo pun mengiyakan dengan mantap.

Di kamarnya Trimo termenung. Ia  sungguh beruntung punya ayah seperti Pak Giyo, sangat baik. Trimo tak akan mengecewakan ayahnya. Ia harus membahagiakan ayahnya dengan belajar dan kerja keras. Seperti yang dilakukan ayah kepadanya.

Akhirnya waktu sekolah pun datang. Trimo menyambutnya dengan gembira dan penuh suka cita. Karena ia sudah lama tak mengenal ilmu, ia rindu dengan semuanya. “Suasana kelas yang begitu menyenangkan,” bisik batinnya. Meskipun ia telah terlambat satu tahun, ia tetap bersemangat. Ia tetap menunjukkan bahwa dirinya adalah anak yang mampu bersaing dengan teman-teman lainnya yang lebih pintar darinya. Cita-citanya masih tertancap kuat di otak. Ia ingin sekali mewujudkannya. Oleh karena itulah, ia pun mencoba untuk ‘meraih bintang’ yang begitu tinggi. Untuk dipersembahkannya kepada ayahnya dan juga kepada semua orang.

Di kelasnya ia sering menyanyakan hal-hal yang menurutnya ‘aneh’ kepada gurunya.  Trimo juga merupakan orang yang sangat mencintai lingkungan. Saat ini ia sedang menciptakan suatu terobosan, bagaimana mengurangi penggunaan kayu sebagai bahan pembuat kertas, yang banyak digunakan oleh manusia saat ini. Berkat penemuannya itu, ia telah berhasil mewujudkan cita-citanya. Menciptakan sesuatu yang berguna bagi manusia.

Sesampainya di rumah. Ayahnya telah menyambutnya dengan wajah penuh kegembiraan. Penuh kebanggan. Dipeluknya anak semata wayangnya itu.

 “Kamu sungguh hebat Nak. Ayah sangat bangga padamu. Ayah ingin memberikanmu hadiah. Mungkin hadiah ini tak seberapa. Tapi ayah harap kamu senang.”

“Terima kasih, Ayah. Apapun hadiahnya, Trimo pasti senang menerimanya.”

“Baiklah, berpakaianlah yang rapi, dan ikutlah ayah.”

“Kita mau ke mana Ayah?”

Pak Giyo menyunggingkan senyum termanisnya.

“Ayah akan mengajakmu bertemu dengan seseorang. Pemicu semangatmu.”

“BJ Habibie?!”

Kembali Pak Giyo tersenyum penuh arti. Senyum bahagia seorang ayah atas kebahagiaan anaknya.

******

Baca juga cerita seru dan konyol: Kenangan Dibuang Sayang,   Gadis Super Oon dan Love Story Gatotkaca.

Nisamedee adalah nama pena Khairun Nisa Meiah Ngafidin yang lahir di Kendari pada tanggal 18 Mei 1994 merupakan alumni MAN 2 Banjarnegara tahun 2011. Sekarang menjadi mahasiswa Jurusan PTIK Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Alamat rumah di Bawang RT 01 RW V Bawang Banjarnegara 53471, Nomor Telepon  085747127xxx.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s