Lafadz Cinta Seorang Hamba

Oleh Chikmah Nurul Azizah

Ibu Rina menangis pilu saat mendengar dokter memvonis bahwa kanker Rina telah mencapai stadium akhir. Rina hanya bisa menjerit dalam hati dan meratapi takdir hidupnya.

“Kenapa aku harus seperti ini ya Allah, aku harus menahan rasa sakit di atas kepedihan ibu dan keluargaku atas apa yang terjadi padaku, adilkah ini Ya Rabb?” bisik Rina dalam kepedihan hatinya.

Sudah berkali-kali Rina keluar masuk rumah sakit untuk menjalani pengobatan atas kanker yang dideritanya. Mungkin ini terlalu berat untuk diri Rina dan keluarganya. Di usia yang masih muda ini Rina harus menjalani hari-hari yang dipenuhi berbagai macam obat-obatan. Sudah tak ada harapan lagi untuknya hidup di dunia ini.

Dalam kesedihan Rina selalu menghibur diri dan mencoba melupakan sejenak tentang penyakit kanker hatinya. Salah satunya dengan ia selalu mengenang kebahagiaan bersama orang-orang yang ia sayang sebelum kanker menggerogoti hatinya. Ardi, dia adalah orang spesial yang selalu di hati Rina. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain tetapi adanya ganjalan syariat yang membuat mereka belum bisa menyatukan cinta mereka. Kata-kata Ardi yang selalu terngiang dalam hati Rina adalah, “Bukannya aku tidak tulus  untuk mencintaimu, hanya saja syariat belum memperbolehkannya. Saat ini yang bisa kuperbuat hanya berdoa semoga Allah menyatukan kita dalam cinta-Nya”. Kata-kata itu selalu mengingatkan Rina kepada Ardi.

Semenjak lulus SMA Rina sudah tidak pernah bertemu dengan Ardi. Ardi yang sedang melanjutkan studinya di luar kota tidak pernah menemui dan menanyakan kabar kepada Rina. Terakhir Ardi hanya memberikan kabar singkat lewat e-mail yang dikirimnya setelah satu bulan kelulusan. Tak sadar Rina meneteskan air mata atas derita sakit kanker hatinya.

****

“Nak, minum obat dulu ya !” kata ibu.

“Sudah tidak ada harapan lagi bu, untuk apa aku minum obat, yang tetap pada akhirnya aku akan …., “ jawab Rina.

“Jangan kamu bilang seperti itu, sakit dan sembuh itu kehendak Allah nak, Allah pasti menyukai hamba-Nya yang tidak berputus asa,“ kata Ibu menguatkan hati Rina.

“Tapi Bu …. .,” sanggah Rina

“Sudahlah jangan kamu sesali apa yang telah terjadi, Allah bersama orang-orang yang sabar,” jawab Ibu Rina.

Tak jarang teman-teman Rina semasa SMA menjenguk Rina untuk menghiburnya. Okta dan Zira adalah sahabat setia yang selalu menemani Rina di kala sakit. Sebenarnya belum lama Okta dan Zira tahu tentang sakit yang dialami Rina karena keluarga Rina memilih diam dan merahasiakan penyakit Rina terhadap orang-orang luar, termasuk di dalamnya Ardi. Sampai sekarang pun Ardi belum mengetahui tentang kabar Rina, bagaimana keadaannya, kesehatannya, termasuk kehidupannya sekarang. Sudah banyak usaha yang dilakukan keluarga Rina untuk menyembuhkan kanker hati yang diderita Rina, mulai dari terapi, rukyah, obat medis maupun obat herbal.

Kanker yang menggerogoti Rina sudah ada sejak empat tahun terakhir, tepatnya ketika awal Rina masuk perguruan tinggi swasta di kotanya. Waktu itu Rina hanya merasakan ada sesuatu yang sakit di hati. Saat ia memeriksakan ke dokter, sakit itu hanya sekedar sakit biasa. Tetapi beberapa bulan kemudian setelah Rina mengeluh sakit dan diperiksakan ke dokter lagi, ternyata ada tumor ganas dalam hati Rina yang kemudian menjadi kanker. Hingga kini kanker ganas itu belum ada obatnya, kecuali ada pendonor hati.

****

Berhari-hari Rina terbaring di kamar tidur. Kamar tidurnya telah disulap bak kamar di rumah-rumah sakit. Di situ ada infus, oksigen, dan alat-alat medis yang dibutuhkannya. Kata Rina, dia ingin menghabiskan sisa-sisa hidupnya hanya di rumah.

Tak ada suatu kebahagiaanpun yang diharapkan Rina di detik-detik terakhir hidupnya. Dia hanya mampu menghabiskan waktunya untuk selalu beribadah dan mendekatkan diri kepada sang Khaliq. Di setiap nafasnya ia selalu berzikir mengingat Allah, mekipun salatnya hanya dengan kedipan mata tak menyurutkan hati Rina untuk pasrah kepada-Nya atas apa yang terjadi padanya. Dia hanya berharap bahwa suatu hari nanti kedua orang tuanya dan adik-adiknya selalu bahagia dalam hidupnya. Sebuah cita yang mulia. Di saat penyakit menggerogoti hatinya, ia masih memikirkan kebahagiaan adik dan kedua orang tuanya.

****

Empat tahun berlalu,  tak terasa Ardi telah meraih impiannya. Dengan waktu hanya enam semester atau tiga tahun saja, Ardi telah mampu merampungkan kuliahnya. Setelah dua bulan wisuda dia langsung diterima bekerja di salah satu Bank Syariah bertaraf Internasional. Semua itu hasil dari kepandaian dan keinginan besar Ardi untuk cepat meraih cita-citanya. Dalam hati Ardi terbersit rindu yang begitu mendalam kepada Rina dan ia berkata bahwa setidaknya ia harus mengambil cuti beberapa hari untuk bertemu Rina. Adanya jarak yang menghambat pertemuan mereka tidak menjadi masalah bagi Ardi untuk bertemu Rina.

****

Ardi yang meraih mimpi di luar kota itu sekarang sudah kembali untuk beberapa hari di kota tercintanya. Dengan kebulatan hati Ardi yang ingin bertemu dengan Rina membuat ia langsung menuju rumah Rina, tak kuasa hati Ardi menahan rindu yang begitu mendalam pada Rina, membuat rona bahagia terpancar diwajahnya. Dalam hati Ardi terucap, “Rin, aku kembali untuk memenuhi janjiku empat tahun yang lalu, bahwa aku akan kembali dengan kesuksesan dan saat itu pula aku akan meminangmu menjadi kekasihku yang sudah tidak terhalang syariat lagi.”

****

“Tok…. tok….tok….. Assalamualaikum…,” kata Ardi setelah sampai di depan pintu rumah Rina.

Wa’alaiukumsalam, sebentar…,” Ibu Rina bergegas membukakan pintu untuk menyambut kedatangan Ardi di luar .

“Ooo…. Nak Ardi, subhanallah bagaimana kabarmu? Lama sekali tidak bertemu, mari masuk!” sambut Ibu Rina.

Alhamdulillah baik Bu. Iya Bu empat tahun terakhir ini saya berada di luar kota dan baru kali ini saya pulang, Rina ada Bu?” tanya Ardi dengan nada bahagia.

Sungguh sulit memberitahukan Ardi tentang keadaan putrinya, ibu Rinapun hanya mampu menjawab, “Rina ada Nak, sekarang ada di kamar.”

“Apakah saya boleh menemui Rina, Bu ?”

“Tentu boleh, mari,” jawab ibu Rina sambil mempersilakan menuju ke kamar Rina .

Lalu diantarkannya Ardi ke kamar Rina. Sebelum masuk ke kamar Rina, sudah tercium bau obat-obatan oleh Ardi dan ketika Ardi membuka pintu kamar Rina  tak disangka ia melihat Rina terbaring di atas tempat tidur yang didampingi oksigen dan infus. Air mata kesedihan bercampur kerinduan Ardi tidak terbendung lagi. Namun, Ardi kaget dengan apa yang dilihatnya dari Rina. Kaki Ardi sontak lemas membuatnya langsung duduk di samping tempat tidur Rina. Dalam hati Ardi terbersit, “Ada apa dengan Rina dan mengapa dia seperti ini?”

“Rina sudah empat tahun terakhir ini terkena penyakit kanker hati, tepatnya ketika awal dia masuk perkuliahan. Kanker  ganas yang menggerogoti hatinya dengan cepat telah mencapai stadium akhir. Dan ketika berbagai pengobatan telah dijalani, inilah puncak penyakit Rina. Oleh dokter, hati Rina telah divonis mengidap kanker yang telah mencapai stadium akhir. Kita hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Sekarang Rina hanya terbaring tak berdaya menanti detik-detik terakhir dalam hidupnya,” ibu Rina menjelaskan dengan meneteskan air mata.

Ardi hanya bisa pasrah melihat semua itu. Rina yang sebelumnya tertidur, terlihat telah terbangun.

“Nak, di sini ada Nak Ardi yang ingin bertemu denganmu,” kata ibu Rina sambil mengusap air matanya.

“Siapa, Bu? Mas Ardi…? Subhanallah…!” Rina menoleh ke samping dan melihat Ardi sudah ada di situ.

“Iya, aku di sini Rin. Aku datang untuk menemuimu, untuk memenuhi janjiku empat tahun yang lalu. Maafkan aku, jika selama ini tidak memberikan kabar kepadamu, yang ada di benakku hanya ingin fokus pada studiku agar aku bisa cepat sukses  dan cepat kembali bersamamu,” kata Ardi dengan mengeluarkan air mata.

“Hapuslah air matamu Mas, aku tidak ingin kamu sedih atas apa yang menimpaku. Tapi, maafkan aku Mas,  aku tidak bisa memenuhi janji itu… Waktuku untuk hidup di dunia ini takkan lama lagi… Aku akan meninggalkanmu, juga semua kenangan empat tahun yang lalu itu,” kata Rina lirih.

“Tapi Rin, aku sungguh mencintaimu, aku tak peduli apa yang akan terjadi padamu esok. Aku hanya ingin menyatukan cinta kita yang dulu terhalang syariat itu, maafkan aku jika semua ini membuatmu menunggu lama…” kata Ardi penuh perasaan.

“Semua ini tidak mungkin untukku Mas, maafkan aku…”

Hati Ardi menangis pilu. Kebahagiaan yang telah ia nantikan kini telah sirna, apa yang ia harapkan telah pupus, Ardi hanya bisa berserah diri kepada Allah atas apa yang terjadi padanya.

“Sudah waktunya salat  Bu, saya permisi ke musholla dulu,” kata Ardi.

“Iya, Nak,” jawab ibu Rina dengan penuh kesedihan melihat kejadian ini.

****

“Ya Allah apa yang terjadi? Kenapa semua ini begitu berat bagiku…? Harapan yang aku bangun selama ini telah sirna, impian yang aku rajut hilang begitu saja. Kuatkanlah hatiku dan hatinya, Ya Robb, aku mohon jika memang kesembuhan menjadi yang terbaik untuk Rina, tolong sembuhkanlah. Tetapi, jika tidak kuatkanlah hatinya untuk menerima cobaan yang begitu berat dari-Mu, Amin ya robbal ‘alamin...,” doa Ardi seusai salat .

Setelah salat Ardi kembali menuju ke kamar Rina, mereka berdua saling meluapkan kerinduan yang mereka simpan di hati mereka masing-masing.

“Rin, sebenarnya aku datang ke sini bermaksud meminangmu. Apapun yang terjadi padamu aku terima semuanya, aku jadikan sakitmu juga sakitku, bebanmu juga bebanku, kesedihanmu juga kesedihanku. Dengarkan permintaan hati ini, Rin… Meskipun dalam keadaan sakit, aku harap dengan bersamaku kamu akan bahagia. Cita dan anganku dulu telah aku raih, hanya untuk bisa bersamamu,” kata Ardi .

“Maafkanlah hati ini yang sebenarnya begitu ingin memenuhi janji itu… Tapi aku tidak bisa, aku pasti akan sangat bersedih. Aku pasti akan sangat bersedih apabila orang yang aku cintai sakit karenaku… Kita pasrahkan saja cinta kita kepada Sang Maha Cinta, Dia yang menjadi saksi cinta kita, maafkan aku yang tidak bisa selalu bersamamu,” jawab Rina.

“Tapi Rin ….”

“Aku tahu kamu pasti percaya bahwa Allah selalu memberikan kebahagiaan bagi hamba-Nya. Mungkin saja kita tidak bisa bersama di dunia ini, tetapi aku selalu berdoa semoga Allah mempertemukan dan mempersatukan cinta kita di akhirat kelak. Janganlah bersedih Mas, aku ingin melihat senyumanmu yang dulu… Tersenyumlah… Yakinlah bahwa di balik kesedihan ada kebahagiaan yang hakiki.”

****

Sepanjang perjalanan ke rumah tak henti-hentinya hati Ardi berzikir dan berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk mereka berdua. Walaupun belum bisa bahagia di dunia, Ardi berharap bisa berbahagia di akhirat kelak.

Bagaikan hilang semangat hidup Ardi, seakan lupa akan hal-hal yang pernah ia raih untuk kebahagiaannya dan sekarang tak sedikitpun ia pikirkan. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah bagaimana caranya agar ia dapat menemani Rina hingga akhir benar-benar memisahkan mereka. Setiap hari ia selalu berkunjung ke rumah Rina, mungkin dengan kehadirannya bisa menampakkan senyum di wajah Rina.

****

Semakin hari keadaan Rina semakin lemah, ketika hari ketujuh kedatangan Ardi, Rina dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih serius oleh dokter. Alhasil setelah semalaman  di rumah sakit, Rina menghembuskan nafas yang terakhir, pada saat itu orang-orang yang ia sayang sedang berkumpul. Mulai dari adik Rina, ayah, dan ibu Rina, sahabat, keluarga, dan tak terkecuali Ardi. Rina sekarang telah tenang meninggalkan mereka semua. Dengan wajah tersenyum Rina pergi untuk selamanya.

Tangisan haru tak henti-hentinya Ardi keluarkan, tetesan air mata bagaikan aliran sungai di wajahnya. Duka yang begitu mendalam terpancar dari hati Ardi. Rasa tak percaya bahwa Rina sudah tiada membuatnya lemah tak berdaya. Angan, cita, impian yang Ardi inginkan telah sirna, tiada harapan lagi baginya.

Meskipun Allah tidak menyatukan mereka di dunia tetapi telah menyatukan cinta mereka dalam cinta-Nya. Maha Suci Allah Sang Maha Cinta.*)

Baca cerpen Chikmah yang lain: http://chikmahna.blogspot.com/

Baca juga kisah konyol yang seru: Kenangan Dibuang Sayang,  Gadis Super Oon, dan Love Story Gatotkaca.

——————————————————————————————-

Chikmah Nurul Azizah adalah siswa kelas XII Keagamaan, yang lahir di Wonosobo, 3 Maret 1994 dan tinggal di Sawangan RT 03 RW 02 Leksono Wonosobo. Cerpen “Lafadz Cinta Seorang Hamba” ini merupakan Pemenang Pertama pada Lomba Menulis Cerpen Islami KKN Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta di MAN 2 Banjarnegara pada Februari 2011 lalu.

6 thoughts on “Lafadz Cinta Seorang Hamba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s