Puisi-puisi Mujtahidatul Masbuqina Aulia (2)

SURYA

Sinarmu hilang begitu cepat
Tak
terlihat semua angan yang terbayang
Semua
canda seakan terbang terhembus angin

Tangisku pecahkan sepi
Ku
coba melangkah

Semua tak terlihat
Sirna
Bersama kabut kesedihan

Lama ku tunggu
Tak
jua datang mendekat
Sinarmu
Redup
Begitu
cepat

Jauh ..
Tinggalkanku

Hingga
Tak terlihat pancaran
Yang
dulu selalu terangi hariku

***

ASAKU

Musnah segala asa
Ingin ku gapai
Namun semakin jauh tinggalkan

Hilang semua rasa
Yang terpendam
Yang tlah kukubur dalam
Sungguh tak sanggup tuk mengartikan

***

DI

Kisah tak selamanya cinta
Tak selamanya remaja
Tak selamanya bahagia

Cinta penghias luka
Remaja yang kehilangan cita
Remaja yang buta

Bahagia tak selamanya
Selamanya takkan bahagia

Dua berbeda
Satu tatapan mata

Ke depan
Melenggang
Tenang

***

MumasMujtahidatul Masbuqina Aulia yang lahir di Jakarta, 13 Juli 1994 merupakan alumni kelas XII IPA-2 Tahun Pelajaran 2011/2012. Putri pasangan Bapak Zaenul Aulia dan Ibu Darurrohmi ini tinggal di Desa Somawangi Kecamatan Mandiraja Banjarnegara 53473. “Tak apa menangis untuk sebuah kebahagiaan yang besar. Mengalah tak berarti kalah, menangis tak berarti lemah. Namun, semuanya berarti sebuah tanda bahwa usaha tak selamanya mudah” adalah kata-kata yang menginspirasi hidupnya. Kini ia tengah mencari pengalaman belajar di kampung Inggris, Pare  Kediri Jawa Timur.

Sekadar Sapa

galerisiswa:

Sebuah puisi pembangkit jiwa bagi pembacanya…

Originally posted on ruang imaji:

Ujian Nasional 2014

Sekedar Sapa
(untuk anak-anakku, siswa Kelas XII yang menghadapi Ujian Nasional 2014)

hari ini tibalah saat untuk melepasmu
menghadapi yang sekian lama dinanti
perjuangan awal menuju masa depan

tak ada yang bisa kuberikan
selain sedikit ilmu titipan Ilahi
sebagai bekal bagi dirimu
meraih mimpi, mengggapai angan,
pun mencipta kebahagiaan

yang lalu biarlah berlalu
tak perlu kau ratapi, tak perlu kau cumbui
sebab tak mungkin lagi kembali
tataplah ke depan menyambut hari-hari
yang mesti kau langkahi dengan pasti

tebarkanlah senyum di setiap langkah
pancarkanlah wangi di setiap jalan
agar kau dapatkan hal yang sama
pada perjalanan panjangmu

selamat jalan, selamat berjuang…
jangan padamkan api meski berhenti
jangan hentikan doa meski tergoda

Banjarnegara, 14 April 2014

View original

Kebersahajaan Hidup dalam Ayahku (Bukan) Pembohong

Resensi Novel
Oleh Lena Tri Lestari

Ayahku (Bukan) PembohongJudul buku : Ayahku (Bukan) Pembohong
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Kota dan tahun terbit : Jakarta, 2011
Cetakan : Ketiga, Juni 2011
Tebal buku : 304 halaman

“Itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau yang dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan yang bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri, memaksa hati untuk memilih”.

Tere Liye kembali meluncurkan karyanya yang memberi motivasi dan pemahaman mengenai hidup. Novel terbarunya yang berjudul Ayahku (Bukan) Pembohong semakin menambah panjang daftar karyanya yang menggugah jiwa untuk menjadi pribadi yang baik. Tere Liye terkadang menuliskan novelnya dengan disertai aksen Sumatera, kota kelahirannya, seperti pada novel yang berjudul Burlian (November 2009), Pukat (Februari 2010), Amelia (September 2010), dan Eliana (Februari 2011). Namun pada novel Ayahku (Bukan) Pembohong, penulis kelahiran 21 Mei 1979 ini tidak menyisipkan dialog-dialog dengan menggunakan bahasa daerah, sehingga mudah dipahami pembaca dari seluruh kalangan masyarakat. Pesan moral pun berhasil disisipkan dalam kisah yang menarik tanpa terkesan menggurui.

Novel ini mengisahkan seorang anak bernama Dam yang amat tertarik dan termotivasi dengan kisah pengalaman masa muda ayahnya. Dari kisah ayahnya itu, Dam memiliki pemahaman terhadap hidup dengan cara yang berbeda. Dam termotivasi untuk tidak mudah menyerah dan menjalani hidup dengan bersahaja. Ketika Dam melanjutkan studinya di Akademi Gajah, Dam mulai meragukan kisah-kisah ayahnya. Dam berpikir ayahnya hanya mengarang kisah tersebut, bukan pengalaman pribadi ayahnya. Kemudian, di usia 20 tahun ia memutuskan untuk membenci kisah-kisah ayahnya. Suatu hari, Dam mengatakan di depan ayahnya bahwa ayahnya adalah seorang pembohong dan mengusirnya karena masih menceritakan kisahnya kepada Zas dan Qon, anak Dam. Setelah ayah Dam meninggal, barulah muncul bukti-bukti kebenaran cerita ayahnya dan Dam baru menyadari bahwa ayahnya bukan seorang pembohong.

Novel ini menceritakan kisah yang sangat menarik dan menyadarkan kita mengenai betapa besar kasih sayang seorang ayah dalam mendidik kita menjadi insan berpribadi yang mulia. Namun, penggunaan alur campuran menjadikan novel ini terkadang membingungkan karena pembaca harus mengulang kembali memori pada peristiwa sebelumnya.

Kandungan novel ini sangat bermanfaat bagi yang menginginkan kebersahajaan dalam kehidupan. Banyak nilai kehidupan yang tersirat dalam novel ini dan dapat dipetik hikmahnya. Hal itulah yang menjadikan novel ini menarik dan layak dibaca oleh seluruh kalangan masyarakat.*)

2014-02-02 09.54.20-1Lena Tri Lestari lahir di Wonosobo, 13 Juli 1996 merupakan siswa kelas XII IPA-Keterampilan Tahun 2013/2014. Putri pasangan Bapak Tusmin dan Ibu Jatiningsih ini sekarang tinggal di Desa Plodongan RT 03 RW 01 Sukoharjo. Kecintaannya pada kegiatan membaca membuatnya berusaha untuk bisa menulis.

Hasil Seleksi Puisi Menolak Korupsi Jilid 3 Pelajar Indonesia

galerisiswa:

Selamat….! Semoga bisa menjadi sarana pendidikan karakter yang efektif.

Originally posted on ruang imaji:

Puisi Menolak Korupsi koverSebanyak 291 pelajar dari berbagai kota di Indonesia, karya puisinya dinyatakan lolos seleksi dalam penerbitan buku Puisi Menolak Korupsi (PMK) Jilid 3 Khusus Pelajar Indonesia. Untuk itu, diharapkan para pelajar yang puisinya dinyatakan lolos seleksi diminta secepatnya mengirimkan foto closeup berikut Curiculum Vitae (CV) ke email:sosiawan.leak@yahoo.comatau via inboxfacebook: Leak Sosiawan).

Di antara 291 pelajar Indonesia tersebut, terdapat 8 siswa MAN 2 Banjarnegara (tercetak merah). Beberapa waktu lalu, 8 siswa tersebut mengirimkan karya puisinya dan alhamdulillah karya mereka berhasil lolos seleksi. Berikut nama-nama pelajar yang dinyatakan karyanya lolos seleksi penerbitan antologi PMK Jilid 3:

 1. A. Habiburrahman (Sumenep), 2. A. Kafi Febrian (Sumenep), 3. Abdul Azis Pane (Deli Serdang), 4. Abi Ortega (Pangkalan Kerinci, Riau), 5. Aeni Krismonika (Purbalingga), 6. Afifatus Sa’diah (Jember), 7. Agil Vina Febriana (Salatiga), 8. Agri Satrio Adi Nugroho (Sukoharjo), 9. Ahmad Alfi (Surakarta), 10. Ahmad Khoirur Roziq (Kediri)…

View original 1.290 more words

Perpisahan Itu

Cerpen Mujtahidatul Masbuqina Aulia

Gadis BerjilbabSendu, pagi ini cerah tapi tak begitu dengan hatiku yang kelabu. Hanya tinggal menghitung menit, aku akan segera pergi tinggalkan rumah ini. Entahlah, belum pernah terpikirkan sedikit pun ini akan benar-benar terjadi dalam hidupku. Aku ingin tetap bertahan di sini, aku ingin selalu bersama ibunda. Hati ini berteriak memberontak dan merintih. Tapi serasa tak ada guna.

Na, semuanya sudah disiapkan belum? Coba dicek lagi takut ada yang tertinggal,” suara Bunda mengagetkanku.

Dengan tatapan sedih aku menoleh pada Bunda, “Iya, Bun. Insya Alloh tidak ada yang tertinggal,” jawabku lemas.

Oh, ya sudah. Bunda siapkan sarapan dulu ya, untuk kamu dan nenek,” kata Bunda lembut.

Aku hanya mengangguk sambil melihat Bundaku tercinta berlalu dari hadapanku. Rasanya tak kuasa menahan kesedihan ini,sungguh. Aku pun menangis sejadinya. Begitu berat terasa hidup ini, aku harus pergi jauh tanpa didampingi mereka,kedua orangtuaku, menghadapi kejamnya dunia dan kenyataan yang mungkin mengerikan. Akankah aku sanggup?. Entahlah, mengapa rasa ini begitu sangat berlebihan. Walaupun banyak cara untuk berkomunikasi di zaman yang maju sekarang ini. Tapi, begitu banyak hal-hal yang aku takutkan. Kehilangan kebersamaan dengan kedua adikku, bermain dan bercanda dengan mereka itu juga jadi salah satu hal yang pasti akan aku rindukan. Begitu banyak kata yang ingin aku ungkapkan, tapi mulut ini tak bisa menguraikannya satu-persatu. Berat rasanya.

Usai sarapan, aku pun menyiapkan semua barang-barang bawaanku. Dengan berat kulangkahkan kaki ini keluar rumah. Baru beberapa langkah, tiba-tiba adik perempuanku memelukku, dia baru saja lulus sekolah dasar. Dia yang paling tidak menginginkan semua ini terjadi, mungkin dia masih belum siap. Dia menangis sesenggukan dalam pelukanku, dia mengungkapkan kesedihannya. Dia mengatakan bahwa tak ingin keluarga ini terpisah-pisah seperti ini. Dia ingin selalu berkumpul dengan keluarga yang utuh. Aku mencoba tegar, tangis ini hampir jatuh tapi aku tak ingin ikut larut dalam perpisahan ini. Aku hanya berkata padanya.

Jangan menangis, Alloh tahu yang terbaik untuk hambaNya. Ini cobaan, jangan pernah menyalahkannya, suatu saat pasti kita akan segera bersama-sama kembali. Kamu harus jadi anak yang kuat, rajinlah belajar. Jangan buat adikmu menangis ya? Aku akan selalu merindukan kalian.”

Kulepaskan perlahan pelukan adikku, aku menciumnya, mengusap lembut rambutnya yang tebal. Aku keluar dari rumahku dengan air mata yang tertahan, aku harus tetap tegar. Aku tahu Bunda akan sangat khawatir jika aku ikut tenggelam dalam kesedihan ini.

Bunda, adik kecilku dan kakak perempuanku mengantar aku dan nenek ke terminal bus. Tak sedikit pun ada kesedihan di wajah adik kecilku, Ali. Dia tak seperti biasanya, saat aku akan pergi pasti dia akan menangis merengek meminta pada bunda agar ia diijinkan ikut denganku. Tapi entah kenapa dia tidak seperti itu, sungguh menambah kesedihan kecil dalam hati. Kucium pipi dan keningnya, berulang kali. Aku semakin tak kuasa, sungguh. Tuhan!

Hingga tak berapa lama kemudian Bus yang kutunggu muncul. Jantung semakin kencang berdetak, nenekku sudah melangkah naik kedalam Bus. Aku masih termenung belum bergeming. Kutatap wajah Bundaku, kuraih tangan lembutnya, lalu kucium. Dan saat itu juga aku tak bisa menahan segala kesedihan itu. Kutumpahkan semua ketakutanku. Aku menangis tak ku hiraukan begitu banyak orang yang memperhatikanku. Kupeluk tubuhnya yang persis ada di hadapanku. Aku menangis.

Bunda… Maafkan segala kesalahanku. Aku tak ingin pergi. Aku ingin tetap di sini…” tangisku semakin menjadi.

Sudah, sudah jangan menangis…” bisik Bunda dengan pelan.” Nanti Bunda juga ikutan menangis. Tegarlah sayang, Bunda akan selalu berdo’a untukmu,” kata Bunda sambil mengelus kepalaku.

Aku takut, aku takut….” kataku berulang-ulang padanya.

Tenanglah, Bunda yakin kamu akan bisa melaluinya. Percayalah nak,” suara Bunda terdengar serak menahan tangisnya.

Aku tahu Bunda adalah orang yang tidak pintar menahan tangis, tapi tidak dengan kali ini. Bundaku berusaha menahan segala tangisnya itu demi aku. Bunda mencoaba membuat kau tegar dengan menunjukkan bagaimana kuatnya dia. Aku tahu. Aku menangis dipelukannya. Gemetar tubuh ini rasanya.

Ayo, Mbak.. naik, naik… !“ teriak Kondektur Bus. Aku harus naik, karena nenek sudah ada didalam, dan bus akan berangkat.

Tuhan! “bisik hatiku,

Ayo , Na. Naik, “kata Bunda, sambil melepaskan pelukanku darinya.

Aku berpamitan dengan kakak perempuanku dan memeluknya. Kemudian ku langkahkan kaki dengan begitu berat. Bus mulai berlenggang meninggalkan terminal tempat dimana aku sering berdiri disana, menanti bus mini untuk berangkat sekolah. Kulihat mata sembab Bunda yang menahan tangis, dan wajah kakakku yang tak bisa menutupi mata merahnya. Ku lambaikan tanganku seiringan dengan lambaikan tangan mereka. Tangisku pecah, aku menangis disepanjang perjalanan pagi itu. Begitu banyak kata-kata yang tidak bisa terungkap, sekarang ku tumpahkan dalam tangis. Nenek yang berada disampingku terlihat menutupi keharuannya juga. Sungguh ini kali pertama aku ketakutan begitu hebatnya. Aku mungkin bukan anak manja, aku hanya anak yang sering membantah apa yang Bunda katakan. Tak sedikit aku sering bertengkar dengan Bunda, tak sedikit Bunda seringkali marah karena ulahku. Tapi tak semudah yang aku bayangkan, hati ini tak dapat menutupi semuanya. Aku takut harus menghadapi kehidupan tanpa Bunda di sisiku, sungguh aku takut.

Semakin deras air mata ini, tak kuasa aku menahan setiap rengekan yang ingin kutumpahkan. Sesenggukan aku menangis, layaknya anak kecil yang cengeng. Beberapa orang melirik kearahku, tak kupedulikan. Tak kupedulikan sama sekali.

Bun…. Aku takut, Bun. Aku sayang Bunda.”

Hatiku berbisik, merintih bersamaan dengan untaian doa-doa yang kulantunkan. Perlahan aku merasakan usapan lembut nenekku. Nenek yang sejak tadi duduk di sampingku, menatapku, merasakan setiap kesedihanku. Dia membelaiku dengan sangat lembut sambil menutupi peluhnya dibalik kacamata tua yang ia kenakan. Bus semakin jauh, melaju dan terus berlari pergi dari tempat itu, tempat aku dibesarkan, tempat aku tak bisa pergi dari sana.

Tempat keindahan itu ada, tempat aku berlari dan tertawa riang bersama kakak dan adik-adikku. Tempat aku berteduh, bersandar, bersembunyi. Tempatku bermain dengan semua teman-temanku. Tempat aku mengukir setiap kenangan yang tak akan aku lupakan. Tempat yang takkan pernah ada persamaannya dengan tempat-tempat lain. Aku akan merindukan setiap detik yang telah kuhabiskan di sana.

Debar ini sungguh tak pernah kurasa sebelumnya. Sakit, tapi tak sedikitpun aku ingin menyalahkan Ayah atas semua ini. Walau aku merasa ini semua karena Ayah. Aku harus pergi ini semua karena Ayah! Tidak! Tidak! Ini harus terjadi bukan karena Ayah. Ini semua memang ujian untukku, hidupku, sebagai bentuk perjalanan pendewasaanku. Aku sayang Bunda dan Ayah. Aku sayang mereka semua. Kucoba berdiri lagi, kucoba menegakkan dagu yang kutundukkan. Terpejam dan membayangkan wajah Bunda yang tersenyum, wajah Bunda saat ia marah. Aku akan merindukan semua itu. Kucoba tersenyum meringankan beban di hati. Ku raih tangan keriput nenekku, dan memegangnya erat.

Aku akan tegar,nek. Aku akan menemani nenek,” kataku sambil menyenderkan kepala di bahunya.

Iya, cucuku. Nenek tahu kamu pasti bisa.” Sesungging senyum dengan belaian tangannya di kepalaku, sedikit mengobati rasa ketakutan ini.

Bunda… aku akan sangat merindukanmu,” bisikku dalam hati.

***

MumasMujtahidatul Masbuqina Aulia yang lahir di Jakarta, 13 Juli 1994 merupakan alumni kelas XII IPA-2 Tahun Pelajaran 2011/2012. Putri pasangan Bapak Zaenul Aulia dan Ibu Darurrohmi ini tinggal di Desa Somawangi Kecamatan Mandiraja Banjarnegara 53473. “Tak apa menangis untuk sebuah kebahagiaan yang besar. Mengalah tak berarti kalah, menangis tak berarti lemah. Namun, semuanya berarti sebuah tanda bahwa usaha tak selamanya mudah” adalah kata-kata yang menginspirasi hidupnya. Kini ia tengah mencari pengalaman belajar di kampung Inggris, Pare  Kediri Jawa Timur.

2013 in Review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 34,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 13 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.