Masa Depan yang Penuh Kesempatan dalam Burlian

Burlian - Tere LiyeResensi Novel
Oleh Titik Dwi Kurniatun Hasanah

Judul Buku : Burlian, Serial Anak-anak Mamak
Penulis : Tere Liye
Kota dan Tahun Terbit : Jakarta, 2009
Penerbit : Penerbit Republika
Tebal Buku : vi + 341 halaman, 20,5 x 13,5 cm
Cetakan : IV, Oktober 2011

Novel ini menceritakan kisah menarik Burlian, seorang anak yang spesial dengan cita-citanya melihat dunia luas. Melalui pendidikan dari seorang Emak yang tegas dan disiplin, namun tetap memberikan kasih sayangnya dan Bapak, yang selalu bijak dalam memberi nasihat. Pak Bin, seorang guru yang selalu bersemangat dalam mengajar. Bakwo Dar, yang mengajarkan bagaimana hidup di alam bebas. Nek Kiba, guru ngaji yang bijaksana. Nakamura-san, seorang insinyur dari Jepang yang membantu menyekolahkan Burlian. Wak Yati, yang selalu memberi nasihat dengan selipan bahasa Belandanya. Ayuk Eli, Kak Pukat, dan Amelia, kakak dan adik Burlian yang selalu membuatnya bersemangat. Serta Munjib, Can, dan teman-temannya yang ikut mewarnai hari-harinya.

Burlian dibesarkan dalam kesederhanaan, keterbatasan, dan kenakalan. Ia tumbuh menjadi anak yang spesial, dengan cita-citanya naik kapal besar dan mengelilingi dunia. Maka dimulailah petualangan masa kanak-kanaknya, di kampung kecil dengan sabuk sungai yang dikelilingi hutan dan dibentengi bukit-bukit hijau.

Tere Liye, seorang yang sangat piawai dalam menulis dengan hati dan berkisah dengan kebaikan tanpa perlu menggurui. Pembaca akan disuguhi cerita-cerita tak terduga. Penggambaran yang detail dari penulis mampu membuat pembaca seolah-olah mengalaminya sendiri. Hanya saja pembaca sedikit disulitkan dengan dialog yang disampaikan Nakamura-san dan Wak Yati, yang menyelipkan bahasa Jepang dan Belanda. Di sini pembaca dituntut untuk lebih jeli dalam memahami kalimat demi kalimat.

Novel ini sangat menarik, enak dibaca, dan perlu menjadi bahan renungan untuk orang tua masa kini. Novel ini juga dapat memotivasi pembaca untuk terus bermimpi karena, Masa depan kau yang penuh kesempatan.

Titik Dwi Kurniatun HasanahTitik Dwi Kurniatun Hasanah lahir di Batanghari, 6 Februari 1996 merupakan alumni kelas XII IPA-Keterampilan Tahun 2013/2014. Putri pasangan Bapak Supardi Ach. Nurudin dan Ibu Maryanah ini sekarang tinggal di Desa Mantrianom RT 01 RW 08 Banjarnegara. Prinsip hidupnyaSesuatu yang mudah jangan disulitkan dan sesuatu yang sulit akan menjadi mudah karena terbiasa.

Kenangan Dibuang Sayang

Segera Terbit…!

Kover-Kenangan Dibuang SayangBuku ini merangkum coretan para siswa Kelas XII IPA MAN 2 Banjarnegara Tahun Pelajaran 2013/2014 yang kreatif dalam mengolah kenangan. Para siswa ini secara langsung telah mengalami bagaimana mengasyikkannya kegiatan menulis. Meski yang mereka tulis barulah kisah-kisah kenangan yang sederhana dengan gaya yang sederhana, namun semangat mereka untuk mencoba rasanya sungguh luar biasa! Meski awalnya tulisan-tulisan tersebut diciptakan untuk memenuhi tugas psikomotor mata pelajaran Bahasa Indonesia, setidaknya terlihat upaya yang gigih dan kreatif dalam proses penyajiannya. Terbukti sebelum menyerahkan naskah tulisan, mereka antusias untuk melakukan beberapa kali proses konsultasi dengan pembimbing demi kesempurnaan karya mereka.

Terlepas dari segi kualitas yang mereka sajikan, sajian 184 kisah remaja penuh makna dalam buku ini dapat pula dijadikan sebagai kenangan bahwa mereka pernah menciptakan suatu karya. Dengan begitu, kenangan manis tak kan habis, kenangan sayang tak kan hilang, kenangan romantis tak kan terkikis, dan kenangan sedih tak kan menyisih. Kenangan mesra? Tentunya semakin terasa…*)

 

Puisi-puisi Mujtahidatul Masbuqina Aulia (2)

SURYA

Sinarmu hilang begitu cepat
Tak
terlihat semua angan yang terbayang
Semua
canda seakan terbang terhembus angin

Tangisku pecahkan sepi
Ku
coba melangkah

Semua tak terlihat
Sirna
Bersama kabut kesedihan

Lama ku tunggu
Tak
jua datang mendekat
Sinarmu
Redup
Begitu
cepat

Jauh ..
Tinggalkanku

Hingga
Tak terlihat pancaran
Yang
dulu selalu terangi hariku

***

ASAKU

Musnah segala asa
Ingin ku gapai
Namun semakin jauh tinggalkan

Hilang semua rasa
Yang terpendam
Yang tlah kukubur dalam
Sungguh tak sanggup tuk mengartikan

***

DI

Kisah tak selamanya cinta
Tak selamanya remaja
Tak selamanya bahagia

Cinta penghias luka
Remaja yang kehilangan cita
Remaja yang buta

Bahagia tak selamanya
Selamanya takkan bahagia

Dua berbeda
Satu tatapan mata

Ke depan
Melenggang
Tenang

***

MumasMujtahidatul Masbuqina Aulia yang lahir di Jakarta, 13 Juli 1994 merupakan alumni kelas XII IPA-2 Tahun Pelajaran 2011/2012. Putri pasangan Bapak Zaenul Aulia dan Ibu Darurrohmi ini tinggal di Desa Somawangi Kecamatan Mandiraja Banjarnegara 53473. “Tak apa menangis untuk sebuah kebahagiaan yang besar. Mengalah tak berarti kalah, menangis tak berarti lemah. Namun, semuanya berarti sebuah tanda bahwa usaha tak selamanya mudah” adalah kata-kata yang menginspirasi hidupnya. Kini ia tengah mencari pengalaman belajar di kampung Inggris, Pare  Kediri Jawa Timur.

Sekadar Sapa

galerisiswa:

Sebuah puisi pembangkit jiwa bagi pembacanya…

Originally posted on ruang imaji:

Ujian Nasional 2014

Sekedar Sapa
(untuk anak-anakku, siswa Kelas XII yang menghadapi Ujian Nasional 2014)

hari ini tibalah saat untuk melepasmu
menghadapi yang sekian lama dinanti
perjuangan awal menuju masa depan

tak ada yang bisa kuberikan
selain sedikit ilmu titipan Ilahi
sebagai bekal bagi dirimu
meraih mimpi, mengggapai angan,
pun mencipta kebahagiaan

yang lalu biarlah berlalu
tak perlu kau ratapi, tak perlu kau cumbui
sebab tak mungkin lagi kembali
tataplah ke depan menyambut hari-hari
yang mesti kau langkahi dengan pasti

tebarkanlah senyum di setiap langkah
pancarkanlah wangi di setiap jalan
agar kau dapatkan hal yang sama
pada perjalanan panjangmu

selamat jalan, selamat berjuang…
jangan padamkan api meski berhenti
jangan hentikan doa meski tergoda

Banjarnegara, 14 April 2014

View original

Kebersahajaan Hidup dalam Ayahku (Bukan) Pembohong

Resensi Novel
Oleh Lena Tri Lestari

Ayahku (Bukan) PembohongJudul buku : Ayahku (Bukan) Pembohong
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Kota dan tahun terbit : Jakarta, 2011
Cetakan : Ketiga, Juni 2011
Tebal buku : 304 halaman

“Itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau yang dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan yang bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri, memaksa hati untuk memilih”.

Tere Liye kembali meluncurkan karyanya yang memberi motivasi dan pemahaman mengenai hidup. Novel terbarunya yang berjudul Ayahku (Bukan) Pembohong semakin menambah panjang daftar karyanya yang menggugah jiwa untuk menjadi pribadi yang baik. Tere Liye terkadang menuliskan novelnya dengan disertai aksen Sumatera, kota kelahirannya, seperti pada novel yang berjudul Burlian (November 2009), Pukat (Februari 2010), Amelia (September 2010), dan Eliana (Februari 2011). Namun pada novel Ayahku (Bukan) Pembohong, penulis kelahiran 21 Mei 1979 ini tidak menyisipkan dialog-dialog dengan menggunakan bahasa daerah, sehingga mudah dipahami pembaca dari seluruh kalangan masyarakat. Pesan moral pun berhasil disisipkan dalam kisah yang menarik tanpa terkesan menggurui.

Novel ini mengisahkan seorang anak bernama Dam yang amat tertarik dan termotivasi dengan kisah pengalaman masa muda ayahnya. Dari kisah ayahnya itu, Dam memiliki pemahaman terhadap hidup dengan cara yang berbeda. Dam termotivasi untuk tidak mudah menyerah dan menjalani hidup dengan bersahaja. Ketika Dam melanjutkan studinya di Akademi Gajah, Dam mulai meragukan kisah-kisah ayahnya. Dam berpikir ayahnya hanya mengarang kisah tersebut, bukan pengalaman pribadi ayahnya. Kemudian, di usia 20 tahun ia memutuskan untuk membenci kisah-kisah ayahnya. Suatu hari, Dam mengatakan di depan ayahnya bahwa ayahnya adalah seorang pembohong dan mengusirnya karena masih menceritakan kisahnya kepada Zas dan Qon, anak Dam. Setelah ayah Dam meninggal, barulah muncul bukti-bukti kebenaran cerita ayahnya dan Dam baru menyadari bahwa ayahnya bukan seorang pembohong.

Novel ini menceritakan kisah yang sangat menarik dan menyadarkan kita mengenai betapa besar kasih sayang seorang ayah dalam mendidik kita menjadi insan berpribadi yang mulia. Namun, penggunaan alur campuran menjadikan novel ini terkadang membingungkan karena pembaca harus mengulang kembali memori pada peristiwa sebelumnya.

Kandungan novel ini sangat bermanfaat bagi yang menginginkan kebersahajaan dalam kehidupan. Banyak nilai kehidupan yang tersirat dalam novel ini dan dapat dipetik hikmahnya. Hal itulah yang menjadikan novel ini menarik dan layak dibaca oleh seluruh kalangan masyarakat.*)

2014-02-02 09.54.20-1Lena Tri Lestari lahir di Wonosobo, 13 Juli 1996 merupakan siswa kelas XII IPA-Keterampilan Tahun 2013/2014. Putri pasangan Bapak Tusmin dan Ibu Jatiningsih ini sekarang tinggal di Desa Plodongan RT 03 RW 01 Sukoharjo. Kecintaannya pada kegiatan membaca membuatnya berusaha untuk bisa menulis.

Hasil Seleksi Puisi Menolak Korupsi Jilid 3 Pelajar Indonesia

galerisiswa:

Selamat….! Semoga bisa menjadi sarana pendidikan karakter yang efektif.

Originally posted on ruang imaji:

Puisi Menolak Korupsi koverSebanyak 291 pelajar dari berbagai kota di Indonesia, karya puisinya dinyatakan lolos seleksi dalam penerbitan buku Puisi Menolak Korupsi (PMK) Jilid 3 Khusus Pelajar Indonesia. Untuk itu, diharapkan para pelajar yang puisinya dinyatakan lolos seleksi diminta secepatnya mengirimkan foto closeup berikut Curiculum Vitae (CV) ke email:sosiawan.leak@yahoo.comatau via inboxfacebook: Leak Sosiawan).

Di antara 291 pelajar Indonesia tersebut, terdapat 8 siswa MAN 2 Banjarnegara (tercetak merah). Beberapa waktu lalu, 8 siswa tersebut mengirimkan karya puisinya dan alhamdulillah karya mereka berhasil lolos seleksi. Berikut nama-nama pelajar yang dinyatakan karyanya lolos seleksi penerbitan antologi PMK Jilid 3:

 1. A. Habiburrahman (Sumenep), 2. A. Kafi Febrian (Sumenep), 3. Abdul Azis Pane (Deli Serdang), 4. Abi Ortega (Pangkalan Kerinci, Riau), 5. Aeni Krismonika (Purbalingga), 6. Afifatus Sa’diah (Jember), 7. Agil Vina Febriana (Salatiga), 8. Agri Satrio Adi Nugroho (Sukoharjo), 9. Ahmad Alfi (Surakarta), 10. Ahmad Khoirur Roziq (Kediri)…

View original 1.290 more words