Puisi-puisi M. Mahfud

PELANGI

Saat hujan turun dengan cahya yang merona

Tak pernah aku duga ada sejuta warna yang ada

Betapa indahnya langit biru

Saat dirimu memancarkan warna-warnimu

Pelangi yang memancarkan keindahan

Yang aku kagumi selama ini

Tak pernah aku nodai cahayamu

Jadilah kamu bunga langit selamanya

.

SAHABAT

Kau mengerti apa yang kupikirkan

Dan kau slalu ingin tahu apa yang kupikirkan

Dan kau yang slalu ada buatku

Di saat suka maupun duka

Kau slalu mengisi hari-hariku

Dengan senyummu, canda tawamu. . .

Andai kubisa terus bersamamu

Hatiku slalu bahagia

Kau slalu melindungiku

Dan kau slalu pertama yang menyapaku

Dan kau adalah yang terbaik untukku

.

KESUNYIAN

Saat malam mulai menyelimuti alam

Dan semakin larut dalam kegelapan

Sesepi hatiku malam ini

Tanpa hadirmu malam ini

Tak ada bintang yang berkedipan

Dan tak ada cahaya dari sang rembulan

Seakan alam ini telah mati

Dan semua anganku tak ada artinya

Kau seperti penerang dalam hatiku

Sebagai penunjuk arah jalan

Penerang melewati semua rintangan

Dan tak ada penerang itu selain dirimu

———–

M. Mahfudz lahir Banjarnegara 19 Februari 1994 merupakan siswa Kelas XI IPA Keterampilan, yang tinggal di Desa Lengkong Kecamatan Rakit Banjarnegara.You’ll never walk aloneadalah kata-kata yang menjadi inspirasi baginya.

Langkah Kecil

Cerpen Karya Moh. Nasihin

Lantunan ayat suci Alquran terdengar syahdu, mengetuk pintu hati yang sedari tadi tertutup rapat, disusul kumandang adzan yang saling bertautan di ujung desa membuatku bergegas pergi ke rumah Allah SWT. Melaksanakan Sholat Subuh berjamaah membuatku merasakan nikmat yang tersendiri.

Hari ini, awal pekan di minggu pertama bulan pertama pula. Seperti biasa aku berangkat sekolah, sesaknya naik angkutan umum bagiku hal yang sudah biasa terjadi, lamanya menunggu angkutan umum menjadi makananku setiap hari. Namun, kujalani hari-hari itu dengan penuh harapan, kelak aku akan menjadi orang yang sukses.

Nanti pulang sekolah jangan lupa ketemuan di pintu gerbang sekolah, titik.” Suaranya mengagetkanku tatkala aku menginjakkan kaki di Kelas XI IPA Keterampilan. Biasa, temanku tingkahnya memang seperti itu. Sebut saja namanya Teguh D’penzy. He…he… julukan yang kukira pantas untuknya.

Ada apa Guh? Kayak nggak biasanya,” tanyaku tak mengerti tentang ucapan Teguh barusan.

Alaaah… pokoknya datang aja! Ok!?” Dia pergi, seakan ada sejuta perintah ditimpakan ke atas kepalaku dari langit-langit kelas.

Tet.. tet.. tet…!” Bel pulang sekolah berdentang cukup keras, bel yang dari dulu tak pernah berubah, suaranya nyaring sekali. Kutunggu Teguh persis di pintu gerbang, menahan rasa panas yang siang itu menjadi-jadi. Matahari seolah-olah tersenyum padaku, kilauan cahayanya membuat mataku berkedip cepat.

Yuk nemuin Bu Lily!” Lagi-lagi Teguh datang dengan tiba-tiba.

Kebiasaan!” sahutku sembari bertanya-tanya. Persis di depan aula, setelah lima menit aku dan Teguh menunggu, Bu Lily datang diikuti Raden, anak kelas X-1, kelas yang katanya favorit. Wah saking favoritnya sampai pada grogi kalau berkumpul bersama anak-anak X-1. Katanya sih anaknya pintar-pintar.

Bagaimana anak-anakku? Siap tidak dengan roket airnya?”

Bu, Lily, guru Fisika yang satu ini punya ciri khas tersendiri, senyum saat bicara. Aku masih diam membisu, menatap setiap muka yang ada di sekitarku, menghembuskan napas panjang kala itu.

Roket air?!” Rasanya belum terbayang bagaimana bentuk roket air itu. Maklum belum pernah lihat yang senyatanya. Setelah Bu Lily memberikan penjelasan dan pengarahan, aku sedikit paham apa yang disebut roket air. Bimbingan pertamaku berakhir, baru kali pertama di MAN 2 Banjarnegara aku ikut lomba. Bangga juga rasanya, ucapku dalam hati.

*****

Angin bertiup kencang, seolah sedang berlarian dengan waktu yang semakin sore. Bimbingan kedua perlombaan roket air dimulai, kelihatannya hari ini ada yang beda. Ya, bukan aku, Teguh, atau Raden saja yang datang. Namun, ada satu temanku yang ikut serta. Sebut saja namanya Mahfud, teman sekekas, anaknya unik. Kenapa dikatakan unik? Aku tidak dapat menjelaskannya. Masih seperti hari pertama bimbingan, Bu Lily memperdalam penjelasannya dengan segudang teori mengenai roket air.

Wah.. ilmu Fisikanya bangkit,” pikirku sesaat.

Pulpen yang sedari tadi kupegang, kugosok-gosokkan ke belakang kepalaku. Bukan aku saja yang menampakkan ekspresi kebingungan, Teguhpun sama, dia sibuk membolak-balikkan pulpen yang ada di tangannya. Sementara Raden masih saja sibuk membersihkan kaca matanya, dan Mahfud malah mencorat-caret kertas tanpa ada tujuan dia sedang menulis apa. Habis, teorinya banyak banget sih, jadi tidak paham-paham.

Oke, anak-anak, besok jangan lupa bawa botol air mineralyang banyak! Kita mulai praktik,” Bu Lily memberi komando sekaligus mengakhiri bimbingan kali ini.

*****

Deburan debu terasa menambah kesesakan di mana-mana, polusi udara kian merajalela. Sepinya penanaman pohon di pinggir jalan serasa napas ini semakin tercekik. Matahari siang ini tidak menampakan bentuknya, hanya diam di tempat tanpa memancarkan sinar-sinar kehidupan. Kilatan petir seraya menjerit-jerit, mengumbar suaranya yang menggelegar. Bimbingan diawali dengan sambutan hujan yang cukup deras, dengan barang-barang bawaan kuinjakan kaki di tanah pertiwi ini dengan cepat, takut telat nantinya. Benar saja perasaanku “aku telat”. Tanpa menghiraukan apa yang akan terjadi, kuterjang hujan deras yang mengguyur MAN 2 Banjarnegara tercinta.

Kemana saja kamu?!” seribu tanda Tanya ditampakan kepadaku oleh seorang Teguh.

Maaf Guh, ada urusan mendadak,” jawabku singkat dan langsung ikut bergabung.

Satu per satu botol bekas dikeluarkan dari dalam tas kresek besar, ditata dengan rapi di depanku dan kawan-kawan.

Terus langkah pertama bagaimana, Bu?” Mahfud menggeser tempat duduknya, memegang beberapa botol air mineral berukuran besar.

Buka fotokopian yang sudah kalian pegang, perhatikan langkah-langkahapa saja yang ada di dalamnya!” tegas Bu Lily sembari menatap beberapa lembar fotokopian.

Wah Bu! Alat-alat yang harus disiapkan banyak banget,” Teguh berceloteh sambil menggerak-gerakanjarinya di sekitar tulisan.

Siapkan paralon untuk papan luncur, dua bekas botol air mineral, fiber, tish, dan lakban…” kubaca dengan keras alat-alat yang harus disiapkan.

Weleh-weleh banyak juga ya?!” Raden yang sedari tadi diam kini unjuk suara.

*****

Bahan-bahan yang dibutuhkan sudah disiapkan namun ada saja kebingungan yang bermunculan. Dari pemotongan botol bekas air mineral hingga pembuatan model sayap, belum lagi menemukan bodi yang diinginkan, masih menggali kekreatifanku dan kawan-kawan.

Kelihatannya sibuk nih?” suara Pak Irfan terdengar sayup-sayup, mungkin karena kita sedang fokus dan dibumbui bingung yang berlebih. Pak Irfan Afandi, staf tata usaha, orangnya ramah, simpel, namun ketika sedang bekerja beliau menciptakan kondisi yang serius.

Kebetulan nih, Pak Irfan datang. Sudah ketemu belum pak videonya?” tanya Bu Lily lantas mempersilakan Pak Irfan duduk dan ikut bergabung dengan kesibukan ini.

Otak yang sedari tadi keriting kini mulai lurus kembali setelah melihat video yang baru saja diputar. Pak Irfan mulai beraksi, beliau memberikan inspirasi baru bagi kami.

Ayo anak-anak, kita pasti bisa!” seruan Bu Lily juga membuat aku dan kawan-kawan termotivasi. Beliau senantiasa menemani kita bereksperimen dengan roket air. Pembuatan roket air pertama selesai. Dengan model badan dan sayap sederhana namun kami tetap bangga dengan penyelesaian ini.

Meluncur ke udara sampai ke bulan dengan roket air, wah…” anganku kala itu muncul namun segera hilang ketika Teguh menyuruhku mengambil tasnya. Sementara Mahfud dan Raden masih asyik merangkai model roket yang lain, memodifikasinya dengan bentuk sayap yang lebih bagus.

Jarum jam menunjukkan pukul empat sore, ditemani dengan gemericikan air hujan yang belum juga reda. Pembuatan roket airpun selesai lebih awal. Bukan capek lagi namun rasa sendi pertulangan sakit semua, bagai diinjak robot raksasa. Super duper capek untuk bimbingan kali ini. Dakhri dengan doa kafaratul majlis, bimbingan usai dan akupun bergegas pulang sebelum ditinggal si angkutan umum. Maklum rumahku jauh dari sekolah, sehingga butuh waktu yang cukup lama untuk sampai di pelataran rumah. Ditambah lagi, aku masih harus berjalan kaki hingga beratus-ratus langkahan.

*****

Perlombaan roket air se-BARLINGMASCAKEBBOPAL (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Wonosobo, dan Pemalang) di Sanggaluri Park (Owabong, Purbalingga) hampir datang. Tidak kurang dari dua minggu, aku dan kawan-kawan akan bertarung membawa nama MAN 2 Banjarnegara ke Purbalingga. Namun, persiapan kita belum menemukan titik aman.

Bimbingan hari ini harus lebih terarah!” ujar Bu Lily tatkala baru sampai di depan aula. Aku, Teguh, Mahfud dan Raden sudah menunggu beliau cukup lama.

Kita pasti bisa!” kukepalkan tanganku dengan semangat.

Setuju! Setuju! Setuju!” Teguh, Mahfud dan Raden menyahut ucapanku dengan serentak. Ketika Bu Lily hendak masuk ke aula, tiba-tiba Pak Irfan memanggilnya. Beliau tidak datang sendiri, di belakangnya ada Pak Heri, staf tata usaha yang juga suka bereksperimen dengan hal yang baru. “Memberi tantangan tersendiri,” ujar Pak Heri sembari tersenyum.

Berkumpul bersama orang-orang pintar, Bu Lily, Pak Irfan, dan Pak Heri, membuatku ikut hanyut dalam pikiran mereka. Didampingi dengan kawan-kawan yang juga begitu welcome terhadapku, serasa dunia ini penuh dengan ilmu. Dua roket yang sudah jadi kemarin siap diluncurkan. Untungnya cuaca hari ini sangat mendukung, mataharinya tersenyum, cahaya keemasan terpancar jelas menghiasi halaman sekolah MAN 2 Banjarnegara. Papan luncur sederhana kubawa dengan hati-hati dari dalam aula. Teguh yang sedari tadi tersenyum hanya membawa dua roket air, sementara Raden membawa pompa angin, dan Mahfud sibuk mengisi air di WC sekolah. Pak Heri dan Pak Irfan berbincang-bincang di bawah pohon ketapang persis di samping jendela kantor. Mereka kelihatanya serius banget dengan perlombaan roket air nanti. Kuacungi dua jempol untuk beliau-beliau.

Jangan lupa roketnya diisi sepertiga air!” perintah Bu Lily tergesa-gesa. Akankah percobaan pertama berhasil? Mudah-mudahan berhasil, amiin!

Wus.. wus.. wus.… “ angin dari dalam pompa keluar dan masuk lagi ke bagian belakang roket. Sebelum tekanan angin di dalam roket maksimal, roket air akan tetap diam di situ. Pengunci yang terbuat dari tish masih kokoh, napasku ngos-ngosan. Kupercepat gerakan tanganku sampai tenaga terakhir dan…. “Der…!” Roket air terbang menjauh, hingga melewati atap gedung MAN 2 Banjarnegara.

E.. ayam.. ayam…” suara Raden tiba-tiba terdengar.

Wah Raden latah…” celoteh Mahfud sembari tersenyum lebar.

Hahahaaa…!” aku pun tertawa dan Teguh menyahutnya

Hei, berhasil, hore…!” Rasa senang yang sebelumnya terpendam kini muncul bagaikan gunung berapi memuntahkan laharnya.

Alhamdulillah…” Bu Lily mengucap rasa syukur kepada Allah SWT. Beliau bertepuk tangan untuk kita. Di ujung sana Pak Irfan dan Pak Heri mengacungkan jempolnya.

Kita bisa, kita pasti bisa…!”

Aku, Teguh, Mahfud, dan Raden bernyanyi-nyanyi seolah sedang di atas panggung ketika sukses menggelar konser pertama. Namun aku bukanlah penyanyi, aku hanya seorang siswa yang ingin meraih prestasi.

Setelah percobaan pertama sukses, percobaan kedua, ketiga, dan seterusnya pun sukses. Hasilnya tidak mengecewakan. Berakhirnya bimbingan kali ini ditutup dengan suksesnya menerbangkan roket air di lapangan Desa Wangon, yanmg terletak di dekat sekolah.

Dinginnya malam kian mencengkeram, menyelimuti di setiap pori-pori kulit. Kuucap rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berlimpah nikmat kepadaku. Segudang tugas dari sekolah akan menghampiriku di esok hari, kupejamkan mataku hingga aku terlelap tidur.

*****

Rabu siang di sekolah, aku bergegas ke aula menungggu datangnya kawan-kawan. Sembari memencet tombol handphone, kuusap keringat yang sempat menetes di pipi kiriku.

Panasnya siang ini…” ucapku tak menghiraukan panggilan dari nomor tak di kenal.

Hai…!?” Mahfud melambai-lambaikan tangan dari sebelah ruang laboratorium. Raut mukanya menggambarkan keceriaannya yang teramat.

Tumben telat? Biasanya paling cepat!” sahutku tersenyum menunjukkan lesung pipi yang sudah lama tak kelihatan. Duduk di teras aula, aku dan Mahfud bercakap-cakap soal roket air.

Eh, Pak Irfan dan Pak Heri sudah ada di dalam, kita masuk yuk!” ajakku sambil menarik tangan Mahfud. Raden dan Teguh terlihat sedang berlarian mendekat. Seakan-akan ada perampokan dan mereka yang dituduh melakukannya.

Hari ini Bu Lily sedang ke Purbalingga, mengadakan teechnical meeting bersama peserta dari kabupaten lain. Pak Irfan dan Pak Heri masih saja sibuk merancang papan lucur yang dinamis. Menurut teori fisika yang aku baca kemarin, daya jangkau roket air meluncur jauh haus menggunakan botol yang bersoda.

Waktu bergulir begitu cepat, kabut yang sedari tadi kasat mata kini menebal, membuat gumpalan awan hitam. Terlihat seperti ada yang menyetir di atas sana.

Aku ingin kita menang!” teriakku keras memecah keheningan sore itu, membuat teguh dan Mahfud ikut menoleh dan menatapku. Dari kejauhan Bu Lily datang, beliau bergegas menemui kita.

Waduh, ternyata eh ternyata, kriteria roket air berubah…!” dengan logat Banjarnegara Bu Lily menjelaskan hasil rapat tadi. Bagaikan terkena aliran listrik ribuan watt, aku, Teguh, Mahfud, dan Raden terkejut. Kutundukan kepalaku, seperti ada setitik kebahagiaan yang hilang tatkala itu, begitu juga dengan kawan-kawanku.

Ayo anak-anak, kita tunjukkan kreativitas kita!” kata-kata Pak Irfan sedikit memotivasi kami kembali.

Jangan menyerah dulu sebelum kita mencobanya!” Pak Heri ikut mengangkat kepecayaan diri kita.

Oke anak-anak, sekarang kita buat roket air yang menggunakan nepple di bawahnya!” perintah Bu Lily, seakan memompa kembali semangat kita.

*****

Dari beberapa percobaan, penerbangan roket air yang menggunakan nepple dan yang tidak menggunakan nepple jauh berbeda. Jangkauan roket yang menggunakan nepple jauh di bawah roket yang tidak menggunakan nepple. Hal itu menjadi masalah terbesar menurutku tapi pasti ada solusi dari semua ini.

Angin bertiup kencang, menerbangkan beberapa daun kering di tepian jalan raya. Sengaja aku berangkat sekolah lebih awal. Kukira aku yang lebih dulu datang ke sekolah, ternyata Teguh, Mahfud, dan Raden sudah ada di sana saat aku memasuki pelataran aula.

Hai, semua…!” sapaku singkat, tanpa menghiraukan jawaban dari mereka aku ikut duduk di antara Mahfud dan Raden.

Pak Irfan dan Pak Heri sudah menemukan solusinya!” tutur Bu Lily tersenyum. Matanya berbinar-binar, memancarkan harapan baru untuk aku dan kawan-kawan.

Benarkah Bu?” aku memastikan kebenaran itu. Bu Lily menganggukan kepala. Teguh, Mahfud, dan Raden bertepuk tangan layaknya orang yang menerima kabar gembira. Pak Irfan dan Pak Heri menjelaskan tentang temuan mereka. Mudah dan simpel, hanya memodifikasi nepple yang diberi embel-embel paralon kecil. Dan setelah dicobapun, hasilnya tidak mengecewakan. Layak ditampilkan dalam perlombaan besok di Purbalingga. Hari ini difokuskan untuk membuat desain roketnya karena selain jangkauan, keunikan roketpun tetap dinilai.

*****

Hari yang kutunggupun tiba. Ketika matahari muncul dari ufuk barat, sudah sedari tadi aku menunggu Teguh, Mahfud, dan Raden datang. Ditemani dengan sebuah tas besar yang kuletakan di punggung, aku duduk di teras sekolah. Selang beberapa menit mereka datang dan kamipun berangkat menuju medan tempur. Sekitar pukul sembilan pagi, kuinjakan kaki di Taman Reptil Purbalingga. Menungggu saat-saat pertandingan dengan mencoba beberapa roket hasil buatan kami kemarin. Perlombaan dimulai, satu per satu roket diluncurkan dari papan luncur yang sudah disediakan panitia. Kadang aku tersenyum sendiri ketika melihat beberapa roket hanya jatuh di depan si pemompa.

Beberapa saat setelah perlombaan selesai, sampailah pada pengumuman hasil lomba. Detik itu juga pemenang diumumkan. Dan…

Pemenang ketiga perlombaan roket air se-BARLINGMASCAKEBBOPAL direbut oleh MAN 2 Banjarnegara dengan jarak tempuh 86,5 meter…” suara panitia terdengar jelas.

Horeee…!. MAN 2 Idolaku…” teriak kami bersama. Bu Lily, Pak Irfan, dan Pak Heri tersenyum dan tak lupa memberi selamat kepada kami. Hanya MAN 2 Banarnegara yang mengirim peserta di perlombaan kali ini dari Banjarnegara. Bangga sekali rasanya

Kami persembahkan kemenangan ini untuk MAN 2 Banjarnegara…!”

Keberhasilan itu butuh upaya, jadi upayakan keberhasilan itu. Akan kukenang pengalaman ini hingga aku tak bisa mengenangnya lagi…

*****

Ingin tahu proses pembuatan roket air? Silakan klik  Bermain sambil Belajar dengan Roket Air

Moh. Nasihin yang lahir Banjarnegara, 14 Februari 1991 merupakan siswa kelas XI IPA Keterampilan. Putra pasangan Bapak Mohammad Hasyim dan Ibu Parsiyah ini tinggal di Desa Gunungjati Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara. “Keinginan adalah keberhasilan yang sedang diupayakan” adalah moto yang selalu mengiringi langkah hidupnya.

Benarkah Cinta Itu Buta?

Sebuah resensi novel oleh Amanah D’Penzy

Judul Buku:  Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Pengarang:  Tere Liye

Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama

Terbit:  Juni, 2010

Tebal Buku:  264 Halaman

Tere Liye penulis novel best seller yang mempunyai nama asli Darwis adalah seorang penulis novel berbahasa Indonesia. Lahir pada tanggal 21 Mei 1979 di pedalaman Sumatera, yang berasal dari keluarga petani, dan merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Beliau telah menghasilkan 14 buah novel, termasuk novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ini. Riwayat pendidikan beliau cukup singkat, dimulai dari SDN 2 Kikim Timur Sumatera Selatan, SMPN 2 Kikim Timur Sumatera Selatan, SMAN 9 Bandar Lampung, dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

“Bekerja keras namun selalu merasa cukup, mencintai berbuat baik dan berbagi, senantiasa bersyukur dan berterima kasih,” begitu pesan beliau tentang sebuah hidup yang sederhana. Seperti novel ini ditulis dengan sederhana, namun bisa menjadi karya yang luar biasa.

Cerita ini berawal dari seorang gadis kecil bernama Tania yang berumur 10 tahun tertusuk paku payung saat sedang mengamen bersama Dede adiknya yang berusia 6 tahun. Mereka bertemu dengan seseorang yang akhirnya menjadi malaikat bagi keluara Tania, memberikan kasih sayang, perhatian, dan janji masa depan yang lebih baik. Untuk pertama kalinya Tania merasa cemburu pada Tante Ratna, pacar seseorang yang menjadi malaikatnya. Ternyata Tania telah jatuh cinta  kepada seseorang itu yang bernama  Oom Danar. Perasaan itu terus tumbuh. Ketika Tania  tinggal seminggu lagi untuk mencapai angka 13 tahun, Dede 8 tahun, dan seseorang itu 27 tahun, ibunya meninggal. Setelah itu Tania bersekolah di Singapura selama 6 tahun karena beasiswa yang diraihnya. Kado liontin yang diberikan seseorang itu kepada Tania menjadi awal sebuah teka-teki yang membuat Tania semakin jatuh cinta meskipun dia tidak berani mengungkapkanya. Namun, tiba-tiba perasaan itu bagai beribu-ribu anak panah yang menghujam hati Tania. Pedih dan menyakitkan. Ketika dia baru lulus dengan predikat terbaik, malaikatnya itu memutuskan untuk menikah dengan Tante Ratna. Daun yang jauh tak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari pohonnya. Saat potongan teka-teki itu terungkap di bawah pohon linden, semua itu telah terlambat. Akhirnya, hanya ada hati yang terluka karena cintanya yang tak pernah mampu mengungkap kejujuran.

Novel ini cukup membuka mata kita bahwa cinta tak pernah mengenal usia dan cinta butuh suatu kejujuran sekalipun pahit rasanya harus kita katakan  sebelum akhirnya cinta itu  justru menyakiti orang-orang yang kita sayangi. Novel ini dibuat seperti teka-teki pada alur cerita dan pada nama tokohnya, sehingga membuat pembacanya penasaran untuk terus membaca novel ini sampai selesai. Meskipun begitu, alur campuran yang digunakan kadang cukup membuat pembacanya menjadi cukup kesulitan. Bagian akhir cerita yang tidak digambarkan secara jelas juga membuat pembacanya menafsirkan ending yang berbeda-beda sesuai kemauannya.

Gaya bahasa yang digunakan dalam penulisan novel ini meski terkesan berlebihan namun cukup menarik. Contohnya pada kalimat ”Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu, tumbuh satu langsung kau pangkas, bersemi satu langsung kau injak, menyeruak satu langsung kau cabut”.

Karya Tere Liye ini memberikan pemahaman kepada kita khususnya remaja saat ini, bahwa cinta itu tak pernah mengenal usia dan butuh  sebuah kejujuran. Kita tidak boleh membenci orang yang telah membuat kita jatuh cinta kepadanya meskipun kita telah tersakiti karena Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

*****

Amanah D’Penzy adalah nama pena Teguh Amanah yang lahir di Banjarnegara, 15 Maret 1993 merupakan siswa kelas XI IPA Keterampilan. Putri pasangan Bapak Samsul Basri dan Ibu Watini ini sekarang tinggal di Desa Bondolharjo RT 01 RW 07 Punggelan Banjarnegara.

Sekedar Salam

untuk Siswa Kelas XII yang menghadapi Ujian Nasional

tibalah saatnya kini

kulepaskan dirimu

menghadapi yang sekian lama dinanti

 

 

segala ilmu titipan Yang Kuasa

yang ada padaku

tlah kuserahkan semampu

barangkali bisa menjadi manfaat

sebagai sedikit bekal

meraih mimpi

mengggapai masa depan

mencipta kebahagiaan

 

 

hari-hari yang tlah lalu

tak mungkin lagi kembali

maka sambutlah hari-hari nanti

dengan langkah pasti

dengan senyum pelangi

 

 

selamat jalan, anakku

selamat berjuang

semoga rida Ilahi

selalu menyertai langkahmu

****

Banjarnegara, 15 April 2012

salam dari ruangimaji

Puisi Berjamaah

Puisi-puisi berikut ini disebut Puisi Berjamaah karena merupakan karya bersama “Tiga Cewek Imut” Kelas XII IPA-1, yaitu Anik Prastiwi Kurniasih, Astuti Eka Rini, dan Indarti Anis Solikhah.


Bayang
Semu

 

Saat ku membuka mata
Aku teringat dia
Saat dia menatapku, aku terpukau
Saat dia mendekat, jantungku berdegup cepat
Seperti ada yang memompa dari belakang
Tapi itu hanya khayalan
Remuk jantungku bila mengingatmu
Tak kuasa aku menahannya
Kau telah tinggalkan kenangan itu untuk selamanya
Kenangan yang teramat berkesan
Ku tak percaya kau pergi begitu cepat
Tinggalkan aku sendiri bersama bayang semu ini
Kini hanya pilu yang kurasa
Semoga kau tenang di alam sana
Cinta ini ‘kan abadi walau kau tak terlihat lagi
Dan akan kujaga hingga aku mati

 

Its Us

untuk: MAN 2 Banjarnegara

Di sinilah kami dipertemukan
Merasakan kenyamanan dan kegembiraan
Tertawa, itu hobi kami
Tersenyum, itu kebiasaan kami
Kesedihan berubah menjadi kegembiraan
Kesunyian berubah menjadi keramaian
 Kita selalu bersama
Dalam suka maupun duka
Kegilaan, kekonyolan, dan kekompakan
yang setiap hari kami lakukan
Protes sering kami dengar dari teman-teman kami
Tapi inilah kami dan inilah hobi kami
Kelak kami akan ceritakan pada anak cucu
Betapa indahnya dunia ini
Dunia yang penuh warna
Bukan sekedar putih abu-abu
We are always together
Today, tomorrow, and forever
Because you are my everything

 

 

Anik Prastiwi Kurniasih lahir di Banjarnegara, 21 Juli 1994, tinggal di Desa Kaliurip RT 03 RW 03, Madukara, Banjarnegara.

Astuti Eka Rini lahir di Banjarnegara, 13 Agustus 1994, tinggal di Desa Danaraja RT 01 RW 03, Purwanegara, Banjarnegara. 

Indarti Anis Solikhah lahir di Cilacap, 6 Maret 1995, tinggal di Desa Karangtengah RT 03 RW 02, Banjarnegara.

 

Puisi-Puisi Mujtahidatul Masbuqina Aulia

Angin

 

Anganku tak terkendali
Entah
Angin itu
Akankah ia ada
Membawa cintaku pergi
Melayang terbang
 
Bukan dalam bayang
Bukan dalam kepalsuan
 
Anganku ingin terbang
Bersama angin
Yang entah kemana ia pergi

 

Luka

 

Mungkin
Rasa itu masih tersisa
Mengakar dalam hati
Mengukir lara
Menggores luka
Membuat hati tersiksa
Menoreh kisah sedih
Tentang cinta
 
Sulit ku berlari
Lupakan semua
Sakit dalam hati
Tak bisa
walau semua telah sirna

 

Sendiri dalam Sepi

 

Tak sangka secepat ini
Bagai hembusan angin yang begitu cepat berlalu
Bagai hempasan ombak yang menyiram pasir sejenak
 
Tangis kesedihan
Berjatuhan
Membasahi pipi
Sepi
Menjemba dalam hati

 

Jangan Pernah

 

Jangan pernah kau tanya
Jangan pernah kau tanyakan
 
Diam
Diamlah
Renungkan rasa cinta yang telah sirna
Ingat
kenapa kau tak mengerti
 
Jangan pernah kau tanyakan itu
Jangan!
Langkahku telah cepat tuk hindari
Jangan!
Jangan kau kejar masa lalu mu
Pergi!
Jangan!
Jangan pernah kau kembali

 

Akhir Rinduku

 

Sejenak kuberhenti
Menatap jauh dalam sepi
Benarkah dia
 
Gemetar hati ini
Kucoba melangkah
Mendekat
Segalanya merasuk dalam jiwa
 
Tak sangka
Dia tak berkata
 
Tangisku tak tertahan
Terdiam
Semilir angin bisikkan rindu
 
Tak terasa
Dekap hangat peluknya
Membuat malam
Sunyi tak bersuara
 
Rindu…
 
Akhirnya
Kutemukan dia
Tanpa kata
Tak terduga

 

Mujtahidatul Masbuqina Aulia yang lahir di Jakarta, 13 Juli 1994 merupakan siswa kelas XII IPA-2. Putri pasangan Bapak Zaenul Aulia dan Ibu Darurrohmi ini tinggal di Desa Somawangi Kecamatan Mandiraja Banjarnegara 53473. “Tak apa menangis untuk sebuah kebahagiaan yang besar. Mengalah tak berarti kalah, menangis tak berarti lemah. Namun, semuanya berarti sebuah tanda bahwa usaha tak selamanya mudah” adalah kata-kata yang menginspirasi hidupnya.

Rasaku Membunuhku

Cerpen Musrifah

Matahari telah bersinar dan suara burung telah membangunkanku. Saat terbangun hal pertama yang aku ingat adalah ulang tahun kekasihku. Hari ini dia ulang tahun dan aku bingung mau kasih kejutan apa buat dia. Di dalam kamar aku terus melamun sambil mencari ide untuk membuat kejutan. Tiba-tiba ada teriakan yang membangunkan aku dari lamunan.

“Chaca………….. sudah siang, ayo siap-siap berangkat ke sekolah,” teriak Ibu.

“Iya Bu sebentar, aku mau mandi dulu,” jawabku dengan santai. Setelah selesai mandi aku langsung membuka tabunganku karena uangnya akan kupakai untuk membeli kado buat sang kekasih. Aku terpaksa mengambil tabungan karena untuk hal seperti ini aku tidak mungkin minta uang pada orang tua. Kemudian aku langsung menuju ke dapur. Kulihat Ibu sedang sibuk beres-beres di dapur.

“Sarapan dulu Cha,” kata Ibu.

“Aku sarapan di sekolah aja Bu, soalnya buru-buru,” jawabku sambil berpamitan sama Ibu.

“Ya sudah, hati-hati Nak…“ kata Ibu.

“Iya Bu…” jawabku sambil lari.

*****

Sesampainya di sekolah aku langsung masuk ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi. Aku lihat semua teman-teman aku sudah berada di kelas, namun belum ada gurunya.

“Siang amat Cha?” kata Lola. Lola adalah teman satu bangku aku.

“Iya nih soalnya telat bangun… hehe…” kataku sambil cengengesan. Saat aku sedang berbincang-bincang dengan Lola, tiba-tiba Pak Guru datang. Kemudian kami pun mengikuti pelajaran. Beberapa jam berlalu, bel istirahat berbunyi. Aku, Lola, Puput, dan Raras langsung menuju ke kantin. Mereka bertiga adalah teman akrabku. Meskipun kami baru kenal sejak masuk Madrasah Aliyah ini namun kami berempat akrab sekali. Aku langsung cerita sama teman-teman kalau hari ini Andi ulang tahun.

Gimana kalau kamu kasih dia baju Cha?” kata Raras.

“Iya aku setuju dengan Raras. Tapi, kamu juga harus buat kue ulang tahun,” sahut Puput.

“Tapi aku nggak bisa bikin kue, kalau aku minta bantuan ibu nanti ibu jadi tahu kalau aku sudah pacaran,” kataku.

“Ya sudah mending nanti kita ke mall, beli kue sekalian beli bajunya,” usul Lola.

“Iya aku setuju,” jawabku dengan hati gembira.

 *****

Setelah pulang sekolah kami langsung menuju ke mall. Sesampainya di sana, kami langsung menuju ke tempat kue. Setelah membeli kue, kami langsung menuju ke tempat pakaian. Dan akhirnya, aku membeli kemeja. Karena menurut aku kemeja itu sangat cocok kalau dipakai Andi. Dengan rasa tak sabar, aku langsung sms Andi agar nanti sore bisa ketemu. Tapi sayang sms-ku tidak dibalas oleh dia. Namun aku tetap berpikir positif, mungkin memang dia lagi sibuk. Namanya juga mahasiswa.

“Aduh aku lapar nih… makan yuk?”ajak Raras.

“Iya aku juga lapar,” kata Lola. Akhirnya kami berempat menuju ke tempat makan. Saat sedang menunggu makanan yang belum datang, tanpa sengaja aku melihat Rina. Dia adalah teman akrabku di SMP dulu. kami selalu lalui suka dan duka bersama. Namun sejak di SLTA kami jarang bertemu, bahkan komunikasipun mulai renggang.

Hay Rin, apa kabar?” sapaku dengan nada penuh kerinduan.

“Chaca… aku baik-baik aja. Aku kangen banget sama kamu,” kata Rina.

“Sama Rin aku juga kangen banget sama kamu, sudah lama kita nggak bersama” jawabku dengan penuh kebahagiaan.

“Oya Cha, kamu masih sama Andi nggak?” tanya Rina. Namun aku hanya tersenyum. Belum sempat aku menjawab pertanyaan Rina, tiba-tiba aku terkaget dengan perkataannya.

“Tadi aku lihat Andi lagi sama Ani, dia lagi di toko boneka. Kayaknya mereka berdua balikan lagi ya? Soalnya kelihatan mesra banget.”

Aku sangat kaget mendengar perkataan Rina. Apalagi Ani adalah mantan kekasih Andi. Sebenarnya hatiku tak ingin percaya, tapi kata-kata itu keluar dari mulut teman aku sendiri. Dan tidak mungkin kalau aku tidak mempercayainya, karena tidak mungkin Rina bohong. Hatiku terasa sangat sakit dan hampir ku teteskan air mata. Namun tiba-tiba aku terkaget dengan ucapan Rina.

“Aku pulang dulu, ya Cha?”

“Iya hati-hati ya Rin?” jawabku sambil memperlihatkan senyum palsuku. Ketiga sahabatku langsung memeluk aku, akupun menangis di depan mereka.

“Jahat banget sih tu cowok? Tega-teganya kayak gitu” kata Lola.

“Lol jangan ngomong gitu donk, ini semua kan belum jelas” kata Puput sambil menenangkan perasaanku.

Gimana kalau sekarang kamu telepon Andi aja?” usul Raras.

Akhirnya aku menelepon Andi, namun tidak di angkat sama dia. Bahkan sampai tiga kali aku meneleponnya, dan saat itu juga dia menolak telepon dari aku. Hal ini membuat aku semakin yakin dengan kata-kata Rina. Tanpa berpikir panjang aku langsung sms Andi minta putus. Hatiku benar-benar kecewa, karena aku merasa pengorbananku selama ini sia-sia. Aku tidak jadi makan karena selera makan aku tiba-tiba jadi hilang. Akhirnya kami pun pulang.

*****

Sesampainya di rumah aku langsung menuju ke kamar, Ibu sampai bingung dengan sikap aku. Aku sengaja tengkurap di atas tempat tidur untuk menyembunyikan tangisku. Ada rasa tak rela kesetiaanku dibalas dengan penghianatan. Sampai hidungku tersumbat, aku baru bisa menahan air mata yang diam-diam tumpah-ruah. Lalu seperti kecapaian setelah mengharu-biru sendiri, mataku sempurna terpejam. Rasanya belum lama terpulas, tiba-tiba aku terbangun kerena mendengar suara HP berbunyi. Ternyata itu adalah sms dari Andi. Dia bilang semua itu hanya salah paham, tapi aku sudah tidak mempercayai semua itu. Karena hati ini sudah terlanjur sakit.

 *****

Satu minggu telah berlalu, aku mencoba jalani hari-hariku tanpa Andi. Meski terasa sangat sulit, namun aku berusaha untuk melawan perasaan ini. Aku tak pernah memperlihatkan kesedihanku pada siapapun, terutama pada Ibu. Untuk sedikit mengurangi rasa pedih ini, aku banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman. Karena saat bersama mereka aku bisa melupakan sejenak beban ini. Ketika hari libur aku dan ketiga teman-temanku pergi jalan-jalan ke mall. Tanpa sengaja aku bertemu dengan Dinda. Dia adalah sahabat SMP aku dulu, meski dia bukan teman akrabku tapi aku masih tetap ingat dia.

“Dinda, kamu ingat aku nggak? Ini Chaca,” sapa aku.

“Ih Chaca, iya aku ingat banget,” jawab Dinda.

“Oya Din, dengar-dengar kamu satu SMA sama Rina ya?” tanyaku.

“Iya Cha, malah kita satu kelas. Oya Cha, kamu tahu nggak kalau sekarang Rina pacaran sama Andi lho.. mantan kekasih kamu dulu. Emang sudah berapa lama kamu putus sama Andi?” tanya Dinda. Aku benar-benar sangat shock mendengar kata-kata Dinda. Mulutku terbungkam kaku sampai tak bisa berkata apa-apa. Lalu salah satu sahabatku ada yang menjawab pertanyaan Dinda.

“Baru satu minggu mereka berdua putus, dan itu pun gara-gara Rina yang bilang ke Chaca kalau Andi sedang jalan sama mantan kekasihnya,” jelas Lola.

“Idih.. tega banget Rina sama temen sendiri kok kayak gitu, emang pagar makan tanaman. Ya sudah Cha, kamu yang sabar ya? Aku mau pulang dulu,” kata Dinda.

“Ya sudah hati-hati ya Din? Makasih untuk informasinya,” kataku mencoba tegar.

“Iya sama-sama,” jawab Dinda dengan terburu-buru.

“Dasar buaya emang tu orang, kalau aku ketemu ingin aku pukul tu orang,” kata Raras.

Bener banget tu, yang cewek juga nggak ngaca, sudah tahu pacar temen, ehhhh masih diembat juga. Bener-bener ingin aku acak-acak tuh muka,” kata Puput dengan raut muka geregetan.

“Sudahlah, kita pulang aja yuk? Aku sudah nggak mood jalan-jalan” kataku. Akhirnya kami berempat pulang, dan teman-teman mengantarkan aku sampai rumah. Namun mereka nggak ada yang mampir, karena mereka tahu kalau aku sedang butuh waktu untuk sendiri. Aku langsung menuju ke kamar dan Ibu semakin bingung dengan sikap aku akhir-akhir ini. Aku hanya bisa menangis dengan perasaan tak percaya dengan apa yang terjadi.

Kenapa harus Rina? Kenapa bukan orang lain? Dia adalah sahabat akrabku dulu. Mungkinkah dia tega menghinati aku?” tanyaku dalam hati.

Seperti biasa untuk sedikit menghilangkan rasa sakit ini, aku selalu membuka facebook untuk mencurahkan semua isi hati ini. Karena aku penasaran, aku membuka dinding facebook Andi. Dan ternyata benar kata Dinda, bahwa dia memang benar-benar berpacaran dengan Rina. Andi merubah status hubungannya menjadi berpacaran dengan Rina. Hati ini terasa semakin sakit, bagaikan ada seribu jarum yang menyusuk hati ini. Aku benar-benar merasa jadi bahan mainan mereka berdua.

*****

Hari terus berganti, empat bulan telah berlalu aku mencoba membangkitkan semangat hidup aku kembali. Meski luka ini belum sepenuhnya sembuh, namun paling tidak hati ini mulai terasa pulih kembali. Saat aku sedang asyik membaca novel di kamar, tiba-tiba ada sms. Dan itu adalah sms dari Andi, hati ini terasa bergetar. Aku tidak tahu apa yang terjadi, mengapa hatiku berdetak sekencang ini?

“Mungkinkah aku masih mencintai Andi?” tanyaku dalam hati. Dalam sms itu Andi minta untuk bertemu. Dan bodohnya aku, aku mau saja dengan ajakan Andi. Kita berdua bertemu di taman yang biasa kita ketemu dulu. Dan saat aku sampai di taman itu, aku lihat Andi sudah ada di taman itu. Detak jantung ini semakin kencang, bahkan membuat aku terasa begitu gugup.

“Sudah lama kamu Ndi?” sapa aku.

“Eh Cha,, aku kira kamu nggak akan datang. Makasih ya kamu sudah mau datang buatku,” jawab Andi.

“Sudahlah kamu mau ngomong apa sebenarnya? Aku nggak punya banyak waktu untuk kamu,” kataku berpura-pura jutek.

“Sinis banget sih kamu sama aku? Aku mau minta maaf sama kamu, aku tahu kalau aku salah. Aku mohon beri aku kesempatan kedua. Aku janji nggak akan ngelakuin kesalahan yang kedua kalinya,” kata Andi sambil meyakinkanku.

Hatiku terasa tidak karuan, aku tidak percaya Andi bisa mengatakan semua itu. Apa mungkin dia masih mencintai aku? Atau dia hanya ingin mempermainkan perasaanku? Ahhhhhhhhhh entahlah…

Lah terus Rina mau kamu ke manain?” tanyaku.

“Aku sudah putus sama dia Cha.. Aku sadar kalau cinta aku hanya untuk kamu. Aku mohon, izinkan aku untuk menebus kesalahanku di masa silam,” kata Andi. Aku hanya bisa terdiam, dan hampir saja aku percaya dengan rayuan Andi.

“Aku nggak bisa Ndi, aku nggak mau nyakitin perasaan Rina. Biar bagaimanapun juga, dia adalah temen aku,” kataku.

“Tapi aku sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Rina, aku tahu kalau kamu masih cinta aku Cha. Tolong jangan munafik, jangan bohongi perasaan kamu,” jelas Andi. Iya Andi memang benar kalau aku memang benar-benar masih cinta dia. Tapi sungguh dalam hatiku aku tidak mau nyakitin hati Rina.

“Nggak Ndi kamu salah, aku sudah nggak cinta lagi sama kamu. sudah dulu aku mau pulang, aku banyak tugas,” kataku berpura-pura menyembunyikan perasaan ini. Aku langsung pergi tanpa menghiraukan teriakan Andi.

“Benarkah apa yang aku lakukan tadi? Salahkah jika aku korbankan cintaku demi kebahagiaan sahabat aku sendiri?” bisikku dalam hati.

 *****

Dengan hati yang tak menentu, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Aku cerita sama teman-teman tentang kejadian kemarin.

“Cha, kalau kamu masih cinta Andi, kenapa kamu nggak perjuangin cinta kamu? Ngapain kamu harus mikirin perasaan Rina? Toh dia juga nggak mikirin perasaan kamu,” kata Raras.

“Aku nggak setuju sama kamu Ras, aku nggak rela kalau Chaca balikan lagi sama Andi. Aku nggak mau dia sakit lagi karena Andi. Cowok kayak dia itu nggak pantas untuk dicintai dengan tulus,” kata Lola.

Aku hanya bisa terdiam, hati ini semakin tak menentu. Antara batin dan pikiran aku saling bertentangan. Hati ini masih ingin bersama Andi, sementara pikiran ini tak mau menyakiti perasaan Rina. Rasanya ingin aku lupakan sejenak masalah ini.

Emm, gimana kalau kamu cari pacar lagi aja Cha? Dari pada kamu sedih kayak gitu, aku nggak tega ngeliatnya,” usul Puput.

Nggak semsudah itu buat aku ngelupain Andi Put, jujur hati ini selalu diselimuti perasaan tak rela. Tapi aku janji sama kalian, aku akan mencoba untuk melupakan Andi sedikit demi sedikit,” kataku mencoba tuk tegar.

“Nah gitu donk.. ini baru Chaca yang aku kenal,” kata Lola. Ketiga temanku langsung memelukku. Aku pun ikut tertawa bareng mereka. Aku mencoba berusaha tegar didepan mereka, aku tidak mau mereka ikut sedih karena aku.

 *****

Seperti biasa, aku selalu membuka facebook untuk sejenak melupakan masalah aku. Namun sering kali aku ingin mengetahui kabar tentang Andi. Aku selalu membuka dinding facebook dia. Dan kali ini hal yang aku temukan adalah mengetahui kalau Andi balikan lagi sama Rina. Bahkan mereka semakin menunjukkan kemesraan mereka. Lagi-lagi air mata ini mengalir membasahi pipiku. Aku sungguh tidak mengerti dengan perasaanku. Aku sadar kalau aku masih cinta dia. Tapi aku juga sadar kalau sekarang ada Rina yang cinta Andi. Dia sekarang bukan milikku lagi, mau tidak mau aku harus melupakan dia.

 *****

Hari terus berjalan, dan aku mulai bisa melupakan Andi. Dan kini aku ikuti saran teman-teman, akhirnya aku menerima cinta Nino. Dia adalah kakak kelas aku yang sudah menyukai aku sejak dulu. Aku sadar untuk saat ini aku belum bisa mencintai dia, tapi aku akan mencoba untuk terus jalani. Karena aku yakin cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.

Tiga bulan telah berlalu, dan kini aku merasa mulai nyaman jalan sama Nino. Aku bahagia karena dia begitu baik sama aku. Dia selalu bisa ngertiin aku. Bahkan dia sering kali mengalah untuk aku. Namun, tiba-tiba Andi datang lagi mulai mengganggu aku. Perasaan ini mulai tidak karuan lagi, hati yang akan aku berikan buat Nino tiba-tiba tertutup kembali. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau nyakitin hati Nino, tapi aku juga tidak bisa pungkiri kalau aku masih cinta Andi. Aku belum bisa mencintai Nino dengan tulus. Aku sadar jika aku terlalu memaksakan diri untuk berpura-pura mencintai Nino, ini semua hanya akan membuat dia sakit. Aku tidak mau nyakitin orang-orang yang sudah tulus menyayangi aku.

“Mungkinkah aku harus mutusin Nino? Aku nggak mau dia terluka karena aku, tapi aku nggak bisa terus-terusan bohongin hati ini. Oh Tuhan tolong aku, berikan aku jalan yang terbaik,” rintihku dalam hati.

Akhirnya aku mencoba untuk bicara baik-baik dengan Nino. Aku meminta agar hubungan aku dan dia cukup sampai disini. Aku melihat kekecewaan di wajah Nino, namun aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berdoa semoga Nino mendapatkan cewek yang jauh lebih baik dari aku. Aku akan jalani hidup ini apa adanya, biarlah cintaku pada Andi terpendam bisu dalam hatiku. Karena aku yakin kadang Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan.

 *****

Musrifah yang lahir di Wonosobo pada 29 Juli 1993 merupakan siswa Kelas XII IPA 1 MAN 2 Banjarnegara. Putri Bapak Dartono yang tinggal di Tripis RT 08 RW 04 Watumalang Wonosobo.

Beautiful Memories with Best Friends

oleh Ayya RiiesSMA

Kelompok VIIZ. Ya, begitulah sebutan buat empat orang cewek di sebuah Islamic High School. Mereka adalah Devi, Indri, Ines, dan Hazar. Dari nama-nama itulah Kelompok VIIZ terbentuk. DeVi adalah cewek yang baik, pemalu, manja, pendiam tapi kadang cerewet juga. Dia tu orangnya sensitif banget gampang simpati gitu, dia anggota paling muda di Kelompok VIIZ. Indri adalah cewek yang cerewet banget, baik, pintar dan orangnya cuek banget. Ines adalah cewek yang mandiri, baik, ceria, berani mengambil keputusan, dia anggota paling tua di Kelompok VIIZ. HaZar adalah cewek yang baik, manja, dan cewek yang paling cantik di Kelompok VIIZ. Aku salah satu dari mereka. Kita baru mengenal satu sama lain ketika pertama masuk di sebuah Islamic High School walaupun kita baru kenal tapi seperti ada suatu cemestry di antara kita berempat yang membuat kita menjadi sangat akrab. Hari-hari di sekolah kita lewati bersama, sedih, senang, maupun marah. Kebersamaan kami hadapi bersama.

Suatu hari di sekolah ada seorang guru baru dia seorang laki-hari yang masih cukup muda dia menjadi guru BK (Bimbingan dan Konseling). Setelah beberapa bulan guru itu menjadi guru di sekolah ini, mungkin karena dia guru BK jadi dia cukup dekat dengan Kelompok VIIZ terutama dengan Ines… Ya mungkin karena dia masih muda jadi mudah bergaul dengan Kelompok VIIZ. Sejak kedekatan itu ternyata ada sesuatu antara guru itu dan Ines dan ternyata ada hubungan spesial di antara mereka dan hal itu hanya kita berempat dan guru itu yang tahu pada saat itu para anggota Kelompok VIIZ sudah mempunyai teman dekat mereka masing-masing. Setelah beberapa bulan Ines menjalin hubungan dengan guru itu, ternyata Ines diam-diam menyukai seorang cowok di kelasnya dan hal itu di ketahui sama guru itu dan sejak itu hubungan antara Ines dan guru itu berakhir..

Sudah satu tahun Kelompok VIIZ selama di kelas satu SMA ini bersama dan hari ini adalah hari penentuan kenaikan kelas dan kita senang banget karena kita semua naik kelas dan masuk ke sepuluh besar. kita berempat memilih jurusan IPA di kelas XI. Tapi sayangnya, kita tidak satu kelas lagi, yang satu kelas hanya Indri dan Devi sedangkan Ines sendiri dan Hazar juga sendiri.pada awal masuk kelas dua kami masih sering berkumpul bersama karena pada saat kenaikan kelas kita sepakat bahwa walaupun kita udah nggak sekelas kita harus tetap jadi sahabat, tetapi setelah beberapa bulan ada suatu masalah antara Ines dan Hazar sampai akhirnya masalah itu membuat Hazar salah paham sama Ines, Indri, Devi dan sampai Hazar nggak percaya lagi sama kita, Hazar mengira kita bertiga nggak mau berteman lagi sama dia, kami bertiga sudah mencoba untuk meminta maaf tetapi sepertinya Hazar nggak peduli lagi dan dia agak menjauh dari kita bertiga.

Setelah kejadian itu hanya kita bertiga yang masih sering kumpul bareng dan setelah setengah tahun kita kita di kelas dua, kita menghadapi tes tengah semester setelah kurang beberapa hari tes selesai, Indri sakit di kakinya tetapi walaupun sakit dia tetap menyelesaikan tes sampai hari terakhir tes dan pada hari pembagian rapor dia juga masih berangkat sekolah dengan keadaan kakinya yang sudah terlihat berbeda dari biasanya. Setelah pembagian rapor dia nggak pernah keluar rumah lagi selama liburan. Mendengar keadaan kaki Indri yang semakin parah, Devi, Ines, dan Hazar menjenguk ke rumahnya.

Saat liburan selesai Indri yang sebenarnya masih sakit tetap berusaha masuk sekolah karena takut ketinggalan pelajaran padahal di sekolahpun dia terkadang mengeluh kakinya sakit dan cara berjalannya juga nggakkayak biasanya. Devi yang sekelas sama dia merasa kasihan dan menyuruh Indri buat cek up ke dokter tetapi Indri nggak mau dengan alasan dia merasa nggak apa-apa. Setelah beberapa hari kaki Indri semakin parah dan akhirnya dia cek up ke dokter. Sayangnya, dokter yang memeriksanya nggak memberi tahu dengan jelas apa penyakitnya, Indri hanya diberi obat. Pernah suatu hari Indri datang terlambat ke sekolah dan dia dihukum oleh guru piket. Saat itu Devi melihatnya dan ingin membantu tetapi sayangnya di kelas sedang ada pelajaran.

Setelah hari itu Indri nggak pernah masuk sekolah lagi karena sakitnya semakin parah. Sekarang di sekolah Kelompok VIIZ hanya tersisa 2 orang Devi sama Ines yang masih sering bareng karena Indri sakit dan sampai akhirnya Devi dapat kabar Indri dirawat di rumah sakit. Beberapa hari di rumah sakit Indri ngasih kabar ke Devi bahwa dokter yang merawatnya mendiagnosis Indri terkena penyakit tumor ganas yang sudah parah dan terpaksa kaki Indri harus diamputasi. Mendengar kabar itu, Devi langsung menangis karena seakan nggak percaya dengan apa yang diderita Indri. Devi segera memberi kabar kepada Ines dan Hazar dan mengajak untuk menjenguknya. Karena rumah sakitnya agak jauh, kami nggak langsung ke sana meski ingin sekali bertemu Indri dan menghiburnya. Pasti perasaan Indri sangat sedih setelah mengetahui penyakitnya.

Setelah beberapa hari teman sekelas Indri termasuk Devi menjenguknya di rumah sakit. setelah sampai di rumah sakit Devi langsung memeluk Indri dan Devi mencoba menghibur Indri dan berusaha menahan tangisnya. dan ternyata kaki Indri terlihat membengkak sangat besar tetapi belum diamputasi karena Indri nggak mau kehilangan salah satu kakinya dan keluarganya juga nggak setuju. Indri selalu meminta pulang pada orang tuanya.

Akhirnya dia dibawa pulang ke rumah setelah di rumah sakit selama 12 hari. Dia dirawat di rumahnya dan mencoba pengobatan alternatif. Setelah dicoba, alhamdulillah sedikit demi sedikit rasa sakitnya berkurang. Mendengar hal itu Ines dan Devi menjenguk Indri di rumahnya. Setelah satu minggu Indri terlihat lebih baik dari hari sebelumnya tetapi keesokan harinya Indri dibawa ke rumah sakit lagi karena kakinya kambuh. Indri dirawat di sana selama satu minggu yang pada akhirnya pada jam 12.00 malam Devi mendapat kabar dari kakak Indri bahwa Indri sudah pergi untuk selama-lamanya menuju surga menghadap Yang Maha Kuasa.

Pada saat itu di tengah malam yang sepi perasaan Devi seperti dimasukkan ke dalam ruangan yang sangat gelap dan susah buat bernapas. Tubuh Devi terasa tak berdaya dan lemas, seketika itu juga air mata Devi menetes dengan sendirinya. Devi seakan tak percaya dengan kabar itu. Semuanya seperti mimpi buruk yang tak diharap menjadi nyata. Setelah beberapa jam berlalu Devi sadar bahwa semua itu adalah kenyataan dan setelah itu Devi memberitahu Ines, Hazar, dan teman-teman yang lain. Air mata Devi terus menetes sampai menjelang pagi.

Pada pagi itu juga Devi dengan Ines menuju ke rumah Indri. di rumah Indri sudah di penuhi manusia yang melayat. Begitu sampai di sana Devi bertemu dengan ibu Indri dan ibunya Indri langsung memeluk Devi dengan erat dan tangis pun pecah. disana Ines dan Devi ternyata sudah tidak bisa melihat Indri karena jazadnya sudah dimasukkan ke dalam keranda. Tak sengaja Devi dan Ines melihat kakak Indri menyendiri di kamar. Dia terlihat sangat terpukul dengan keadaan ini. Saat acara pemakaman Indri berlangsung, saat jenazah Indri sedang dimasukkan ke liang lahat, kakaknya histeris menangis kehilangan sang adik tercinta. Setelah pemakaman Indri selesai orang-orang mulai meninggalkan pemakaman tapi keluarga Indri termasuk Devi dan Ines tetap di pemakaman untuk mendoakan Indri.

Beberapa hari setelah hari buruk itu, pada saat semua masih seperti mimpi. Ines mendapat masalah dengan keluarganya mengenai pacarnya yang membuatnya keluar dari sekolah. Sekarang tinggal Devi yang menjadi sendiri di sekolah setiap hari Devi melamun dan selalu berpikir kenapa sahabat-sahabatku pergi meninggalkan aku. Sampai akhirnya Devi mendapat kabar bahwa ada sesuatu yang mengharuskan Ines menikah dengan pacarnya. Hal itu membuat Devi semakin sedih karena tidak ada harapan lagi untuk Kelompok VIIZ berkumpul kembali. Sekarang Devi menjalani hari-hari di sekolah dengan situasi yang berbeda karena dulu waktu Kelompok VIIZ masih lengkap semuanya terasa menyenangkan. Kini Devi selalu merasa sendiri padahal teman-teman di kelasnya sudah mencoba menghiburnya karena Devi merasa bahwa nggak ada teman yang bisa menggantikan Kelompok VIIZ.

Di hari ke 40 Indri meninggal, Devi teringat kembali kenangan indah dengan Kelompok VIIZ, tak terasa air matanya menetes. Hatinya bertanya, “Kenapa Kelompok VIIZ berakhir seperti ini? Kenapa sahabatku kini semuanya meninggalkan aku?”

kenapa di saat kita menikmati indahnya masa persahabatan kita ini

tiba-tiba semuanya berubah menjadi menyedihkan

kini Kelompok VIIZ hanyalah sebuah kenangan

kenangan terindah yang tak kan pernah terlupakan

kenangan yang tak kan terulang di masa yang akan datang….

*****

Ayya RiieSMA adalah nama pena dari Devi RiSMAya, lahir di Banjarnegara 13 November 1994. Siswa kelas XII-IPA 1 ini merupakan putri Bapak Ariswanto dan Ibu Suliyah yang tinggal di Argasoka RT 02 RW 09 Banjarnegara. Do the best as long as us still able adalah moto hidupnya.

Mutiara Kata

Disusun dari berbagai sumber oleh: Sigit Akhmat Fatoni

1. Hari kemarin adalah sejarah, hari besok adalah misteri, dan hari sekarang adalah anugrah, maka bersyukurlah.

2. Terkadang kenyataan tidak sesuai dengan harapan akan tetapi kenyataan akan lebih indah dari harapan.

3. Kekecewaan datang karena terkadang kita berharap lebih dari seseorang untuk bersikap seperti apa yang kita inginkan dan rasa kecewa itu tidak akan   datang ketika kita hargai sikap seseorang terhadap kita.

4. Jika dirimu sedang dilanda masalah, bersabarlah dan terima dengan ikhlas. Pada saat itu sesungguhnya Alloh SWT sedang merajut sesuatu yang baik untuk dirimu.

5. Carilah kesempurnaan maka kesuksesan dan kebahagiaan akan menghampirimu.

6. Jika kesedihan datang mengurung dan duka lara menggunung, ucapkanlah LA ILAHA ILLALLOH.

7. Peristiwa demi peristiwa, meski keburukkan yang kau rasakan maka keburukkan itulah yang akan mengajarimu tentang bagaimana kenikmatannya.

 

Sigit Akhmat Fatoni yang lahir di Banjarnegara, 15 Juni 1994 merupakan siswa kelas XII IPA 1. Pemilik moto hidup “Jangan miskin ilmu dan miskin harta” ini  beralamat rumah di Desa Condongcampur RT O3 RW 02, Pejawaran Banjarnegara..

Jiwa dan Gelas

Oleh Itsnaini Rahmawati

Seperti biasa setiap pagi, si Ibu selalu disibukkan membuat sarapan, membuat minum, menyiapkan perlengkapan suaminya, dan berbenah rumah. Anaknya yang masih bayi tiba-tiba menangis, padahal si Ibuk lagi repot-repotnya. Itu terjadi hampir di setiap pagi. Apa kata Ibu?? Ibu hanya berkata, “Terima kasih anakku, betapa sayangnya engkau pada ibu, sehingga setiap hari telaten mengajari ibu belajar sabar.” Begitulah orang yang ber-JIWA UTUH menanggapinya.

Mungkin kita pernah dicaci-maki orang lain. Gimana tanggapan kita? Balas mencacinya atau tetap baik padanya? Orang yang ber-JIWA UTUH akan berpikir, ”Terima kasih Saudaraku, dengan ini aku bisa belajar menjadi lebih baik, menjadi lebih sabar.”

Begitulah JIWA yang  UTUH menanggapi suatu peristiwa.

“Demi JIWA dengan segala penyempurnaannya.” (As-Syams:8)

JIWA adalah mahluk-Nya…

Dia bersumpah atas nama JIWA…

Dia tak kan bersumpah atas nama JIWA, jika JIWA adalah suatu yang tak penting.

JIWA tercipta secara sempurna.

Kita yang akan menjaga JIWA kita hingga tetap utuh sempurna,atau…

tak dapat menjaganya hingga menjadi retak  bahkan pecah.

Umpama gelas kaca…

Lanjut membaca